by Dietrich Bonhoeffer
Dietrich Bonhöffer, a young theologian of great promise, was martyred by the Nazis for his participation in a plot against the life of Adolf Hitler. His writings have greatly influenced recent theological thought. This article appeared in the Journal Christianity and Crisis, March 4, 1946. Used by permission. This article was prepared for Religion Online by Ted & Winnie Brock.
Who am I? They often tell me
I stepped from my cell’s confinement
Calmly, cheerfully, firmly,
Like a squire from his country-house.
Who am I? They often tell me
I used to speak to my warders
Freely and friendly and clearly,
As though it were mine to command.
Who am I? They also tell me
I bore the days of misfortune
Equally, smilingly, proudly,
Like one accustomed to win.
Am I then really all that which other men tell of?
Or am I only what I myself know of myself?
Restless and longing and sick, like a bird in a cage,
Struggling for breath, as though hands were
compressing my throat,
Yearning for colors, for flowers, for the voices of birds,
Thirsting for words of kindness, for neighborliness,
Tossing in expectation of great events,
Powerlessly trembling for friends at an infinite distance,
Weary and empty at praying, at thinking, at making,
Faint, and ready to say farewell to it all?
Who am I? This or the other?
Am I one person today and tomorrow another?
Am I both at once? A hypocrite before others,
And before myself a contemptibly woebegone weakling?
Or is something within me still like a beaten army,
Fleeing in disorder from victory already achieved?
Who am I? They mock me, these lonely questions of mine.
Whoever I am, Thou knowest, 0 God, I am Thine!
March 4,1946
terjemahan puisi di atas berikut ini oleh Yahya Wijaya dalam Verne H. Fletcher, "Lihatlah Sang Manusia" (2007), 52 yang mengingatkan kita akan situasi pengarang, Dietrich Bonhoffer, selama penahanannya di dalam penjara Nazi:
Siapakah Aku?
Siapakah aku? Sering orang mengatakan
aku melangkah dari kurangan penjaraku
dengan tenang, dengan gembira dan tegap,
bagaikan pangeran dan istananya.
Siapakah aku? Sering orang mengatakan
aku bicara para sipir-sipirku
dengan bebas, dengan ramah, dengan jelas,
seolah-olah perintah ada padaku.
Siapakah aku? Orang mengatakan juga
aku menjalani hari-hari sial
dengan teduh, dengan senyum, dengan bangga,
bagaikan orang yang biasa menang.
Lalu, sungguh benarkah semua yang dikatakan tentang aku?
Atau, kebenaran akan aku hanya kuketahui sendiri
Resah dan rapuh serta sakit, bagaikan burung dalam sangkar
sukar bernapas, seolah-olah ada tangan mencekikku,
rindu pada warna-warni, pada bunga-bunga, pada kicau burung
haus akan sapaan-sapaan manis, akan keramahtamahan,
geram pada kelaliman dan penghinaan yang picik,
letih dan hambar dalam berdoa, berpikir dan berbuat,
layu dan siap berpisah dengan segalanya?
Siapakah aku? Yang ini atau yang tadi?
Adakah aku hari ini lain dari aku besok?
Ataukah keduanya sekaligus: seorang munafik di depan orang lain,
dan lemah serta hina di hadapan diriku sendiri?
Siapakah aku?
Pertanyaan-pertanyaan kesepianku ini terus mengolokku.
Siapapun aku, Engkau yang paling tahu, O Allah, aku milik-Mu
Daniel Zacharias
education from womb to tomb
Tampilkan postingan dengan label Makna Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makna Diri. Tampilkan semua postingan
03 Oktober 2008
30 September 2008
Makna Diri
Hidup sebenarnya punya makna. Dan makna itu tidak bisa dipahami begitu saja. Lintasan peristiwa dalam hidup sebenarnya merupakan cara Tuhan bagi kita untuk memetik sesuatu dan menaruhnya dalam hidup sehingga pemaknaan itu terus berjalan. Kita mengerti siapa kita dan bagaimana kita. Mengenang 43 tahun lalu, ketika Jakarta berdarah karena agenda terselubung, kita sebagai bangsa pun masih bisa menarik pelajaran yang terus memberi makna buat kita semua.
Di dalam Alkitab Perjanjian Lama, Yusuf yang pernah dikhianati saudara-saudaranya, memaknai kehidupan masa lalunya yang pahit dengan berujar kepada mereka, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar" (Kej 50:20). Benar-benar merupakan sebuah pencerminan dari jiwa yang besar untuk dapat menerima kepahitan tanpa terus terlukai, dan sebuah refleksi bening yang mengais makna diri dari sampah kesuraman masa lalu. Makna diri Yusuf ternyata jauh lebih besar daripada merekam dan menuntut balik semua luka-luka di masa lalunya. Ia tidak akan menemukan makna dirinya bila ia terus berkubang dalam pemaknaan yang salah dari saudara-saudaranya terhadapnya. Ia tidak akan menemukan makna diri dari sebuah dendam kesumat. Ia menemukan makna diri dan kebergunaannya yang lebih luas ketika ia memakai cara pandang Tuhan ("tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan").
Rasul Paulus memakai I Korintus 10 menjadi cermin buram dari masa lalu agar bangsa Israel memetik pelajaran sehingga mereka tidak jatuh di lubang yang sama. Kita tidak bisa menyalahkan mengapa lubang itu tetap ada di sana, tetapi kita perlu mewaspadai agar lubang itu tidak menyeret kita. Paulus mengingatkan Israel tentang makna diri mereka sehingga dengan demikian mereka berlaku sesuai dengan pemaknaan itu.
Sebuah pariwara perlengkapan bayi di televisi Indonesia memuat kata-kata yang menyentuh. Kata-kata itu memberikan kembali asupan buat makna diri. Kata-kata itu kira-kira berbunyi demikian: "Tidak semua yang penting itu dapat dihitung, dan tidak semua yang dapat dihitung itu penting". Wow!
Makna diri kita seringkali disandarkan pada kepemilikan material. Propaganda itu selalu bernada: "Anda adalah apa yang anda makan", "Anda adalah apa yang anda kenakan", "Anda adalah apa yang anda kendarai". Tetapi sekarang kita perlu terus disadarkan bahwa pemaknaan semacam itu hanyalah mengkerdilkan pemaknaan diri yang lebih dari sekedar apa yang kita makan, pakai, dan kendarai. Yesus sendiri berkata dengan lantang, "Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?" (Mat 6:25b).
Kita perlu mengambil waktu kembali untuk merenungkan kembali kalimat berikut ini: "siapakah saya sebenarnya" dengan mata terpejam dan mengingat akan sang Khalik.
Selamat Lebaran ... yang pasti orang seperti saya akan libur panjang jadinya ....
Daniel Zacharias
education from womb to tomb
Langganan:
Postingan (Atom)