Seorang guru seperti Yesus memiliki satu kelebihan yakni berpikir dan bersikap konsisten. Ketika Ia menghadapi cobaan dari para rohaniawan di zaman-Nya perihal kasus wanita yang tertangkap berzinah, Yesus mencoba mempertentangkan antara apa yang disebut dengan sikap konsisten dan tidak konsisten alias konsistensi dan inkonsistensi. Hal itu jelas terlihat ketika orang yang membawa dan mendakwa wanita itu ditantang dengan pernyataan: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Rupanya logika mempertentangkan antara konsistensi vs. inkosistensi terbaca oleh lawan bicaranya. Tak heran batu yang sudah dipersiapkan untuk hukum rajam batal dipergunakan sebagaimana digambarkan Mel Gibson dalam "The Passion of the Christ" sebagai batu-batu yang terlepas dari tangan dan menghujam tanah.
Mengapa saya sebut konsistensi vs. inkosistensi? Jelas, bahwa ketika batu-batu itu berjatuhan ke tanah, dan wanita pezinah itu bebas dari hukum raja, menunjukkan bahwa ternyata mereka tahu bahwa mereka yang siap menghukum dalam kategori berzinah ternyata adalah mereka yang siap dihukum dalam kategori dosa lainnya. "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa" adalah kalimat yang meminta pendengarnya melalukan otokritik untuk melakukan konsistensi. Artinya kalau seseorang konsisten melawan dosa makan ia harus melawan dosa di segi manapun. Jadi jangan ia melawan dosa korupsi tetapi diam-diam ia mempraktekan dosa perselingkuhan. Diam-diam menentang perjudian tetapi diam-diam masih mempercayai hal-hal yang berbau klenik sebagai penjaga kehidupan rumah tangganya.Yesus tidak bermaksud melemahkan sebuah hukum--karena tidak seorang pun manusia yang tidak berdosa--tetapi maksud-Nya disini adalah agar mereka yang menjalankan kebenaran jangan diam-diam melakukan kejahatan. Jangan sampai kehidupan mereka mempraktekan kebenaran dan kejahatan bersama-sama. Maksud Yesus adalah jangan ada orang yang berteriak "maling teriak maling", atau seseorang bermaksud mencuci tangan kita agar bersih tetapi tangannya sendiri berlumuran oli bekas.
Problem di dalam negara kita sekarang adalah pandai melempar kritik, menyalahkan orang, menuduh orang, sambil menganggap diri benar dan sempurna. Seringkali pendemo yang turun ke jalan berteriak tegakan keadilan tetapi saat yang sama ia seolah punya alasan yang 'benar' untuk memancing emosi polisi dan melawan otoritas. Mereka meneriakan ketidakadilan tetapi disisi lain mereka melukai hati orang lain. Ketika ada anggota polisi yang mulai bertindak tegas maka mata masyarakat menjadi tidak jeli karena yang kemudian menjadi tumpuan caci maki adalah anggota keamanan. Stasiun televisi seolah mendapat sebuah liputan khusus dan turut memaki polisi. Padahal kalau kita semua turun ke jalan kita semua pasti tahu dan jangan pura-pura jadi bodoh! Ketika perbuatan anarki demonstran sebagai aksi dibalas dengan reaksi oleh polisi maka kita dengan naifnya menyalahkan mereka yang membuat reaksi bukan pembuat aksi yang memalukan. Kita lalu membuat alasan karena polisi punya kode etik dan orang yang berdemonstran seolah "tidak punya" atau "dibuang agar benar-benar tidak punya" kode etik dan bisa bertindak semaunya.
Saya prihatin pada semua hal di negara ini. Ketika para penegak hukum meringkus A dan B. Ternyata dalam kenyataan selanjutnya para anggota penegak hukum sendiri teringkus dan tersandung persoalan yang sama. Sekali lagi inkosistensi terjadi di sekitar kita.Mengapa kita tidak belajar untuk konsisten yang meliputi:
1. Konsisten bertindak benar bukan hanya di depan orang tetapi juga tatkala tak ada orang.
2. Konsisten bertindak benar ketika yang dihadapi dan dibela bukan karena seiman, segolongan, sesuku, dan sebangsa saja.
3. Konsisten bertindak benar ketika kita bukan hanya merasa benar di sektor kehidupan tertentu lalu bisa seenaknya berbuat semaunya di sektor kehidupan pribadi kita lainnya.
4. Konsisten bertindak benar dan tidak bergantung pada perasaan dan situasionil.
Saya mulai belajar konsisten mulai dari diri saya sendiri. Saya ingin HIDUP BAIK, kemudian HIDUP LEBIH BAIK, dan akhirnya MENJADI YANG TERBAIK. Kiranya Tuhan menyertai saya.
Daniel Zacharias
02 Oktober 2007
Terima Dulu Atau Buang Dulu?
Yakobus 1:21
"Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu".
Terima dulu atau buang dulu? Jawabannya yah buang dulu! Lihat urutan dalam kalimatnya di Alkitab. Sebelum kita menerima firman Allah dalam hidup kita maka segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang bercokol dalam hati kita yang kemudian meluap dalam pikiran dan perbuatan kita itu dibuang. Caranya? Buatlah komitmen untuk benar-benar melawan semua hal jahat yang pernah memenjarakan kita selama ini, dan minta Roh Kudus menolong kita.
Tidak sedikit orang mau menerima firman tetapi tidak mau membuang kejahatan akibatnya benih firman itu seperti jatuh di jalan dan disambar burung, atau kalau sempat tumbuh juga kalau tidak di tanah berbatu, yah di tanah yang penuh semak duri, maka semua saat teduh, perenungan, dan kotbah yang kita dengar menjadi sia-sia. Menerima firman harus dengan lembut hati! Yang membuat kita tidak bisa menerima firman Allah dengan lembut hati adalah karena hati kita masih dikuasai oleh ketidakpercayaan, menertawakan janji Tuhan, kedagingan, kejahatan, pikiran penuh nafsu. Tuhan menghargai orang yang mempercayai-Nya dan menghargai firman-Nya (Maz 112:1-10).
Buatlah komitmen untuk membuang kejahatan dari hati kita, karena firman Allah tidak bersatu dengan kejahatan dalam diri kita. Terang tidak dapat bersatu dengan gelap!
Soal "buanglah" itu bukan bagian Allah, tetapi BAGIAN KITA. Ia memerintakan kita untuk membuangnya bukan Dia. Hal itu berarti bahwa Allah merasa kita sanggup untuk melakukannya.
Buang dulu atau terima dulu? Udah tahu masih nanya juga .... lakukan deh sekarang, Tuhan memberkati.
"Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu".
Terima dulu atau buang dulu? Jawabannya yah buang dulu! Lihat urutan dalam kalimatnya di Alkitab. Sebelum kita menerima firman Allah dalam hidup kita maka segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang bercokol dalam hati kita yang kemudian meluap dalam pikiran dan perbuatan kita itu dibuang. Caranya? Buatlah komitmen untuk benar-benar melawan semua hal jahat yang pernah memenjarakan kita selama ini, dan minta Roh Kudus menolong kita.
Tidak sedikit orang mau menerima firman tetapi tidak mau membuang kejahatan akibatnya benih firman itu seperti jatuh di jalan dan disambar burung, atau kalau sempat tumbuh juga kalau tidak di tanah berbatu, yah di tanah yang penuh semak duri, maka semua saat teduh, perenungan, dan kotbah yang kita dengar menjadi sia-sia. Menerima firman harus dengan lembut hati! Yang membuat kita tidak bisa menerima firman Allah dengan lembut hati adalah karena hati kita masih dikuasai oleh ketidakpercayaan, menertawakan janji Tuhan, kedagingan, kejahatan, pikiran penuh nafsu. Tuhan menghargai orang yang mempercayai-Nya dan menghargai firman-Nya (Maz 112:1-10).
Buatlah komitmen untuk membuang kejahatan dari hati kita, karena firman Allah tidak bersatu dengan kejahatan dalam diri kita. Terang tidak dapat bersatu dengan gelap!
Soal "buanglah" itu bukan bagian Allah, tetapi BAGIAN KITA. Ia memerintakan kita untuk membuangnya bukan Dia. Hal itu berarti bahwa Allah merasa kita sanggup untuk melakukannya.
Buang dulu atau terima dulu? Udah tahu masih nanya juga .... lakukan deh sekarang, Tuhan memberkati.
15 Juli 2007
Mempercayai Allah Di Balik Pintu Tertutup
Wuah luar biasa kebaikan Tuhan bagi kita semua sehingga ada banyak hal yang tidak kita duga terjadi dan hal itu menghadirkan sukacita yang tiada taranya. Ketika saya menuliskan barisan kata ini saya tidak sedang dibungkus oleh perasaan senang tetapi justru sedang dirundung oleh banyak masalah yang sedang menggelayut di batin ini. Namun disinilah realitas sebuah perjuangan batin di dalam iman kepada Kristus. Realitas itu tidak membuat kuasa Allah kelihatan hilang tetapi sebaliknya semakin nyata dan nyata.Sampai di titik ini perasaan sesak itu belum juga berangkat tetapi iman malah tidak terusir oleh perasaan tersebut malah iman seolah memberi semacam ketenangan dan harapan agar jangan membiarkan dilarutkan oleh kesesakan. Dan di dalam harap-harap cemas itu kekristenan seharusnya benar-benar memainkan peranan yang menentukan.
Saya meyakini inilah proses mungkin dari sebuah teguran Tuhan atau sebaliknya dari sebuah pembentukan Tuhan bagi saya. Namun apapun agenda Allah di balik semua ini saya meyakini tak ada hidden agenda yang mencelakakan. Sehingga rasanya kita tidak perlu mencemaskan akankah Dia berubah pikiran dan melakukan sebuah kekejian? It's impossible!
Iman adalah sebuah keyakinan dibalik pintu tertutup. Sang El Shadday tidak membuat pintu menjadi transparan atau agak dibuka sedikit agar kita bisa melihat dan kemudian dengan sedikit hal yang disingkapkn tersebut kita kemudian menjadi percaya. Sebab harapan yang sudah terlihat bukanlah lagi sebuah harapan dan kelihatannya itu sudah tidak seru lagi. Ia malah pernah berkata, "berbahagilah mereka yang tidak melihat namun percaya".
Selamat mempercayai Allah di balik pintu tertutup. Karena untuk orang-orang semacam itu disebut-Nya: BERBAHAGIA!
Perkataan Kristus Diam Di Antara Kamu

"Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu" (Kolose 3:16).
Pikiran saya langsung tertancap pada kata "diam". Perkataan Kristus "diam" dengan segala kekayaannya. Kedengarannya klise tetapi setelah menyibak secara etimologis maka rasanya perlu ada redefinisi terhadap kata "diam" tersebut. Kebanyakan kita berpikir bahwa perkataan Kristus itu seperti sesuatu yang tersimpan dalam benak dan hati kita dengan baik. Bisa jadi kita jadi mahir mengucapkan kembali secara verbal kata-kata itu secara harafiah atau kita mahir mengintepretasikannya. Dengan kata lain setelah membaca Firman Allah asalkan hasil penafsirannya masih berbau ortodoksi maka Logia Iesou tersebut baik tersimpan dalam file harafiah maupun konseptual tidak menjadi masalah. Dan dampak buruknya adalah orang cukup berhenti pada adanya ortodoksi dan ortopathi. Perkataan Yesus tersimpan dalam konsep abstrak dan sulit mengukur buahnya.
Kata "diam" dalam teks Yunani adalah enoiko yang diuraikan Leksikon berarti "dwell in one and influence him or her (for good)". Ternyata pengertian "diam" disini tak lagi dalam pengertian pasif tetapi aktif. "Diam" dan "mempengaruhi seseorang untuk maksud baik". Dengan kata lain nasihat Rasul Paulus tidak membuat seseorang berada dalam pengertian ortodoksi atau ortopathi tetapi juga ortopraksis. Memang Firman Allah itu bukan sekedar memenuhi kebutuhan kognisi dan afeksi tetapi juga praksis. Firman Allah ternyata memiliki kuasa yang "mempengaruhi secara baik" seseorang selama penggaliannya dan pengaplikasiannya dilakukan secara bertanggung jawab. Perlu ditekankan disini pada metode penafsiran yang bertanggung jawab dengan mempertimbangkan berbagai aspek agar apa yang hasil tafsirannya tidak mengarah pada pengertian yang ekstrim atau sebaliknya terjadi pendangkalan. Mungkin metode penafsiran yang bertanggung jawab menjadi tanggung jawab semua pihak yang melakukan upaya untuk memahami teks Alkitab.
Jika pemamahan yang benar sudah didapatkan maka soal kita sekarang adalah mengenai bagaimana hal itu terlaksana. Pengertian enoiko sangat jelas tergambar bahwa harus ada pengaruh yang terlihat dari sebuah pehamaman terhadap Logia Iesou tersebut. Sehingga terjemahan langsung dari Kolose 3:16 kira-kira berbunyi: "Hendaklah ajaran Kristus menentukan sikap hidupmu", atau "hendaklah ajaran-ajaran Kristus MEMPENGARUHI SEPENUHNYA CARA DAN GAYA HIDUPMU" atau "MENENTUKAN sepenuhnya bagimana sikap seseorang".
Kata lanjutan dari perkataan Kristus yang berdiam adalah "dengan segala kekayaannya". Ternyata perkataan Kristus bukan kata mati yang berhenti pada pemaknaan lalu titik. Firman Allah itu bukan saja sarat dengan informasi tentang Allah dan perbuatan-Nya tetapi firman itu adalah kehendak dan isi hati Allah sendiri. Lebih dari itu firman Allah juga tidak hanya mengantarkan kita pada kehendak-Nya yang kudus dan mulia tetapi juga mengandung kuasa. Dan kuasa inilah yang dipahami Paulus sebagai kekayaan dari perkataan Kristus. Dalam Ibrani 4:12 tertulis: "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita". Firman Allah memiliki kekayaan yang tak terbatas untuk membawa manusia kepada kehendak-Nya. Sayang sekali jika orang hanya mengerti firman Allah tetapi tidak mengalami kuasa firman Allah.
Sekarang pertanyaan selanjutnya adalah: "mengapa ada orang yang bergaul dengan firman Allah tetapi hidupnya tidak diubahkan?" Pertama, karena tidak sedikit orang yang bergaul dengan Firman Allah hanya sampai tahap MENCARI TAHU dan bila SUDAH TAHU maka ia BERHENTI. Kedua, mereka bergaul dengan firman Allah untuk MENCARI TAHU, SUDAH TAHU, lalu MEMBERITAKAN dan berhenti. Kekeliruan ini sudah saatnya diakhiri dan tiba saatnya prinsip eoniko benar-benar terlaksana: yaitu MENCARI TAHU, MENGERTI, MEMBERITAKAN, dan MELAKUKAN Firman.
So help me God!
Pikiran saya langsung tertancap pada kata "diam". Perkataan Kristus "diam" dengan segala kekayaannya. Kedengarannya klise tetapi setelah menyibak secara etimologis maka rasanya perlu ada redefinisi terhadap kata "diam" tersebut. Kebanyakan kita berpikir bahwa perkataan Kristus itu seperti sesuatu yang tersimpan dalam benak dan hati kita dengan baik. Bisa jadi kita jadi mahir mengucapkan kembali secara verbal kata-kata itu secara harafiah atau kita mahir mengintepretasikannya. Dengan kata lain setelah membaca Firman Allah asalkan hasil penafsirannya masih berbau ortodoksi maka Logia Iesou tersebut baik tersimpan dalam file harafiah maupun konseptual tidak menjadi masalah. Dan dampak buruknya adalah orang cukup berhenti pada adanya ortodoksi dan ortopathi. Perkataan Yesus tersimpan dalam konsep abstrak dan sulit mengukur buahnya.
Kata "diam" dalam teks Yunani adalah enoiko yang diuraikan Leksikon berarti "dwell in one and influence him or her (for good)". Ternyata pengertian "diam" disini tak lagi dalam pengertian pasif tetapi aktif. "Diam" dan "mempengaruhi seseorang untuk maksud baik". Dengan kata lain nasihat Rasul Paulus tidak membuat seseorang berada dalam pengertian ortodoksi atau ortopathi tetapi juga ortopraksis. Memang Firman Allah itu bukan sekedar memenuhi kebutuhan kognisi dan afeksi tetapi juga praksis. Firman Allah ternyata memiliki kuasa yang "mempengaruhi secara baik" seseorang selama penggaliannya dan pengaplikasiannya dilakukan secara bertanggung jawab. Perlu ditekankan disini pada metode penafsiran yang bertanggung jawab dengan mempertimbangkan berbagai aspek agar apa yang hasil tafsirannya tidak mengarah pada pengertian yang ekstrim atau sebaliknya terjadi pendangkalan. Mungkin metode penafsiran yang bertanggung jawab menjadi tanggung jawab semua pihak yang melakukan upaya untuk memahami teks Alkitab.
Jika pemamahan yang benar sudah didapatkan maka soal kita sekarang adalah mengenai bagaimana hal itu terlaksana. Pengertian enoiko sangat jelas tergambar bahwa harus ada pengaruh yang terlihat dari sebuah pehamaman terhadap Logia Iesou tersebut. Sehingga terjemahan langsung dari Kolose 3:16 kira-kira berbunyi: "Hendaklah ajaran Kristus menentukan sikap hidupmu", atau "hendaklah ajaran-ajaran Kristus MEMPENGARUHI SEPENUHNYA CARA DAN GAYA HIDUPMU" atau "MENENTUKAN sepenuhnya bagimana sikap seseorang".
Kata lanjutan dari perkataan Kristus yang berdiam adalah "dengan segala kekayaannya". Ternyata perkataan Kristus bukan kata mati yang berhenti pada pemaknaan lalu titik. Firman Allah itu bukan saja sarat dengan informasi tentang Allah dan perbuatan-Nya tetapi firman itu adalah kehendak dan isi hati Allah sendiri. Lebih dari itu firman Allah juga tidak hanya mengantarkan kita pada kehendak-Nya yang kudus dan mulia tetapi juga mengandung kuasa. Dan kuasa inilah yang dipahami Paulus sebagai kekayaan dari perkataan Kristus. Dalam Ibrani 4:12 tertulis: "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita". Firman Allah memiliki kekayaan yang tak terbatas untuk membawa manusia kepada kehendak-Nya. Sayang sekali jika orang hanya mengerti firman Allah tetapi tidak mengalami kuasa firman Allah.
Sekarang pertanyaan selanjutnya adalah: "mengapa ada orang yang bergaul dengan firman Allah tetapi hidupnya tidak diubahkan?" Pertama, karena tidak sedikit orang yang bergaul dengan Firman Allah hanya sampai tahap MENCARI TAHU dan bila SUDAH TAHU maka ia BERHENTI. Kedua, mereka bergaul dengan firman Allah untuk MENCARI TAHU, SUDAH TAHU, lalu MEMBERITAKAN dan berhenti. Kekeliruan ini sudah saatnya diakhiri dan tiba saatnya prinsip eoniko benar-benar terlaksana: yaitu MENCARI TAHU, MENGERTI, MEMBERITAKAN, dan MELAKUKAN Firman.
So help me God!
01 Juli 2007
Mimi Lan Mintuna
Entah pikiran apa yang sedang menggelayut di benak Remy Sylado dalam menciptakan karya yang satu ini. Yang jelas keprihatinannya terhadap kejahatan trafiking perempuan perlu mendapatkan acungan jempol. Karena menurut saya tidak sedikit novel modern yang mau disarati dengan problem-problem sosial.
Sebelumnya saya pernah berkenalan dengan novel Remy yang lain seperti Parijs Van Java yang sekitar tahun 2001 dimuat serial di Koran Tempo dan Kerudung Merah Kermizi yang 600 halaman tetapi berhasil saya taklukan dalam 2 hari. Kelihatannya tidak bisa tidak lari dari kenyataan dan kepedulian sosial dengan sitz im leben sejarah masa lampau atau masa kini.
Kemampuan Remy yang biasanya detail dengan gambaran, kata-kata serapan, kata-kata asing (internasional/daerah), tanggal dan tahun, geografis, kutipan surat kabar tahun 1997-an menunjukkan bahwa ia tidak menulis asal berimajinasi tanpa mengenal dengan baik medannya. Saya benar-benar kagum ketika dalam novel ini ia bersusah payah menampilkan huruf Siam dan menerjemahkannya. Belum lagi mulai dari jalur minyak ilegal sampai dengan nama jalan di Bangkok menunjukkan hal itu bukan sekedar rekaan belaka.
Terlepas dari kepiawaiannya menggandeng semua detail tersebut satu-persatu, terlihat disini banyak sekali dua ajaran-ajaran Alkitab yang dia masukan baik secara tersirat maupun tersurat. Hal itu jelas juga tampak di dalam Novel Parijs van Java. Namun di sisi lain ada kata-kata yang begitu seronok ditampilkan tanpa sensor membuat pembaca seperti saya terkejut luar biasa.
Kisahnya memang berakhir bahagia dan mudah-mudahan novel ini setidaknya membuka cakrawala kita melihat fakta trafiking yang semakin brutal dan tidak berperikemanusiaan.
Novel ini agaknya (bagi saya) seperti sebuah parodi, mudah-mudahan saya salah.
Sebelumnya saya pernah berkenalan dengan novel Remy yang lain seperti Parijs Van Java yang sekitar tahun 2001 dimuat serial di Koran Tempo dan Kerudung Merah Kermizi yang 600 halaman tetapi berhasil saya taklukan dalam 2 hari. Kelihatannya tidak bisa tidak lari dari kenyataan dan kepedulian sosial dengan sitz im leben sejarah masa lampau atau masa kini.
Kemampuan Remy yang biasanya detail dengan gambaran, kata-kata serapan, kata-kata asing (internasional/daerah), tanggal dan tahun, geografis, kutipan surat kabar tahun 1997-an menunjukkan bahwa ia tidak menulis asal berimajinasi tanpa mengenal dengan baik medannya. Saya benar-benar kagum ketika dalam novel ini ia bersusah payah menampilkan huruf Siam dan menerjemahkannya. Belum lagi mulai dari jalur minyak ilegal sampai dengan nama jalan di Bangkok menunjukkan hal itu bukan sekedar rekaan belaka.
Terlepas dari kepiawaiannya menggandeng semua detail tersebut satu-persatu, terlihat disini banyak sekali dua ajaran-ajaran Alkitab yang dia masukan baik secara tersirat maupun tersurat. Hal itu jelas juga tampak di dalam Novel Parijs van Java. Namun di sisi lain ada kata-kata yang begitu seronok ditampilkan tanpa sensor membuat pembaca seperti saya terkejut luar biasa.
Kisahnya memang berakhir bahagia dan mudah-mudahan novel ini setidaknya membuka cakrawala kita melihat fakta trafiking yang semakin brutal dan tidak berperikemanusiaan.
Novel ini agaknya (bagi saya) seperti sebuah parodi, mudah-mudahan saya salah.
Langganan:
Postingan (Atom)