23 Desember 2008
Allah Memperhatikan Orang Yang Rendah
1:46 Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,
1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus
Apa yang diucapkan Maria dalam Magnificat ini sejajar dengan yang dikemukakan pemazmur dalam Maz 113:7: “Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur”. Kesejajaran ini tampak dalam pengertian:
1. Memperhatikan
Tuhan rupanya bukanlah pribadi yang hanya memakai orang-orang tanpa mengerti situasinya. Pujian Maria membuktikan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang penuh perhatian. Perhatian itu diletakkan tanpa pandang bulu dan membuat orang yang menerimanya menjadi terkesima. Memperhatikan di sini berarti “memperhatikan dengan penuh kasih” atau “kelemahlembutan”[1]. Perhatian Allah digerakkan oleh kasih agape yang memungkinkan orang-orang yang tidak layak menerima menjadi dilayakan-Nya.
2. Kerendahan Hamba-Nya
Sebagaimana konteks dari Mazmur 113, maka yang dimaksud dengan “rendah” atau “hina”, bukan ditinjau dari segi moral atau tingkah laku, tetapi dari segi kedudukan seseorang di tengah-tengah masyarakat. Jadi bagian ayat ini dapat juga diungkapkan menjadi, “sebab Ia telah memperhatikan daku dengan penuh kasih, hamba-Nya yang miskin ini” atau “… yang kedudukannya rendah” … atau yang bukan orang besar”.
3. Perbuatan-perbuatan Besar Kepadaku
Ucapan Maria ini didasari atas apa yang ia ucapkan pada ayat 49 yang mengatakan: “karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku”. Maria merasakan bahwa apa yang telah diperbuat Allah bukan saja terjadi “pada” dirinya, tetapi juga “untuk” dirinya[2]. Makin jelaslah bahwa Allah memang memakai seseorang untuk kepentingan diri-Nya dan banyak orang tetapi hal tersebut tidak berarti Ia mengabaikan orang yang dipakai-Nya.
[1] M. K. Sembiring (ed.), Pedoman Penafsiran Injil Lukas (Jakarta: LAI, 2005), 37.
[2] Ibid.
Daniel Zacharias
education from womb to tomb
11 Desember 2008
DOA ADVENTUS: DOA JÜRGEN MOLTMANN
BAPA DI SORGA
sudah waktunya engkau datang.
Karena waktu kami hampir habis
dan dunia kami sedang menuju kematian.
Engkau telah memberikan kami kehidupan satu bersama dengan yang lain.
Kami telah menghancurkannya dengan menyatakan perang satu terhadap yang lain.
Engkau mengaruniakan kami pepohonan dan hutan-hutan.
Kami sudah menebangnya.
Untuk burung-burung engkau memberikan musim semi
dan untuk ikan-ikan sungai-sungai.
Kami telah melenyapkan musim semi dan mengotori sungai-sungai.
Kepada karya ciptaan-Mu
engkau memberikan keseimbangan.
Kami telah mengganggunya dank arena itu mendatangkan kesedihan.
Datanglah, Pencipta semesta,
perbarui wajah yang tanpa kehidupan dari bumi ini.
Buanglah ketidakbahagiaan kami
berikanlah kami pengharapan akan Hari-Mu
ketika, pada perdamaian dengan setipa ciptaan,
kami dapat tertawa dan memuji-Mu
Kristus Yesus, Sahabat kami,
kami tidak dapat berjalan dalam rombongan-Mu
tanpa tetangga kami,
mereka yang dekat dan mereka yang jauh
teman-teman dan musuh-musuh.
Terus-menerus menjadi sahabat orang berdosa,
menjadi miskin dengan orang miskin,
menjadi lemah dengan orang yang lemah,
terkutuk dengan mereka yang terbuang,
mereka itu, dan kami dengan mereka, boleh mempunyai kehidupan.
Kami mengharap kedatangan kerajaan-Mu
seperti kami mengharap perdamaian dalam dunia yang terpecah ini.
Kami percaya akan kehadiran-Mu
sama seperti kami percaya dalam hidup yang penuh arti
bahkan ketika berhadapan dengan kesia-siaan dari kematian.
Kami mencari kedatanganmu
seperti kami merasa lapar akan makanan kami sehari-hari.
Datanglah, Tuhan Yesus, datanglah segera.
Roh Kudus, Engkau kami kenal
sebagai kuasa yang dari atas,
sebagai penghibur dalam kesesakan.
Kami berseru kepadamu dan seruan kami membesarkan hati kami.
Kami menyeru Engkau dan Engkau menyeru bersama kami.
Kami menantikan Engkau dan Engkau ada dalam hati kami.
Bukakanlah mata kami dan kami akan melihat
tapak kakimu di atas jalan kami.
Berikanlah kami ketenangan dan kami akan mendengar
keluhan-keluhan-Mu di dalam penjara-penjara kami.
Ambillah dari kami apa yang harus Engkau ambil
sampai kami datang beristirahat di dalam Engkau
dan merasa bahwa kami sedang mengaso,
sadar akan kehidupan-Mu di dalam diri kami,
kasih-Mu yang menyala dan kekuatan-Mu yang mendorong,
kesedihan dan kebahagiaan-Mu mendalam di hati kami.
Datanglah Roh Pencipta,
kosongkan hati kami dari kegelisahan yang mementingkan diri sendiri,
isilah roh kami dengan kasih yang kreatif.
Berikanlah kami khayalan-khayalan dan penglihatan-penglihatan dari
kerajaan kebebasan-Mu.
Jadikanlah kami bersedih kalau mereka dikhianati,
kalau mereka tidak menjadi kenyataan.
Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Waktunya sudah tiba, waktu untuk penggenapan sejarah.
waktu untuk menjadikan semua satu dengan Allah dan dalam Allah.
Selamat menziarahi masa adventus yang sulit untuk digambarkan ...
[1] Richard Bauckham, Teologi Mesianis (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 174-176. Bahan tersebut dikutip dari D. Cremer, Sing me the song of my World, diterjemahkan oleh B. Davies (St. Paul Publications, Slough, 1981), hlm. 140-141.
Daniel Zacharias
education from womb to tomb
24 November 2008
Ragi Orang Farisi
Yesus berkata kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki."
Matius 16:11:
“Bagaimana mungkin kamu tidak mengerti bahwa bukan roti yang Kumaksudkan. Aku berkata kepadamu: Waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki.”
Markus 8:15:
“Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: "Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”
Peringatan Yesus tentang “ragi orang Farisi” tentunya sekalipun memiliki makna simbolik tetapi tetap mencerminkan pengertian “adanya pengaruh” yang buruk dari orang Farisi.
Ragi orang Farisi itu antara lain:
- Mereka paling getol berbicara tentang kekudusan. Sayangnya kekudusan mereka adalah kekudusan lahiriah belaka dan tidak menyangkut hal yang batiniah.
- Mereka paling getol berbicara tentang keistimewaan kedudukan mereka. Mereka adalah umat pilihan Allah dan yang lain adalah kafir. Keistimewaan kedudukan mereka tidak dilihat dengan positif tetapi dengan mata sombong. Pada akhirnya keistimewaan kedudukan mereka tidak jadi berkat buat bangsa lain malah menjadi sandungan. Bukan itu saja mereka juga seringkali merasa lebih baik dari pemungut cukai dan pelacur, sehingga doa mereka di Bait Allah akan terasa superior dengan mengatakan: "dan kami tidak seperti orang itu".
- Mereka paling getol berbicara tentang apa kata Kitab Suci menurut pandangan mereka bukan menurut pandangan Tuhan. Berulang kali Yesus membantah cara penafsiran mereka baik soal Taurat termasuk hal-hal praksis sehari-hari. Kisah Yesus menyembuhkan orang lumpuh pada hari Sabat menunjukkan bahwa mereka tidak mengerti firman Allah atau dengan kata lain mereka menerjemahkannya menurut pengertian mereka sendiri.
- Mereka paling getol menghubungkan hal-hal keseharian dengan hal-hal rohani tanpa hikmat. Bayangkan soal mencuci tangan sebelum makan saja jadi soal yang berkepanjangan. Bisa jadi hal-hal itu jadi muncul sekarang ini baik soal makanan, soal pakaian, soal jenggot, soal hamba Tuhan tidak boleh berkumis, soal sembahyang pakai tudung, soal gereja hari apa.
- Mereka paling getol menunjukkan (memamerkan) praktek-praktek rohani. Orang yang berdoa di dalam Bait Suci menunjukkan prestasi rohaninya, orang-orang yang berdoa di pinggir jalan, berdoa dengan tali sembahyang yang panjang, juga memberi sedekah dengan munafik, berpuasa dengan munafik, adalah sesuatu yang sedang ditunjukkan agar orang melihat dan memuji perbuatan mereka. Menurut Yesus, “Sesungguhnya mereka telah menerima upahnya”.
- Mereka paling getol menunjukkan dosa dan kesalahan orang. Berulang kali orang Farisi tidak memulihkan orang tetapi menuding orang, mencari-cari kesalahan orang, menjebak orang agar orang bisa dikalahkannya. Itulah yang Yesus katakan kalau mereka bisa melihat ada selumbar di mata orang sedangkan balok di mata mereka sendiri tidak mereka lihat. Kita juga begitu pandai mengkoreksi orang tetapi sulit mengkoreksi diri sendiri.
- Mereka paling getol menghakimi dan menghukum orang ketimbang mengampuni dan mendoakan orang yang bersalah. Agama mereka tidak cukup mencintai karena hanya habis untuk menghukum dan merajam orang dengan batu. Benarlah apa kata pepatah: Agama kita tidak cukup untuk mengasihi dan memperdulikan orang lain karena telah habis kita serap untuk mengurusi kebencian dan sumpah serapah kutukan.
- Mereka paling getol menunjukkan kefanatikan mereka. Kebencian mereka terhadap orang dunia membuat mereka tidak pernah bisa memenangkannya tetapi malah semakin menyakitinya. Mereka selalu menghindar dari kerumunan orang-orang yang dianggap orang berdosa. Mungkin kalau di zaman sekarang inilah gambaran dari gereja yang salah tolak: harusnya dosa orang tetapi kadang-kadang terbuang bersama orang-orangnya.
Daniel Zacharias
~education from womb to tomb~
23 November 2008
Kepemimpinan Kristen
Kepemimpinan Kristen yang dipahami pula sebagai kepemimpinan rohani tidak hanya menunjuk pada pribadi seorang pemimpin yang beragama Kristen dan atau berada dalam lingkungan orang-orang Kristen tetapi memuat sarat nilai-nilai kerohanian Alkitabiah baik secara idealis maupun pragmatis. Secara idealis menunjukkan bahwa kepemimpinan rohani itu memiliki prinsip-prinsip filosofis yang esensial dan dalam tataran pragmatis kepemimpinan itu diwujudkan dalam terang prinsip-prinsip filosofis yang bernuansa etis teologis.
Kita menggunakan istilah yang lebih tepat kepada kedua pokok ini saat menyebutnya dalam sebuah kesatuan pemikiran yang disebut dengan istilah praxis. Thomas Groome mendefinisikan kata tersebut sebagai berikut:
For now let it be understood as “reflective action”, that is, a practice that is informed by theoretical reflection, or, conversely, a theoretical reflection that is informed by practice. I use it here in preference to the more common word practice because the latter term very often has the connotation of a skill or a technique, or of something that is done as the application of theory and is thus, in fact, dichotomized from theory. The term praxis attempts to keep theory and practice together as dual and mutually enriching moments of the same intentional human activity. [1]
Dalam konteks kepemimpinan pengertian Groome dalam konteks pendidikan Kristen masih terasa cukup relevan mengingat sekalipun berada dalam bidang telaah yang berbeda keduanya memiliki dua wilayah sebagai titik berangkat yakni: teori dan praktek. Groome yang memilih pengertian praxis karena ia hendak menekankan pengertian teori dan praktek bersama-sama sebagai sesuatu yang peristiwa yang berpengertian rangkap (dwifungsi) dan saling memperkaya dari aktivitas manusia.
1. Definisi
Banyak definisi tentang pemimpin dan kepemimpinan dengan berbagai fokus dan penekanan. Berikut ini kita akan menelusuri beberapa definisi yang terkait dengan kepemimpinan dan aspek-aspek yang terkait dengan pokok tersebut.
Kepemimpinan oleh A. J. Lindgreen didefinisikan sebagai:
Leadership is the process of influencing the actions and behaviour of persons and/or organization through complex interactions toward goal achievment.[2]
Definisi singkat yang padat ini memuat beberapa aspek:
- Kepemimpinan itu adalah proses, ia membutuhkan jangka waktu tertentu dan melalui tahapan tertentu.
- Kepemimpinan itu memiliki kuasa untuk mempengaruhi.
- Pengaruh kepemimpinan terarah pada tindakan dan sikap pribadi-pribadi dan atau organisasi.
- Pengaruh kepemimpinan melewati medium pengaruh timbal balik yang saling mempengaruhi antara yang memimpin dengan yang dipimpin.
- Interaksi yang terjadi kemungkinan akan terasa begitu kompleks mengingat kepemimpinan menyangkut banyak komponen.
- Kepemimpinan memiliki tujuan, arah, dan target.
Berdasarkan uraian dari definisi Lindgreen maka telah sedikit tersingkap bila kepemimpinan bukan pekerjaan atau pokok pembicaraan yang mudah dan sederhana. Namun hal itu tidak berarti kalau kepemimpinan itu sendiri tidak dapat dikerjakan atau dipraktekkan oleh manusia.
H. Siagian melihat kepemimpinan itu sebagai suatu cara atau teknik pimpinan atau manajer untuk mengarahkan dan menyuruh orang lain mau mengerjakan apa yang ditugaskan.[3] Dalam pandangan Siagian kepemimpinan bukan lagi sebuah filosofis, teori, atau prinsip belaka tetapi lebih pada sebuah praxis. Kepemimpinan tanpa teknik maka ia hanyalah sebuah pemikiran. Dengan kata lain kepemimpinan bukan juga semata-mata menjalankan sebuah roda kepemimpinan tetapi ia memiliki tekniknya tersendiri yang mempertimbangkan faktor-faktor interdispliner.
Lindgreen sendiri selain menentukan batas-batas definitif untuk kepemimpinan, ia juga menggambarkan luasnya kepemimpinan yang tidak hanya menyangkut diri pemimpin itu sendiri tetapi juga menyangkut orang yang dipimpin dalam upaya mencapai tujuan:
Leadership does not reside in the person of the leader alone. It involves accomplishing goals through persons. Leaders cannot function without the involvement of members.[4]
Kemudian Lindgreen sendiri menyatakan bahwa tujuan dari kepemimpinan adalah mempengaruhi tingkah laku dan tindakan orang dan atau organisasi. Dari definisi Lindgreen semula maka tampaklah bila tujuan kepemimpinan itu memiliki dwi arah yakni: tujuan yang terkandung dalam sebuah kepemimpinan yakni bisa mempengaruhi orang lain atau organisasi dan tujuan yang dicapai bila seseorang atau organisasi sudah dapat dipengaruhi.
Kepemimpinan adalah hal yang tidak mudah dikerjakan tetapi tidak pula dapat dihindari. Sehubungan dengan tidak mudahnya kepemimpinan dan tidak dapat dihindarinya kepemimpinan maka Eka Darmaputera menulis:
Kepemimpinan yang baik merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan, kestabilan, dan kemajuan kelompok apa pun ... tanpa kepemimpinan yang baik, kelompok apa pun di dunia ini akan rentan konflik serta rawan perpecahan, dan oleh sebab itu sulit bertumbuh atau berkembang. Kalaupun bergerak, geraknya pun sekadar maju-mundur, ke sana kemari, dan tanpa arah ... Disamping vital, kepemimpinan adalah kenyataan yang tak terelakan bagi semua orang. Di mana ada kehidupan bersama, di mana pun di muka bumi ini orang cuma punya dua pilihan: dipimpin atau memimpin.[5]
Apa yang dikemukakan Eka logis sekali penalarannya dalam kaitannya dengan kepemimpinan. Sebuah keteraturan sistem tidak otomatis terjadi. Keteraturan sosiologis dalam sebuah kepemimpinan lahir dari sebuah pengaturan. Keteraturan dan pengaturan membutuhkan seseorang yang dianggap mampu mengatur. Dapat kita bayangkan bila dalam sebuah sistem semua orang turut mengatur maka yang akan timbul adalah sebuah kekacauan. Eka dalam tulisannya ini hendak mengatakan bila kepemimpinan harus diciptakan dan disepakati eksistensinya, sebab itu bukan karena dibuat supaya ada tetapi karena hal itu tak dapat dielakan. Pilihan dipimpin atau memimpin membuat dimensi kepemimpinan semakin jelas walaupun aspek kepemimpinan tidak sesederhana itu. Selanjutnya Eka memaparkan:
Kepemimpinan dalam suatu kehidupan bersama memang tak terhindarkan. Ini sesuatu yang lumrah dan alamiah. Namun, kepemimpinan itu harus mengacu kepada mandat atau penugasan Allah, Sang Pemimpin satu-satunya: untuk mengembangkan kemungkinan saling menolong serta kesepadanan, kesetarafan atau kesetaraan ... mandat kepemimpinan yang diberikan oleh Allah kepada manusia bersumber pada kesegambaran antara manusia dengan Allah ... kepemimpinan manusia haruslah mencerminkan kepemimpinan Allah. Kepemimpinan yang menghidupkan dan menghidupi, bukan menindas. Kepemimpinan yang adil, bukan sewenang-wenang. Kepemimpinan yang kudus, tidak dikotori oleh hawa nafsu “kehendak berkuasa” (will to power) yang destruktif.[6]
Rupanya Eka menyadari benar bila kepemimpinan merupakan salah satu aspek Imago Dei dalam diri manusia. Allah adalah pemimpin yang memberikan mandat kepada manusia untuk memimpin (baca: berkuasa) semesta. Manusia tak hanya menerima mandat untuk memimpin tetapi juga dalam kepemimpinannya mencerminkan kepemimpinan Allah. Eka juga menegaskan bahwa kepemimpinan adalah natur ilahi dalam insani yang tak terhindarkan dari sebuah kesegambaran. Namun kesegambaran yang mendukung hadirnya kepemimpinan tidak serta merta tidak dapat terkontaminasi, faktanya sekalipun kepemimpinan adalah natur Imago Dei ia masih bisa diselewengkan dengan adanya “kehendak berkuasa” yang pada gilirannya tak lagi mencerminkan mandat dan kesegambaran itu.
Telah disebutkan di depan bila interaksi yang terjadi dalam kepemimpinan itu kemungkinan akan terasa begitu kompleks mengingat kepemimpinan menyangkut banyak komponen. Sehubungan dengan itu W. R. Lassey sebagaimana dikutip Lindgreen mengemukakan:
Leadership involves the interaction of a complex set of variable factors that determines its effectivenes.[7]
Lindgreen menambahkan bahwa faktor-faktor variabel itu beragam, untuk itu ia mengutip Douglas McGregor:
Douglas McGregor identifies four key variables of leadership:
(1) The characteristic of the leader, these include such qualities as skill possesed, previous experience in similar situations, skill in comunicating and relating to persons, and the personal feelings of the leader about self confidence, anxiety, acceptance and hostility.
(2) The characteristic of followers or members
(3) The characterstic of the organization or the group
(4) The environmental setting including the social, economic, cultural, and political milieu.[8]
Selain karakteristik pengikut rupanya yang mempengaruhi keefektifan kepemimpinan adalah karakteristik dari pemimpin itu sendiri, karakteristik organisasi atau kelompok yang dipimpinnya, dan kondisi lingkungan tempat ia memimpin dalam berbagai faktornya. Namun tanpa menyepelekan 3 (tiga) faktor lainnya maka dalam penelitian ini fokus yang begitu disorot adalah pada karakter pemimpin itu sendiri. Pertimbangannya adalah bahwa sekalipun ketiga komponen lain selain pemimpin itu sendiri turut menentukan tetapi faktor kunci adalah pemimpin itu sendiri. Pemimpinlah yang menentukan maju mundurnya sebuah perjalanan kelompok atau organisasi.
Ada 3 (tiga) unsur penting menurut Sugiyanyo Wiryoputro dalam kepemimpinan:
1. adanya orang lain yang bersedia mengikuti perintah
2. adanya pengaruh pemimpin kepada orang lain yang selanjutnya menjadi pengikut
3. adanya kuasa atau wewenang pemimpin kepada bawahan.[9]
Dalam pokok yang ketiga kuasa atau wewenang yang dimaksud adalah:
1. Kuasa memberikan balas jasa terhadap apa yang dihasilkan bawahan
2. Kuasa memaksa atau kuasa memberikan dukungan
3. Kuasa formal berdasarkan aturan atau hukum
4. Kuasa agar orang meniru pola perilaku atau kuasa panutan
5. Kuasa berdasarkan pengetahuan atau keahlian[10]
Kepemimpinan tanpa kuasa atau wewenang tidak akan berjalan, atau bila berjalan pun itu dijalankan dengan memakai kuasa mempengaruhi orang lain secara tidak wajar. Kuasa atau wewenang tumbuh karena orang yang memimpin memiliki unsur-unsur yang dapat mengantar seseorang memperolehnya. Kuasa dapat didapat karena kesepakatan, karena kelebihan, karena kharisma, dll.
2. Kepemimpinan Rohani
Pertama-tama persoalan muncul adalah dari perkataan Yesus sendiri dalam Matius 23:10:
Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias
Pengertian yang muncul setelah membaca nas ini adalah tidak mungkin ada pemimpin di dalam kekristenan apalagi pemimpin. Namun di depan telah dibicarakan bahwa pemimpin dan kepemimpinan merupakan sesuatu yang tak dapat ditolak atau dielakkan. Ayat di atas rupanya tidak bermaksud untuk melarang esksistensi pemimpin dan kepemimpinan dalam kekristenan. Fakta biblis yang dipakai untuk mendukung pandangan ini adalah dengan memperhatikan I Tesalonika 5:12:
Kami meminta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegur kamu.
Paulus ternyata secara tersirat mengatakan ada pemimpin dalam jemaat. Tetapi jenis kepemimpinan para pemimpin itu ditandai dan dibatasi dengan “memimpin … dalam Tuhan”. Kepemimpinan yang dimaksud di sini adalah kepemimpinan rohani.
I Timotius 5:17
Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar.
Paulus juga secara tersirat menyatakan bahwa para pemimpin-pemimpin tersebut memiliki kegiatan khusus pula yakni berkhotbah dan mengajar. Atau dalam bagian lain Paulus menunjukkan pimpinan sebagai karunia:
Roma 12:8
… siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukan dengan rajin; …
I Korintus 12:28
Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk … memimpin …
Yesus melarang adanya pemimpin dalam konteks banyak pemimpin di jaman itu yang tidak memberi teladan yang benar. Jadi yang dikritik oleh Yesus bukan hakikat atau eksistensi pemimpin dan kepemimpinan tetapi pada karakter pemimpin itu sendiri yang kemudian justru merusakan hakikat dan merendahkan wibawa eksistensi dari kepemimpinan.[11] Ia sendiri akhirnya mengatakan
Matius 23:10
Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.
Lukas 22:26
Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.
Perkataan Yesus ini di satu sisi memiliki nuansa pemegang otoritas tetapi di sisi lain adalah pemimpin-hamba yang memiliki simplisitas (servant-leader).
William D. Lawrence menulis:
Christian leadership is different from other kinds of leadership because no Christian leader can assume the position of being “number one,” that is, the leader. This is true because those who believe in Christ know there is only one “Number One,” namely, the Lord Jesus Christ.[12]
Karena perbedaannya itu maka hal dasar yang perlu diperhatikan oleh para pemimpin ada 2 hal:
First, a leader must have a clearly defined awareness of the Lord’s revealed purposes. He must know what the leader wants. He must be aware of the place God’s Word has in all of life and must be aware that God seeks to accomplish His truth, love, and righteousness in His followers.
Second, this truth, love, and righteousness must be evident in the Christian leader’s character, behavior, and relationships if he is to expect other believers to respond him as their leader. Paradoxically the Christian leader must be ultimate follower, a follower of the Leader Himself.[13]
Sekalipun seorang pemimpin adalah pemimpin di depan orang yang dipimpinnya namun ia tetaplah hamba dari Allah. Ia memimpin sebagaimana Allah memimpinnya. Dan tujuan ia memimpin adalah orang dituntun mengikuti Kristus. Tujuannya harus terus terfokus kepada Kristus dan menunjukkan pada orang lain bagaimana melakukannya.[14]
3 Otoritas Pemimpin
R. J. Arnott dalam Dictionary of Pastoral Care and Counseling menulis tentang otoritas sebagai berikut:
Authority refers to a fundamental relationship between persons, behaviours, organizations, and ideas in which one component has, or is deemed to have, important or legitimate power over the other. The English term is rooted in the Latin, “auctor” meaning “producer of a work, artist, founder of a family, writer, originator of a proposal, author of piece of information or warrant for its truth. “Authority thus refers to a person who is the source, originator of a proposal, expression of approval or assent, authorization, full power, command,” and thus also “influence, authority, whether of a person or of things” … In English “authority” carries many meanings: the power or right to enforce obedience, a doctrine of moral or legal supremacy, the right to command or to give the ultimate decision … authority, however, is not limited to behavior or action, but extends to the inward, subjective dimensions of human life, as in “power over the opinions of others” or the inwardly felt power of conscience in relation to social authority. In theory of organization and government, the word has two meanings: (1) authorization or empowerment and (2) ordering and control.[15]
Adalah tepat jika memilih Yesus Kristus sebagai model kepemimpinan rohani yang berotoritas. Ia memiliki kekayaan teladan sebagai Gembala yang menggembalakan dan memimpin umat-Nya. Jerry C. Wofford menulis:
Lebih dari pemimpin yang lain, Yesus mempunyai otoritas untuk memaksa para pengikut-Nya menaati perintah-Nya. Ia dapat menjalankan pengawasan mutlak, tetapi para murid-Nya mengikuti Yesus karena undangan-Nya. Ketika banyak pengikut-Nya meninggalkan Dia, Yesus menoleh kepada para murid-Nya dan dengan rendah hati bertanya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga” (Yoh 6:67). Bukannya menaklukan Israel, Yesus justru mengasihi dan menderita bagi Israel. Yesus memiliki kekuasaan untuk mendominasi tetapi Ia memilih untuk menghormati kehendak bebas dan pilihan-pilihan orang lain.
Sebagai pemegang otoritas Yesus menggunakannya pada saat yang tepat. Tidak seperti kebanyakan pemimpin di jaman sekarang yang menjalankan kepemimpinannya dengan kekuatan otoritas kekuasaan. Otoritas kekuasaan bukan satu-satunya yang dipakai Yesus dalam memimpin murid-Nya. Tidak dipergunakannya tidak berarti Ia lemah, tetapi Ia tahu menempatkan pada situasi yang lebih tepat.
Lawrence dalam kaitan dengan pokok otoritas mengaitkannya dengan keotentikan:
Leadership requires authenticity and authority. Authenticity of commitment to Christ’s lordship, recognizing Him as “Number One,” enables the leader to carry out one of his major tasks, that of being a model of Christlike maturity for those whom he leads. This authenticity makes the leader a living statement of all God wants His peole to be. Authority is also required and grows out authentic Christian character. Such character means congruence between attitude, word, and action, a congruence that speaks of integrity and serves as a magnet to draw others who listen and respond to the leader. Sanders observes that “Paul never lacked followers. His qualities of character irresistibly lifted him above his colleagues and associates.” What was true of Paul must be true of all Christian leaders.[16]
Otoritas tetap dibutuhkan sekalipun seseorang telah menyebut dirinya seorang pemimpin yang melayani. Namun otoritas yang dimilikinya ditunjukkan dengan cara yang berbeda dengan otoritas para pemimpin sekuler. Lawrence merumuskannya sebagai berikut:
The difference between secular leadership and Christian leadership does not lie in absence of authority but in attitude that motivates authority, the sanctified nature of ambition and motivation, and the holy character mentioned earlier. Servant leaders must exercise authority if Christian churches and organizations are to develop and grow. They are needed to model godliness, make policies, manage finances, give direction, hold the group accountable for its purpose and actions, and provides the human layer of security under Christ which is needed if unity is to be maintained.[17]
Otoritas pada tataran praktek dapat menghancurkan atau menciptakan sesuatu. Otoritas yang menghancurkan menuntut adanya pengaruh yang menguasai, menuntut kendali yang menyeluruh, menghancurkan kepercayaan, menghancurkan dialog, dan menghancurkan integritas. Dibutuhkan otoritas yang membaharui memberi hidup, sukacita, dan damai sejahtera. Otoritas yang memperbaharui memulihkan hubungan dan memberikan karunia keutuhan kepada semua orang. Kuasa yang membaharui adalah otoritas rohani, otoritas yang berasal dari Allah. Kasih adalah ciri dari otoritas rohani. Kasih menuntut bahwa otoritas digunakan untuk kebaikan orang lain. Kerendahan hati adalah otoritas yang dikendalikan.
4. Pemimpin-Hamba
Pemimpin-Hamba adalah suatu paradoks dan hadir secara sempurna dalam diri Yesus (Flp 2). Yesus adalah Allah dan Dia sendiri menyebut diri-Nya sebagai seorang Gembala (Yoh 10). Tetapi di sisi lain menyebut diri-Nya sebagai seorang pelayan karena “melayani” (Mark 10:45). Dalam kaitan dengan pembahasan ini Wofford menulis:
Yesus adalah model pertama tentang pemimpin yang melayani. Dalam proses pengenalan gagasan tentang kepemimpinan yang melayani dalam Markus 10:42-45, Yesus berkata bahwa Ia datang untuk melayani dan memberikan kehidupan-Nya. Yesus datang sebagai hamba yang menderita yang akan “memikul kejahatan mereka” (Yes 53:11). Di setiap akhir hari yang panjang, kita melihat Yesus yang kelelahan karena memberikan sepenuh hidup-Nya untuk memberi makan bagi yang kelaparan, menyembuhkan yang sakit, dan mengajar domba-domba Israel yang terhilang. Walaupun begitu, pelayanan penting dan utuh yang Ia lakukan semasa hidup-Nya tidak dapat dibandingkan dengan pelayanan-Nya di dalam kematian-Nya. Dalam kematian-Nya sebagai korban di kayu salib.[18]
Wofford menegaskan karakter pemimpin-hamba yakni pemimpin yang mengesampingkan minat-minat pribadi mereka demi orang-orang yang dilayani. Teori Kenosis dalam Filipi 2 jelas menggambarkan bagaimana Ia mengorbankan diri-Nya demi keselamatan orang lain.[19] Selanjutnya Wofford menulis tujuh daftar dari kepemimpinan di dalam kerajaan Allah:
- Mereka yang akan menjadi pemimpin harus dipersiapkan untuk menderita (Mat 20:22; Mark 10:38).
- Mereka memang akan menderita (Mat 20;23; Mark 10:39).
- Kepemimpinan di antara orang-orang percaya tidak memakai pendekatan “menguasai” para pengikut maupun menggunakan jenis kekuasaan otoritas yang digunakan oleh pejabat pada masa itu (Mat 20:25-26; Mark 10:42-43; Luk 22:26).
- Para pemimpin beriman Kristen harus menjadi hamba bagi mereka (Mat 20:26-27; Mark 10:43; Luk 22:26).
- Yesus sendiri adalah model kepemimpinan yang melayani (Mat 20;28; Mark 10:45; Luk 22:27).
- Kerendahan hati adalah kualitas utama dari karakter pemimpin Kristen (Mark 9:36-37; Luk 22:26).
Wofford membuat perbandingan antara pelayan dengan pemimpin yang melayani:
Perbandingan Pelayan dan Pemimpin yang Melayani[20]
Pelayan
- Roh rendah hati
- Melayani kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi
- Lebih kepada membangun daripada meruntuhkan
- Menderita dan berkorban untuk orang lain
- Hubungan yang saling memperhatikan
Pemimpin Yang Melayani
- Menyadari dipanggil – Matius 20:23
- Mengenal nilai-nilai yang dimiliki dalam kaitannya dengan Allah – Ibrani 11:26
- Tidak memegahkan diri, tetap sabar – Yakobus 4:6; Roma 12:3-8; Ef 4:32
- Mengetahui bahwa satu-satunya yang perlu adalah sikap merendahkan diri – Yohanes 13:14
- Mengutamakan panggilan lebih dari diri sendiri – Kisah 20:24
- Tidak gila status – Yakobus 1:9
- Melayani orang lain di atas kepentingan pribadi
- Nilai-nilai yang kuat untuk melayani orang lain – Roma 12:5-8
- Visi terfokus pada pelayanan – Roma 1:9-10
- Sikap dan tindakan murah hati – Roma 12:8
- Pelayanan sebagai prioritas – Luk 22:26
- Melayani kebutuhan yang sesungguhnya, bukan keinginan – Roma 12:13
- Lebih kepada membangun daripada meruntuhkan
- Memfasilitasi pertumbuhan rohani dan melayani orang lain – Efesus 4:12-16
- Menginspirasi dan bukannya mengarahkan – Yohanes 13:15; I Kor 11:1; I Pet 2:21
- Para pengikut menyamai sikap dan perilaku pelayanan pemimpin – Yoh 13:15
- Para pengikut menjadi lebih kuat, lebih bijak, lebih bermoral, dan lebih mampu – Efesus 4:12-16
- Para pengikut tidak lagi di bawah perintah tetapi memiliki otonomi di bawah Allah – Matius 20:25-26
- Menderita dan Berkorban untuk orang lain
- Karisma tumbuh dari kasih yang dimanifestasikan dalam pelayanan dan hormat terhadap mereka yang memimpin – Matius 20:28; Efesus 5:1
- Memperhatikan orang lain lebih dari diri sendiri – Filipi 2;4
- Menyamai kepemimpinan yang melayani dari Yesus – Marius 20:28
- Hubungan yang saling memperhatikan
- Mengasihi mereka yang dilayani – Efesus 4:15-16
- Membagi hidup, terbuka, saling mendukung – Efesus 5:19-21
- Mendengarkan, memahami, berempati, bekerjasama – Yakobus 1:19.
Wofford selanjutnya menulis bahwa pelayanan yang dikerjakan oleh pemimpin yang melayani adalah: melayani Allah dan melayani sesama manusia.[21] Dan ciri dari pemimpin yang melayani adalah pengorbanan diri, berbelas kasih, memiliki kesediaan, memberi diri, dan ketekunan.[22]
Model dari pelayanan kehambaan adalah Yesus sendiri. Leighton Ford menyebutkan bahwa Yesus itu bukan cuma Tuhan tetapi Ia sendiri adalah contoh bagi kepemimpinan. Ia bukan hanya mengajarkan kepemimpinan tetapi juga menunjukkan caranya.[23]
5. Simplisitas Hamba
Simplisitas Hamba jauh dari otoritas gembala mengingat peran dan posisinya yang di bawah. Robert Borrong menyebutkan beberapa ciri yang menujukkan simplisitas hamba:
1. Rendah hati
2. Suka mendengar (dengar-dengaran)
3. Responsif atau taat
4. Berani dan penurut
5. Rela berkorban
6. Jujur
7. Kesetiaan dan tanggung jawab
8. Tidak ambisius
9. Murah hati (tidak materialistis dan tidak rakus)[24]
Kepribadian seorang pemimpin sangat menentukan pelaksanaan tugasnya karena kepribadian itu yang selalu mendapat perhatian bawahan baik diikuti maupun diteladani. Maka berbicara tentang karakter kepemimpinan yang bersahaja berbicara tentang pribadi para pemimpin.
Kepemimpinan Kristiani juga sangat menekankan kepribadian sang pemimpin, terutama kehidupan rohaninya. Maka karakter seorang pemimpin Kristen terkait dengan kehidupan rohaninya sebagai pemimpin, yakni memiliki sikap seorang gembala yakni sederhana, penuh perhatian, mengayomi dan selalu siap berkorban untuk orang-orang yang dipimpinnya.[25]
Kepemimpinan Gereja selama ini terlalu mengandalkan pengetahuan dan keterampilan manajerial. Situasi ini harus dirubah. Para pemimpin harus lebih banyak mengandalkan kepribadiannya dan karena itu para pemimpin harus melatih diri untuk menjadi pemimpin yang ideal yang tidak mengandalkan pengetahuan dan keterampilan saja tetapi yang mengandalkan kemurahan dan kebaikan Tuhan di dalam hati, pikiran, dan karyanya.[26]
[1] Thomas H. Groome, Christian Religious Education (San Fransisco: Harper & Row Publishers, 1980), xvii.
[2] A. J. Lindgreen, s.v. “Leadership and Administration” dalam Rodney J. Hunter (peny). Dictionary of Pastoral Care and Counseling (Nashville: Abingdon Press, 1990), 634.
[3] H. Siagian. Manajemen: Suatu Pengantar (Bandung: Alumni, 1977), 27.
[4] Ibid.
[5] Eka Darmaputera, “Kepemimpinan: Perspektif Alkitab” dalam Kepemimpinan Kristiani: Spiritualitas, Etika, dan Teknik-teknik Kepemimpinan dalam Era Penuh Perubahan (Jakarta: STTJ, 2001), 1.
[6] Ibid., 6.
[7] Ibid., 635. Bnd. W. R. Lassey (peny). Leadership and Social Change (1971), 17-25
[8] Ibid.
[9] Sugiyanto Wiryoputro, Dasar-dasar Manajemen Kristiani (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 17.
[10] Ibid.
[11] Benyamin Abednego. Liku-liku Kepemimpinan Kristen (Surabaya: Yakin, tt), 8.
[12] William D. Lawrence, “Distinctives of Chrisitian Leadership” dalam Roy B. Zuck (peny). dalam Vital Ministry Issues (Michigan, Grand Rapids: Kregel Resources, 1994, 34.
[13] Ibid., 35.
[14] Ibid. 35.
[15] R. J. Arnott, s.v. “Authority, Concept, and Theory of” dalam Rodney J. Hunter (peny). Dictionary of Pastoral Care and Counseling (Nashville: Abingdon Press, 1990), 59.
[16] Ibid., 36.
[17] Ibid. 43.
[18] Jerry C. Wofford, Kepemimpinan Kristen yang Mengubahkan (Yogyakarta: Yayasan Andi), 24.
[19] Ibid.
[20] Ibid., 180-81.
[21] Ibid., 186-189.
[22] Ibid, 190.
[23] Leighton Ford, Transforming Leadership (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 1991), 11.
[24] Robert Borrong, “Etika dan Karakter Kepemimpinan dalam Perspektif Kristiani” dalam Kepemimpinan Kristiani (Jakarta: STTJ, 2001), 73-81.
[25] Ibid.
[26] Crayg R. Dikstra, Vision and Character (New York: Paulist, 1981), 50.
Daniel Zacharias
education from womb to tomb
12 November 2008
Saat Aku Berada Dalam Situasi Yang Buruk
“Tak pernah Dia janji hari s’lalu ‘kan panas,
dan tak pernah Dia janji hari ‘kan s'lalu hujan,
tetapi Dia janjikan memberi kekuatan,
bila badai ganas melandamu”
Pesawat udara yang tiba-tiba memasuki cuaca buruk, maka pilotnya memiliki suatu standar operasional yang harus dijalankan yang dikenal dengan istilah 5-C.
1. Cool down - bersikap tenang
Seorang pilot tidak boleh panik, secara psikologis, ketenangannya merupakan ketenangan seluruh isi pesawat sekalipun para penumpang sudah begitu panik, sebaliknya kepanikannya adalah kepanikan seluruh isi pesawat. Akibatnya usaha untuk berjuang telah hilang ditelan ketakutan yang begitu besar.
2. Check the instrument - memeriksa peralatan
Ketenangan pilot tersebut memungkinkan ia dapat memeriksa semua peralatan pesawat dengan baik, misalnya: apakah radio bekerja dengan baik, apakah baling-baling di sayap berputar dengan baik, apakah seluruh mesin tidak ada yang ‘ngadat’?
3. Contact the tower - Kontak menara pengawas
Setelah dia tenang dan seluruh peralatannya diperiksa memungkinkan ia dapat mengontak petugas di menara pengawas untuk meminta tuntunannya.
4. Communicate & cooperate - komunikasi & bekerja sama
Pada saat komunikasi dengan menara pengawas maka hal itu tidak terjadi bukan kontak sekali dua kali, tetapi terus-menerus. Dan pilot harus mengikuti petunjuk menara pengawas, dia harus bekerja sama dengan petugas di menara.
5. Climbing up - tetap terbang
Pilot harus tetap menjaga pesawatnya tetap terbang dengan keyakinan ia bisa mendaratkan dengan baik, dan tidak terburu-buru atau panik serta putus asa, sehingga ia mendaratkan pesawat di mana saja dengan alasan cuaca yang sangat buruk.
Bagaimana dengan kehidupan orang percaya bila ia memasuki situasi kehidupan yang buruk?
Orang yang memiliki relasi yang baik dengan Allah tidak berarti ia terbebas secara otomatis dari semua problem yang menggelisahkan dan menakutkan dirinya.
1. Cool down - bersikap tenang
Owen Feltham mengatakan bahwa mempercayai Tuhan pada saat kita merasa aman dan pasti adalah hal yang mudah. Tetapi dapatkah kita mempercayai-Nya pada saat jalan yang terbentang di depan kita terlihat begitu suram dan penuh ketidakpastian?
Maz 27:1
Dari Daud. TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?
Ketakutan adalah sesuatu yang sangat manusiawi tetapi ketakutan yang berkepanjangan dan tidak berpengharapan adalah sesuatu yang sangat tidak disukai Allah.
Alkitab mencatat ada beberapa orang yang pernah merasa takut:
Elia ketika diancam Izebel (I Raja-raja 19:1-4)
1 Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang,
2 maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: "Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu."
3 Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana.
4 Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."
Murid-murid ketika ada di atas perahu yang dilanda badai (Mark 4:36-40)
36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. 37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. 38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" 39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. 40 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"
Yesus sendiri ketika berdoa di taman Getsemani (Luk 22:44)
44 Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
Kepanikan hanya mengerjakan ketelodoran dan kecerobohan. Memang benar apa kata pepatah:
"the most useless thing to do ... worry!". Jangan biarkan diri anda melaju dengan kecepatan tinggi namun anda tidak sadar bahwa anda sedang kesasar. Ingat, Tuhan sangat memperhatikan anda. Ia dapat memberikan kepastian dan rasa aman kepada anda, asal anda mau mempercayai-Nya.
Pemazmur menegaskan kepada siapa aku harus takut dan gemetar, atau dengan kata lain: bila Allah ada mengapa saya harus takut? Faktanya Allah ada tetap ada dan ketakutan yang besar itu juga masih tetap ada!
2. Check the instrument - memeriksa peralatan
Maz 27:2
Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya.
Kenapa hati yang merupakan instrumen yang perlu diperiksa?
Amsal 3:23
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
Pertanyaan yang patut diajukan bagi diri kita sendiri adalah:
Mengapa aku begitu resah?
Mengapa aku merasa hampa?
Mengapa aku merasa kesepian seolah cuma aku yang mengalami hal berat ini?
Kemana aku bisa memperoleh kelegaan?
Introspeksi terhadap diri sendiri (baca: hati) adalah introspeksi terhadap inti kehidupan (bnd. Mat 5:18-19).
Mat 5:18-19
18 Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.
19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.
3. Contact the tower - Kontak menara pengawas
Maz 27:7
Dengarlah, TUHAN, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku!
Komunikasi yang tak terputus dengan Allah tidak saja memberi ketenangan batin tetapi juga memberikan kepastian arah dan tindakan dalam pengambilan keputusan.
Yeremia 33:3
3 Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.
3. Communicate & cooperate - komunikasi & bekerja sama
Maz 27:8
Hatiku mengikuti firman-Mu: "Carilah wajah-Ku"; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN.
Maz 27:11
Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, dan tuntunlah aku di jalan yang rata oleh sebab seteruku.
Berdoa adalah jalan komunikasi dengan Allah (iman) tetapi mengikuti petunjuk Allah adalah tindakan iman (perbuatan).
Bekerjasama dengan Allah menyelesaikan persoalan tampak dalam Roma 8:26-28:
26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.
27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.
28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Kata 'membantu' (Yun. synantilambanetai, "mengangkat bersama-sama", seorang memegang ujung lain dari benda yang berat untuk membantu mengangkatnya.
4. Climbing up - tetap terbang
Maz 27:1 4
14 Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!
Pengharapanlah yang membuat orang bertahan (bnd. Ibrani 11:1).
Ibrani 11:1
1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
Roma 8:24-25
24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? 25 Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan
education from womb to tomb