Yesaya 11:6-9
Yesaya 11 merupakan pemberitaan nabi yang jalin menjalin antara nubuat tentang kedatangan Kristus sebagai manusia dan kedatangan-Nya yang kedua kali. Nubuat mengenai inkarasinya terdapat dalam Yesaya 11:1-3 sedangkan nubuat tentang kedatangan-Nya dan masa depan orang percaya dalam rencana Tuhan terbentang mulai dari ayat 3b-10. Pembacaan kali ini erat kaitannya dengan pengharapan yang ditaruh di depan pandangan iman orang percaya tentang masa depan menurut versi Allah.
Hampir dari tiap orang yang kita jumpai menyampaikan nada-nada pesimis tentang suasana hidup masa kini, khususnya di Indonesia. Merenungkan sesudah satu dasawarsa kita menjalani krisis dan kemudian datang lagi krisis moneter yang baru, dan merenungkan kezaliman yang diderita oleh banyak orang, banyak gereja di berbagai tempat mendapatkan perlakuan yang tidak semena-mena, disusul oleh berbagai demo dan kerusuhan yang kemudian bermuara pada kebiadaban yang memperkosa hak asasi manusia; tidaklah heran bila banyak dari antara kita yang merasa hidupnya suram dan getir. Tidak sedikit yang bertanya: "Apa yang harus saya perbuat? Masih perlukah bertahan hidup dan bekerja di Indonesia, serta berharap bahwa perubahan positif masih ada dan masih mungkin? Masih bisakah kita berangan-angan tentang hari depan yang ceria, bersuasana hati penuh semangat? Hati kecil kita ditopang oleh berbagai pertimbangan realistis, berbisik was-was, jangan-jangan hari-hari depan akan menjadi semakin buruk. Jangan-jangan sesuatu yang lebih parah, lebih seram, lebih keji, lebih biadab lagi, malah masih akan terjadi!
Tuhan tidak mengizinkan kita untuk menjadi peramal. Sebaliknya kita diminta untuk hidup karena iman kepada Dia tentang hidup kita dengan sebulat hati. Kita diajari bahwa Dia mengatur sejarah dan bahwa Dia memproses umat-Nya dengan berbagai alat yang menghasilkan sesuatu yang penuh kebajikan bagi hidup umat-Nya (Roma 8:28). Kita diajar untuk menempatkan sebuah peristiwa hidup di Indonesia yang sedang membara dalam konteks luas pengendalian kekal Allah atas segala sesuatu dengan tujuan dan hasil yang pasti bernilai kekal pula.
Kita semua selaku jemaat Allah pun tidak menerima kalau kita harus bermental pesimis, pengecut, dan suram menapaki hidup ini. Kita semua wajib dari waktu ke waktu mengkaji ulang apakah kita tengah mengikuti langkah-langkah-Nya yang memimpin hidup kita. Di dalam keyakinan bahwa Allah pasti memiliki rencana untuk kepentingan kerajaan-Nya di dunia maupun di Indonesia, maka kita yakin bahwa harus ada umat Tuhan yang tetap bertahan, bertekun, berharap, dan berjuang baik secara moral maupun spiritual baik secara pribadi maupun selaku masyarakat Indonesia.
Di mana pun di dunia ini, kita menyaksikan berbagai gereja mengalami kemerosotan fisik, moral, dan spiritual yang luar biasa mengerikan. Sebenarnya semua kejadian ini mengingatkan kita akan satu hal. Bahwa kita sebenarnya adalah musafir Allah, dan dunia tidak menerima kita, sehingga di belahan dunia mana pun orang percaya tetap akan mengalami kesulitan dan tantangan. Dan sekarang mengapa nas yang kita baca begitu ideal?
Di manakah di dunia ini dapat kita jumpai binatang-binatang pemangsa dan yang dimangsa berbaring bersama? Serigala dengan domba, macan tutul dengan kambing? Semua itu terjadi tentunya karena ada perubahan mendasar pada sifat mereka. Lembu dan beruang akan makan rumput bersama, singa dan lembu akan makan jerami. Ular, si binatang tercerdik sekaligus terlicik, si binatang terkutuk, tidak lagi berbahaya. Permusuhan antara dia dan anak manusia telah berhenti.
Gambaran ini bukan fantasi tetapi situasi yang sedang diwujudkan Kristus sendiri. Peristiwa itu adalah lukisan dari karya-karya-Nya yang mulia yang mengubah seluruh kondisi dunia. Itulah arti syalom dalam penggenapan yang seutuhnya. Adanya damai dan sejahtera menghapus jejak akibat dosa. Itulah visi masa depan orang percaya, umat pilihan Allah, yang dari detik ke detik, harus kita resapi di relung dada kita yang terdalam dan bukan meragukannya.
Alkitab dalam nubuat apokaliptik ini tidak saja menggambarkan damai sejahtera atau syalom itu seperti benteng yang teguh yang membuat hati dan jiwa aman terpelihara dari ancaman yang berdatangan. Alkitab juga menggambarkan damai sejahtera mengalir seperti sungai yang membawa kesegaran, keindahan, pembaruan, pemurnian, dan kehidupan.
Apabila kita menyimak nas Alkitab dengan teliti kita akan mendapatkan bahwa Alkitab lebih banyak berbicara tentang damai sejahtera dalam dunia nyata daripada damai sejahtera dalam batin belaka. Alkitab dengan jelas berbicara tentang damai sejahtera di tanah kediaman Israel, damai dalam arti berhentinya peperangan dan permusuhan, damai bahkan dalam gambaran yang sangat puitis-dramatis ketika anak domba dan singa dilukiskan berbaring bersama di padang rumput. Damai sejahtera yang semacam itu adalah syalom, suatu kondisi ketika keadilan, kasih, kesetiaan dan damai menari-nari mesra di dunia sehingga membuktikan wujud konkrit adanya hubungan serasi dengan Allah, antar-manusia, dan antar sesama mahluk ciptaan. Damai sejahtera dalam arti penuh seperti yang Alkitab maksudkan adalah damai sejahtera batin dan lahir, spiritual dan fisikal, personal dan relasional.
Marilah kita baik selaku keluarga maupun jemaat menyongsong masa depan yang mulia yang berasal dari Tuhan. Hal itu menjadi kekuatan dan penghiburan justru di tengah-tengah beratnya hidup ini. Dari pada mengasihani diri sendiri, maka dengan iman kita mencurahkan perhatian dan kepedulian kita untuk mempersiapkan masa depan keluarga dan gereja serta bangsa yang mendapat sentuhan pemulihan dari Tuhan.
Daniel Zacharias
education from womb to tomb
Tampilkan postingan dengan label Pengharapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengharapan. Tampilkan semua postingan
30 Desember 2008
11 Desember 2008
DOA ADVENTUS: DOA JÜRGEN MOLTMANN
Masa Adventus tidak selamanya merupakan tengokan ke belakang, namun juga merupakan pandangan pengharapan ke depan akan kehadiran Mesias yang eskaton. Sehingga Advent bukan penyambutan peristiwa Betlehem belaka tetapi juga untuk peristiwa parousia. Dalam masa Adventus ini ada baiknya kita merenungkan apa yang tertera di Sing me the song of my World[1] yang merupakan doa yang mengekspresikan trintitarisme eskatologis, berorientasi baik pada praksis maupun pada doxology, kemana perkembangan itu membawa:
BAPA DI SORGA
sudah waktunya engkau datang.
Karena waktu kami hampir habis
dan dunia kami sedang menuju kematian.
Engkau telah memberikan kami kehidupan satu bersama dengan yang lain.
Kami telah menghancurkannya dengan menyatakan perang satu terhadap yang lain.
Engkau mengaruniakan kami pepohonan dan hutan-hutan.
Kami sudah menebangnya.
Untuk burung-burung engkau memberikan musim semi
dan untuk ikan-ikan sungai-sungai.
Kami telah melenyapkan musim semi dan mengotori sungai-sungai.
Kepada karya ciptaan-Mu
engkau memberikan keseimbangan.
Kami telah mengganggunya dank arena itu mendatangkan kesedihan.
Datanglah, Pencipta semesta,
perbarui wajah yang tanpa kehidupan dari bumi ini.
Buanglah ketidakbahagiaan kami
berikanlah kami pengharapan akan Hari-Mu
ketika, pada perdamaian dengan setipa ciptaan,
kami dapat tertawa dan memuji-Mu
Kristus Yesus, Sahabat kami,
kami tidak dapat berjalan dalam rombongan-Mu
tanpa tetangga kami,
mereka yang dekat dan mereka yang jauh
teman-teman dan musuh-musuh.
Terus-menerus menjadi sahabat orang berdosa,
menjadi miskin dengan orang miskin,
menjadi lemah dengan orang yang lemah,
terkutuk dengan mereka yang terbuang,
mereka itu, dan kami dengan mereka, boleh mempunyai kehidupan.
Kami mengharap kedatangan kerajaan-Mu
seperti kami mengharap perdamaian dalam dunia yang terpecah ini.
Kami percaya akan kehadiran-Mu
sama seperti kami percaya dalam hidup yang penuh arti
bahkan ketika berhadapan dengan kesia-siaan dari kematian.
Kami mencari kedatanganmu
seperti kami merasa lapar akan makanan kami sehari-hari.
Datanglah, Tuhan Yesus, datanglah segera.
Roh Kudus, Engkau kami kenal
sebagai kuasa yang dari atas,
sebagai penghibur dalam kesesakan.
Kami berseru kepadamu dan seruan kami membesarkan hati kami.
Kami menyeru Engkau dan Engkau menyeru bersama kami.
Kami menantikan Engkau dan Engkau ada dalam hati kami.
Bukakanlah mata kami dan kami akan melihat
tapak kakimu di atas jalan kami.
Berikanlah kami ketenangan dan kami akan mendengar
keluhan-keluhan-Mu di dalam penjara-penjara kami.
Ambillah dari kami apa yang harus Engkau ambil
sampai kami datang beristirahat di dalam Engkau
dan merasa bahwa kami sedang mengaso,
sadar akan kehidupan-Mu di dalam diri kami,
kasih-Mu yang menyala dan kekuatan-Mu yang mendorong,
kesedihan dan kebahagiaan-Mu mendalam di hati kami.
Datanglah Roh Pencipta,
kosongkan hati kami dari kegelisahan yang mementingkan diri sendiri,
isilah roh kami dengan kasih yang kreatif.
Berikanlah kami khayalan-khayalan dan penglihatan-penglihatan dari
kerajaan kebebasan-Mu.
Jadikanlah kami bersedih kalau mereka dikhianati,
kalau mereka tidak menjadi kenyataan.
Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Waktunya sudah tiba, waktu untuk penggenapan sejarah.
waktu untuk menjadikan semua satu dengan Allah dan dalam Allah.
Selamat menziarahi masa adventus yang sulit untuk digambarkan ...
[1] Richard Bauckham, Teologi Mesianis (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 174-176. Bahan tersebut dikutip dari D. Cremer, Sing me the song of my World, diterjemahkan oleh B. Davies (St. Paul Publications, Slough, 1981), hlm. 140-141.
Daniel Zacharias
education from womb to tomb
BAPA DI SORGA
sudah waktunya engkau datang.
Karena waktu kami hampir habis
dan dunia kami sedang menuju kematian.
Engkau telah memberikan kami kehidupan satu bersama dengan yang lain.
Kami telah menghancurkannya dengan menyatakan perang satu terhadap yang lain.
Engkau mengaruniakan kami pepohonan dan hutan-hutan.
Kami sudah menebangnya.
Untuk burung-burung engkau memberikan musim semi
dan untuk ikan-ikan sungai-sungai.
Kami telah melenyapkan musim semi dan mengotori sungai-sungai.
Kepada karya ciptaan-Mu
engkau memberikan keseimbangan.
Kami telah mengganggunya dank arena itu mendatangkan kesedihan.
Datanglah, Pencipta semesta,
perbarui wajah yang tanpa kehidupan dari bumi ini.
Buanglah ketidakbahagiaan kami
berikanlah kami pengharapan akan Hari-Mu
ketika, pada perdamaian dengan setipa ciptaan,
kami dapat tertawa dan memuji-Mu
Kristus Yesus, Sahabat kami,
kami tidak dapat berjalan dalam rombongan-Mu
tanpa tetangga kami,
mereka yang dekat dan mereka yang jauh
teman-teman dan musuh-musuh.
Terus-menerus menjadi sahabat orang berdosa,
menjadi miskin dengan orang miskin,
menjadi lemah dengan orang yang lemah,
terkutuk dengan mereka yang terbuang,
mereka itu, dan kami dengan mereka, boleh mempunyai kehidupan.
Kami mengharap kedatangan kerajaan-Mu
seperti kami mengharap perdamaian dalam dunia yang terpecah ini.
Kami percaya akan kehadiran-Mu
sama seperti kami percaya dalam hidup yang penuh arti
bahkan ketika berhadapan dengan kesia-siaan dari kematian.
Kami mencari kedatanganmu
seperti kami merasa lapar akan makanan kami sehari-hari.
Datanglah, Tuhan Yesus, datanglah segera.
Roh Kudus, Engkau kami kenal
sebagai kuasa yang dari atas,
sebagai penghibur dalam kesesakan.
Kami berseru kepadamu dan seruan kami membesarkan hati kami.
Kami menyeru Engkau dan Engkau menyeru bersama kami.
Kami menantikan Engkau dan Engkau ada dalam hati kami.
Bukakanlah mata kami dan kami akan melihat
tapak kakimu di atas jalan kami.
Berikanlah kami ketenangan dan kami akan mendengar
keluhan-keluhan-Mu di dalam penjara-penjara kami.
Ambillah dari kami apa yang harus Engkau ambil
sampai kami datang beristirahat di dalam Engkau
dan merasa bahwa kami sedang mengaso,
sadar akan kehidupan-Mu di dalam diri kami,
kasih-Mu yang menyala dan kekuatan-Mu yang mendorong,
kesedihan dan kebahagiaan-Mu mendalam di hati kami.
Datanglah Roh Pencipta,
kosongkan hati kami dari kegelisahan yang mementingkan diri sendiri,
isilah roh kami dengan kasih yang kreatif.
Berikanlah kami khayalan-khayalan dan penglihatan-penglihatan dari
kerajaan kebebasan-Mu.
Jadikanlah kami bersedih kalau mereka dikhianati,
kalau mereka tidak menjadi kenyataan.
Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Waktunya sudah tiba, waktu untuk penggenapan sejarah.
waktu untuk menjadikan semua satu dengan Allah dan dalam Allah.
Selamat menziarahi masa adventus yang sulit untuk digambarkan ...
[1] Richard Bauckham, Teologi Mesianis (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 174-176. Bahan tersebut dikutip dari D. Cremer, Sing me the song of my World, diterjemahkan oleh B. Davies (St. Paul Publications, Slough, 1981), hlm. 140-141.
Daniel Zacharias
education from womb to tomb
Langganan:
Postingan (Atom)