01 Juli 2009

Dua Keahlian Gereja Masa Kini

Awal Juni lalu saya bersama-sama rekan-rekan pendeta dari berbagai gereja di wilayah Banten berkumpul di Serang untuk berbicara banyak hal tentang relasi gereja-gereja, lembaga gereja-lembaga gereja, gereja-pemerintah dalam Workshop Pemuka Agama Kristen Kanwil Depag Provinsi Banten Tahun 2009.

Di sesi pertengahan saya diminta menyampaikan renungan yang saya ambil dari tulisan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus soal kesatuan tubuh. Dalam renungan yang saya rasakan cukup singkat itu saya menyentuh ada 2 hal utama yang sangat ironis terjadi dalam tubuh gereja sendiri:

1. GEREJA BERSATU KARENA ALASAN TEOLOGIS TETAPI GEREJA MENOLAK UNTUK BERSATU JUGA KARENA ALASAN TEOLOGIS.
Inilah salah satu 'keahlian' gereja masa kini. Kalau ditanya alasan gereja bersatu maka mereka semua akan menyebut ucapan Yesus 'ut omnes unum sint' sebagai landasannya yang kemudian dengan terampil akan mengutip ayat-ayat lain yang makin memperkokoh pikiran oikumenis itu. Kebijakan Zero Growth yang diambil oleh Departemen Agama cq Bimas Kristen Protestan sebenarnya adalah upaya menahan lajunya pertambahan jumlah sinode gereja di Indonesia yang tumbuh bukan karena pertumbuhan tetapi karena perpecahan. Dengan cara ini diharapkan gereja-gereja sealiran dapat bergabung atau merger dengan mencontoh dari Sinode Am GKI. Namun dalam kenyataannya banyak gereja tidak mau bersatu karena alasan: kepemimpinan, keuangan, dan seringkali alasan-alasan teknis tadi dibungkus dengan alasan teologis. Kalau sudah menyentuh wilayah ini saya jadi ingat istilah 'polarisasi', dari Alm. Pdt. Eka Darmaputera, yang bukan saja berada di lapisan lokal tetapi juga merembet sampai ke aras Nasional. Kehadiran PGI di satu sisi maka ada kehadiran PGLII, PGPI, dll. Saya menduga polarisasi terbentuk bukan karena kepemimpinan atau karena faktor material tetapi selalu faktor teologis. Misalnya dalam sebuah dialog imajiner seseorang berkata: "mengapa gereja saya yang belum bersinode ini tidak bisa gabung dengan gereja Advent yang sudah bersinode atau gereja Pentakosta yang juga sudah bersinode?" Maka jawaban yang akan lancar keluar dari mulut pendetanya biasanya adalah: "kami kan berasal dari tradisi teologi yang berbeda". Disitulah letak 'kehebatan' gereja: mengetahui alasan untuk bersatu karena alasan teologis dan alasan untuk tidak bersatu dibuatnya juga karena alasan teologis.

2. GEREJA MASA KINI JAUH LEBIH MAHIR DAN TERAMPIL MEMBERI CONTOH KEPADA DUNIA BAGAIMANA CARANYA MEMECAH DIRI KETIMBANG MENYATUKAN DIRI
Kita tidak bisa menyangkali bahwa gereja-gereja yang di Indonesia juga tidak sedikit yang merupakan perpecahan gereja di luar negeri. Dan tidak juga kita sangkali di tangan kita sendiri gereja-gereja juga pecah menjadi kepingan-kepingan. Bahkan ada yang menyebutnya karena kehendak Tuhan dan karena bisikan Tuhan. Padahal kalau dikaji benar soal 'bisikan' tadi masakan Yesus menentang doa-Nya sendiri. Doa Yesus menjadi monumen yang dapat kita pajang tetapi kehilangan makna. Dunia sulit untuk percaya kepada gereja karena gereja tak mampu menunjukkan jatidirinya yang merupakan utusan Kristus di dunia. Gereja yang semakin terpecah di satu sisi memenuhi keinginan untuk berkespresi tetapi di sisi lain memberi gambaran buruk dari ketidakmampuan menerjemahkan isi beritanya sendiri dalam kata dan perbuatan. Apapun kelihaian kita membungkus upaya perpecahan dengan berbagai dalih baik yang masuk akal maupun tidak, semua itu hanyalah bagian dari keadaan kita yang sebenarnya: "ketidakmauan kita mengakui apa yang tidak mau kita akui". H. Richard Niebuhr pernah mengatakan dalam bukunya The Social Sources of Denominationalism: "kalau denominasi itu adalah kemunafikan yang tidak mau diakui" (an unacknowledged hypocrisy)".

Daniel Zacharias
education from womb to tomb

18 Juni 2009

Akrab Dengan Allah: Keakraban Menghasilkan Kedewasaan Rohani

Efesus 4:11-16

Ada beberapa pemandangan yang lebih menarik dibandingkan persahabatan serta pertalian yang akrab antara ayah dan anaknya ketika sang anak memasuki masa dewasanya. Saling menghargai dan saling berbagi pikiran serta pengalaman dengan cara yang makin mendalam mewarnai komunikasi mereka. Satu sama lain saling menikmati.Bentuk hubungan seperti itulah yang Allah ingin pertahankan dengan anak-anak-Nya ketika mereka beranjak makin dewasa. Sama seperti ayah yang penuh perhatian merasa senang ketika mengalami anak yang bertumbuh dalam kedewasaan karakter yang mencakup segalanya, Allah pun bersukacita ketika melihat bahwa di dalam diri anak-anak-Nya terdapat sebuah kesetaraan yang semakin mirip dengan anak-Nya-manusia satu-satunya yang dewasa decara sempurna. Kedewasaan seperti ini membuka pintu untuk keakraban yang senantiasa makin mendalam, dan pada gilirannya keakraban itu memungkinkan dan mempercepat kedewasaan rohani dan kedewasaan karakter.

Kata Yunani untuk "kedewasaan"-teleois-suatu akhir, suatu tujuan, atau batas", kaya akan makna. Kata tersebut menggabungkan dua gagasan: (a) pencapaian standar tertentu, dan (b) pencapaian sasaran tertentu. Mengenai penggunaan kata dalam Matius 5:48 itu, A. T. Robertson berkata, "inilah sasaran yang ditentukan di depan kita, standar mutlak dari bapa Sorgawi kita. Kata itu digunakan juga untuk kesempatan relatif, sebagaimana orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak."

Sebagaimana ditunjukkan oleh Paulus, kata itu berarti "dibawa pada kesempurnaan, dewasa sepenuhnya, tidak kekurangan apa-apa". Dalam suratnya kepada orang Kristen di Efesus, ia memberi tahu mereka bahwa jemaat yang mempunyai karunia Roh mempunyai perannya sediri yaitu "untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak ... kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah kepala" (Efesus 4:12-15, cetak miring ditambahkan).

Perhatikan penekanannya-menjadi dewasa, bukan lagi anak-anak bertumbuh. Dan, standar yang digunakan untuk mengukur kedewasaan itu dinyatakan dengan jelas "tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristuas". Bagaimanakah penampilan orang Kristen yang dewasa? Ia akan terlihat seperti Kristus. Kedewasaan rohani, yang dinyatakan dengan istilah yang paling sederhana, yaitu kondisi seperti Kristus. Kita hanya menjadi dewasa sejauh kita menjadi serupa dengan Dia. Konsep itu didukung dengan fakta bahwa ketika kita mencapai kedewasaan penuh pada kedatangan Kristus yang kedua kalinya, "Kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya" (I Yohanes 3:2).

Dalam Efesus, rasul Paulus menghubungkan kedewasaan kita dengan "pengetahuan yang benar tentang Allah" (4:13). Mengenal Dia secara lebih lengkap dan lebih mendalam ialah sebuah faktor yang penting dalam mencapai subuah kedewasaan, dan itu merupakan suatu hal yang perlu untuk senantiasa bertumbuh, karena kita didesak untuk "bertumbulah dalam kasuh karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan juruselamat kita, Yesus Kristus" (2 Petrus 3:18). Idealnya, kita mengawali kehidupan rohani kita sebagai bayi di dalam Kristus; lalu kita bergerak maju menginjak masa remaja rohani; akhirnya kita mencapai status orang dewasa yang matang. Pola hidup dabnn pertumbuhan yang fundamental ini terjadi di alam rohani maupun di alam fisik.

Tingkat Kedewasaan
Rasul Yohanes, dalam suratnya yang pertama, menyadari fakta ini ketika ia menyebutkan dirinya sendiri kepda para pembacanya sebagai anak-anak, bapa-bapa, dan orang-orang muda (I Yohanes 2:12-14). Ia mencatat fakta bahwa ada tahap-tahap pertumbuhan yang berbeda di dalam hidup Kristen, yang dicapai oleh para murid dalam sekolah Kristen.
Hal yang penting adalah kita harus beralih kepada perkembangan yang penuh" (Ibrani 6:1). Teruslah bertumbuh.Terlalu banyak orang Kristen yang tidak mengalami pertumbuhan dalam hidup Kristen mereka-"macet di antara Paskah dan Pantekosta", sebagimana dikatakan oleh Dr. Graham Scroggie.

Suatu kali ada seorang wanita Kristen yang hampir mendekati ajal karena kanker. Ia tahu bahwa umurnya tinggal beberapa hari lagi. Suaminya memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya, mencoba membuat segala sesuatu mudah baginya. Wanita tersebut berkata kepada suaminya, "Engkau tidak boleh membuat segala sesuatu mudah bagiku. Engkau tahu, bahwa aku harus terus bertumbuh." Hidupnya yang akrab dengan Allah telah membawanya kepada suatu status kedewasaan rohani sehingga ia lebih peduli tentang bertumbuh ke arah Kristus daripada penderitaan dan ketidaknyamanannya sendiri yang dialaminya itu. Kita juga perlu menjadi ambisius untuk bertumbuh di dalam pengetahuan akan Allah.

Penulis surat kepada jemaat di Ibrani mendesak para pembacanya untuk menumbuhkan ambisi serupa melalui kata-kata ini. "Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran dari kristus dan beralih kepada perkembangan yang penuh" (6:1). Dr. Alexander Smellie menunjukan bahwa Alkitab King James Version menerjemahkannya, "Marilah kita menuju kepada ..." Uskup Westcott lebih suka menggunakan frase, "Marilah kita beralih."

"Faktanya ialah bahwa membutuhkan ketiganya untuk menyingkapkan pentingnya serta kekayaan kata kerja tersebut. Apabila disatukan bersama-sama, ketiganya menyatakan kepada kita mengnai tiga bahaya yang menghadang saat kita memandang benteng kesempurnaan di hadapan kita. Ada bahya kalau berhenti terlalu cepat. Ada bahaya kalau tenggelam dalam keputusasaan. Dan, ada bahaya jika kita menganggap bahwa kita berjalan sendiri." Betapa baiknya Allah yang telah memelihara kita melalui pelayanan Roh Kudus, karena keberadaan kita "telah beralih pada perkembangan yang penuh".

Paulus mengatakan kepada kita lebih lanjut, dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, bagaimana proses pendewasaan itu bisa dipercepat. "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar" (2 Korintus 3:18).

"Anda ingin menjadi seperti Kristus?" tanya Andrew Murray. Inilah jalurnya. Pandanglah kemuliaan Allah di dalam Dia. Di dalam Dia, Artinya, jangan melihat kata-kata, pikiran-pikiran, kasih karunia di mana kemuliaan-Nya dapat terlihat, namun melihat kepada Dia semata, Kristus yang adlah kasih dan hidup. Pandanglah Dia! Tataplah mata-Nya! Lihatlah wajah-Nya, sebagai seorang sahabat yang mengasihi, sebagai Allah yang hidup."

Visi Yang Mengubahkan
Perubahan menjadi serupa dengan Kristus diawali, sebagimana dinyatakan oleh 2 Korintus 3:18, bukan dengan mawas diri secara subjektif, namun dengan melihat kemuliaan Tuhan secara objektif sebagaimana yang diwujudkan di dalam diri Yesus. Pemandangan yang memukau tidak terlihat di angkasa yang kemilauan, tetapi di dalam Firman Tuhan yang tertulis, yang diterangi oleh Roh yang memberi ilham. Firman ialah sebuah cermin yang menyatakan dan mencerminkan karakter Kristus yang unik, kedewasaan yang sempurna, karakter yang tak bercela, dan karya penebusan. Oleh karena itu, Allah telah membuat cahaya terang-Nya bersinar "di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus" (2 Korintus 4:6).

Kemuliaan Alllah itu tidak berabstrak atau tidak berwujud; kemuliaan itu sungguh-sungguh dinyatakan dalam hidup manusia, di dalam pribadi dan karya Kristus. Namun, di mana kita dapat menemukan wajah Kristus? Bukan pada kanvas artis, karena potret-Nya hanyalah proyeksi dari pikiran serta konsep mengenai diri-Nya sendiri. Wajah Kristus bisa dilihat di dalam kiasan yang dilukiskan bagi kita dengan warna-warna yang begitu indah oleh para penulis biografi Injil, yang diilhamim oleh Roh, yang memberi kita potret-Nya secara keseluruhan. Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus melihat wajah itu tetapi mereka tidak melihat kemuliaan, karena prasangka dan ketidakpercayaan mereka menutupinya menjadi lebih rapat dibandingkan selubung yang menyembunyikan kemuliaan wajah Musa ketika ia kembali dari pertemuan dengan Allah (Keluaran 34:33-35).

Rencana Allah bagi anak-anak-Nya bukanlah tiruan lahiriah, tetapi perubahan batiniah. Kemuliaan yang terlihat diwajah Musa ketika ia turun dari gunung nyaris tidak kelihatan dan memudar. Namun, kemuliaan yang Paulus bicarakan di sini ialah kemuliaan yang dipelihara dan disalurkan, karena kata yang diartikan "melihat" disini sama artinya dengan "memancarkan'.

Metode Pengubahan
Metode yang digunakan untuk membuat perubahan bukanlah "perjuangan yang disertai putus asa ketika melawan sesuatu yang memikat", tetapi "melihat" dengan gigih dan konsisten-memandang Kristus di dalam segala keagungan, kemuliaan, kasih, kekudusan, kebenaran, dan keadilan-Nya, sebagaimana ditetapkan dalam kitab Suci. Tatkala kita melihat semua unsur itulah kita sedang diubahkan untuk menjadi serupa dengan Dia.

Apa yang selalu dilihat oleh mata kita sangat berpengaruh terhadap karakter Kristen. Kita menjadi seperti mereka yang kita kagumi. Alexander Agung membaca Iliad karya Homer dan ia pun bertekad untuk menaklukan dunia. Karakter dan kebiasan dibentuk oleh sikap dan kebiasaan dari orang yang terus-menerus kita temui. Siapakah yang belum pernah melihat tiruan-tiruan dari para bintang film yang berparade sepanjang jalan?

Bagaimana Roh Kudus memberi pengaruh yang mengubah diri kita menjadi diri kita yang sama sekali baru? Ada kesejajaran secara fisik dengan proses menelan dan mencerna makanan. Kita mengkonsumsi makanan dan kita lupa tentang semua makanan itu. Tubuh kita berfungsi dan enzim melakukan perannya. Tanpa upaya aktif atau aktifitas apa pun dari pihak kita, makanan itu perlahan-lahan diubahakan menjadi suatu bentuk lain dan menyatu ke dalam seluruh tubuh jasmani kita. Itu diubahkan menjadi daging, tulang, darah, rambut dan energi. Dan semuanya terjadi tanpa tindakan aktif dari pihak kita.

Dengan cara yang sama, kita menggunakan waktu dengan tekun untuk "melihat ... kemuliaan Tuhan" di wajah Yesus Kristus-kebajikan, rahmat apa yang sudah dilakukan-Nya-Roh Kudus tidak hanya menyatakan Dia kepada kita, tetapi Ia memproduksi Kristus di dalam diri kita. Tanpa tindakan aktif dari pihak kita, Ia menanamkan kebajikan-kebajikan serta nilai-nilai yang kita lihat di dalam Kristus dalam kehidupan rohani kita, dan itu makin merubah kita menjadi serupa dengan Dia. "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung ... maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya:" (2 Korintus 3:18).

Perubahan batiniah bukan semata-mata hasil dari waktu sesaat dimana kita meninggikan keagungan serta kekudusan-Nya. Perubahan yang berkesinambungan itu terjadi ketika kita terus memandang Dia. Tidak ada kasih karunia yang kita lihat dalam karakter Tuhan
kita yang tidak mungkin menjadi milik kita yang makin berkembang jika kita bersandar pada Roh Kudus untuk memproduksinya di dalam diri kita.

Jadi inilah yang ditulis A. W. Tozer:
"Banyak orang telah menemukan rahasia yang telah saya bicarakan dan, tanpa berpikir lebih panjang tentang apa yang terjadi di dalam diri mereka, secara terus-menerus mereka mempraktekan kebiasaan untuk memandang Allah dari dalam hati mereka. Mereka memahami bahwa sesuatu dalam hati mereka sedang memandang Allah. Bahkan, ketika mereka dipaksa untuk mengalihkan perhatian mereka dengan sadar agar terlibat dalam perkara-perkara dunia, di dalam mereka ada terjadi suatu persekutuan rahasia.Biarkan perhatian mereka beralih untuk sesaat saja pada kesibukkan mereka sendiri, pasti mereka akan kembali kepada Allah sekali lagi."

Bagian kita ialah melihat. Hak istimewa Roh Kudus-lah yang akan mengubahkan.


Daniel Zacharias
education from womb to tomb

12 Juni 2009

Gereja dan Pendidikan

Pendidikan memegang posisi dan peranan yang sangat strategis dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Sayangnya dalam posisi dan peran semacam ini, pendidikan di negeri ini belum dapat secara optimal menjadi sebuah jalan yang memadai guna mencapai cita-cita luhur tersebut. Hal ini disebabkan oleh karena keutuhan yang diharapkan dibentuk dan diwujudkan melalui pendidikan pada kenyataannya malah dikhianati sendiri oleh suatu tradisi pendidikan yang lebih memberi penghargaan hanya kepada siswa atau mahasiswa yang berprestasi tinggi dalam pengetahuan dan berketerampilan baik dalam bidang tertentu saja. Penghargaan yang sifatnya mengarah kepada pendidikan yang melakukan pengembangan nilai-nilai dalam pembentukan karakter manusia seutuhnya malah tidak mendapat tempat. Keutuhan manusia ternyata hanya dilihat sebagian saja di dalam praktek dari sistem pendidikan kita.

Harus kita akui bersama bila Indonesia tidak akan pernah kehilangan atau bahkan kehabisan orang pintar dan terampil. Kita memiliki banyak orang yang terdidik dan terlatih dengan baik dalam bidangnya. Indonesia dibangun oleh orang-orang semacam ini. Namun di sisi lain harus kita akui pula bahwa negeri ini juga dirusak oleh orang-orang cerdas dan terampil yang telah kehilangan atau bahkan sama sekali tidak pernah memiliki nilai-nilai luhur moral dan iman. Satu-persatu pesohor dari berbagai jabatan penting di negeri ini yang pernah mengenyam pendidikan bahkan sampai strata yang tertinggi ternyata harus mengakhiri karirnya di bui. Hal ini disebabkan bukan karena faktor kekurangcerdasan atau karena kekurangterampilan, tetapi hal itu disebabkan karena kurangnya nilai-nilai moral dan imaniah yang membuat kecerdasan dan keterampilan menjadi tak punya makna yang utuh. Media massa melaporkan beberapa caleg yang tidak mendapatkan suara dalam Pemilu Legislatif 2009 dengan tanpa rasa malu menarik semua bantuan yang sudah pernah mereka bagikan kepada masyarakat dalam masa kampanye. Dan yang paling ironis adalah mereka menarik bantuan berupa bahan bangunan dalam rangka pembangunan sebuah rumah ibadah. Kenyataan-kenyataan sejenis muncul dimana-mana yang sedang mempertontonkan kepada kita bila nilai-nilai moral dan imaniah sudah lama tidak mendapat porsi yang proporsional sekalipun mereka beragama dan institusi keagamaan masih tegak berdiri, dan hal ini sekaligus mengkoreksi kualitas pendidikan-pendidikan agama di negeri ini yang belum terlihat berdampak pada perilaku manusia Indonesia secara umum.

Dalam konteks gereja hal ini disebakan oleh dua hal:
Pertama, dalam sumbangan dari konteks kristiani, Gereja, dalam hal ini sebagai agen yang menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam arti memperjuangkan kasih, keadilan, dan kebenaran dalam masyarakat, malah terlihat sama sekali belum berperan atau malah sudah kehilangan perannya sama sekali. Kelihatannya mayoritas pendidikan di dalam gereja dan oleh gereja masih berorientasi pada urusan-urusan internal yang cakupannya sangat terbatas. Bahkan tidak sedikit yang merasa soal-soal tersebut bukanlah urusan gereja dan membiarkan pemerintah mengambil alih urusan ini. Padahal sebenarnya gerejalah yang harus berperan aktif. Mengapa sebenarnya gereja harus terlibat dalam hal ini?

Tatkala Karl Barth memandang gereja sebagai institusi maka ia menjumpai ada 9 (Sembilan) unsur kelembagaan gereja yang salah satunya adalah pendidikan. Dengan kata lain ia sedang mengisyaratkan bahwa pendidikan dan gereja bukanlah hal yang terpisah dan gereja dalam hal ini berfungsi sebagai lembaga yang bertugas untuk mendidik. Dalam hal ini tercermin bahwa gereja tidak dapat melarikan diri dari unsur yang merupakan bagian dari pembentukan jatidirinya. Gereja harus mengambil peran sebagai ‘garam’ dan ‘terang’ dalam dunia pendidikan. Harry Blamires dalam “The Christian Mind” menulis bahwa yang masih ada sekarang ini adalah etika Kristen (orang masih bermoral dan berusaha untuk tidak berbuat hal memalukan) dan spiritualitas Kristen (orang masih beribadah), sedangkan pikiran Kristen (Christian Mind) sudah tidak ada. Pikiran-pikiran yang berkembang dalam benak jemaat seringkali bersandar pada pikiran-pikiran sekuler-humanistik yang egois sekalipun mereka adalah warga gereja dan dibina dalam dan oleh gereja.

Ancaman bagi pendidikan gereja dan oleh gereja bukanlah datang dari agama-agama lain. Malah gereja harus bekerjasama dengan agama lain dalam pembentukan moral dan karakter bangsa menghadapi ‘musuh bersama’ yakni sekularisme. Barth sudah lama melihat bahwa sekularisasi akan merupakan ancaman bagi gereja-gereja di kemudian hari. Ia berujar bila sekularisme itu tidak lain adalah kerasingan yang dialami gereja pada saat ia tidak mau mendengar suara Gembala yang baik, namun malahan mengikuti suara orang asing. Pendidikan yang sekuler-humanistik belakangan ini malah semakin merajalela bahkan ironisnya tidak memberi ruang yang memadai bagi pendidikan agama yang dikerjakan gereja dalam dunia pendidikan atau bahkan oleh agama-agama lainnya. Pendidikan agama kendatipun tetap ada seringkali lebih diarahkan pada pemahaman kognitif agama ketimbang rasa-afeksi atau internalisasi nilai-nilai, atau bahkan hanya sekedar pelengkap sebuah kurikulum yang berketuhanan namun dampaknya sangat kecil bahkan terkesan basa-basi.

Apa yang dikuatirkan Barth masih terasa relevan dengan situasi sekarang dimana pendidikan kita seolah terasing dari pengaruh agama dan lebih berpihak pada kecondongan menciptakan manusia kerja yang cerdas dan terampil namun berwatak serakah, aji mumpung, opurtunistis, sektarian, fanatik, introvert, hedonis, kehilangan rasa hormat, tidak disiplin, lihai bermain kotor, egois, tidak loyal, mudah disuap, tidak berpendirian teguh, mengorbankan nilai-nilai keluarga, acuh tak acuh memandang hukum dan aturan, dan tidak dapat menjadi teladan.

Kini secara konkrit apa yang sebenarnya yang harus gereja kerjakan? Kekristenan melalui gereja mendorong agar dunia pendidikan kembali dipengaruhi oleh pemahaman kristiani tanpa mengabaikan sumbangsih pandangan agama-agama lain, dan tanpa bermaksud mengubah sebuah universitas menajadi sebuah seminari teologi atau mengkristenkan berbagai universitas.
Kekristenan harus menjadi sebuah kekuatan yang bersatu juga dengan penganut agama yang lain untuk menghadapi “musuh” bersama (menurut Louis Berkhof dan Cornelius van Til) dengan prasyarat:

a. Filsafat pendidikan harus didasarkan pada sebuah pengakuan pendidikan dalam bidang apapun memiliki hubungan asasi dengan Tuhan.
b. Kurikulum tidak lagi humanistik tetapi pada sebuah teosentris yang bebas namun bertanggung jawab (bukan kaku atau legalis seperti tunduk pada Taurat).
c. Naradidik merupakan subyek sekaligus obyek pendidikan yang hanya akan tumbuh dengan benar bila diletakan berhadapan dengan Tuhan dan bukan terhadap dirinya sendiri.

Gereja dan agama-agama lainnya melakukan kaderisasi penguasaan ilmu pengetahuan dari berbagai bidang dengan mengutus, melatih, mendidik, mengirimkan dengan beasiswa semua kader-kader yang dianggap dan diperhitungkan kelak dapat menduduki posisi-posisi penting dalam semua strata pendidikan, sehingga dimungkinkan membawa kembali dunia pendidikan pada pikiran-pikiran yang menggarami dan bukan menyerahkannya pada kesesatan atheistik atau sekularisme-humanistik yang sempit.

Gereja mau terlibat aktif dalam sebuah penelitian, percakapan, bahkan dalam penyebaran pikiran-pikiran kristiani yang kembali ‘menggarami’ pola pikir dan gaya hidup masyarakat yang perlahan dan pasti sedang membusuk karena terlalu sering contoh-contoh buruk dipertontonkan kepada masyarakat.

Kedua, diabaikannya pikiran gereja dari lingkungan pendidikan juga dapat disebabkan oleh karena ketidakrelevanan berita gereja dalam konteks pendidikan bagi generasi muda dan bagi zaman modern karena pola pendekatan yang tidak diperbarui. Lyle Schaller, seorang konsultan gereja Amerika dari United Methodist mengemukakan bahwa gereja harus beradaptasi dengan era baru. Adaptasi di sini tidak berarti substansi pemberitaan Gereja harus diubah, tetapi yang mengalami perubahan adalah cara kita mengemas dan menyampaikan pesan Injil. Gereja seyogyanya harus mengemas isi pendidikannya sedemikian rupa agar mudah ditangkap dan dicerna oleh generasi muda sesuai zamannya. Pemutakhiran literatur pendidikan agama merupakan langkah yang harus dikerjakan gereja sesegera mungkin melalui jejaring gereja yang sudah ada (PGI dan yang sejenis) dengan berkoordinasi dengan berbagai pihak yang memungkinkan terwujudnya maksud tersebut. Namun yang terpenting yang harus disadari gereja adalah bahwa tanggung jawab itu berada di tangan gereja sendiri.


Daniel Zacharias
education from womb to tomb

16 Mei 2009

Ezra: Tokoh Yang Memulihkan Israel (Ezra 9:1-15)

EZRA adalah tokoh yang tampil di tengah-tengah bangsa Israel setelah pembuangan. Ia juga adalah seorang imam dan ahli Taurat. Menurut tradisi EZRA adalah orang yang mengumpulkan setiap kitab PL menjadi satu unit, yang memulai bentuk ibadah yang dipakai di sinagoge dan yang mendirikan Sinagoge Besar di Yerusalem di mana kanon PL (kumpulan PL yang baku) ditetapkan. EZRA adalah pemimpin yang saleh dengan kesetiaannya yang kokoh dan kasih yang mendalam kepada firman Allah.

Pada saat raja Arhasasta mengijinkan orang Israel pulang kembali ke Yerusalem dari tanah pembuangan, maka Zerubabel memimpin rombongan pertama pulang, dan EZRA, adalah tokoh yang memimpin rombongan kedua. EZRA diperintahkan Allah untuk memulihkan kerohanian dan moralitas bangsa Israel yang telah rusak baik sebelum pembuangan maupun sesudah mereka menjalani pembuangan (Nehemia 8:1-8). Hal itu ia lakukan karena ia menjumpai kemerosotan rohani dan moral yang luas antara kaum pria Yehuda, yang tampak dari nikah campur dengan wanita kafir. EZRA dengan hati sedih mengakui dosa-dosa mereka kepada Allah dan mengadakan syafaat demi mereka (ps. 9). Sikap seperti yang dilakukan EZRA adalah contoh yang baik sekali dari keprihatinan dan kekhawatiran yang seharusnya dialami oleh semua hamba Allah yang benar ketika menyaksikan umat Allah sedang menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan fasik. EZRA adalah tokoh yang tidak akan pernah diam selama umatnya berada di dalam kekeliruan dan kesalahan.

Kitab EZRA berakhir dengan peristiwa EZRA memimpin para pria dalam pertobatan di depan umum dan pembatalan ikatan pernikahan dengan wanita kafir (ps. 10).

Pelajaran dari tokoh EZRA khususnya pada pasal 9:
1. Allah dapat memakai orang biasa menjadi orang yang luar biasa.
2. EZRA terkejut, malu, dan sangat sedih karena kesalahan umat itu (ayat 3-6);
3. EZRA memiliki suatu perasaan yang dalam mengenai kemuliaan, kebenaran dan kasih Tuhan yang sedang ditolak umat saat itu (ayat 4, 8-10). Ia tidak bisa menerima apa yang sedang dilakukan umat itu (ayat 3, 5; 10:1);
4. EZRA berdoa kepada Allah dalam kerendahan hati dan dengan air mata (ayat 3, 5; 10:1).
5. EZRA menyatukan dirinya dengan mereka yang didoakan olehnya dengan menyebut "dosa-dosa kami" dan "kejahatan-kejahatan kami" (ayat 6-15); ia merasakan rasa malu dan kesalahan nasional lebih dalam daripada mereka;
6. EZRA memahami bahwa kasih karunia dan kemurahan Allah, yang ditunjukkan kepada sisa yang kembali, dengan membangkitkan harapan dan visi tentang masa depan, membangun kembali bait Allah dari puing-puing dan memberikan mereka tembok perlindungan, kini sedang diancam oleh ketidaktaatan umat itu kepada firman Allah (ayat 8-15);
7. EZRA sangat sadar akan kasih karunia dan kemurahan Allah sehingga mengharapkan akan melihat pengampunan dan pemulihan umat itu (ayat 8-9, 12-14).
8. Akhirnya, penyesalan EZRA yang dalam menarik perhatian orang lain yang gemetar "karena firman Allah Israel" (ayat 4) dan memahami dampak-dampak yang merusak dari dosa untuk umat itu dan keluarga mereka (ayat 7, 13-15).


Daniel Zacharias
education from womb to tomb

12 April 2009

PASKA: Batu Itu Sudah Terguling

Markus 16:1-8

Sejak pintu kubur Yesus ditutup dan kemudian disegel maka murid-murid Yesus bergumul dengan dua pertanyaan:

Siapa yang akan menggulingkan batu?
Pertanyaan ini mengandung nada kuatir dan ketidakberdayaan para perempuan yang ingin merempahi mayat Yesus untuk memasuki kubur Yesus yang ditutup batu besar dan disegel serta dijaga.

Siapa yang telah menggulingkan batu?
Pertanyaan ini malah mengandung nada bingung dan cemas bahkan curiga karena melihat kubur Yesus telah terbuka.

Ketika kubur belum terbuka pertanyaannya: SIAPA YANG AKAN MENGGULINGKAN BATU?
Dan sesudah batu terguling pertanyaannya: SIAPA YANG TELAH MENGGULINGKAN BATU?

Fokus pertanyaan memang terarah ke arah batu penutup kubur Yesus tetapi maksud sebenarnya terletak pada oknum yang akan dan telah menggulingkan batu itu.

Kedua pertanyaan itu di mata para murid sayangnya senantiasa dijawab dalam tataran manusiawi.

SIAPA YANG AKAN MENGGULINGKAN BATU? Minimal para murid laki-laki tentunya.

SIAPA YANG TELAH MENGGULINGKAN BATU? Pasti mereka yang punya rencana jahat.

Tak satu pun dari pikiran para murid terarah pada maksud yang rohani dan mendalam untuk jawaban itu. Pikiran mereka dibutakan dan seolah tidak pernah mendengar janji Yesus bahwa Ia akan bangkit.

Itulah kecenderungan manusia yang pikirannya selalu terpaku pada peristiwa-peristiwa manusia dan tidak memberi ruang untuk peristiwa Allah.

Kita jangan bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan dan pergulatan-pergulatan yang dalam kacamata lahiriah saja tetapi juga yang rohaniah.

Ketika batu sudah terguling dan itu adalah peristiwa Allah namun mereka tetap saja menilainya sebagai peristiwa manusia.

Batu itu telah terguling membuktikan bahwa Yesus tidak dapat ditahan maut, namun belum juga dimengerti para murid.

Batu itu telah terguling membuktikan kuasa dunia apapun tidak dapat menyandera Yesus, belum juga dimengerti para murid.

Batu itu telah terguling membuktikan kebangkitan kita orang percaya menyerupai cara bangkit Kristus, belum juga dimengerti para murid.

Kita harus punya cara pandang yang melampaui cara pandang para murid, yang melihat batu belum terguling kemudian mulai mencari jalan, dan ketika terguling malah muncul curiga. Kita harus melihat jauh pengertian BATU YANG TERGULING ITU LEBIH dari sekedar BATU yang menutup sebuah makam.


MAKNA BATU YANG TERGULING
Batu besar menjadi lambang maut, dan maut adalah suatu kekuasaan. Jika orang sudah ditelannya tidak dapat kembali.

Kematian adalah suatu perkara yang pasti, yang tidak bisa dielakan. Setiap orang mengetahui bahwa sekali kelak ia akan mati. Kematian itu bisa terjadi di atas kasur empuk, bisa terjadi di tengah jalan, sama saja. Entah dikuburkan dengan upacara yang meriah, atau dikuburkan dengan tanpa suatu upacara, sama saja! Pada prinsipnya, maut menggenggam orang mati itu dalam kekuasaannya, dan tidak pernah melepaskan mangsanya.

Ilmu pengetahuan manusia, bagaimana pun canggihnya, tidak dapat memecahkan persoalan ini. Ilmu pengetahuan manusia selalu berhenti di tepi kuburan dan tidak pernah melewati batas itu. Jika demikian, maka Siapakah yang dapat menolong kita untuk menggulingkan batu itu dari pintu kuburan kita masing-masing?

Paskah adalah berita tentang batu yang terguling, berita tentang kekalahan maut di depan Anak Allah.

Paskah menyatakan Siapakah sebenarnya Yesus Kristus itu. Paskah menyatakan bahwa kita tidak menyembah seorang manusia yang kelak menjadi debu dalam kuburan!

Kita MENYEMBAH ORANG YANG TELAH BANGKIT DAN MENGGULINGKAN BATU KUBURNYA – DIALAH YESUS.

Paskah berarti: kita menyembah Tuhan yang hidup, yang berkuasa menyelamatkan, yang telah mematahkan belenggu maut. Batu yang sudah terguling itu berarti kita tidak usah takut lagi terhadap maut!

Walaupun maut itu masih ada, dan kadang-kadang ia menyerang kita secara kejam.

Mungkin maut masih dapat membentak-bentak, seakan-akan ia masih berkuasa. Namun Yesus mengetahui bahwa bagimanapun kejamnya maut, ia telah dikalahkan!

Firman-Nya kepada setiap anak tebusan-Nya: “Jangan takut! Aku adalah yang awal dan yang akhir, dan yang hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut” (Wahyu 1:17, 18).

Ingatlah kepada batu pertama yang telah terguling, yang akan disusul oleh batu-batu yang lainnya! Ingatlah bahwa maut adalah kekuasaan yang telah patah.

Itulah sebabnya Paulus, walaupun kemudian dipancung kepalanya, bersorak-sorak: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” (I Kor. 15:54b, 55).

Inilah rahasia orang Kristen. Seorang Kristen dapat mati dengan tersenyum, walaupun maut datang menyerangnya secara kejam. Sebab selalu tampak kepadanya sinar-sinar Paskah di belakang maut.

Paskah! Batu telah terguling! Bersukacitalah! Amin.

Daniel Zacharias
education from womb to tomb

Kita Lebih Dari Pemenang

Roma 8:31-39

Orang Kristen menang? Seharusnya bukan lagi menjadi sebuah pertanyaan tetapi proklamasi atau kesaksian yang tak terbantahkan. Namun pada kenyataannya justru banyak orang percaya yang nasibnya ternyata sering disebut sebagai kekalahan orang yang seharusnya menang.

Apa yang diproklamirkan oleh Paulus adalah sebuah kenyataan bahwa orang yang percaya kepada Yesus adalah orang yang bukan sekedar menang tetapi lebih dari itu. Atau dengan kata lain Yesus ingin menunjukkan tentang sebuah kemenangan orang yang menang dan bukan kekalahan orang yang menang.

Kebangkitan Kristus yang menunjukkan kemenangan kebangkitan itu hendaknya nyata efeknya pada mereka yang akrab dengan Dia. Perayaan Paskah bukan mengenang kemenangan masa lalu tetapi sebagai refleksi ke depan bahwa kita tetap akan diberi kemenangan.

Merayakan Paskah tanpa turut menikmati kemenangannya maka hal itu hanya merupakan sebuah perayaan sebuah kisah mitos yang pada akhirnya nasib pelaksanaannya menjadi sangat nisbi. Padahal jaminan penyertaan Yesus melalui kemenangan kebangkitan-Nya menjadi jaminan yang melampaui semua situasi pahit manusia: "Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."

Paskah bukan sekedar proklamasi kepada dunia bahwa Kristus telah bangkit dan menang, tetapi Ia juga menunjukkan kemenangan itu dalam diri kita selaku gereja yang sulit untuk dibantah dunia.

Daniel Zacharias
education from womb to tomb

31 Maret 2009

Akrab Dengan Allah: Bertindak Maksimal Bagi Allah

Matius 25:14-30

Mendengar tema berbunyi Bertindak Maksimal Bagi Allah maka timbul pertanyaan dalam batin ini: apakah Bertindak Bagi Allah sama artinya dengan Bertindak Maksimal Bagi Allah?

Jawabannya bisa dikatakan "serupa tapi tidak sama". Mengapa dikatakan "serupa"? Karena kedua-duanya merupakan tindakan yang ditujukan bagi Allah. Dan mengapa pula dikatakan "tapi tidak sama?" Karena yang satu hanya disebut "bertindak" saja, sedangkan yang lain disebut "bertindak maksimal". Rupanya kata kunci yang membedakan kedua tindakan tersebut adalah kata 'maksimal'.

Kata 'maksimal' dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti:
1. sebanyak-banyaknya
2. setinggi-tingginya
3. mencapai batas tertinggi

Sehingga bertindak maksimal bagi Allah berarti: Bertindak atau melakukan suatu tindakan yang setinggi-tingginya, atau sebanyak-banyaknya, atau mencapai batas tertinggi hanya bagi Allah atau bagi pekerjaan Allah. Perumpamaan tentang talenta akan menunjukkan kepada kita bagaimana hidup dengan tindakan yang maksimal terhadap Allah.

Perumpamaan ini secara singkat mengisahkan bagaimana seorang tuan hendak bepergian ke luar negeri, dan menitipkan modal berupa talenta yang berbeda-beda pada ke-3 Hambanya, dengan urutan: Hamba ke-I diberi 5 talenta, Hamba ke-II diberi 2 talenta, Hamba ke-III diberi 1 talenta. Sekembalinya dari luar negeri ternyata didapatinya: Hamba ke-I memperoleh laba 5 talenta, Hamba ke-II memperoleh laba 2 talenta, Hamba ke-III tidak memperoleh apa-apa.

Dari kisah ini ditarik pemahaman:
Hamba ke-I: adalah gambaran dari orang yang menerima banyak dan tetap bertindak maksimal.
Hamba ke-II: adalah gambaran dari orang yang menerima sedikit dan tetap bertindak maksimal.
Hamba ke-III: adalah gambaran dari orang yang menerima sedikit dan tidak bertindak maksimal.

Dari kisah ini terlihat bahwa "bertindak maksimal" adalah Alkitabiah dan menjadi syarat bagi orang yang bekerja bagi Allah dan yang hidup akrab dengan Allah. Talenta pada masa sekarang ditafsirkan sebagai: Karunia Allah khusus bisa berupa kemampuan, bakat, kepandaian, keahlian, jabatan, harta, dll. Berkaitan dengan talenta maka tindakan yang maksimal memegang peranan yang penting, hal itu terlihat dari beberapa pokok yang kita dapat dari perumpamaan ini, antara lain:

MEMILIKI TALENTA SAJA TAK CUKUP, DIPERLUKAN PULA SUATU TINDAKAN YANG MAKSIMAL


  • Sayang sekali bila orang terlalu bangga dengan talenta-talenta yang ia miliki tetapi tindakan untuk mengembangkan talenta itu tidak ada atau tidak maksimal. Hal ini tercermin dari perbuatan Hamba ke-III.

  • Dalam pelayanan dan kehidupan keseharian tidak sedikit orang percaya yang berprinsip "asal jadi dan terlihat ada" dalam seluruh bentuk pelayanan. Karena itu jelas terlihat bahwa selain talenta diperlukan pula suatu tindakan maksimal yang mencakup Keseriusan, ketelitian, kesungguhan, kesungguhan, kerja keras, serta ketabahan.

YANG TERPENTING ADALAH BUKAN BERAPA BANYAK TALENTA YANG KITA MILIKI TETAPI PADA KEMAKSIMALAN TINDAKAN KITA



  • Hal ini jelas tercermin pada kefrustasian Hamba ke-III dan teladan dari Hamba ke-II. Di mata Hamba ke-II, jumlah talenta yang minim tak menghalanginya untuk bertindak maksimal bagi Allah. Jadi yang maksimal bukan jumlahnya tetapi tindakan terhadap talenta tersebut.

  • Banyak orang yang karena tidak mempunyai kemampuan apa-apa dan cuma bisa berdoa atau membersihkan gereja sering merasa rendah diri dan tak jarang yang kemudian menarik diri dari Gereja.

TINDAKAN MAKSIMAL DISESUAIKAN DENGAN KEMAMPUAN TIAP-TIAP ORANG
Hal utama yang harus dipahami adalah bahwa Allah itu adil (ayat 15). Semakin banyak kita menerima dari Allah maka semakin banyak yang dituntut dari kita. Mungkin semua orang tidak sama kemampuannya tetapi bertindak maksimal tetap berlaku. Alkitab sendiri menunjukkan bahwa tiap-tiap orang diperlengkapi dengan karunia yang berbeda dan yang dituntut dari orang-orang ini adalah ternyata bahwa mereka dapat dipercaya.

Ada sebuah artikel majalah yang dapat kita renungakan bersama: "tugas-tugas besok hanyalah untuk orang yang melakukan tugas-tugas kecil sekarang ini sebaik mungkin sesuai kemampuan yang terbaik".

HASIL YANG MAKSIMAL HANYA DI DAPAT DARI SUATU TINDAKAN YANG MAKSIMAL



  • Hamba ke-I dan yang ke-II adalah hamba-hamba yang bertindak maksimal (bd. kata 'menjalankan' ayat 16). Jangan pernah berharap pelajaran/pendidikan/pekerjaan/pelayanan kita akan maju bila tindakan kita tidak maksimal.

  • Seringkali ketidakmajuan dalam kinerja pelayanan dalam jemaat bukan terletak pada persoalan dana semata-mata tetapi para pelayan sering bertindak tidak maksimal. Hasil maksimal bukan mimpi tetapi merupakan konsekwensi logis dari orang yang bertindak maksimal.

TINDAKAN YANG MAKSIMAL ADALAH CERMINAN DARI KETAATAN, KESETIAAN, SERTA KASIH KITA PADA ALLAH



  • Hamba I dan Hamba II adalah Hamba yang taat dan setia. Perhatikan kata ..."baik sekali" ... hai Hambaku yang baik dan setia (ayat 21). Kebaikan dan kesetiaan kita kepada Allah tampak dalam kemaksimalan yang kita tunjukkan.

  • Orang yang memiliki kasih pada Allah berani bertindak maksimal bagi Allah/bersedia bertindak maksimal. Yakub dalam PL berani yang menanti dan berkorban selama 14 tahun karena cintanya pada Rahel. Yakub bertindak maksimal untuk hasil yang maksimal.

  • Jangan pernah kita berkata bahwa kita adalah Hamba Allah yang taat, setia serta mengasihi Allah bila kita selalu bertindak asal-asalan.

PENGHARGAAN KITA KEPADA ALLAH DAPAT DITUNJUKKAN MELALUI TINDAKAN KITA YANG MAKSIMAL



  • Kadang-kadang sulit sekali meminta teman untuk menggantikan kita berkhotbah. Apalagi menggantikan khotbah yang tempatnya jauh orangnya sedikit serta uang transportnya kecil. Kita sering terpaku pada apa yang kita terima tidak pada apa yang kita kerjakan.

  • Kita menuntut penerimaan yang maksimal tetapi pemberian kita kepada Allahpun ternyata tidak maksimal.

  • Kita salah menilai demikian, karena kita tidak melakukan itu untuk menghargai Allah tetapi agar dihargai manusia.

  • Menyesali talenta yang ada dan tidak menggunakan talenta itupun merupakan suatu tindakan yang tidak menghargai Allah.

  • Persungutan dalam mengerjakan talenta adalah suatu sikap yang tidak menghargai Allah. Apa dan siapa kita, serta apakah kita telah menghargai Allah terlihat dari semua tindakan kita, khususnya dalam mengembangkan talenta kita masing-masing. Hamba ke I dan Hamba ke II tahu menghargai tuannya. Hamba ke III tidak tahu menghargai tuannya.

Allah telah memberikan talenta pada kita masing-masing, kita juga telah menerimanya, sudahkah dan bersediakah kita mengerjakannya maksimal? Yesus yang tergantung di kayu salib bukti bahwa Allah bertindak maksimal bagi manusia.


Daniel Zacharias
education from womb to tomb

22 Maret 2009

Keakraban Dengan Allah Merupakan Syarat Pelayanan

Markus 10:31-45


Semua pelayanan rohani lahir dari kenyataan pengetahuan kita tentang Allah dan kekuatan persekutuan kita dengan Dia maupun Anak-Nya. Sebuah pelayanan yang berbuah dan berhasil tidak terjadi begitu saja--ada harga yang harus dibayarkan. Dan, makin berpengaruh pelayanan itu, makin mahal harganya. Pelayanan tidak dapat dibayar sekaligus; kita membayarnya dengan angsuran yang jumlahnya makin lama makin besar. Tidak ada yang disebut dengan pelayanan yang murah dan berhasil.

Harus dipahami bahwa tidak ada jalan pintas untuk pelayanan yang berpengaruh bagi Allah. Karena didorong oleh keingintahuannya, Yakobus dan Yohanes berupaya mengambil jalan pintas. Mungkin ada jalan-jalan pintas untuk memiliki keunggulan di lingkungan gereja atau wewenang di bidang administratif, tetapi itu tidak menuju pada pelayanan yang rohani. Keakraban yang sejati dengan siapapun, terutama dengan Allah, bukanlah sesuatu yang dapat dijalankan sesuka hati: itu semata-mata karena kita berdiam di hadapan Yang Mahatinggi, dan tinggal tetap di bawah perlindungan El-Shaddai.

Menyangkut Yakobus dan Yohanes, ada sesuatu yang perlu dikatakan. Setidaknya, mereka telah percaya pada kejujuran sang Guru yang berjanji bahwa "pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di tahta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas tahta untuk menghakimi kedua belas suku Israel" (Mat 19:28). Namun, mereka salah menafsirkan pernyataan itu sebagai suatu peristiwa yang akan terjadi dalam waktu dekat pada waktu itu. Lebih jauh, sikap mereka yang mendekati Yesus secara sembunyi-sembunyi membuktikan bahwa mereka mengambil keuntungan untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka haus untuk menduduki posisi dan mempunyai kuasa berdasarkan tolok ukur dunia. Mereka menginginkan mahkota--tetapi mahkota tanpa duri.

Yesus tidak memiliki satu mahkota kehormatan pun yang ada hanyalah mahkota duri. Dalam menjawab pertanyaan mereka yang ambisius dan bernuansa mementingkan diri sendiri, Yesus memberi tahu mereka,"Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan" (10:40). Posisi-posisi itu tidak secara otomatis diberikan kepada mereka yang telah mempersiapkan diri, sekalipun itu perlu dan layak dilakukan. Prakarsa itu semata-mata berasal dari Allah. Pada hakikatnya, tidak ada layanan pentahbisan yang akan menghasilkan pelayanan rohani. Allah akan memberikan posisi-posisi itu bagi orang yang telah Ia persiapkan (ayat 40).

Yesus terlalu jujur dan terlalu tulus untuk menyembunyikan dari murid-murid-Nya tentang apa yang sering membuat pelayanan rohani itu menjadi mahal. Ia ingin mereka mengikuti Dia, tetapi dengan mata yang terbuka lebar. Maka, Ia menantang mereka, "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuterima? (Markus 10:38). Kalau Ia membuka mereka menghadapi kenyataan bahwa ada kemuliaan tatkala mengikuti Dia, hal itu sama sekali bukan kemuliaan. Mereka harus belajar bahwa jika mereka ingin mengenal Dia dengan cara yang lebih akrab, itu harus mencakup persekutuan dengan Dia di dalam penderitaan-Nya. Mereka menjawab dengan fasih, "Kami dapat" (ayat 39), dan ini menunjukkan betapa mereka amat kekurangan pengetahuan serta percaya diri.

Yakobus dan Yohanes menginginkan posisi kepemimpinan yang berpengaruh, tetapi mereka ingin bahwa posisi itu datang dengan mudah. Yesus harus mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan meminum cawan yang harus Dia minum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Dia terima (ayat 39). Akhirnya Yakobus dipancung, dan Yohanes menghabiskan sisa-sisa hidupnya dalam tempat pembuangan di Pulau Patmos. Pelayanan rohani itu mahal, dan apa yang harus ditempuh oleh sang Tuan harus dialami juga oleh seorang hamba.

Pelajaran yang kita petik ialah, jika rencana kita tidak dapat diubah sehingga kita menolak pelayanan yang biasa-biasa dan ingin memiliki pelayanan yang efektif, ingatlah bahwa akan ada harga mahal yang harus dibayar. Namun, itu akan terbukti bahwa semuanya itu memang sangat layak untuk kita kejar. Kita bahkan akan dan harus mengorbankan segalanya. Sebuah pelajaran penting yang dapat kita petik bila melihat dari tokoh-tokoh Alkitab ialah bahwa di dalam mendidik seseorang untuk pelayanan Tuhan tidak memperpendek masa pendidikan, sebagaimana yang sering kita harapkan, ia menginginkan keakraban yang lama dan mendalam bukan instan. Karena Allah mencari kualitas dalam hidup kita, waktu tidak menjadi masalah bagi-Nya.

Dengan jelas, Yesus mengucapkan prinsip utama yang revolusioner untuk kepemimpinan yang rohani, "Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mark 10:43-45).

Dalam pernyataan-Nya, Yesus menggunakan dua kata berbeda untuk "hamba". Pertama ialah sebuah istilah umum dan mengacu pada aktivitas bukan pada hubungan. Kedua ialah kata untuk "budak", dan seorang budak ialah seseorang yang tidak punya hak apapun atas dirinya sendiri, tetapi ia seutuhnya menjadi milik tuannya.

Berdasarkan hal tadi, timbullah fakta bahwa kriteria yang kita gunakan untuk menilai pelayanan rohani bukanlah jumlah pelayan yang melayani kebutuhan kita, melainkan jumlah orang yang kita layani. Keakraban yang makin berkembang terjadi dengan Dia yang mengatakan, "Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan" (Luk 22:27) akan berarti bahwa kita akan senantiasa mengambil bagian dalam roh pelayanan-Nya.

Yesus tahu bahwa prinsip menjadi hamba sangatlah tidak populer, karena kebanyakan kita tidak begitu bersedia menjadi hamba orang lain. Kendati masyarakat kita kurang menghargai sikap hamba, Tuhan kita yang juga adalah seorang Hamba telah meninggikan konsep itu dan menyetarakannya dengan kebesaran. Ia tidak mematahkan semangat seseorang untuk menjadi besar sepanjang itu diilhami oleh motif yang wajar. Apa yang Ia hakimi adalah ambisi kedagingan untuk menjadi yang terbesar.

Daniel Zacharias
education from womb to tomb

12 Maret 2009

Keakraban Dengan Allah Diperdalam Dengan Disiplin

Ibrani 12:5-11

Salah satu pernyataan Kitab Suci yang menantang dan penuh teka-teki ialah Ibrani 5:8-9, "Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya."

Dalam ayat ke 6 tertulis, "Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak". Sebagaimana seorang ayah yang baik akan mendisiplin dan mendidik anaknya dengan penuh kasih, Allah juga akan mendisiplin kita dengan penuh kasih. Kita hidup di dalam sebuah dunia yang penuh misteri dan teka-teki yang membingungkan, jadi tidak mengherankan kalau unsur misteri pasti melanda dunia pendisiplinan ini juga. Kita harus ingat bahwa tangan yang membentuk tanah liat ialah tangan sudah ditusuk paku dan bahwa kedaulatan Allah kita tidak akan pernah berbenturan dengan peran-Nya sebagai Bapa.

Jika kita ingin menikmati keakraban yang mendalam dengan ALLah, secara rohani kita harus menyikapi cara pemeliharaan-Nya, kendati semua itu mungkin tidak dapat kita mengerti. Cara pemeliharaan-Nya bisa terjadi melalui berbagai bentuk, tetapi semuanya direncanakan di dalam kasih, dengan satu tujuan, yaitu untuk memupuk keakraban yang makin dalam dengan Allah. "Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr 12:10).

Disiplin yang mengganggu rasa nyaman
Kita hidup dalam zaman yang sadar akan rasa aman, sehingga kita berupaya menjamin dan melindungi diri dari segala kemungkinan yang tak diharapkan. Masyarakat yang makmur mempersiapkan segala sesuatu agar dapat menikmati hiburan maupun kesenangan. Mereka suka untuk merasa tenang dalam rutinitas yang enak dan menikmati kemapanan itu. Rumah yang bagus, mobil model mutakhir, rekreasi-rekreasi yang menyenangkan, liburan-liburan yang menggembirakan, teman-teman yang baik, semuanya cenderung membuat surga kurang menarik dan akibatnya materialisme menyedot perhatian mereka melebihi kerohanian.

Namun sudah kerap terbukti bahwa kemapanan maupun kenyamanan adalah musuh iman. Kemapanan maupun kenyamanan itu sendiri tidak salah, karena Allah "memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati" (I Tim 6:17). Tetapi, kalau kita tidak mawas diri, semua itu akan menjadi tujuan hidup kita yang utama dan Allah serta kerajaan-Nya secara perlahan-lahan dialihkan ke tempat yang tidak penting. Untuk menghadapi kecenderungan yang berbahaya itu, Bapa kita yang penuh kasih sekali-kali mengusik kemapanan dan kenyamanan kita. Ia memperdulikan kita supaya kita tidak akan kehilangan yang terbaik dalam hidup.

Dalam nyanyia Musa prinsip tersebut digambarkan dengan, "laksana rajawali yang menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-melayang diatas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya menampung seekor, dan mendukungnya diatas kapaknya, demikianlah Tuhan sendiri menuntun dia, dan tidak ada allah asing menuntun dia" (Ulangan 32:11-12).

Seperti yang dilakukan burung rajawali, demikianlah Tuhan melakukannya juga. Rajawali membangun sarangnya diatas gunung, pertama-tama dengan menggunakan batang dan ranting-ranting kayu, lalu dengan hati-hati ia membentenginya dengan bulu-buluan serta rerumputan. Anak rajawali kecil diteteskan di dalam sebuah sarang yang nyaman dan ideal. Hidup ini indah. Secara teratur, makanan diantarkan kepadanya. Tak ada hal lain yang diinginkannya.

Tetapi, pada suatu hari induk rajawali menunjukan aksinya. Ia merobek pembatas sarang yang lembut itu sambil dahan, ranting, serta duri-duri saja. Anak rajawali yang masih kecil tadi bingung melihat perubahan di dalam diri induknya. Tempat tinggalnya menjadi begitu tidak nyaman lagi sehingga mereka memanjat pinggirannya dan memandangi bebatuan di bawah yang selama ini merupakan daerah terlarang. Tiba-tiba, sang induk mendorong salah satu dari mereka dan anak rajawali yang masih kecil-kecil itu terjungkal jatuh hingga nyaris mati. Akan tetapi, daya tangkap induknya lebih sigap daripada jatuhnya makhluk kecil tersebut. Tetapi pada waktunya, sang induk menukik, menciduk dan meletakkan tubuh anaknya di sayapnya. Ia membawanya dengan aman di atas puncak gunung. Seperti burung rajawali demikian juga Tuhan.

Pada saat mendapat gangguan yang tidak diduga, penulis buku ini menemukan sejumlah kalimat berikut ini dari kotbah Samuel Chadwick: "Hati kita tersentuh oleh perbuatan Tuhan. Yang Mahatahu tidak memberi tahu kita terlebih dahulu. Otoritas-Nya yang tidak terbatas tidak menyisakan ruang untuk kompromi. Kasih yang abadi tidak menyodorkan penjelasan. Tuhan berharap bahwa ia dipercaya. Ia "menunggu" kita menurut kehendak-Nya. Ketetapan manusia tidak diperdulikan, ikatan keluarga diabaikan, tuntutan bisnis dikesampingkan. Kita tidak pernah ditanya apakah itu enak atau tidak bagi kita."

Jika terus dibiarkan tinggal di dalam sarang yang nyaman, sayap-sayap rajawali itu tidak akan kuat untuk terbang tinggi menantang teriknya matahari. Dibiarkan tinggal dalam kondisi nyaman dan berkelimpahan mudah bagi sayap-sayap jiwa kita untuk menjadi kaku, dan kita kehilangan semangat untuk menghadapi peperangan rohani. Pendisiplinan cara ini cocok bagi kita untuk dapat terbang tinggi.

Disiplin melalui kegelapan
Di mana pun, tidak ada orang percaya yang dijanjikan bahwa hidup itu akan serba indah. Ia juga tidak diberi kekebalan, karena ia adalah anak Allah "yang lahir ditengah-tengah kesukaran yang menyakitkan hati". Daratan yang tidak pernah merasakan apa-apa selain sinar sang surya akan menjadi padang gurun. Harus ada awan, badai dan kegelapan jika dataran itu diharapkan menjadi tanah yang subur dan menghasilkan.

Dalam hikmat dan kasih-Nya, Allah kadang-kadang membiarkan kita melewati suatu masa kegelapan yang tidak dapat dihindari, tanpa celah di sela-sela awan itu. Seakan-akan kita berada di dalam lorong yang tanpa ujung. Kadang-kadang kita sadar bahwa itu adalah dampak dari dosa kita, dan untuk itu maka kita dapat melihat bahwa hal itu memang sudah seharusnya. Namun pada saat-saat lain, kita merasa bingung karena kita tidak dapat memberikan alasan mengapa kita mengalami hal seperti itu.

Kendati kegelapan itu mungkin pekat, kita dapat merasa pasti bahwa itu adalah "yang kelam di mana Allah ada" (Keluaran 20:21). Meskipun kita tidak mungkin mampu menemukan wajah-Nya di dalam kegelapan, jika kita mengulurkan tangan iman kita, kita akan merasa genggaman tangan-Nya yang meneguhkan. "Aku ini, TUHAN, ... telah memegang tanganmu" (Yesaya 42:6).

Disiplin dalam kegelapan juga merupakan pengalaman Tuhan kita. Jauh lebih berat daripada pengalaman kegelapan fisik yang menyertai penderitaan-Nya yang sangat berat terdapat kegelapan jiwani yang menguasai Yesus ketika Bapa-Nya memalingkan wajah-Nya saat Ia menghapus dosa-dosa dunia. Ucapan yang menyayat hati keluar dari bibir Yesus_ "ALLAH-KU, ALLAH-KU, MENGAPA ENGKAU MENINGGALKAN AKU?" (Matius 27:46). Dalam kegelapan yang tidak dapat ditembus, kendati tidak ada seberkas cahaya pun, iman-Nya tidak goyah. Bapa-Nya tetap menjadi Allah-Nya--Allah-Ku. Apakah dalam kegelapan itu, Ia teringat akan kata-kata Yesaya, "siapa diantaramu yang takut akan Tuhan dan mendengarkan suara hamba-Nya? Jika ia hidup dalam kegelapan dan tidak ada cahaya bersinar baginya, baiklah ia percaya kepada nama Tuhan dan bersandar kepada Allahnya!" (Yes 50:10). Inilah pola pendisiplinan untuk kita. Bila saatnya tiba, celah akan muncul di sela-sela awan, lorongpun akan mempunyai ujung, dan ujian akan diperpendek manakala kita menyikapinya dengan cara yang dewasa. Lalu, kita pun akan bangkit seraya mengenal keakraban dengan Allah dengan cara yang lebih mendalam daripada sebelumnya. Bukankah itu yang dialami ketiga orang laki-laki Ibrani tatkala mereka keluar dari dapur api Nebukadnezar?

Disiplin melalui kekecewaan
Tidak pernah disebutkan bahwa Allah akan memuaskan setiap keinginan kita. Hanya keinginan yang selaras dengan kehendak-Nya dan yang terbaik bagi kita saja. Itulah alasannya mengapa kadang-kadang Ia terlihat tidak bersimpati terhadap sesuatu yang kita anggap baik.. Rahasia ini terasa makin kuat apabila kenginan kita rasanya dapat memuliakan Allah. Kita harus yakin bahwa ada sesuatu yang sudah jelas kebenarannya apabila Allah menahan sesuatu yang kita inginkan. Hal ini dilakukan-Nya karena Ia ingin menganugerahkan sesuatu yang Ia tahu lebih baik.

Banyak orang rindu melakukan sesuatu yang layak bagi Tuhan yang mereka kasihi, dan rancangan mereka kelihatannya begitu tepat. Namun, kerinduan mereka menemukan hambatan. Mereka rindu pergi ke ladang misi, tetapi kesempatan itu hilang karena sakit. Mereka bermaksud memberi banyak untuk pekerjaan Allah, namun ada kekurangan dalam segi keuangan. Mereka berencana mengikuti pelatihan pelayanan Kristen, namun tanggung jawab keluarga muncul dan mambuat rencana itu tidak dapat dijalankan. Mereka justru menjadi tidak aktif, menjadi bisu saat harus berbicara, dan tidak bisa memahami adanya kesempatan lainnya.

Kita harus ingat bahwa untuk setiap "janganlah kamu" yang mengecewakan hati, ada sesuatu "haruslah kamu" yang menyenangkan. Apabila kita menerima disiplin Ilahi dengan sikap dewasa, kita akan menemukan bahwa "ada sesuatu yang lebih baik" menunggu kita di ujung sana.

Disiplin melalui ketidakadilan
"Tindakan Tuhan tidak tepat!" Keluh orang-orang Yahudi dalam era Yehezkiel (Yehezkiel 18:2). Perasaan yang sama digaungkan pada era kita ini. Ada orang yang diperlakukan tidak adil oleh Allah. Kendati mereka tidak pernah mengungkapkannya dengan kata-kata, mereka merasa kecewa dan menyimpannya dari hadapan Tuhan dengan penuh kemarahan. Tidak ada jawaban sederhana untuk pertanyaan mengapa ada masalah yang dihambat oleh Allah, dan ada yang tidak, mengapa ada yang di izinkan dan ada yang tidak. Mengapa, Tuhan membiarkan kepala Yakobus dipenggal ketika ia dipenjara, sementara Petrus dibebaskan oleh seorang malaikat dan kemudian membuat persekutuan doa? Jawaban satu-satunya ialah, "engkau tidak tahu apa yang Aku lakukan sekarang, tetapi kelak engkau akan mengerti"--dan, itu cukup memadai bagi iman.

Begitulah yang dialami Asaf, sang pemazmur. Ketika ia melihat bagaimana orang jahat menjadi makmur, sementara orang benar terlihat mengalami lebih banyak ujian dan pencobaan daripada yang selayaknya yang mereka terima, ia nyaris kehilangan iman. Apa gunanya ia berupaya menjalani hidup kudus apabila orang jahat menerima segala kebaikkan? Dengan sangat kecewa, ia menjerit dalam keputusasaan, "Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris akan tergelincir ... sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah ..." (Mazmur 73:2, 17).

Di dalam hadirat Allah, ketika melihat berbagai hal dari sudut pandang ilahi, Asaf memiliki imannya kembali, "dan memperhatikan kesudahan mereka, "atau nasib mereka (ayat 17).

Tujuan akhirlah yang penting, karena ada hidup sesudah kematian, tatkala ketidakadilan akan dipulihkan, tatkala yang jahat menerimia akibat atas perbuatan mereka, dan kebenaran juga mendapatkan upahnya. Masalahnya, kita tidak selalu datang di hadapan Tuhan untuk menyelesaikan persolan kita. Kita menanggapi persoalan dengan cara yang benar hanya ketika kita beralih daripada yang kelihatan sementara pada tujuan akhir yang kekal.

Kita seringkali tidak tahu apa yang tersembunyi di balik semua kesulitan yang kita hadapi. Fokus kita melenceng dari maksud Allah. Kita tidak melihat gambaran besarnya dan terpaku pada aspek-aspek pahit yang Allah pergunakan sebagai "tongkat disiplin. Dan, mungkin kita tidak tahu bahwa ada hal-hal rohani yang sedang dipertaruhkan tatkala kita mengalami pencobaan?

Namun semua orang yang harus mengalami "pembentukan dari Allah" harus melihat gambaran besarnya bahwa persekutuan mereka semakin karib dengan Allah diperdalam dengan semua disiplin rohani yang ia terima. Keakraban Allah-manusia yang digambarkan dalam relasi orang tua-anak tidak mengabaikan adanya upaya sang orang tua untuk mendewasakan si anak agar hubungan dengan orang tuanya diperdalam.

Bila Allah memberikan disiplin pada kita hal itu berarti Ia rindu agar kita lebih mengenal-Nya dapat lebih bergantung pada-Nya, dan lebih dekat dengan-Nya.


Daniel Zacharias
education from womb to tomb

02 Maret 2009

BULUH YANG PATAH TERKULAI TIDAK AKAN DIPUTUSKANNYA

Matius 12:15b-21
15b Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. 16 Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, 17 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: 18 "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. 19 Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. 20 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan di-padamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. 21 Dan pa-da-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap."

Walaupun banyak mujizat yang terus Yesus lakukan namun Ia melarang dengan keras agar mereka tidak memberitahukan tentang siapa Dia. Dalam naskah asli Yunani hanya dikatakan: “membuat Dia menjadi nyata”. Boleh jadi Yesus melarang mujizat-Nya diumumkan supaya jangan fungsi-Nya sebagai “tabib ajaib” saja, Yesus tidak mau selalu dikerumuni orang sakit karena hal ini dapat menjadi halangan dalam tugas-Nya yang penting sebagai pengkhotbah dan sebagai pengajar murid-murid-Nya. Kemung-kinan juga ada alasan tambahan bagi Yesus yaitu bahwa pada waktu itu Ia mau sedikit bersembunyi dari musuh-musuh-Nya (ayat 15a). Dalam hal ini kelihatannya Matius mengutip Yesaya 42:1-4 (dalam bentuk yang sedikit lebih bebas) untuk memperlihatkan bahwa cara bekerja Yesus adalah cara yang tenang dan kadang-kadang agak tersembunyi dan hal ini sesuai dengan nubuat dalam PL.

Tetapi Matius mengatakan: “lihatlah, cara Yesus adalah persis sama sama dengan cara hamba Tuhan di Yesaya 42:1-4. Hamba Tuhan itu adalah oknum yang dipilih dan dikasihi oleh Tuhan, dan yang dipenuhi dengan Roh Kudus, sebagaimana halnya pada Yesus; pada pembaptisan di sungai Yordan, Yesus menerima Roh Kudus dan suara dari surga menyebut-Nya orang yang dikasihi Allah.

Dalam Yesaya 42 dikatakan bahwa hamba Tuhan menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa, hamba Tuhan tidak akan berteriak dan memperdengarkan suaranya di jalan, yang berarti bahwa hamba Tuhan tidak akan tampil ke muka dengan kekerasan. Nubuat inilah yang dipenuhi dalam Yesus. Yesus bekerja dengan terang. Ia tidak memakai kekerasan bahkan kadang-kadang menyingkir ka-rena musuh-musuh-Nya (Mat 12:15a). Dan Ia tidak mencari per-bantahan yang hebat dengan orang Farisi.

Dalam Yesaya 42:3 dikatakan bahwa hamba Tuhan akan penuh kasih; Ia tidak akan mematahkan buluh yang patah terkulai dan tidak akan memadamkan sumbu yang pudar nyalanya. Di dunia ini menurut J. J. de Heer orang yang lemah seringkali menyerupai buluh yang patah terkulai dibiarkan saja. Namun nubuat Yesaya digenapi dan dipenuhi secara lengkap di dalam diri Yesus. Betapa besar perhatian dan kasih Yesus terhadap orang yang lemah, orang sakit dan orang yang berdosa, yang sudah seperti “buluh yang patah terkulai”. Sifat itu selalu nyata pada Yesus. Misalnya pada waktu Petrus tiba-tiba diliputi ketakutan dan menyangkal Yesus, tetapi kemudian menangis tersedu-sedu karena menyesal, namun Yesus tidak membuang Petrus melainkan membangunnya. Begitulah sifat Yesus sampai sekarang ini.
Ada satu kenyataan yang tak dapat dipungkiri oleh orang percaya di mana pun, yang berada dibawah kolong langit ini, yakni bahwa mereka masih dapat mengalami berbagai kesulitan dalam hidup mereka. Orang percaya sesaleh apapun suatu saat bisa saja diijinkan Allah mengalami kekurangan, dicurangi orang lain, difitnah, kele-mahan tubuh atau sakit, kehilangan orang yang disayangi, kepahitan, kekecewaan, kuatir, dan kemalangan. Gambaran ini se-jajar dengan apa yang diumpamakan dengan istilah “buluh yang patah terkulai” atau “sumbuh yang pudar nyalanya”.

Di Israel, “buluh” mirip dengan pohon yang batangnya memiliki ruang. Para gembala seringkali mengambil batangnya dan di-buatlah sebuah seruling sederhana yang memberikan penghiburan tatkala mereka kesepian berada di tengahpadang dalam tugas penggembalaannya. Karena batang dari buluh itu tidak begitu kokoh maka dapat saja menjadi patah. Dan ketika patah, gembala tersebut tidak memutuskannya atau membaginya menjadi dua (ada perasaan sayang yang tercipta karena ikatan batin), tetapi malah menyambungnya dengan mengganjalnya menggunakan buluh yang lain. Sumbu pun mengalami hal yang sama. Ketika ia mulai redup, maka ia tidak dipadamkan tetapi terus dipergunakan dengan terus menambahnya dengan ujung sumbu baru.

Pengertian bagian ini sesuai dengan Yes 42:4, dimana dikatakan bahwa Hamba Tuhan tidak akan menjadi pudar, sampai Ia menegakkan hukum di bumi. Hal ini akan dipenuhi dalam Kristus. Walaupun Kristus bekerja dengan tenang, tanpa kehebohan, dan banyak orang berusaha untuk membungkam-Nya, namun pada akhirnya Ia berhasil dan akan menjadikan hukum Allah menang di dunia.

Dalam penerapan terhadap manusia maka nas ini hendak mengatakan kepada kita bahwa “sekalipun kita mengalami kemalangan” seperti nasib “buluh yang patah terkulai” tetapi Allah tidak akan membiarkan kemalangan tersebut “menghancurkan kehidupan orang percaya” sejajar dengan ungkapan “tidak akan diputuskan-Nya”. Memang setiap orang percaya masih memiliki kemungkinan untuk “patah terkulai” tetapi Allah tidak akan membiarkannya sampai “putus” atau “diputuskan”.

Daniel Zacharias
education from womb to tomb