Tampilkan postingan dengan label Daud. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daud. Tampilkan semua postingan

11 Mei 2012

Akrab Dengan Allah: Menikmati Penyertaan-Nya

I Tawarikh 13:12-14 (II Samuel 6:9-11)

Mengapa orang yang sudah berjerih lelah demi Allah namun tidak mendapatkan penyertaan-Nya sementara orang lain mendapatkannya? Apa sebenarnya kunci seseorang mendapatkan penyertaan-Nya?

Apa yang terjadi?Pembacaan kita hari ini masih merupakan kelanjutan dari apa yang dialami oleh Daud dalam kotbah minggu lalu. Kali ini semenjak tragedi Uza, Dia begitu marah karena Allah membinasakan Uza. Tetapi di balik semua itu ia juga sangat ketakutan. Ia teringat akan cerita bagaimana Allah menulahi orang-orang yang salah menangani tabut perjanjian itu. Tetapi bersamaan dengan itu Daud belum tahu apa kesalahannya. Dia sudah setengah jalan. Dia belum tahu bagaimana menangani tabut perjanjian itu. "Bagaimanakah aku dapat membawa tabut Allah itu ke tempatku?". Ia ingin supaya jangan jatuh korban lagi karena keteledorannya. Sepanjang jalan ia memutar otak. Dan akhirnya ia memutuskan untuk menyimpang dari rencanannya semula (ayat 13). Ia membawa tabut perjanjian itu ke tempat yang terdekat yakni di rumah Obed-Edom. Dan Alkitab mencatat bahwa selama 3 (tiga) bulan tabut Allah itu ada dalam rumah keluarga Obed-Edom. Dan rupanya keluarga itu diberkati Allah bahkan sampai ke segala harta miliknya(ayat 14).

Apa maksud dari semua ini?
Daud sebagai orang yang ahli berstrategi membaca situasi yang tidak menguntungkan bila terus dijalankan akan mendatangkan malapetaka. Tindakannya meninggalkan tabut perjanjian itu di rumah Obed-Edom berdasarkan pada dua hal: pertama, ia tak mau terus berjalan dengan sesuatu yang menurutnya dapat mendatangkan malapeteka. Mungkin tatkala mereka dengan takut-takut dan hati-hati mendorong kereta yang berisi tabut itu kepada Obed-Edom mereka berpikir biarlah mereka selamat terlepas dari sesuatu yang menakutkan. Mereka mungkin berkata kepada Obed-Edom tatkala mereka menyerahkan tabut itu, "Semoga beruntung Obed. Anda barangkali sudah mengetahui bahwa kami telah menguburkan seseorang hari ini karena dia menyentuh tabut ini ketika lembu kami tergelincir. Anda lebih baik berhati-hati Obed. Katakan pula itu kepada seluruh keluargamu dan orang-orangmu".

Kisah ini memiliki makna tergantung dari sudut pandang kita melihatnya. Rupanya ada tiga sudut pandang: dari sudut pandang keluarga Abinadab, sudut pandang Daud, dan sudut pandang keluarga Obed-Edom:

Sudut pandang keluarga Abinadab
Keluarga Abinadab, di mana kemungkinan Uza juga tinggal, selama 20 tahun tinggal bersama tabut itu. Tetapi tidak ada satu pun yang terjadi. Keluarga ini sama sekali tidak pernah merasakan arti dari lambang tabut yaitu kehadiran Allah. Mereka merasa biasa saja sampai mereka tak lagi ingat apa artinya tabut itu dan bagaimana memperlakukannya. Bagi mereka tabut Tuhan itu merupakan suatu peti yang indah tetapi tidak lebih dari peti-peti atau kotak-kotak yang lain. Tatkala mereka diberi kepercayaan untuk mengawal dan mengangkut tabut itu mereka merasa bangga dan begitu terhormat karena ditunjuk raja untuk membawa tabut yang Mahatinggi. Sayangnya kebanggaan itu tidak diiringi oleh rasa hormat dan penghargaan yang benar, dan tidak diimbangi dengan pengertian apa artinya tabut itu dan bagaimana memperlakukannya. Keluarga ini menjaga tabut selama 20 tahun tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa. Ironis!

Sudut pandang Daud
Daud yang pulang ke rumahnya dirundung oleh banyak pikiran. Ia merasa kecewa karena tak dapat mambawa tabut ke tempatnya, di sisi lain ia merasa harus berbuat seperti itu. Daud adalah otak dan penanggung jawab dari pemindahan tabut itu, ia begitu bertanggung jawab, namun ia juga tidak mendapatkan apa-apa. Pekerjaannya selama 3 bulan adalah mengirim orang untuk mengetahui situasi terkini dari keluarga Obed-Edom. Daud cukup berlelah tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa.

Sudut pandang Obed-Edom
Obed-Edom adalah orang Lewi yang berasal dari Gat-Rimon di daerah Manasye. Kelak tatkala tabut dipindahkan ke Yerusalem ia menjadi penunggu pintu pada tabut (I Taw 15:24) dan pemain gambus (I Taw 16:5). Obed-Edom pasti sudah mendengar 'tragedi Uza'. Ia tidak mampu menolak keinginan Daud, ia juga tidak bisa menolak tabut itu kerena ia orang Lewi. Rupanya secara tersirat terbaca bahwa Obed-Edom dan keluarganya menerima tabut itu, menghormati, dan menjaga dengan kesungguhan dan ketulusan hati. Akibatnya adalah bahwa keluarga itu terus diberkati Allah (ayat 14). Keluarga ini tidak berjasa apa-apa terhadap Allah, mereka hanya menghargai Allah, maka tidak heran bila mereka diberkati Allah. Abinadab yang 20 tahun dengan tabut itu tentunya akan kaget bila ia mendengar keberuntungan keluarga Obed-Edom.

Di dalam kisah ini tampak bahwa jerih lelah kita tanpa penghargaan kita kepada Allah hasilnya adalah kesia-siaan. Allah lebih memerlukan orang yang taat yang berjerih lelahj, bukan orang yang berjerih lelah saja. Gereja sebagai alat di tangan Allah seharusnya mampu menunjukkan kehadiran Allah melalui 'dampak penyertaan-Nya'. Bila Obed-Edom mampu menunjukkan dampak tersebut bagaimana dengan gereja?

Daniel Zacharias
education from womb to tomb

18 Februari 2009

KEAKRABAN DAPAT DIPULIHKAN KEMBALI

Mazmur 51

Mazmur 51 menggambarkan penyesalan yang paling mendalam. Bagian ini adalah bagian yang paling tajam dan paling menyentuh dari sebuah otobiografi. Bagian ini merupakan sebuah gambaran klasik mengenai kondisi seseorang manusia yang berdosa, yang berkembang dari sikap keras kepala, melewati tahap penyesalan yang mendalam, dan tiba pada pemulihan yang luhur. Bahasanya, seperti pengalaman yang digambarkan, tidak ketinggalan zaman dan tetap relevan untuk setiap usia maupun setiap bangsa. Siapakah di antara kita yang belum memiliki kesempatan untuk menjadikan Mazmur 51 sebagai pengalaman kita sendiri dan berjalan bersama Daud di atas jalur kesedihan yang mendalam dan masuk ke dalam sebuah pemulihan?

Judulnya memberi petunjuk waktu terjadinya. "Untuk pemimpin biduan. Mazmur dari Daud, ketika Nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba."

Setelah bangkit nafsu birahinya melihat kecantikan Batsyeba, sang Raja jatuh ke dalam dosa perzinahan, yang akhirnya menjerumuskan dia ke dalam tipu daya kotor yang mencapai puncaknya dengan pembunuhan suami perempuan tersebut, Uria.

Perlu kita sadari bersama bahwa setelah ia sukses menikah dengan Batsyeba ia tidak menikmati malam-malam panjang dengan isteri barunya, ia hidup dalam tekanan rasa bersalah yang berkepanjangan. Dalam Mazmur 32 sangat jelas bagaimana hal tersebut ia alami. Dalam permulaan teks yang berada tepat di bawah judul mazmur tersebut, "Dari Daud. Nyanyian Pengajaran", tertulis:

"Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!
Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!"

Daud adalah orang yang sudah merasakan bagaimana bahagianya menjadi orang yang diampuni Allah. Ia dapat merasakan demikian karena ia pernah melewati masa-masa berat di dalam kekerasan hatinya untuk mengakui dosanya di hadapan Allah (Maz 32:3-4):

"Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari;
sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas."

Tuhan memakai kuasa Natan, sang Nabi, sebagai pencari jiwa yang terhilang -- "Engkaulah orang itu!"--untuk menguakkan betapa besarnya dosa Daud, sementara pada waktu yang sama Ia memperlihatkan rahmat serta kasih karunia-Nya yang tak terukur. "Tuhan telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati" (II Samuel 12:7, 13). Allah tidak pernah meninggalkan orang berdosa yang menyesal untuk tetap berkubang di tempat yang kotor.

Mazmur 51 itu merupakan suatu curahan isi hati yang hancur, yang disampaikan apa adanya, tanpa ditutup-tutupi, penuh dengan perasaan bersalah, disertai dengan suatu pertobatan yang tulus setelah melewati episode yang memalukan dan sulit terlupakan. Namun, mazmur ini sarat dengan penghiburan, karena ia menyatakan isi hati Tuhan dan sikap-Nya terhadap mereka yang telah gagal. Allah menghendaki agar manusia kembali menjalin keakraban dengan-Nya.

Daud tidak berupaya mengemas dosanya dalam serangkaian retorika, karena doanya semata-mata meruapakan serangkaian sedu sedan dari hati yang hancur. Ia tidak meminta kondisi yang meringankan; ia pun tidak berupaya membela diri. Betapa besar dosanya tidak diucapkan dengan suara lirih, melainkan diakui dengan apa adanya. Inilah pengakuan dari hati yang hancur dan diucapkan dalam kata-kata yang tegas: "Kasihanilah! Tahirkanlah! Hapuskanlah! Bersihkanlah! Murnikanlah! Sembunyikan wajah-Mu dari dosa-dosa ku! Jadikanlah! Janganlah membuang aku! Perbaharuilah! Pulihkanlah! Selamatkanlah! Bukalah bibirku! Inilah pengakuan yang sejati, yang bebas dari semua rasa malu maupun ketidaktulusan. Cermatilah pengakuannya dengan saksama.

Konsep dibalik kata Yunani untuk kata mengaku ialah "mengatakan hal yang sama", dengan kata lain, mengaku bersalah kepada diri sendiri untuk apa yang dituduhkan. Apabila kita mengaku dosa kita dan mengakui kesalahan kita kepada Allah, kita sepakat dengan Dia dalam hal penilaian-Nya mengenai keseriusan dosa kita dan kita berada di pihak-Nya untuk melawan dosa itu (Maz 32:3-7). Daud mengambil sikap itu dalam Maz 51 yang menggambarkan pengakuan dosanya kepada Allah.

Roh Kudus telah mengerjakan suatu perasaan berdosa yang serius dalam diri raja yang menyesal itu, sebegitu serius sehingga tidak satu kata pun yang cukup memadai untuk mengungkapkannya. Daud menggunakan 3 kata untuk mengakui bahwa ia sadar betapa besar dosanya dan kerinduannya untuk memulihkan keakrabannya dengan Allah: pelanggaran, melangkahi dan menghancurkan hukum Tuhan, kejahatan, yang jauh dari lurus, secara moral bengkok; dosa, kehilangan nilai-nilai, gagal untuk mencapai tolok ukur dan sasaran ilahi.

Allah menyembunyikan wajah-Nya dari Daud selama 12 bulan dan Daud rela menderita dalam suasan yang suram itu. Namun, kini Daud memohon kepada Tuhan untuk memalingkan sinar wajah-Nya ke arahnya serta tidak melihat dosa-dosanya lagi. Kendati Allah mendengar jeritannya dan mengampuninya, Daud tidak lolos dari konsekuensi-konsekuensi sosial yang ditimbulkan oleh karena kejatuhannya. Namun yang merisaukannya bukanlah akibat dari semuanya itu; kesedihannya berasal dari perasaan malu karena ia sudah mencoreng arang pada nama Allahnya dan ia merusak semua keintiman dan keakraban dengan Allahnya. Kedukaan yang sejati dari anak Allah bukan terletak pada apa yang perbuat bagi dirinya sendiri yang mendukakan diri sendiri, tetapi apa yang dirinya telah perbuat yang mendukakan hati Allah.

Pada akhrinya, Daud adalah orang yang ingin agar riwayat hidupnya yang bernoda dihapus, pencemaran ia lakukan dibasuh, penyakit yang dideritanya disembuhkan, serta keakrabannya dengan Allah dikembalikan.

Sebagaimana Daud yang bersedia mengaku dosanya (walau membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama) hal sedemikian berarti ia sudah pula membuat dirinya kembali bersahabat dan akrab dengan Allah.

Kekerasan hati kita dengan bertahan dan terus menyayangi dan memelihara dosa-dosa favorit kita hanya akan membuat kita semakin jauh dari Allah dan menciptakan ketakutan yang tidak kudus kepada-Nya. Dosa membuat kita tidak sanggup berkonsentrasi pada Allah, karena sekarang kita tidak sedang sibuk memerangi godaan-godaan dosa itu. Dosa pada akhirnya membuat kita melawan Allah. Sebaliknya dengan kita mengaku dan meninggalkan dosa maka kita bisa berkonsentrasi dalam kekariban dengan-Nya.

Dosa melukai hati Tuhan tetapi pengakuan membangkitkan pengampunan-Nya. Orang yang berkajang dalam dosa merusak keintimannya dengan Allah, tetapi orang yang mengaku dosanya dan bertobat sehingga karena karya pengampunan Allah memulihkan keakraban yang hilang.

Daniel Zacharias
education from womb to tomb

16 Februari 2009

Keakraban Dengan Allah Dapat Hilang

II Samuel 11:1-27

Alkitab tidak pernah memuji-muji pahlawan-pahlawannya. Semua pria dan wanita di dalam Kitab Suci memiliki kaki dari tanah liat yang lemah, dan Roh Kudus adalah seniman yang sangat realistis, ketika Ia melukis sebuah gambar mengenai kehidupan mereka. Ia tidak mengabaikan, menyangkal, atau melewati sisi yang gelap dari manusia.

Jika kita mendecakkan lidah atau menggelengkan kepala kita karena malu terhadap perbuatan Daud, maka kita sepenuhnya telah mengabaikan peringatan: "Sebab itu siapa menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (I Korintus 10:12). Berwaspadalah sebab daging Daud dan kita sama-sama lemah. Jika kita tidak berhati-hati maka daging kita akan memimpin kita ke dalam serbuan dosa yang sama, dan konsekuensi dan dukacita kita akan sepahit konsekuensi dan dukacita Daud. Allah memberitahukan kita detil-detil kejatuhan Daud ini supaya setiap orang dapat melihat dengan jelas ke mana nafsu itu memimpin dan apa konsekuensinya.

Daud saat itu berusia kira-kira 50 tahun atau mungkin beberapa tahun lebih tua. Ia telah berada di atas tahta kira-kira 20 tahun. Dan selama itu ia sudah membuktikan dirinya sebagai orang yang karib dengan Allah, seorang penggubah mazmur, sebagai seorang gembala yang setia, sebagai seorang prajurit yang gagah berani di medan pertempuran, dan sebagai seorang pemimpin dari rakyatnya. Maka ketika kita melihat segmen berikutnya di dalam kehidupan Daud, maka mengertilah kita bila kita sedang memeriksa kehidupan seorang ke dalam suatu situasi berdosa dan merusak relasinya dengan Allah. Dosa yang diperbuatnya mengandung konsekuensi yang menghancurkan bagi keluarganya, pemerintahannya, dan negaranya. Rupanya kita belajar pula bahwa tidak ada seorang pun yang terlalu muda atau bahkan terlalu tua untuk jatuh.

Apa yang terjadi dalam peristiwa kejatuhan Daud ini erat kaitannya dengan kecenderungan-kecenderungan yang ia buat sebelumnya yakni nafsu dan poligaminya yang dengan diam-diam mengikis ketulusan hatinya (II Sam 5:13).

Kejatuhan yang fatal itu terjadi pada "waktu raja-raja itu biasanya maju berperang" (II Samuel 11:1). Seharusnya Daud sedang memimpin pasukannya, tetapi ia mengabaikan tugasnya demi kenikmatan tidur siang yang panjang dan santai. "Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya" (11:2). Daud memanjakkan dirinya sendiri di luar batas-batas hikmat. Ia mungkin mendorong kembali alas tidurnya, menegakkan tubuhnya, menguap beberapa kali, dan kembali tidur, sampai ia bosan tidur. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan-jalan sehingga ia menggeser tirai-tirai dan melangkah keluar menuju sotoh. Raja-raja Timur seringkali membangun kamar tidur mereka di tingkat dua istana dan mempunyai pintu yang terbuka ke tempat yang disebut sotoh. Seringkali tempat itu diperlengkapi dengan mewah, suatu tempat untuk duduk-duduk bersama keluarganya atau dengan penasihat-penasihatnya. Terletak di luar jangkauan publik dan jauh dari jalan, tempat itu dirahasiakan agar orang-orang tidak dapat melihatnya. Dan di sanalah Daud mendapatkan dirinya pada malam yang tidak terlupakan tersebut.

Tatkala sedang berjalan-jalan di atas sotoh istana, dari kejauhan ia mendengar suara cipratan air dan kemungkinan pula senandung dari bibir wanita yang sangat cantik yang tinggal persis di seberang istana, berada pada jarak pandang yang jelas dari halaman belakangnya sendiri (II Sam 11:2). Daud berhenti. Daud membelalak selama jangka waktu yang tidak ditentukan! Daud melihat seorang perempuan yang sangat elok rupanya sedang mandi. Berkali-kali ia melihat ke arah perempuan itu dan ini menyalakan nafsu birahinya. Di dalam benaknya yang diisi dengan nafsu, ia membayangkan kesenangan seks dengan wanita cantik itu. Daud dengan segala kesalehannya tidak dapat mengatasi dirinya. Daud kehilangan pengendali atas hawa nafsunya.

Tak cukup dengan imajinasi kotornya Daud malah menginginkan wanita itu sekarang dan ia menanyakan hambanya tetapi hambanya berkata: "Itu adalah Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu", hamba itu agaknya sudah menawarkan peringatan bahwa "wanita itu sudah menikah!" Tetapi Daud tetap menginginkan agar kedagingannya tersalur, dan akhirnya ia berzinah dengan Batsyeba sementara suami perempuan itu berada jauh di medan perang (II Sam 11:4). Sang perkasa telah jatuh dan ketika ia mendengar Batsyeba berkata, "Aku mengandung", Daud bertindak memasuki kehidupan berdosanya lebih jauh lagi dan makin menjauh dari Allahnya.

Perbuatannya itu tentunya sudah cukup serius, namun hamba Allah itu masih menurunkan harkatnya sampai ke tingkat yang paling rendah. Untuk menutupi dosanya, dengan licik ia merancang dan merekayasa kematian salah satu dari bawahannya yang paling setia--suami dari perempuan yang memikat hatinya tersebut. Beberapa kali ia ingin "cuci tangan" dengan membiarkan Uria tidur dengan isterinya agar tidak ketahuan perbuatannya tetapi rencana itu ternyata gagal (II Sam 11:6-13). Rencana Daud yang dibuat dalam kepanikannya pada akhirnya mengandung akibat yang lebih parah yakni pembunuhan atas Uria (II Sam 11:14-21).

Beberapa orang kudus di dalam Alkitab mengalami dan menghayati keakraban yang begitu mendalam seperti Daud. Mazmur-mazmurnya sarat dengan ungkapan penyembahan dan ibadah yang menandai hubungannya yang luar biasa akrab dengan Allah. Hubungan itu bahkan terpelihara di tengah-tengah bahaya maupun kesusahan yang terus-menerus menimpanya. Berkali-kali, ketika dikepung musuh dan hatinya merasa putus asa, kepercayaannya kepada Allah memungkinkan dia untuk menembus awan-awan pengahalang dan ia kembali menikmati sinar surya dan hadirat Allah.

Ketika diselamatkan dari tangan Saul, ia menaikkan lagu pujian dan penyembahan di bawah ini, yang menjadi ungkapan khas mengenai kasih dan kesetiaan kepada Allahnya.

"Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku!
Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!
Terpujilah TUHAN, seruku; maka akupun selamat dari pada musuhku."
(Mazmur 18:2-4)

Tragisnya, karena kecerobohannya yang sesaat, orang yang digambarkan Kitab Suci sebagai "orang yang berkenan di hati-Ku [Allah]" (Kis 13:22), kehilangan keakraban yang berharga dan masuk ke dalam dunia yang gelap sebagai pelaku perzinahan dan pembunuhan. Bagi kita, sebuah perubahan yang yang tiba-tiba dan drastis ini tampak mustahil, tetapi itu terjadi oleh karena kita belum menemukan atau menyadari sisi-sisi serta seluk-beluk hati kita sendiri yang gelap.

Dalam bukunya Temptation, Dietrich Bonhoeffer menulis:

"Di dalam tubuh kita terdapat kecenderungan terhadap hasrat yang sedang tidur, yang sifatnya mendadak dan ganas. Hasrat memegang kekuasaan atas daging, dengan kekuatan yang tidak dapat ditahan ... Pada saat inilah Allah menjadi agak tidak nyata bagi kita [Ingatlah kata-kata tersebut.] Kita kehilangan semua realita, dan hanya hasrat terhadap mahluk itu saja yang nyata. Satu-satunya realita hanyalah si iblis. Pada saat ini setan tidak memenuhi kita dengan kebencian terhadap Allah, tetapi dengan kelupaan terhadap Allah ..."

Dalam satu detik yang fatal, ia kehilangan keakrabannya dengan Allah. Ia tidur dengan Batsyeba. Hanya demi kepuasan sesaat, ia mengorbankan hubungannya dengan Allah. Noda hitam itu merupakan suatu peringatan bagi semua bangsa dari segala lapisan usia bahwa kepribadian mereka bisa ternoda sekalipun mereka sudah dewasa. Dalam sekejap, prestasi yang sudah diraih sepanjang hidupnya menjadi ternoda. Sejarah gereja ditaburi dengan kisah-kisah tragis yang sama. Seandainya Daud mampu melihat lebih dahulu buah pahit yang dihasilkan dari tatapan matanya yang penuh berahi, ia tentunya akan lebih cepat kehilangan tangan kanannya daripada diperbudak oleh daya pikat kedagingan.

Dosa Daud bukan saja meninggalkan bekas yang tidak dapat dihapus dalam hidupnya sendiri, melainkan juga melibatkan keluarga maupun bangsanya. Tidak ada satupun di antara kita yang berdosa sendirian. Yang lebih buruk dari segalanya ialah: karena kecerobohannya, ia kehilangan senyum Allah.

Kita mungkin tidak jatuh ke dalam dosa yang tidak dapat diterima masyarakat umum sebagaimana yang dilakukan Daud itu, tetapi apakah dosa-dosa dan kegagalan kita lebih diterima di mata Tuhan? Semua dosa memutuskan persekutuan dan keakraban dengan Allah, menghasilkan perasaan bersalah, dan membawa orang yang berdosa itu dalam suatu kondisi terhilang, yang memedihkan hati, untuk sementara dan selamanya.

Pelajaran lain yang dapat kita petik adalah bahwa tidak ada yang disebut sebagai dosa sederhana. Dosa selalu kompleks, dan pusaran-pusarannya bergulung-gulung sampai ke laut. Dan semua kejahatan itu timbul dari tatapan mata yang penuh birahi ketika ia bersantai-santai di saat yang tidak semestinya.

Jika kita sedang bermain-main dengan dosa kedagingan, maka kita hidup pada waktu yang singkat sebagai anak Allah. Tidak ada yang lebih berbisa, tidak ada yang lebih terkutuk bagi kehidupan, daripada dosa-dosa tersembunyi dalam daging. Tidak ada yang memberikan amunisi terbesar kepada musuh untuk melancarkan pernyataan-pernyataan hujatan kepada gereja Allah daripada tindakan kompromi yang diam-diam seperti itu. Dan akibat yang paling parah adalah keakraban dengan Allah menjadi hilang.

Basilea Schlink, seorang penulis Kristen, pernah menulis demikian tentang sebuah keakraban yang hilang: "Saya mulai melihat bahwa hubungan dengan Tuhan Yesus Kristus dari tahun ke tahun terkikis, ibarat sebuah perkawinan yang mulai menjemukan. Apa yang saya lakukan manakala saya melihat ada waktu luang pada suatu hari Minggu atau hari libur? Saya tidak sabar untuk berkumpul bersama orang-orang lain--orang-orang yang saya sukai, orang-orang yang mempunyai kesamaan--sehingga kami dapat berbagi gagasan maupun pengalaman. Atau, saya membaca sebuah buku yang seru. Atau, saya pergi menikmati alam. Bahkan, saya membenamkan diri untuk melakukan hal-hal yang untuk mengerjakannya membutuhkan waktu yang lama. Tetapi, untuk datang kepada Yesus--untuk memberi-Nya pengakuan saya yang pertama pada waktu luang saya, itu tidak lagi saya lakukan".

Daniel Zacharias
education from womb to tomb

02 Februari 2009

Akrab Dengan Allah: Belajar Menaati Allah

I Tawarikh 15:1-29 dan II Samuel 6:20-23

Bila seseorang melakukan kesalahan di hadapan Allah lalu sadar dan kemudian mengubah tindakannya adakah orang tersebut berkenan kepada Allah atau selamanya tetap dianggap gagal? Bagaimana bila karena keteledorannya karena melanggar firman Allah kemudian orang lain menjadi korban akankah ia tetap diampuni Allah?

Mari kita belajar dari Daud:

Daud melakukan koreksi
Pembacaan kita hari berbeda dengan dua bahan sebelumnya yang senantiasa menyoroti kesalahan dan penyebab kesalahan Daud. Kali ini kita melihat teladan yang Daud berikan. Daud mengoreksi dirinya. Daud membuat hatinya taat kepada Allah.

Tiga bulan adalah waktu yang cukup lama membiarkan tabut perjanjian ada di rumah Obed-Edom. Hasil yang ia dengar tentang keluarga Obed-Edom selalu positif. Keinginan Daud yang selama ini belum tercapai membuatnya senantiasa mencari jalan keluar. Diam-diam Daud berkata dalam hatinya,"Aku ingn tabut Tuhan ada di Yerusalem, di sini. Tetapi Obed-Edom yang menjaganya di sana. Apa yang salah? Obed-Edom sedang menikmati kehidupan yang baik. Ia memperoleh segala berkat!". Daud adalah orang yang pantang menyerah dan mau dikoreksi serta mau memperbaiki diri.

Setelah tiga bulan menganalisis apa yang salah dalam dirinya maka Daud pun bersedia memperbaiki diri dan kembali berencana untuk membawa tabut perjanjian ke Yerusalem. Dalam kisah membawa tabut ini ada beberapa pihak yang menggambarkan bagaimana mereka menaati Allah dan bagaimana mereka yang tidak menaati Allah.

Daud, pribadi yang menaati Allah
Kesalahan Daud dulu adalah tidak membawa orang Lewi, tidak menanyakan kehendak Allah, dan membiarkan orang sembarangan menyentuh tabut. Tetapi sekarang lihatlah apa yang dilakukan Daud: "Janganlah ada yang mengangkat tabut Allah selain dari orang Lewi, sebab merekalah yang dipilih TUHAN untuk mengangkat tabut TUHAN dan untuk menyelenggarakannya sampai selama-lamanya." (ayat 2). Daud sudah mengoreksi dirinya. Lalu
apa yang dilkatakan Daud selanjutnya: "Hai kamu ini, para kepala puak dari orang Lewi, kuduskanlah dirimu, kamu ini dan saudara-saudara sepuakmu, supaya kamu mengangkut tabut TUHAN, Allah Israel, ke tempat yang telah kusiapkan untuk itu. Sebab oleh karena pada pertama kali kamu tidak hadir, maka TUHAN, Allah kita, telah menyambar di tengah-tengah kita, sebab kita tidak meminta petunjuk-Nya seperti seharusnya." Jadi para imam dan orang-orang Lewi menguduskan dirinya untuk mengangkut tabut TUHAN, Allah Israel (ayat 12-14). Sekali lagi Daud mengoreksi perbuatannya di masa lampau dan memperbaiki dengan cara yang tepat dan berkenan kepada Allah. Daud lebih suka taat dan mengaku salah kepada Allah daripada bertahan di dalam kekerasan hati. Mungkin Daud harus menanggung malu atas apa yang pernah dilakukannya di hadapan bangsanya adalah sebuah kekeliruan yang mendatangkan korban. Tetapi ia lebih baik memperbaiki diri sendiri daripada mempertahankan harga diri. Ternyata tak seorang pun yang menganggap koreksi Daud atas dirinya sendiri adalah hal yang memalukan.

Apa yang dilakukan selanjutnya oleh Daud: Kemudian bani Lewi mengangkat tabut Allah itu dengan gandar pengusung di atas bahu mereka, seperti yang diperintahkan Musa, sesuai dengan firman TUHAN. Daud memerintahkan para kepala orang Lewi itu, supaya mereka menyuruh berdiri saudara-saudara sepuak mereka, yakni para penyanyi, dengan membawa alat-alat musik seperti gambus, kecapi dan ceracap, untuk mem-perdengarkan dengan nyaring lagu-lagu gembira (15-16), menunjukkan Daud sekalipun sudah pernah melakukan kesalahan tidak berarti ia larut dalam kesalahan itu sebaliknya ia belajar dan memperbaiki apa yang pernah ia rusak dan Allah berkenan atas hal tersebut. Daud belajar untuk memiliki hati yang taat kepada Allah.

Tatkala Daud mengerjakan pekerjaan Tuhan ada beberapa teladan yang mencerminkan ketaatannya:
· Ia memuji Tuhan (ayat 16)
· Ia memilih orang yang dipilih Tuhan (ayat 2)
· Ia melakukan apa yang diminta Tuhan (ayat 2, 12-15)
· Ia memilih orang profesional di bidangnya (ayat 22)
· Ia tidak bersungut tetapi bersuka cita (ayat 25)
· Ia mempersembahkan korban (ayat 26)
· Ia memakai jubah yang terbaik (ayat 27)
· Ia menari bagi Tuhan karena sukacita (II Sam 6:16)
· Ia merendahkan dirinya di hadapan Allah (II Sam 21-22)
Daftar ini tidak sama sekali menunjukkan prestasi rohani Daud tetapi menunjukkan bahwa Daud bersungguh hati kepada Allah sekalipun ia pernah melakukan kesalahan.

Mikhal, pribadi yang melecehkan orang pilihan Allah
Hanya satu orang yang tidak bersukacita ketika tabut Allah memasuki Yerusalem yaitu istri Daud sendiri. Tarian dan ketelanjangan Daud dilihat dengan kacamata "apa kata manusia" bukan dengan kacamata "apa kata Allah". Kegirangan dan keteraruan Daud yang tercurah tidak pernah dipahami oleh Mikhal. Sebagai isteri harusnya dia tahu kegelisahan yang ada dalam hati Daud selama kurang lebih 3 bulan, dan seharusnya dia turut senang dan menari tatkala ia melihat suaminya berhasil membawa tabut itu. Seharusnya ia juga terharu karena menyaksikan Allah memakai suaminya. Ia juga seharusnya turut merendahkan diri tatkala suaminya merendahkan diri di hadapan Allah. Intinya, Mikhal memang tidak pernah tahu apa arti tabut Allah, sehingga ia tidak peduli. Ia hanya peduli kedudukan dan kehormatan suami tetapi tidak pada kemuliaan Tuhan. Tatkala Daud merendahkan diri di hadapan Allah dan ia melecehkannya, itu berarti ia sedang tidak melecehkan suaminya tetapi Allahnya. Daud tidak tersinggung tetapi Allah murka sehingga ia menutup kandungan Mikhal sampai ia meninggal.

Apa Maknanya Bagi Kita?
Gereja membutuhkan orang-orang seperti Daud, yang taat dan bekerja sepenuh hati, tepat seperti yang Ia minta. Daud tidak menjadikan kesalahan masa lampaunya sebagai halangan untuk menyenangkan hati Allah. Di mata Allah tidak ada yang lebih berharga dari orang yang menyadari diri, berbalik, dan memperbaiki kesalahannya. Allah berkenan kepada orang yang rendah hati di hadapan-Nya, karena orang seperti inilah yang menyenangkan hati-Nya.

Daniel Zacharias
education from womb to tomb

27 Januari 2009

Akrab Dengan Allah: Menikmati Penyertaan-Nya

I Tawarikh 13:12-14 (II Samuel 6:9-11)

Mengapa orang yang sudah berjerih lelah demi Allah namun tidak mendapatkan penyertaan-Nya sementara orang lain mendapatkannya? Apa sebenarnya kunci seseorang mendapatkan penyertaan-Nya?

Apa yang terjadi?
Pembacaan kita hari ini masih merupakan kelanjutan dari apa yang dialami oleh Daud dalam kotbah minggu lalu. Kali ini semenjak tragedi Uza, Dia begitu marah karena Allah membinasakan Uza. Tetapi di balik semua itu ia juga sangat ketakutan. Ia teringat akan cerita bagaimana Allah menulahi orang-orang yang salah menangani tabut perjanjian itu. Tetapi bersamaan dengan itu Daud belum tahu apa kesalahannya. Dia sudah setengah jalan. Dia belum tahu bagaimana menangani tabut perjanjian itu. "Bagaimanakah aku dapat membawa tabut Allah itu ke tempatku?". Ia ingin supaya jangan jatuh korban lagi karena keteledorannya. Sepanjang jalan ia memutar otak. Dan akhirnya ia memutuskan untuk menyimpang dari rencanannya semula (ayat 13). Ia membawa tabut perjanjian itu ke tempat yang terdekat yakni di rumah Obed-Edom. Dan Alkitab mencatat bahwa selama 3 (tiga) bulan tabut Allah itu ada dalam rumah keluarga Obed-Edom. Dan rupanya keluarga itu diberkati Allah bahkan sampai ke segala harta miliknya(ayat 14).

Apa maksud dari semua ini?
Daud sebagai orang yang ahli berstrategi membaca situasi yang tidak menguntungkan bila terus dijalankan akan mendatangkan malapetaka. Tindakannya meninggalkan tabut perjanjian itu di rumah Obed-Edom berdasarkan pada dua hal: pertama, ia tak mau terus berjalan dengan sesuatu yang menurutnya dapat mendatangkan malapeteka. Mungkin tatkala mereka dengan takut-takut dan hati-hati mendorong kereta yang berisi tabut itu kepada Obed-Edom mereka berpikir biarlah mereka selamat terlepas dari sesuatu yang menakutkan. Mereka mungkin berkata kepada Obed-Edom tatkala mereka menyerahkan tabut itu, "Semoga beruntung Obed. Anda barangkali sudah mengetahui bahwa kami telah menguburkan seseorang hari ini karena dia menyentuh tabut ini ketika lembu kami tergelincir. Anda lebih baik berhati-hati Obed. Katakan pula itu kepada seluruh keluargamu dan orang-orangmu".

Apa makna kisah ini?
Kisah ini memiliki makna tergantung dari sudut pandang kita melihatnya. Rupanya ada tiga sudut pandang: dari sudut pandang keluarga Abinadab, sudut pandang Daud, dan sudut pandang keluarga Obed-Edom:

Sudut pandang keluarga Abinadab
Keluarga Abinadab, di mana kemungkinan Uza juga tinggal, selama 20 tahun tinggal bersama tabut itu. Tetapi tidak ada satu pun yang terjadi. Keluarga ini sama sekali tidak pernah merasakan arti dari lambang tabut yaitu kehadiran Allah. Mereka merasa biasa saja sampai mereka tak lagi ingat apa artinya tabut itu dan bagaimana memperlakukannya. Bagi mereka tabut Tuhan itu merupakan suatu peti yang indah tetapi tidak lebih dari peti-peti atau kotak-kotak yang lain. Tatkala mereka diberi kepercayaan untuk mengawal dan mengangkut tabut itu mereka merasa bangga dan begitu terhormat karena ditunjuk raja untuk membawa tabut yang Mahatinggi. Sayangnya kebanggaan itu tidak diiringi oleh rasa hormat dan penghargaan yang benar, dan tidak diimbangi dengan pengertian apa artinya tabut itu dan bagaimana memperlakukannya. Keluarga ini menjaga tabut selama 20 tahun tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa. Ironis!

Sudut pandang Daud
Daud yang pulang ke rumahnya dirundung oleh banyak pikiran. Ia merasa kecewa karena tak dapat mambawa tabut ke tempatnya, di sisi lain ia merasa harus berbuat seperti itu. Daud adalah otak dan penanggung jawab dari pemindahan tabut itu, ia begitu bertanggung jawab, namun ia juga tidak mendapatkan apa-apa. Pekerjaannya selama 3 bulan adalah mengirim orang untuk mengetahui situasi terkini dari keluarga Obed-Edom. Daud cukup berlelah tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa.

Sudut pandang Obed-Edom
Obed-Edom adalah orang Lewi yang berasal dari Gat-Rimon di daerah Manasye. Kelak tatkala tabut dipindahkan ke Yerusalem ia menjadi penunggu pintu pada tabut (I Taw 15:24) dan pemain gambus (I Taw 16:5). Obed-Edom pasti sudah mendengar 'tragedi Uza'. Ia tidak mampu menolak keinginan Daud, ia juga tidak bisa menolak tabut itu kerena ia orang Lewi. Rupanya secara tersirat terbaca bahwa Obed-Edom dan keluarganya menerima tabut itu, menghormati, dan menjaga dengan kesungguhan dan ketulusan hati. Akibatnya adalah bahwa keluarga itu terus diberkati Allah (ayat 14). Keluarga ini tidak berjasa apa-apa terhadap Allah, mereka hanya menghargai Allah, maka tidak heran bila mereka diberkati Allah. Abinadab yang 20 tahun dengan tabut itu tentunya akan kaget bila ia mendengar keberuntungan keluarga Obed-Edom.

Bagi Kita Sekarang
Di dalam kisah ini tampak bahwa jerih lelah kita tanpa penghargaan kita kepada Allah hasilnya adalah kesia-siaan. Allah lebih memerlukan orang yang taat yang berjerih lelah, bukan orang yang berjerih lelah saja. Gereja sebagai alat di tangan Allah seharusnya mampu menunjukkan kehadiran Allah melalui 'dampak penyertaan-Nya'. Bila Obed-Edom mampu menunjukkan dampak tersebut bagaimana dengan gereja?

Daniel Zacharias
education from womb to tomb

22 Januari 2009

Akrab Dengan Allah: Mencari Hadirat Allah

I Tawarikh 13:1-4
13:1 Daud berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus dan dengan semua pemuka.13:2 Berkatalah Daud kepada seluruh jemaah Israel: "Jika kamu anggap baik dan jika diperkenankan TUHAN, Allah kita, baiklah kita menyuruh orang kepada saudara-saudara kita yang masih tinggal di daerah-daerah orang Israel, dan di samping itu kepada para imam dan orang-orang Lewi yang ada di kota-kota yang dikelilingi tanah penggembalaan mereka, supaya mereka berkumpul kepada kita.13:3 Dan baiklah kita memindahkan tabut Allah kita ke tempat kita, sebab pada zaman Saul kita tidak mengindahkannya."13:4 Maka seluruh jemaah itu berkata, bahwa mereka akan berbuat demikian, sebab usul itu dianggap baik oleh segenap bangsa itu.

Apa yang menyebabkan orang merasa kering dan jenuh dengan kehidupan rohaninya? Apa yang menyebabkan orang dengan mudahnya menolak mengikuti ibadah atau menolak datang ke gereja? Mengapa kita merasa akrab dengan-Nya namun dalam kenyataannya kita tidak mencari hadirat-Nya?

Apa yang sedang dilakukan Daud?
Pembacaan kita hari ini dimulai dengan kisah Daud yang sedang melakukan perundingan dengan orang-orang penting dalam kerajaannya (ayat 1). Dapat dikatakan dengan kacamata modern bahwa mereka adalah para jenderal dan para menteri serta para pemimpin-pemimpin gereja. Dalam segi ini, dengan melakukan perundingan, Daud menunjukkan teladan yang positif yakni dengan mengedepankan aspek kebersamaan dalam memecahkan persoalan-persoalan yang bangsa mereka hadapi. Segi lain yang tersirat di sini adalah Daud yang sekalipun adalah pemimpin dan pemegang otoritas tidak bekerja sendirian dan tidak otoriter tetapi sangat terbuka dan memberikan kesempatan kepada rakyatnya untuk turut mengambil keputusan. Sikap Daud itu tampak tatkala ia berkata: "Jika kamu anggap baik .... baiklah kita" (ayat 2). Daud sangat konsisten memegang teguh kebersamaan, baginya keakraban dengan Allah tidak terlepas dari sebuah persekutuan dan kerjasama yang baik dengan sesama. Pada akhirnya rakyat menyambut kebersamaan itu dengan berkata bahwa mereka akan berbuat demikian, sebab usul itu dianggap baik oleh segenap bangsa itu.

Apa yang mereka rencanakan?
Keputusan Daud yang sangat demokratis itu tidak saja dalam konteks mengatur strategi perang dalam kepentingan politis tetapi dalam urusan memecahkan masalah keagaamaan (spritual) menyangkut rencana penempatan tabut Allah pada tempat yang seharusnya.

Mengapa tabut itu harus dipindahkan?

Alasan Historis
Rupa-rupanya penempatan tabut ini memiliki sejarahnya sendiri. Pada masa Daud pusat tempat penyembahan bukanlah orang percaya tetapi tabernakel. Dan di bawah pemerintahan Saul yang lemah dan semberono, penekanan terhadap tabernakel sepertinya sudah menyimpang. Selama masa tersebut suatu bagian tertentu dari perabotan suci telah dipisahkan dari tabernakel. Musuh yakni orang Filistin telah membawa tabut perjanjian itu dengan kereta.
Dengan hilangnya tabut berarti kehadiran Allah telah pergi, karena saat itu lambang kehadiran Allah di dalam kemuliaan-Nya terletak pada tabut tersebut. Tabut itu sangat penting bagi Tuhan sehingga Ia memberikan perincian-perincian yang sangat khusus kepada Musa mengenai bagaimana membangunnya dan membuatnya dapat diangkut sehingga orang Israel dapat memindahkan lambang kehadiran Allah ini melalui padang gurun dan masuk ke tanah Kanaan sebagai tempat pusat penyembahan. Dan di mana pun tabut perjanjian ditempatkan, kemuliaan Allah menetap di sana ~ yang berarti terang, kemuliaan shenkinah Allah, menetap di atas tabut perjanjian.

Ketika Daud mengambil alih tahta, ia menyadari bahwa tidak ada tabut perjanjian, tidak ada tempat pusat penyembahan. Karena itu, perjalanan spiritual orang Israel, menjadi seadanya saja. Padahal hati mereka hangat mengikuti Allah. Sebagai pemimpin mereka, Daud mengetahui bahwa ia perlu mengembalikan bagian dari perabotan suci itu ke tempat semestinya. Ia perlu menempatkan seperti yang sudah Allah rancang.

Pada masa Samuel terjadi peperangan antara orang Filistin dan orang Israel yang berakibat pada kekalahan orang Isarel [I Samuel 4:2]. Dalam peperangan itu orang Filistin merampas tabut itu [4:11] dan dilarikan ke Asdod dan diletakan ke kuil Dagon persis di sisi Dagon [5:1-2]. Namun karena Allah memberi pelajaran kepada orang Filistin dengan banyak perkara yang mengerikan maka mereka memindahkannya ke Gat [5:8] lalu ke Ekron [5:10], dan hal yang sama terjadi pula dengan Gat dan Ekron [5:9-10], maka akhirnya setelah 7 bulan menanggung sengara orang Filistin mengembalikan tabut itu kepada orang Israel [I Sam 6] yang diletakan awalnya di Bet-Semes [I Sam 6:15], tetapi karena orang Bet-Semes melancangi tabut itu maka ada 70 orang tewas sebagai hukumannya. Karena ketakutan maka mereka meminta orang Kiryat Yearim (sekitar 15 km sebelah barat Yerusalem) untuk mengambil tabut itu. Dan orang Kiryat Yearim menyanggupinya dan meletakannya di rumah Abinadab [7:1]. Orang Israel takut kepada tabut perjanjian itu dan membiarkannya terus di Kiryat Yearim sampai zaman Daud. Tabut tidak dikembalikan ke Silo karena daerah tersebut sudah dimusnahkan Filistin [Maz 78:59-61; Yer 7:14; 26:6].

Alasan Daud
Daud pasti pernah mendengar dahsyatnya murka Allah melalui tabut perjanjian itu baik terhadap orang Filistin maupun terhadap orang Israel, tetapi mengapa ia masih juga berusaha untuk membawa kembali tabut itu bukankah itu sama artinya mencari masalah baru? Menurut Daud, "sebab pada zaman Saul kita tidak mengindahkannya" (I Taw 5:3). Dapat dibayangkan bahwa mereka mungkin tidak mengindahkannya bukan karena mereka acuh tak acuh tetapi karena ketakutan mereka mendengar kedahsyatan murka Allah bila tidak benar menangani tabut tersebut. Sayangnya Saul lebih menghargai "Ikabod" (kemuliaan Allah yang sudah pergi) daripada membayar harga untuk mencari "kabod" (kemuliaan Allah).

Sekalipun Daud tahu bahwa memindahkan tabut perjanjian itu bukan hal yang tidak mengandung resiko, tetapi kerinduannya untuk tetap menghadirkan Allah di tengah-tengah rakyat dan bangsanya melebihi ketakutannya. Ketika Daud mengambil alih tahta, ia menyadari bahwa tidak ada tabut perjanjian, berarti tidak ada tempat pusat penyembahan, berarti tidak ada hadirat Allah. Karena itu, perjalanan spiritual orang Israel, menjadi seadanya saja. Padahal hati mereka hangat mengikuti Allah. Sebagai pemimpin mereka, Daud mengetahui bahwa ia perlu mengembalikan bagian dari perabotan suci itu ke tempat semestinya. Ia perlu menempatkan seperti yang sudah Allah rancang.

Teladan Daud
Hati Daud terpaku pada hadirat Allah, menurutnya hanya dekat dengan Allah saja ia dapat tenang (Maz 62:2), atau dengan kata lain tatkala ia memasuki hadirat-Nya maka ia merasakan ketenangan. Orang seperti Daud adalah orang yang akan berani membayar berapa pun harganya untuk suatu 'kehadiran Allah". Baginya harga berapapun jika terpaksa ia keluarkan tak sebanding bila ia bisa kembali menghadirkan hadirat Allah di tengah-tengah bangsanya. Daud tidak mau tenggelam dengan ketakutan orang-orang di jaman Saul. Daud melakukan terobosan yang belum pernah ada sebelumnya dan beresiko sangat tinggi.

Daud adalah orang peduli tentang hadirat atau kehadiran Allah. Bila Tuhan berkata-kata di dalam bahasa kita sekarang mengenai Daud maka Ia akan berkata: "Aku mendapatkan Daud sebagai orang yang peduli akan perkara-perkara yang Aku peduli". Ia adalah seorang yang hatinya berdenyut seirama dengan hati-Ku"

Keseharian Kita

Di dalam keluarga Allah ada orang-orang dengan dua kategori:

Pertama, mereka yang menghabiskan banyak waktu di "tempat pengapungan duniawi", mereka meratap dan mengeluh dan kemudian kembali dari perjalanan-perjalanan yang jauh menyimpang dari rencana dan kehendak-Nya.

Kedua, mereka tidak berani pergi jauh menyimpang sebelum mereka mulai memikirkan di mana mereka berada. Mereka segara kembali ke dalam barisan, karena mereka 'mencari hadirat-Nya' bukan menjauhi atau mengusir hadirat-Nya. Bagi orang-orang semacam ini, tidak ada yang tidak penting di dalam hubungan mereka dengan Allah. Tidak ada yang lebih penting yang dapat menginterupsi hubungan mereka dengan Allah termasuk ketakutan mereka. Jumlah orang yang mau mencari hadirat Allah dan mau membayar harganya tidaklah banyak, tetapi Daud justru seperti itu.

A.W. Tozer seorang teolog dan penulis Kristen dalam bukunya yang berjudul "Worship and Entertainment" merasa begitu prihatin dengan hilangnya perasaan akan adanya hadirat Allah dalam hati gereja. Bagi Tozer kurangnya rasa hormat yang dilakukan gereja tatkala beribadah menunjukkan bahwa gereja tidak berpikir bahwa hadirat Tuhan ada dalam ibadah mereka. Tozer sendiri memperhatikan bahwa kerinduan dan keinginan akan suatu kehidupan yang rohani sedang menghilang dan digantikan dengan sekularisme duniawi. Lingkungan semacam ini tidak akan menghasilkan jemaat yang dibangun (kebangunan rohani). Sebagai akibatnya ia merasa mungkin Tuhan telah mengarahkan pandangan-Nya ke arah lain, jika gereja tidak datang kembali kepada-Nya, pada suatu hubungan dengan Dia dan bukan hanya dengan berkat-berkat-Nya.

Ketika kita sampai pada pengamatan kehidupan spiritual, maka mereka yang mencari hadirat Allah di dalam hati dan perbuatannya memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap semua yang terkait dengan pekerjaan pelayanan-Nya. Sehingga ketika kita melihat hidup kita tidak tidak segaris dengan rencana-Nya maka kita perlu membawa kembali kehidupan kita segaris dengan kemauan-Nya.

Sekarang kita mulai berkata,"Aku tidak ketakutan terhadap Tuhan, karena aku mengasihi-Nya, tetapi sekarang saya telah memiliki rasa hormat terhadap kemuliaan dan perkara-perkara kudus dari Tuhan, yang sebelumnya tidak saya miliki".

Sudah saatnya gereja meminta 'Kabod' (kemuliaan) Allah terus memancar dalam dirinya dan ibadahnya dan bukan mempertahankan 'Ikabod' (kemuliaan Tuhan telah pergi).

Daud ingin memberi teladan pada manusia masa kini bahwa apa pun juga tidak ada yang dapat menghalangi relasinya yang akrab dengan Allah. Ia lebih baik mengorbankan keakrabannya dengan yang lain dan membangun keakrabannya dengan Allah. Baginya hadirat Allah adalah harga yang pantas untuk mengorbankan nyawa sekalipun.


Daniel Zacharias
education from womb to tomb

08 Oktober 2008

Disakiti Tapi Tak Membalas 2: Daud

Sikap iri hati selalu melahirkan kerusuhan dan malapetaka. Apa yang terjadi pada Yusuf adalah karena iri hati saudara-saudaranya maka apa yang terjadi pada Daud juga disebabkan oleh iri hati mertuanya sendiri, Saul. Karena kedengkian amat sangat maka mereka berkejaran dari satu tempat tandus ke tempat tandus lainnya. Iri hati bebas menguasai hati siapa saja mulai dari orang biasa bahkan seorang raja. Saul adalah orang berbadan besar dan berjabatan tinggi tetapi kecil dalam karakter. Kontras dari Saul dan Daud adalah Saul bertubuh besar berjiwa kecil dan Daud bertubuh kecil namun berjiwa besar.

Daud dan orang-orangnya berlindung di antara batu-batu karang dan gua-gua di En-Gedi. Charles R. Swindoll mengambarkan bahwa gua-gua tersebut melubangi tebing-tebing dan merupakan tempat ideal untuk menyamarkan keberadaan mereka. Di dalam pertempuran, lokasi yang lebih tinggi selalu lebih selalu lebih unggul daripada yang lebih rendah, dan di sanalah Daud berada – di tempat yang tinggi. Daud berada pada lokasi dengan persediaan air yang melimpah dan aman terlindung[1].

Saul yang sedang terbakar kebenciannya itu memburu Daud ke berbagai penjuru, dan di tengah-tengah pengejarannya yang penuh dengan dendam kesumat ia harus menjawab panggilan alam untuk membuang hajat di sebuah gua. Dan gua tersebut bukan gua yang sembarangan karena di dalam gua itu ada Daud dan orang-orangnya sedang bersembunyi.

Melihat Saul sedang dalam posisi yang sangat lemah maka orang-orang di sekitar Daud mendorongnya, ”Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik”. Suatu dorongan yang mengatasnamakan Tuhan untuk berbuat ini dan itu. Dorongan itu palsu, karena akhirnya Daud merasa sangat bersalah walau ia hanya memotong punca jubah Saul. Daud berkata: ”Dijauhkan TUHANlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.”

Yang dilakukan oleh Daud bukan analisis kemungkinan terburuk. Apakah analisis kemungkinan terburuk itu? Yaitu, apabila kita membayangkan motif yang paling jelek di balik perbuatan orang yang menyakiti diri kita. Kebalikannya adalah analisis kemungkinan terbaik yaitu dengan mengasumsikan motif terbaik yang mungkin ada di balik suatu perbuatan yang menyakitkan. Patut disayangkan bahwa kita biasanya menerapkan pemikiran kemungkinan terbaik ini hanya dalam pembelaan diri untuk kesalahan-kesalahan kita sendiri[2].

Daud adalah orang yang diurapi Tuhan demikian pula Saul. Daud tidak bersikap arogan sekalipun ia mengetahui kesalahan Saul. Tetapi hal luar biasa yang perlu diperhatikan hamba-hamba Tuhan masa kini adalah bahwa sekalipun Daud tahu: pertama, bahwa Saul telah melakukan kesalahan dimata Tuhan; kedua, bahwa Tuhan telah menolak Saul sebagai raja Israel; ketiga, bahwa Allah telah memilihnya sebagai raja menggantikan Saul, tetapi ia tidak mempergunakan alasan-alasan tersebut untuk membenarkan perbuatannya membunuh Saul. Sesama orang yang diurapi janganlah berbuat jahat, sekalipun orang yang diurapi itu memiliki kejahatan di mata Tuhan dan manusia.

Mungkin akan timbul pertanyaan: apakah ini berarti bahwa pembalasan itu jahat dan bahwa kejahatan tidak boleh dihukum? Sproul menjawab: sekali-kali tidak. Pembalasan jangan dipandang sebagai sesuatu yang pada hakikatnya jahat sebab dengan demikian kita mengaburkan integritas Allah. Allah tidak menentang pembalasan sebagai suatu kejahatan, melainkan menuntutnya sebagai hak-Nya sendiri dengan berfirman, ”Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan” (Roma 12:19).

Yang paling mencolok dalam firman ini sering kali terlewatkan. Ayat ini bukannya mengutuk setiap pembalasan, melainkan mengandung janji ilahi yang jelas dan tegas bahwa pembalasan akan dilaksanakan. Janji ini tak dapat diragukan, “Akulah yang akan menuntut pembalasan.”

Yang penting dalam Firman Allah ini ialah bahwa Ia telah menetapkan peran sebagai pembalas hanya bagi diri-Nya sendiri dan juga bagi orang-orang tertentu pada siapa Ia mendelegasikan tanggung jawab itu. Allah membatasi pembalasan dengan menetapkan batas-batas pelaksanaannya. Adalah hak-Nya dan bukan hak individu untuk membalas dendam atas kejahatan yang diperbuat. Allah mendelegasikan dan menetapkan kewajiban membalas dalam menegakkan keadilan pada sidang pengadilan manusia. Pengadilan bertanggung jawab kepada Allah untuk pelaksanaan tugas itu. Prinsip yang penting disini: individu tidak boleh menjadi pelaksana balas dendamnya sendiri[3]. Verne H. Fletcher, etikus Kristen, mengatakan bahwa etika Kristen bertumpu pada anugerah dan pengampunan ilahi.[4]

Inilah karakter yang serupa dengan Kristus. Walau Daud hanya dapat bernubuat tentang Kristus yang berinkarnasi tetapi sikap Daud telah mencerminkan Kristus dalam dirinya. Ia mengampuni seperti kemudian Kristus mengampuni orang-orang yang menyakiti-Nya dan ketika Ia sendiri memiliki kesempatan untuk membalas mereka. Ia mengampuni mereka yang telah menyakiti-Nya, demikian pula Daud mengampuni Saul sekalipun ia memiliki kesempatan untuk itu. Tidak banyak orang yang memiliki kelembutan untuk menolak dorongan untuk membalas.

Ada pepatah tanpa nama yang berkata: ”Pembalasan terhormat adalah mengampuni”. Sedangkan Benjamin Franklin mengatakan: ”

Dengan mencelakai,
anda menempatkan diri anda di bawah musuh anda
membalas seseorang
bahkan membuat anda sama sepertinya
Dengan mengampuni,
anda menempatkan diri anda di atasnya


[1] Charles R. Swindoll, Daud: Pria Penuh Gairah dan Terpilih (Bandung Cipta Olah Pustaka, 2000).
[2] R. C. Sproul, The Hunger of Significance (Surabaya: Momentum, 2005).
[3] Ibid.
[4] Verne H. Fletcher, Lihatlah Sang Manusia (Jakarta: BPK GM, 2007), 88.

Daniel Zacharias
education from womb to tomb