27 November 2007

Kekristenan Kuburan

Matius 23:27
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.

Ucapan Tuhan Yesus terhadap para ahli Taurat dan orang Farisi memiliki makna yang dalam. Dalam nas ini Yesus sedang menunjukkan ketidaksetujuan-Nya terhadap mereka oleh karena cara hidup mereka. Sebuah cara hidup yang munafik dan tidak sejati. Kehidupan yang palsu.

Menurut Yesus kehidupan sejati itu dimulai dari dalam hati sedangkan orang Farisi dan ahli Taurat mengatakan kehidupan dimulai dari tindakan.

Yesus pernah dikritik: “Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan”. Tetapi bagi Yesus kenajisan dimulai dari dalam hati. Kenajisan bukan dari luar ke dalam tetapi sebaliknya.

Intinya: Yesus sangat peduli terhadap perubahan hati.

Berapa banyak kita yang peduli PADA PERUBAHAN DARI DALAM HATI DAN BUKAN PADA SEKEDAR PERUBAHAN PENAMPILAN?
Kekristenan sering dinodai oleh orang-orang YANG MELAKUKAN PERUBAHAN HANYA PADA PENAMPILAN tetapi tidak dari dalam hati.

Kekristenan semacam ini menjadi sandungan buat orang-orang yang belum percaya maupun yang sudah percaya. Mereka selalu menuduh semua orang munafik karena mereka sendiri hidup dalam kemunafikan.

Contohnya: Pak Pendeta itu orang munafik, masak sih ngeliat wanita cantik dia nggak tertarik? Mata pendeta masih bisa menilai seseorang cantik atau tidak, tetapi kalau ia kemudian tidak meneruskan pikirannya untuk hal-hal yang tidak layak, itu bukan karena ia sok kudus atau karena ia munafik tetapi karena ia harus mengendalikan dirinya. Masakan orang mengendalikan diri dianggap aneh atau tidak mungkin?

Perjuangkanlah sebuah perubahan bukan pada tindakan belaka tetapi pada perubahan di dalam hati. Tidak sedikit pula orang yang mengatakan bahwa jangan lihat penampilan luar tetapi di dalam. Itu memang benar tetapi kita juga harus hati-hati karena apa yang terjadi di luar kadang-kadang merupakan ekspresi dari dalam.

KEKRISTENAN YANG DITAMPILKAN HANYA UNTUK MENGELABUI ORANG

Ahli Taurat dan Orang Farisi berpuasa bukan karena sedang bergumul tetapi supaya dilihat orang.

Ahli Taurat dan orang Farisi berdoa bukan karena keintiman dengan Tuhan tetapi supaya dilihat orang.

Ahli Taurat dan orang Farisi memberi sedekah bukan karena mereka mengasihi orang yang berkekurangan tetapi supaya dilihat orang.

Mereka berhasil MENGELABUI MATA DAN PIKIRAN banyak orang dengan tindakan-tindakan palsu mereka.

Adakalanya yang palsu itu jauh lebih menarik dari yang asli juga di dalam kehidupan ini. Gereja berulangkali mengalami jatuh bangun karena menghadapi “orang-orang Kristen kuburan”. Orang-orang yang bertobat secara lahiriah tetapi di dalam hatinya masih penuh dengan kebusukan dan rencana-rencana yang kotor.

Orang yang berada dalam aktivitas-aktivitas gereja tetapi di kepala dan hatinya masih penuh dengan rencana-rencana egois, tidak kudus, bahkan jahat. Kekristenan yang seperti ini sulit diteliti ketika berada di tempat umum tetapi akan kelihatan aslinya ketika berada di dalam rumah dan di depan keluarganya. Makanya tidak sedikit orang menyanjung tetapi anggota keluarga malah mencemooh.

PRESTASI DI BIDANG-BIDANG LAIN TIDAK DAPAT MENUTUPI KEBOBROKAN DI DALAM DIRI
Hari ini sekali lagi diterangkan kepada kita bahwa kemajuan karisma tidak selalu berjalan berbarengan dengan kemajuan karakter. Kita tidak bisa menutupi kebobrokan kita dengan prestasi-prestasi yang kita miliki. Prestasi-prestasi tersebut tidak membuat mata Allah silau lalu memberi dispensasi kepada orang oleh tersebut karena mereka berprestasi.

Intinya: LAKUKAN PERUBAHAN DARI DALAM HATI.

Jangan biarkan WAJAHMU PENUH SENYUM sementara hatimu PENUH DENDAM KESUMAT.

Jangan biarkan WAJAHMU SEOLAH TANPA DOSA sementara perilakumu bejat.

JANGAN BIARKAN PELAYANANMU CEMERLANG tetapi kelakuanmu MEMALUKAN.

Jangan biarkan orang segan karena engkau SEORANG PEJABAT GEREJA sementara yang engkau lakukan MENCEMARI PEKERJAAN TUHAN.

Jangan biarkan orang menyanjungmu karena engkau orang percaya dan aktivis gereja tetapi KELUARGAMU MALAH KECEWA TERHADAP KELAKUANMU.

Marilah kita BERKONSENTRASI MEMANDANGI NASIB HATI ini sudahkah kita mau mengubahnya atau membiarkannya terisi oleh perkara-perkara yang tidak benar?

Marilah kita singkirkan ragi orang farisi itu keluar dari dalam jemaat. Dan dimulai dari diri kita dan sejak sekarang ini.

Mat 15:19-20 - Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang.

Daniel Zacharias

gambar diupload dari:

http://joefelso.files.wordpress.com/2007/05/c30-the-white-tomb.jpg

22 November 2007

Musa ... Emang Gak Ada Matinya

Setelah Musa berdialog intim dengan Allah maka ia harus dikejutkan dengan perbuatan keji bangsanya. Mereka bersepakat untuk menyembah berhala berupa anak lembu emas (Kel 32). Akibat dari perbuatan Israel maka Allah berkata:

"1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah, berjalanlah dari sini, engkau dan bangsa itu yang telah kaupimpin keluar dari tanah Mesir, ke negeri yang telah Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub, demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu --2 Aku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu dan akan menghalau orang Kanaan, orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus --3 yakni ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu. Sebab Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu, karena engkau ini bangsa yang tegar tengkuk, supaya Aku jangan membinasakan engkau di jalan." (Kel 33:1-3). Mungkin setelah mendengar perkataan Tuhan ini kebanyakan orang mungkin akan berkata: "OK Tuhan terima kasih, walau kami sudah berdosa, Engkau tetap mengampuni dan tetap membiarkan kami untuk pergi ke tanah yang berlimpah susu dan madu, walau Engkau sendiri tak lagi menyertai kami lagi secara langsung". Hampir kebanyakan orang akan bereaksi seperti ini, "Tuhan gak ngikut gak apa-apa yang penting berkatnya tetep kita terima". Memang terkadang manusia lebih mementingkan berkat-Nya daripada diri-Nya.

Namun kalau kita lihat sikap Musa kita semua akan terperangah dan mengaguminya. Karena ia justru tidak bertidak tidak seperti kebanyakan orang yang percaya Tuhan tetapi dikuasai Mamon. Berkatalah Musa kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini" (33:15). Bagi Musa lebih baik kehilangan berkat daripada kehilangan penyertaan Tuhan. Bagi Musa lebih baik tidak masuk tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madu daripada Allah tidak menyertai dirinya dan bangsanya. Bagi Musa hubungan dengan Allah jauh lebih bernilai ketimbang berkat-berkat yang sekalipun datang dari Allah sendiri.

Perenungan ini mengingatkan kita bahwa tidak sedikit kita lebih suka mengorbankan hubungannya dengan Allah daripada mengorbankan berkat dan keuntungan-keuntungan duniawi lainnya. Musa mengingatkan kita bahwa penyertaan Tuhan sebenarnya membawa kita kepada berkat itu sendiri, tetapi tidak jarang orang yang lebih peduli berkat-Nya ketimbang hati-Nya. Kalau mereka datang kepada Tuhan yang mereka cari adalah tangan-Nya bukan hati-Nya. Inilah yang seringkali menggerakan orang mencari Tuhan, bukan Tuhan tetapi berkat!

Kalau kita boleh jujur, sebenarnya berapa banyak kali kita demi keuntungan sendiri mengabaikan penyertaan Tuhan atau malah tidak mempedulikannya sama sekali? Pertanyaan ini penting untuk dijawab selama kita masih tahu diri.

Daniel Zacharias

Gambar diambil dari:
http://chervokas.typepad.com/photos/uncategorized/ten_commandments

15 November 2007

Kerinduan Allah Terbesar

Sering kita bertanya kira-kira apa sih kerinduan terbesar Allah bagi manusia? Siapa sih yang tahu persis isi hati Tuhan? Atau ada manusia yang berpengalaman menjadi penasihatnya? Tentunya kita semua sudah tahu hal ini bahwa untuk mengerti isi hati Allah tentunya kita tidak mengacu pada apa kata hati kita atau pada apa kata banyak orang tetapi pada apa kata Kitab Suci yang telah diilhamkan oleh Allah sendiri untuk menyatakan kehendak dan maksud serta rencana-rencana-Nya bagi dunia.

Dalam Yohanes 15:13-15, Tuhan berbicara dengan murid-muridnya dalam sebuah relasi baru. Relasi yang selama ini sudah terbentuk adalah Guru-Murid. Hubungan lama tersebut tidak dihilangkan tetapi diperkaya dengan jenis hubungan baru yakni: Sahabat. Kristus menempatkan manusia sejajar dengan diri-Nya. Saya jadi ingin meminjam pikiran relasional Martin Buber (tentang pola hubungan I-Thou dan I-It) yang saya coba pahami dalam konteks berbeda: bila Allah adalah pencipta dan manusia adalah ciptaan bisa saja pola relasi yang terbentuk adalah “I-It”. Tuhan bisa saja memanggil “It” kepada manusia dan tak ada yang akan menggugat-Nya. Tokh manusia cuma gambar-Nya dan bukan Allah, manusia adalah ciptaan dan tidak lebih. Kekaguman Daud adalah ketika Allah menjadikan manusia sebagai mahkota dari semua ciptaan (Mazmur 8). Namun ternyata Allah sang Elohim dalam hubungan-Nya dengan manusia memakai relasi I-Thou (Aku-Kamu). Manusia disejajarkan dalam hubungan dan dalam komunikasi yang sejajar. Sehingga dalam konteks Yohanes 15 terlihat dengan jelas bahwa pola komunikasi dan hubungan yang sejajar (equal) adalah kerinduan Allah sendiri terhadap manusia yang sebenarnya telah mengkhianati-Nya berulang kali. Dan yang lebih mengharukan adalah Ia tidak saja menjadikan kita sahabat-Nya tetapi Ia bahkan telah menyerahkan nyawa-Nya sendiri untuk sahabat-sahabat-Nya (15:13), wow terima kasih Tuhan! Dengan kata lain bahwa Ia rela berkorban nyawa demi relasi yang Ia ciptakan dengan manusia yang dipandang sebagai sahabat-Nya. Tak ada kerinduan yang terbesar dari Allah yang membuat Ia turun tangan sendiri untuk membereskan semua penghalang demi orang-orang yang dipandang sebagai sahabat-Nya. Luar biasa!

Namun julukan ‘sahabat’ tidak datang otomatis atau datang begitu saja. Julukan ini hanya kena-mengena dengan orang yang menurut Allah: “berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu”(15:14). Rupanya persahabatan ini bersyarat. Persahabatan hanya bisa dimulai bila ada ketaatan terhadap firman Allah. Karena itu bagian Allah adalah menyediakan hubungan itu dan bagian manusia adalah mengerjakan ketaatan sebagai tiket masuk dalam hubungan yang intim. Sebenarnya ketaatan bukan sekedar tiket masuk (seolah-olah usaha manusia sangat menentukan) tetapi merupakan cerminan jujur dan tulus dari sebuah kasih kita kepada Allah (baca Renungan Sebelumnya: “Mengapa Kita Menaati Allah?”).

Lalu apakah cuma itu? Kita cuma dipanggil sebagai sahabat? Oh ternyata tidak, dalam ayat 15 seorang sahabat "mendengar rahasia dari sahabatnya". Dan rahasia itu berasal dari Bapa. Rahasia itu menurut I Korintus 2:9 hanya diberikan kepada mereka yang mengasihi Allah. Apa sih rahasia Allah itu? Firman Allah? Ya benar, tetapi tidak cukup cuma itu, tetapi juga rahasia dari pengertian terhadap firman Allah itu. Tidak sedikit orang setiap hari membaca firman Allah tetapi belum tentu ia mengerti apa yang ia baca. Karena itu ia membutuhkan penyingkapan untuk dapat memahami pengertian ‘beyond text’. Untuk mengerti ‘beyond text’ itu diperlukan KETAATAN (bukan kemampuan berteologi, maaf berteologi tak selalu mencerminkan ketaatan) yang membuktikan KASIH yang membuktikan STATUS SEBAGAI SAHABAT dan yang membuka PINTU PENYINGKAPAN ILAHI bagi kita.

Sekarang giliran kita menjawab kerinduan Allah. Maukah kita menjadi sahabat-Nya? Jika kita bersedia, maka bersediakah kita MELAKUKAN PERINTAH-PERINTAHNYA?


Daniel Zacharias

13 November 2007

Mengapa Kita Menaati ALLAH?

Apabila ini adalah pertanyaan wawancara maka ada orang yang mengatakan:

Saya ingin taat supaya hidup saya diberkati.

Saya ingin taat karena saya takut Tuhan.
Saya ingin taat karena tidak mau masuk neraka.

Saya ingin taat karena saya kan pejabat gereja nanti apa kata dunia?

Saya ingin taat karena saya pimpinan komsel jadi kan saya perlu memberi contoh pelaksanaannya kepada orang-orang yang saya pimpin.

Saya ingin taat karena saya setuju dengan firman Allah yang dapat menolong saya menjalani hidup.

Semua jawaban-jawaban tersebut rasa-rasanya sudah mewakili jawaban-jawaban kebanyakan orang percaya. Tetapi belum ada jawaban yang benar-benar yang merupakan jawaban hakiki. Jawaban-jawaban di atas adalah jawaban-jawaban yang masih demi diri dan demi orang lain belum berpusat pada Allah.

Ada 3 ayat (walau masih ada di bagian lain di Alkitab) yang dapat memberi jawab untuk pertanyaan di atas:

Yohanes 14:15:
"Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku”

Yohanes 14:21:
“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."

Yohanes 14:23:
“Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia”.

Ketiga ayat diatas bernafaskan hal yang sama: JIKA KITA MENGASIHI ALLAH MAKA KITA AKAN MENURUTI ATAU BERPEGANG PADA FIRMAN DAN PERINTAH ALLAH. Dengan kata lain bila pertanyaan di atas datang kembali kepada kita: “Mengapa Kita Menaati Allah” jawabannya adalah: karena kita MENGASIHI ALLAH.

Orang yang mengatakan bahwa ia mengasihi Allah maka ia harus membuktikannya. Mengasihi Allah menurut Markus 12:30: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu”, adalah bicara mengentai KETAATAN HATI, KETAATAN JIWA, KETAATAN AKAL BUDI, DAN KETAATAN PERBUATAN kepada ALLAH.

Jadi siapakah orang yang mengasihi Allah itu? Orang yang kerja mati-matian bagi pelayanan? Orang yang berdoa 4-5 jam sehari? Orang yang berkotbah keliling negeri? Orang yang berjabatan gerejawi? Bukan: ORANG YANG MENGASIHI ALLAH adalah ORANG YANG MELAKUKAN FIRMANNYA DAN MENURUTI ATAU MENAATINYA dengan segenap hatinya.

Jadilah orang yang bisa membuktikan kasih-Nya kepada Kristus melalui ketaatan-Nya.

Daniel Zacharias


gambar diambil dari: http://www.godsplan-today.com/0_Images/Abraham3Isaac.jpg

12 November 2007

Sindrom KEDEKATAN

Kedekatan kita dengan seseorang senantiasa berwajah dua. Di satu sisi berwajah kekariban dan kekraban yang menyenangkan, di sisi lain malah berwajah sebaliknya jadi “anggap enteng, anggap remeh, dan kurang hormat”. Sisi negatif ini saya sebut SINDROM KENDEKATAN.

Adapun Sindrom Kedekatan ini telah dibuat manusia berulang kali kepada Allah dan kepada sesama. Dalam Kitab Suci kita jumpai kisah tentang Pemberontakan manusia - Kej 3, pemberontakan umat Israel – Bil 14:2-4; Pemberontakan Miryam dan Harun – Bil 12:1-16; dan pemberontakan Korah, Datan, dan Abiram – Bil 16. Hal yang sama kita juga lihat dalam segi lain dari Kejatuhan Saul, Daud, Salomo, juga kejatuhan Simson. Orang-orang besar tersebut punya hubungan yang mesra dengan Allah tetapi ketika sindrom ini datang maka mereka tidak bisa mengatasinya. Sindrom ini bisa muncul dalam diri siapa saja yang tidak bisa menangani “kedekatan” dengan baik.

Para pelayan paling sering mengalami hal ini. Mereka yang tiap hari memiliki relasi dengan Allah dalam berbagai jenis perjumpaan tidak menumbuhkan rasa TAKUT AKAN TUHAN tetapi malah terjungkal masuk terjangkiti sindrom ini. Ada banyak yang kemudian membungkus sindrom ini dengan dalih kemanusiaan padahal manusia lain yang juga masih tetap manusia juga masih tidak sedikit yang tahu diri ketika menempatkan dirinya di hadapan Tuhan dan sesama walau ia memiliki hubungan intenstif dan dinamis dengan-Nya dan sesamanya.

Idealnya kedekatan kita terhadap Allah membuat kita merasa lega dan memiliki keberanian percaya untuk mendekati hadirat-Nya dan semakin membuat kita semakin bertanggung jawab atas hubungan yang terbentuk Sola Gratia itu. Kenyataan yang masih kita jumpai adalah kedekatan dengan Allah membuat manusia bisa semena-mena mengkritisi Dia sampai kehilangan hormat, menanyakan Dia seolah Dia bisa diadili dan digugat, berteriak putus asa seolah Dia salah urus. “Dekat sih dekat tetapi jangan kurang ajar gitulah” adalah nasihat orangtua yang masih relevan bagi kita dalam konteks ini. Bukankah tidak sedikit orang yang bermain-main dengan dosa tetapi mengatakan itulah perjuangan hidup yang berat padahal ia menikmati dosa itu. Sindrom Kedekatan seringkali memunculkan ide purba di kepala kita: kita bisa bermain-main dengan dosa dengan harapan Tuhan pasti mengampuni, kita bisa bermain-main dengan dosa dengan harapan Tuhan pasti begitu mengerti situasi kita, kita bermain-main dengan pelanggaran-pelanggaran terhadap ketetapan-Nya dengan harapan Tuhan pasti maklum karena tokh kita cuma manusia biasa. Oh?

Takut akan Tuhan bukanlah pekerjaan orang naif, tetapi kalau hal itu pun dianggap kenaifan biarlah kenaifan adalah kenaifan itu di hadapan zaman yang cerdas yang telah kehilangan rasa hormat karena tokh mereka sudah kehilangan kehormatan. Kenaifan itu diterjemahkan oleh Paulus sebagai anggapan bodoh dari dunia. Dan Paulus tidak memperdulikan anggapan bodoh itu, tokh kalau seseorang merasa berhikmat tetapi ia telah kehilangan perkenanan Allah, lalu apa gunanya? Dan kalau merasa Allah tetap berkenan pada kita apa adanya (tanpa mempersoalkan dosa kita), maka rasa-rasanya kotbah-kotbah kita di gereja hanya memberitahu kita bahwa dosa kita ada dan dosa tidak usah dibahas lagi karena Dia pasti tetap terima kita apa adanya, oh my God! Quo vadis suara dan tindakan kenabian ‘sekarang’ dan ‘disini’?

Daniel Zacharias

09 November 2007

Doa Kedagingan


Yakobus 4:3
Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.

Anda memang tidak sedang salah lihat memang judul renungan ini adalah DOA KEDAGINGAN bukan DOSA KEDAGINGAN. Kita sudah terbiasa dengan istilah DOSA KEDAGINGAN tetapi ngomong-ngomong apa ada yang namanya DOA KEDAGINGAN? Yakobus memberi penjelasan bahwa dalam hidup kita seringkali harapan dan kerinduan hati tidak terwujud sebagaimana yang kita harapkan, hal itu tidak disebabkan oleh karena ketiadaan doa dalam keseharian kita (ayat 2), tetapi juga karena sekalipun berdoa namun doa yang dinaikkan sarat dengan nafsu. Kata ’nafsu’ dalam teks ini lebih mengarah pada bentuk-bentuk kesenangan (Yun. hedone, Ing. pleasure). Yakobus memaksudkan disini bahwa doa yang dinaikkan merupakan suatu upaya untuk menyenangkan diri sendiri. Mungkin akan timbul semacam pertanyaan: apakah tidak boleh kita menaikkan doa yang berangkat dari kerinduan diri sendiri? Dan apakah doa yang kita naikkan yang penuh dengan permintaan pribadi selalu berarti dengan doa yang penuh hawa nafsu? Dan kalau tidak bagaimana cara membedakannya?

Yesus pernah mengajarkan sebuah doa tatkala Ia bergumul di taman Getsemani: ”Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Lukas 22:42). Yesus menaikkan doa yang bukan karena kesenangan atau nafsu tetapi karena kengerian yang telah Ia bayangkan di depan-Nya. Dalam hal ini doa Yesus memang bukanlah doa yang penuh dengan kedagingan tetapi juga doa itu sendiri tidak berarti telah sesuai dengan kehendak Allah. Kata kunci dalam doa yang tidak kita lupakan adalah “sesuai dengan kehendak Allah”. Doa tidak akan mengubah kehendak Allah tetapi mengubah kehendak kita menurut kehendak Allah. Dengan berdoa kita belajar mensejajarkan diri dengan kehendak-Nya. Doa memang membutuhkan iman, tetapi iman bukanlah alat untuk memaksa Tuhan melakukan kehendak kita. Iman adalah sebuah penyerahan dan keyakinan akan tindakan Allah. Doa Yesus di Getsemani adalah doa yang penuh dengan iman karena di dalamnya Ia tidak mengubah kemauan Bapa-Nya tetapi mengatakan kehendak Bapa-lah yang jadi sekalipun Ia punya keinginan tersendiri, dan keinginan-Nya Dia lebur ke dalam keinginan Bapa. Kelihatannya Yesus sangat konsisten dalam pengajaran tentang doa. Di bagian awal pelayanan-Nya Ia pernah mengajarkan doa kepada murid-murid-Nya: ”Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Yesus mengetahui bahwa berdoa berarti meminta kehendak Bapa terjadi baik dalam peristiwa di bumi maupun dalam keputusan Allah di sorga .. ”

Namun bila menyimak kembali apa yang dikatakan Yakobus dengan istilah: ”sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu”, maka doa-doa semacam itu kita golongkan sebagai doa kedagingan. Doa kedagingan itu mencakup:

DOA KONSUMERISME
Meminta Tuhan untuk memenuhi semua keinginannya untuk punya ini dan punya itu seolah Allah itu lampu Aladin.

DOA AMBISIUS
Meminta dan memaksa Tuhan untuk bisa membawa dia ke jabatan ini dan itu.

DOA EGOIS
Meminta Tuhan untuk menguntungkan diri kita dan mengabaikan keuntungan atau keberuntungan orang lain.

DOA KEPAHITAN
Meminta Tuhan untuk membalas dendam kita terhadap orang yang menyakiti kita.

DOA PATAH HATI
Ambil nyawa saya saja Tuhan!

DOA PENGENDALI
Meminta Tuhan untuk melakukan sesuatu agar orang bisa tunduk dan takluk kepada kemauannya.

Untuk yang seperti ini, anjuran yang positif dari Alkitab mengatakan: ”jangan buang waktu dan anggaran untuk berdoa macam begini!”. Allah tentunya langsung menggelengkan kepala tanda bahwa Ia tidak setuju dengan cara anak-anak-Nya, sebab mereka tatkala datang di dalam doa masih juga dikuasai oleh kedagingan.

Daniel Zacharias

08 November 2007

"Betah" Dalam Hadirat Allah

Ada sebuah artikel humor rohani dalam sebuah buku renungan yang isinya sebagai berikut:
Pada suatu Senin pagi, seorang petani mendatangi rumah pendetanya. “Saya minta maaf karena hari minggu kemarin saya tidak ikut beribadah”, kata petani itu. “Mengapa anda tidak pergi ke gereja kemarin?”, tanya sang pendeta. “Saya harus menjaga padi yang saya harus menjaga padi yang saya jemur”, kata petani itu, “Saya merasa kog lebih baik menunggui padi sambil memikirkan Tuhan, daripada duduk di gereja tetapi memikirkan padi yang saya jemur.”

Kisah ini menggambarkan kenyataan di lapangan. Tidak sedikit orang percaya menyanyi dengan sungguh-sungguh: “lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain” namun dalam kenyataannya untuk “satu hari” itu saja seringkali pikiran orang masih “seribu hari di tempat lain”. Ternyata pikiran dan kerinduan orang masih banyak yang belum terpikat untuk berada di dalam hadirat Allah. “Eh kalau nyanyi jangan diulang-ulang dong, gak efektif, biar sekali dua kali aja, abis itu terus doa, biar ibadahnya cepat selesai!” Pak doanya singkat saja yah pak doakan kita dan gereja aja gak usah pake bangsa dan negara, tokh Tuhan juga tahu”. “Pak Pendeta gak panjang kan kotbahnya, soalnya kawan-kawan saya nanti lainnya baru dateng abis kebaktian terus kita makan bersama, yah renungan singkat aja pak, nanti lah kita ngobrol banyak waktu makan saja”. “Kalau saya saat teduh yah 15 menit aja kan kita mesti ora et labora, bekerja dan berdoa, kerja mesti banyak karena kita mesti makan, kan doa cuma minta Tuhan meminta berkat buat apa bertele-tele”. Begitulah kira-kira komentar orang percaya yang kita dengar sehari-hari. Rata-rata orang merasa gelisah ketika mulai berdoa di atas 15 menit, penyembahan sekenanya yang penting satu dua lagu baik lagu-lagu praise and worship atau dari Kidung Jemaat. Dan kalau ditanya mengapa, maka tidak jarang yang bereaksi agak emosional dengan berkata memang hidup cuma berdoa dan baca Alkitab saja! Dan inilah fakta, jangankan melakukan firman Tuhan, untuk cari waktu membaca saja sulitnya bukan main!

Gejala itu memang sanggat mengganggu banyak anak-anak Tuhan. Tidak sedikit mereka yang merasa sudah stagnan dengan situasi ini. Ada yang berusaha terus-menerus tetapi tetap ‘gak merasa dapet atmosfirnya’. Apalagi dalam situasi hidupnya yang sedang buruk, tidak jarang yang melakukan ‘cuti’ saat teduh atau “alpa” dari pelayanan atau dari kehadirannya dalam ibadah. Kegelisahan ini semacam ini tentu ada sebabnya. Mari kita cari tahu apa sebabnya.

Kegelisahan yang menyebakan orang tidak betah berada dalam hadirat Allah:
1. Dosa
2. Membiarkan dirinya dilanda kekuatiran sehingga lebih percaya mengerjakannya sendiri ketimbang mengambil waktu untuk berserah kepada Allah.
3. Berprinsip: “time is money bukan time is anointing”.
4. Masih berpikir “kita masih kan tinggal di dunia” dan melupakan kalau ia “bukan dari dunia” dan “tidak boleh dikendalikan oleh dunia”.

Perasaan tidak betah macam ini jangan terus dipelihara karena ia akan makin besar dan menggelembung dan suatu saat kita tidak bisa lagi mengendalikannya dan malah dikendalikannya.

Ketika bani Korah mengatakan dalam Mazmur 84:2, 3, dan 14:
84:2 Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!
84:3 Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup

84:11 Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik


tahulah kita bahwa ternyata ia telah mengatasi kegelisahan yang mengganggunya bila dia berada di hadirat Allah.

Bila dosa kita adalah akar dari semuanya, akuilah, bereskanlah, jangan cuci cawan dari luarnya saja tetapi cucilah bagian dalamnya juga (lih. Renungan sebelumnya: Membersihkan Bagian Luar Cawan). Jangan simpan dosa karena itu akan membawa keburukan dalam hal apa saja dalam hidup kita pribadi, keluarga, dan gereja. Jangan teruskan dosa, dan jangan anggap enteng dosa. Pemazmur tahu bahwa dosa berdampak buruk buat kehidupan manusia sehingga dalam Mazmur 15 ia mengatakan bahwa mereka yang bisa bersekutu dengan Allah adalah mereka yang meninggalkan kejahatan dan dosa. Ia tidak mau menukar perjumpaannya dengan Allah dengan perbuatan dosa. Baginya rugi besar menukar barang murahan dengan sesuatu yang paling indah yaitu bersekutu dengan Allah. Ia tahu bahwa persoalannya bukan di Allah tetapi kalau kita berbuat dosa dan tidak meninggalkan dosa tersebut, maka kitalah yang tidak akan betah untuk tinggal di dalam hadirat Allah. Hadirat Allah adalah kudus jadi hanya orang yang hidup kudus yang dapat tinggal betah di dalamnya.

Karena itu ingatlah apa yang dikatakan penulis surat Ibrani: “Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni” (Ibrani 10:22).

Daniel Zacharias

06 November 2007

"Amapola, Lindisima Amapola" - to my beloved Wife

"Amapola" is a popular song, written by Spanish composer Joseph LaCalle with Spanish lyrics although the English language lyrics were written by Albert Gamse.

Though the song was published in 1924, the most popular recorded version was made nearly two decades later by the
Jimmy Dorsey Orchestra with vocalists Helen O'Connell and Bob Eberly. The recording was released by Decca Records as catalog number 3629. The record first reached the Billboard charts on March 14, 1941 and lasted 14 weeks on the chart, peaking at #1.


An instrumental version of the piece formed an important leitmotif in the gangster film Once Upon a Time in America (1984).

Spanish version:


Amapola, lindisima amapola,
Será siempre mi alma tuya sola.
Yo te quiero, amada niña mia,
Iqual que ama la flor la luz del día.
Amapola, lindisima amapola,
No seas tan ingrate y ámame.

Amapola, amapola
Cómo puedes tú vivir tan sola.
Yo te quiero, amada niña mía.
Igual que ama la flor la luz del día.
Amapola, lindísima amapola,
No seas tan ingrate y ámame.

Amapola, amapola
Cómo puedes tú vivir tan sola

English version:

AMAPOLA (PRETTY LITTLE POPPY)
Jimmy Dorsey- words by Albert Gamse, music by Joseph M. Lacalle

Amapola
My pretty little poppy
You're like that lovely flower, so sweet and heavenly
Since I found you
My heart is wrapped around you
And loving you it seems to beat a rhapsody

Amapola
The pretty little poppy
Must copy its endearing charm from you

Amapola, Amapola
How I long to hear you say, "I love you."


From Wikipedia, the free encyclopedia

Membersihkan Bagian Luar Cawan

Perkataan Tuhan kepada para murid-Nya dalam Lukas 12:1 sungguh sangat keras bunyinya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi". Tuhan rupanya menanggap perbuatan orang-orang Farisi sebagai ragi (pembawa pengaruh buruk laten dari sebagaian orang yang berdampak kepada kebanyakan orang). Kelihatannya dosa kemunafikan adalah dosa dibalik dosa. Dosa ini menyembunyikan dosa dan melindungi dosa dengan hal-hal yang kelihatannya rohani dan baik. Tuhan pernah menggunakan perumpamaan kubur yang dilabur putih-putih tetapi di dalamnya penuh dengan kebususkan untuk menggambarkan dosa kemunafikan.

Dalam bagian sebelumnya yaitu dalam Lukas 11:39-40 Tuhan pernah mengatakan: Tetapi Tuhan berkata kepadanya: "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam". Dosa kemunafikan digambarkan seperti orang yang membersihkan cawan dari bagian luar tetapi bagian dalamnya tidak. Tidak dapat kita bayangkan bila di rumah dan di rumah-rumah makan orang hanya mencuci bagian luar dari gelas, piring, dan mangkok tetapi membiarkan bagian dalam dari peralatan makan itu tetap kotor? Betapa menjijikan!

Dalam menata diri seringkali kita mengambil sikap seperti kebanyakan orang Farisi. Kita menata kepribadian luar kita dengan begitu apik, nyaris tanpa cacat! Sementara karakter dalam kita, kita biarkan bobrok dan tak tertata. Selincah atau secerdik apapun kita menutupi bagian dalam diri kita suatu saat akan terbuka. Bukan karena kita kurang cerdik tetapi Tuhan sendiri berkata bagi mereka yang senang memelihara kemunafikan: "Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah" (Luk 12:2-3). Tuhan akan membukanya, Tuhan akan menyingkapkannya, Tuhan akan menelanjanginya.

Seringkali kemunafikan tercipta karena kesombongan kita untuk tidak mengakui kesalahan dan dosa, tetapi juga karena ketakutan terhadap "apa kata dunia" kalau tahu siapa kita dan apa kebobrokan kita. Padahal kita sudah jadi pendeta, penatua, diaken, pengurus komisi, pelayan musik, anggota paduan suara, pemimpin komsel. Bisa-bisa orang akan meninggalkan kita dan menjauhi kita dan tidak lagi percaya kepada kita, dan bagi para pendeta akan kehilangan pekerjaan. Jadi untuk mempertahankan itu sebaiknya lebih baik menjadi munafik daripada ketahuan dan fatal akibatnya. Inilah kekeliruan kita dan kita berpikir hal ini akan aman bagi kita. Ternyata kita harus ingat apa kata Tuhan di atas: "Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam". Ia mengetahui strategi licik dan busuk kita. Dan Dia akan membongkarnya! Ingat Dia bisa membongkarnya!

Lalu apa yang harus saya lakukan? Buatlah komitmen sekarang juga dan bersiap-siaplah kehilangan banyak hal yang menyenangkan dan masuk ke dalam sebuah penyangkalan diri. Buatlah komitmen bersama-sama saya dengan berkata: "Tuhan saya berdoa saat ini untuk menjadi sahabat-Mu. Seorang sahabat adalah seorang yang bergaul karib dengan Engkau. Bila ada hal-hal yang menghalangi pergaulan ini yaitu karena dosaku ampunilah aku Tuhan. Ajari aku untuk tidak membersihkan bagian luar pinggan tetapi juga bagian dalamnya. Ajari aku untuk tidak bersifat munafik, ajari aku untuk tidak menipu orang lain, ajari aku untuk tidak menghias bagian luar diri ini sementara di dalamnya penuh kebusukan dan kebobrokan. Biarlah aku mulai hari ini terus menanggalkan semua dosa yang melekat di dalam dalam pinggan hidupku, Amin!"

Praktekanlah hidup terbuka terhadap Allah dan sesama dan jadilah Sahabat-Nya!

Daniel Zacharias

Treasure

Satu-persatu diambil-Nya dari padaku,
Semua perkara yang paling kuhargai,
Sampai tanganku menjadi hampa;
Setiap mainan yang berkilau sudah hilang

Dan aku berjalan di jalan-jalan raya bumi, berduka,
Dalam pakaian compang-camping dan kemiskinanku
Sampai aku mendengar suara-Nya mengundang,
“Angkatlah tangan-tangan yang hampa itu kepada-Ku!”

Maka aku mengangkat tanganku ke Surga,
Dan Ia mengisinya dari tempat penyimpanan
Dari kekayaan-Nya sendiri yang luar biasa
Sampai tangan-tanganku tidak mampu menampung lagi

Dan pada akhirnya aku mengerti
Dengan pikiranku yang bodoh dan tumpul
Bahwa Allah tidak DAPAT menuangkan kekayaan-Nya
Ke dalam tangan-tangan yang sudah penuh

Martha Snell Nicholson, “Treasure,” Ivory Palaces (Wilmington, Calif.: Martha Snell Nicholson, 1946), hlm. 67, dikutip kembali oleh C. R. Swindoll dalam Daud: Pria Penuh Gairah dan Terpilih (Bandung: Cipta Olah Pustaka, 2000), hlm. 237.

05 November 2007

Hal Paling Indah Dalam Hidup: AKRAB DENGAN ALLAH

10 Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya. 11 Oleh karena nama-Mu, ya TUHAN, ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu. 12 Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. 13 Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi. 14 TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka (Mazmur 25:10-14).

Hampir rata-rata doa manusia termasuk saya seperti ini:

4 Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. 5 Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari (Maz 25:4-5)

Tetapi doa itu sendiri ternyata tidak langsung terjawab karena rupanya Allah mensyaratkan bagi orang yang ingin mendapatkan jawaban dari doa semacam ini. Dalam ayat 10 disebutkan bahwa semua jalan Tuhan yang kita minta itu ternyata penuh dengan KASIH SETIA dan KEBENARAN. Di dalam jalan Tuhan itu tidak ada pengkhianatan dan tidak ada kecurangan, sehingga kita yang berjalan di atasnya tidak perlu kuatir kemana jalan Tuhan akan membawa kita. Satu hal yang perlu kita ketahui adalah bahwa jalan Tuhan itu ditunjukkan hanya bagi ORANG-ORANG YANG BERPEGANG PADA PERJANJIAN-PERJANJIAN dan PERINGATAN-PERINGATANNYA. Jalan itu tidak dibukakan kepada sembarang orang, hanya mereka yang hati dan pikirannya berpaut pada Firman Allah dan tangannya mengerjakan kebenaran firman Allah.

Di sisi lain Daud tahu bahwa sering jalan Tuhan yang penuh kasih setia dan kebenaran tidak bisa dijalani oleh orang-orang yang hidupnya belum beres dengan Tuhan. Bukan karena jalan itu sendiri tetapi karena jalan itu tidak mungkin ditunjukkan pada orang yang belum bertobat atau yang hidupnya masih berkanjang dalam dosa. Sehingga dalam ayat 11 Daud mengakui dosa dan kesalahannya bukan karena rasa takutnya tetapi karena ia tahu konsekwensi logis dari orang yang memanggil nama Tuhan dan meminta kehendaknya. Saya teringat apa yang dikatakan oleh kitab II Timotius 2:19: “Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: "Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya" dan "Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.” Nama Tuhan itu adalah Kudus. Dalam Taurat juga dikatakan dalam Keluaran 20:7: “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan”. Pengakuan harus disertai dengan pertobatan!

Janji Tuhan yang akan diterima (ayat 12-14):



  • Tuhan MENUNJUKKAN JALAN KEHIDUPAN yang harus dipilihnya. Itu pasti luar biasa dan tidak keliru dan tidak ada jalan menuju kebinasaan.

  • Orang itu MENETAP dalam KEBAHAGIAAN. Kalimat ini membutuhkan iman yang luar biasa karena harus berhadapan dengan pertanyaan ragu-ragu: “memangnya kita tidak pernah sedih lagi?” Saya sendiri menjawab dengan iman bahwa kita memang masih bisa sedih tetapi kita tidak menetap dalam kesedihan tetapi kebahagiaan. Menetap bukan berarti tidak pernah pergi ke wilayah lain. Kata kebahagiaan disini bukan kebahagiaan murahan tetapi suasana hati dan pikiran yang tenteram karena jaminan kekuasaan Allah. Dia tidak dikuasai oleh ketakutan dan kekuatiran. Seperti ada tertulis: Amsal 18:10: “Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.”

  • ANAK CUCUNYA MEWARISI BUMI. Saya mengimani dan percaya hal ini melihat bukti antara keluarga Max Jukes (hidup penuh kehancuran karena tidak taat) dengan Jonathan Edward (hidup diberkati karena taat).

  • TUHAN BERGAUL KARIB. Kekariban ini menjadi akibat dari sebuah ketundukan (rasa takut) kepada Tuhan. Kekariban ini bukan inisiatif kita tetapi inisiatif Allah sendiri. Kekariban menunjukkan kualitas konektivitas kita dengan Allah. Kekariban juga menunjukkan pengenalan dua arah yang betulk-betul dalam dan berkualitas.

  • PERJANJIANNYA DIBERITAHUKAN. Memang ini adalah hal yang luar biasa karena perjanjian tersebut adalah niat dan kehendak Allah yang dibagikan kepada kita. Rahasia Allah itu merupakan hal yang istimewa yang dibagikan juga kepada orang-orang yang istimewa yaitu mereka yang takut akan Tuhan.

Hari saya ini saya akan menjawab kerinduan Tuhan untuk akrab dengan saya!


Daniel Zacharias

Technorati Profile

01 November 2007

Apa Bedanya Kita Dengan Iblis?

Sehabis saya merenungkan kembali Matius 4:1-11 tentang Pencobaan di Padang Gurun, khususnya ayat 6, saya jadi mengajukan pertanyaan seperti di atas: Apa Bedanya Kita Dengan Iblis? Mengapa saya mengajukan pertanyaan semacam itu? Ayat 6 berbunyi: "lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." Ada apa dengan ayat ini? Hey apa kita gak sadar? Iblis memakai ayat firman untuk mencobai Yesus! Iblis tahu firman, hafal firman, dan mampu mempergunakan firman untuk kepentingannya.

Ternyata kalau dibandingkan maka lebih banyak kesamaan kita dengan Iblis:

  1. Kalau kita merasa bahwa hanya kita yang bisa percaya kepada Allah, maka kita keliru besar karena Iblis juga percaya, lih. Yakobus 2:19: "Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar."

  2. Kalau kita merasa bahwa hanya kita yang bisa menghadap Allah, maka kita keliru lagi karena Iblis juga menghadap Allah, lih. Ayub 2:1: "Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datang juga Iblis untuk menghadap TUHAN."

  3. Kalau kita merasa hanya kita yang bisa bicara dengan Allah, maka kita kembali keliru karena Iblis juga bicara dengan Allah, lih. Ayub 2:2: "Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi."

  4. Kalau kita merasa bahwa hanya kita yang mengetahui firman Allah, maka itu justru menjadi kekeliruan terbesar kita, karena ternyata Iblis juga mengetahui firman, lih. Matius 4:6: "lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."
Ternyata kalau kita semua berpikir bahwa kita sudah cukup rohani karena kita merasa bahwa hanya kita telah percaya pada Allah, menghadap Allah, bicara dengan Allah, dan membaca firman Allah, maka apa bedanya dong kita dengan Iblis, tokh Iblis melakukan hal yang sama?

Ternyata perbedaannya justru terletak bukan kepada 4 hal tersebut tetapi pada satu hal yang Iblis TIDAK BISA lakukan karena TIDAK MAU yaitu MELAKUKAN FIRMAN ALLAH. Jadi manusia yang merasa sudah mengerjakan 1-4 hal di atas sebenarnya belum apa-apa dan tidak ada bedanya dengan kehidupan kegelapan, dia hanya berbeda ketika ia melakukan firman Allah.

Seringkali ketika kita diperhadapkan pada tuntutan melakukan Firman Allah maka kita seringkali merasa TIDAK BISA atau TIDAK SANGGUP karena KETIDAKMAUAN kita, nah kalau sudah begitu apa bedanya kita dengan Iblis dong?

Renungan ini mengajak kita untuk lebih menyadari bahwa tidak ada hal yang paling indah yang menyenangkan hati Tuhan yang tidak dapat dibuat oleh mahluk lain di dunia termasuk Iblis sekalipun yakni: MENAATI DAN MELAKUKAN FIRMAN TUHAN. Selamat mempraktekan firman Tuhan, biarlah di dalam Dia kita jaya dan menang!


Daniel Zacharias