Yesaya 11:6-9
Yesaya 11 merupakan pemberitaan nabi yang jalin menjalin antara nubuat tentang kedatangan Kristus sebagai manusia dan kedatangan-Nya yang kedua kali. Nubuat mengenai inkarasinya terdapat dalam Yesaya 11:1-3 sedangkan nubuat tentang kedatangan-Nya dan masa depan orang percaya dalam rencana Tuhan terbentang mulai dari ayat 3b-10. Pembacaan kali ini erat kaitannya dengan pengharapan yang ditaruh di depan pandangan iman orang percaya tentang masa depan menurut versi Allah.
Hampir dari tiap orang yang kita jumpai menyampaikan nada-nada pesimis tentang suasana hidup masa kini, khususnya di Indonesia. Merenungkan sesudah satu dasawarsa kita menjalani krisis dan kemudian datang lagi krisis moneter yang baru, dan merenungkan kezaliman yang diderita oleh banyak orang, banyak gereja di berbagai tempat mendapatkan perlakuan yang tidak semena-mena, disusul oleh berbagai demo dan kerusuhan yang kemudian bermuara pada kebiadaban yang memperkosa hak asasi manusia; tidaklah heran bila banyak dari antara kita yang merasa hidupnya suram dan getir. Tidak sedikit yang bertanya: "Apa yang harus saya perbuat? Masih perlukah bertahan hidup dan bekerja di Indonesia, serta berharap bahwa perubahan positif masih ada dan masih mungkin? Masih bisakah kita berangan-angan tentang hari depan yang ceria, bersuasana hati penuh semangat? Hati kecil kita ditopang oleh berbagai pertimbangan realistis, berbisik was-was, jangan-jangan hari-hari depan akan menjadi semakin buruk. Jangan-jangan sesuatu yang lebih parah, lebih seram, lebih keji, lebih biadab lagi, malah masih akan terjadi!
Tuhan tidak mengizinkan kita untuk menjadi peramal. Sebaliknya kita diminta untuk hidup karena iman kepada Dia tentang hidup kita dengan sebulat hati. Kita diajari bahwa Dia mengatur sejarah dan bahwa Dia memproses umat-Nya dengan berbagai alat yang menghasilkan sesuatu yang penuh kebajikan bagi hidup umat-Nya (Roma 8:28). Kita diajar untuk menempatkan sebuah peristiwa hidup di Indonesia yang sedang membara dalam konteks luas pengendalian kekal Allah atas segala sesuatu dengan tujuan dan hasil yang pasti bernilai kekal pula.
Kita semua selaku jemaat Allah pun tidak menerima kalau kita harus bermental pesimis, pengecut, dan suram menapaki hidup ini. Kita semua wajib dari waktu ke waktu mengkaji ulang apakah kita tengah mengikuti langkah-langkah-Nya yang memimpin hidup kita. Di dalam keyakinan bahwa Allah pasti memiliki rencana untuk kepentingan kerajaan-Nya di dunia maupun di Indonesia, maka kita yakin bahwa harus ada umat Tuhan yang tetap bertahan, bertekun, berharap, dan berjuang baik secara moral maupun spiritual baik secara pribadi maupun selaku masyarakat Indonesia.
Di mana pun di dunia ini, kita menyaksikan berbagai gereja mengalami kemerosotan fisik, moral, dan spiritual yang luar biasa mengerikan. Sebenarnya semua kejadian ini mengingatkan kita akan satu hal. Bahwa kita sebenarnya adalah musafir Allah, dan dunia tidak menerima kita, sehingga di belahan dunia mana pun orang percaya tetap akan mengalami kesulitan dan tantangan. Dan sekarang mengapa nas yang kita baca begitu ideal?
Di manakah di dunia ini dapat kita jumpai binatang-binatang pemangsa dan yang dimangsa berbaring bersama? Serigala dengan domba, macan tutul dengan kambing? Semua itu terjadi tentunya karena ada perubahan mendasar pada sifat mereka. Lembu dan beruang akan makan rumput bersama, singa dan lembu akan makan jerami. Ular, si binatang tercerdik sekaligus terlicik, si binatang terkutuk, tidak lagi berbahaya. Permusuhan antara dia dan anak manusia telah berhenti.
Gambaran ini bukan fantasi tetapi situasi yang sedang diwujudkan Kristus sendiri. Peristiwa itu adalah lukisan dari karya-karya-Nya yang mulia yang mengubah seluruh kondisi dunia. Itulah arti syalom dalam penggenapan yang seutuhnya. Adanya damai dan sejahtera menghapus jejak akibat dosa. Itulah visi masa depan orang percaya, umat pilihan Allah, yang dari detik ke detik, harus kita resapi di relung dada kita yang terdalam dan bukan meragukannya.
Alkitab dalam nubuat apokaliptik ini tidak saja menggambarkan damai sejahtera atau syalom itu seperti benteng yang teguh yang membuat hati dan jiwa aman terpelihara dari ancaman yang berdatangan. Alkitab juga menggambarkan damai sejahtera mengalir seperti sungai yang membawa kesegaran, keindahan, pembaruan, pemurnian, dan kehidupan.
Apabila kita menyimak nas Alkitab dengan teliti kita akan mendapatkan bahwa Alkitab lebih banyak berbicara tentang damai sejahtera dalam dunia nyata daripada damai sejahtera dalam batin belaka. Alkitab dengan jelas berbicara tentang damai sejahtera di tanah kediaman Israel, damai dalam arti berhentinya peperangan dan permusuhan, damai bahkan dalam gambaran yang sangat puitis-dramatis ketika anak domba dan singa dilukiskan berbaring bersama di padang rumput. Damai sejahtera yang semacam itu adalah syalom, suatu kondisi ketika keadilan, kasih, kesetiaan dan damai menari-nari mesra di dunia sehingga membuktikan wujud konkrit adanya hubungan serasi dengan Allah, antar-manusia, dan antar sesama mahluk ciptaan. Damai sejahtera dalam arti penuh seperti yang Alkitab maksudkan adalah damai sejahtera batin dan lahir, spiritual dan fisikal, personal dan relasional.
Marilah kita baik selaku keluarga maupun jemaat menyongsong masa depan yang mulia yang berasal dari Tuhan. Hal itu menjadi kekuatan dan penghiburan justru di tengah-tengah beratnya hidup ini. Dari pada mengasihani diri sendiri, maka dengan iman kita mencurahkan perhatian dan kepedulian kita untuk mempersiapkan masa depan keluarga dan gereja serta bangsa yang mendapat sentuhan pemulihan dari Tuhan.
Daniel Zacharias
education from womb to tomb
Tampilkan postingan dengan label Tahun Baru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tahun Baru. Tampilkan semua postingan
30 Desember 2008
29 Desember 2008
Renungan Memasuki Tahun Baru 2009 (1): MENGASIHI ALLAH LEBIH DALAM LAGI
Yohanes 21:17
Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku
Tuhan Yesus memiliki cara yang ajaib untuk memulihkan kembali manusia yang pernah meninggalkan dan mengabaikan-Nya. Luar biasanya adalah bahwa Dia tidak mempermalukan kita. Dia tidak mengkritik kita seperi kebanyakan orang yang yang merasa rohaninya lebih tinggi. Ia juga tidak meminta kita untuk membuat upaya pemecahan ulang untuk mencoba lebih keras lagi. Sebaliknya, Ia meminta kita untuk meneguhkan kembali kasih kita kepada-Nya. Yesus langsung menyentuh akar permasalahannya.
Petrus pernah meninggalkan Yesus tatkala ia melarikan diri bersama para murid lainnya dari taman Getsemani. Bahkan di hadapan banyak orang Petrus menyangkal bila ia pernah mengenal Yesus. Petrus mungkin akan terheran-heran bila ia masih bisa menjadi murid Yesus padahal ia tidak setia pada Yesus tatkala Gurunya berada pada saat-saat yang genting. Padahal Petrus pernah berkata, “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!" (Luk 22:33). Pada kenyataannya jawaban Rasul Petrus sering tidak jauh berbeda dengan jawaban dan praktek hidup kita.
Tatkala kita memulai sebuah tahun yang baru, kita mungkin dengan pedih menyadari bila kita telah meninggalkan-Nya dan menyangkal-Nya dalam berbagai cara. Mungkin kita telah meninggalkan dan menyangkal-Nya karena kita hidup tidak setia. Mungkin kita telah meninggalkan dan menyangkal-Nya karena kita tidak taat pada firman-Nya. Mungkin kita telah meninggalkan dan menyangkal-Nya lewat cara hidup kita yang menyakiti hati-Nya.
Namun, namun lihatlah apa yang Yesus lakukan bagi kita? Yang Ia akan lakukan adalah Ia akan bertanya kepada kita seperti yang Ia lakukan terhadap Petrus. Ia tidak mencaci-maki kita. Ia tidak akan mempermalukan kita. Ia tidak mengejar-ngeja kita dengan dakwaan. Ia hanya akan bertanya di dalam batin kita, “Apakah engkau mengasihi-Ku?” Jika jawabanmu seperti jawaban Petrus, “Ya Tuhan”, maka Ia akan meneguhkan kembali kehendak-Nya dalam diri kita. Jika kita sungguh mengasihi-Nya, kita akan menaati perintah-Nya (Yoh 14:15). Kasih kita kepada Tuhan mengawali dan membuka jalan untuk sebuah ketaatan kepada Tuhan.
Kita sering menyatakan keyakinan kita bahwa kita mengasihi Allah tetapi pada saat yang sama kita menyadari bila kita ternyata lebih sering bertindak sebaliknya. Penghalang utama mengapa kita mengasihi Allah dalam situasi yang maju mundur tidak terletak pada faktor luar tetapi terletak di dalam diri kita sendiri yakni pada: kehendak manusia kita atau kehendak kita sendiri. Pada kenyataannya kita lebih suka berbicara mengenai kehendak-Nya daripada melakukannya. Ingatlah kita tidak dapat mengerjakan kehendak Allah tatkala kita terus sibuk mengerjakan kehendak kita sendiri. Kita tidak dapat bersungguh-sungguh berdoa, "Datanglah kerajaan-Mu" sampai kita secara resmi berdoa, "kerajaanku pergilah". [Tim Impian Tuhan, 23].
Ketidakpercayaan dan kekerasan hati kita akan hak dan agenda pribadi kita adalah belenggu yang mengikat sehingga kehendak Allah tidak dapat turun dalam hidup dan pelayanan kita. Banyak di antara kita yang lebih suka mengutamakan agenda kita daripada agenda Allah. Banyak di antara kita lebih tertarik pada hal menjaga hak-hak kita daripada mengejar maksud-maksud Tuhan. [Tim Impian Tuhan, 34].
Ego kita sering mengesampingkan penalaran kita. Kita lebih suka kalah dengan kehendak yang tak terpatahkan daripada menang dan menjadi tunduk. Penyembahan terhadap kehendak bebas dan promosi kita terhadap agenda pribadi menjelaskan mengapa kita sebagai gereja, gagal bergumul untuk dapat mengasihi Allah lebih dalam lagi. Ketidaktaatan dan ketidaktundukan kita menjual kredibilitas kita. Tidak beralasan bagi dunia untuk percaya bahwa kita berasal dari Allah bila kita bertindak seperti Iblis. [Tim Impian Tuhan, 30]. Tatkala Stalin dalam keadaan sekarat mengepalkan tinjunya ke arah langit hal itu jelas menunjukkan bahwa ia tidak berasal dari Allah.
“Seandainya seorang raja mencintai pelayannya yang miskin,“ begitulah seorang filsuf Denmark, Søren Arby Kierkegaard (1813-1855), mengawali perumpamaannya. Bagaimana cara sang raja menyatakan cintanya kepada pelayan itu? Mungkin sang pelayan akan menanggapinya karena takut atau terpaksa, padahal sang raja ingin pelayan itu mencintainya dengan tulus. Maka kemudian sang raja yang sadar bahwa ia tidak boleh tampil sebagai raja bila tak ingin menghancurkan kebebasan orang yang dikasihinya, memutuskan untuk menjadi orang biasa. Ia meninggalkan tahtanya, melepas jubah kebesarannya, dan memakai pakaian compang-camping. Ia bukan hanya menyamar, tetapi benar-benar memiliki identitas baru. Ia sungguh-sungguh menjadi pelayan untuk memikat hati sang pelayan muda yang dicintainya. Ini layaknya sebuah taruhan. Pelayan itu mungkin akan mencintainya, atau justru menolaknya habis-habisan sehingga ia tidak akan mendapatkan cintanya seumur hidupnya! Namun begitu jugalah pilihan yang diberikan Allah kepada manusia, dan tentu saja, itulah makna perumpamaan di atas. Tuhan kita merendahkan diri-Nya untuk memenangkan hati kita. “Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri (Filipi 2:5-7). Sekarang pertanyaannya adalah: akankah kita mengasihi-Nya lebih dalam lagi atau kita menolak, mengabaikan, atau bahkan meninggalkan-Nya?
Lalu apa yang harus saya perbuat?
Kita membutuhkan pertolongan Roh Tuhan. Roh Kudus harus menempelak kita, dan roh ketaatan dan ketundukan harus melingkupi kita, atau kita sama sekali tidak akan pernah mencapai apa yang Tuhan inginkan kita lakukan yaitu: "mengasihi Dia lebih dalam lagi" [Tim Impian Tuhan, 41].
Tidak mudah membuat komitmen untuk mengasihi Allah dan setia menjalaninya. Komitmen kita seringkali tidak mampu mencapai masa yang panjang. Stamina rohani kita tidak selalu berada dalam kondisi puncak. Bila dikalkulasikan, mungkin catatan kegagalan kita untuk memenuhi komitmen yang kita buat sendiri akan terlihat menumpuk. Kegagalan demi kegagalan mewarnai perjalanan iman kita. Inilah cermin dari natur lama kita sebagai manusia yang lemah dan berdosa. Kini di hadapan kita terbentang tahun yang baru untuk ditempuh dan Ia hanya minta satu hal: lebih dalam mengasihi-Nya.
Yesus tidak membutuhkan pemecahan kita, komitmen kita yang berulang-ulang jatuh dan bangun, janji-janji kita yang coba kita penuhi dengan lebih keras lagi di tahun baru ini. Jika tekad kita menaati Allah lalu ternyata tidak menolong kita untuk setia, maka itu juga akan membuat kita tidak berhasil di tahun baru ini maka itu artinya kita telah salah bertindak. Yesus hanya meminta kasihmu. Jika kita sungguh-sungguh mengasihi-Nya, maka baik sikap, ketundukan, penyerahan, bahkan pelayanan kita kepada-Nya di tahun yang baru ini akan lebih berkualitas seperti yang Ia inginkan (dz).
DOA
Tuhan kami ingin menjadikan Engkau menjadi Tuhan atas hidup kami dan tidak hanya sekedar memanggil Engkau Tuhan.
Roh Kudus, kami memohon kiranya Engkau meyakinkan dan menyempurnakan kami sehingga kami dapat mencapai apa yang Bapa ingin kami lakukan.
Kami berdoa agar kerajaan kami lenyap sehingga kerajaan-Mu dapat datang.
Kiranya kehendak kami dihancurkan sehingga kehendak-Mu dapat terlaksana di bumi seperti di surga.
Daniel Zacharias
education from womb to tomb
Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku
Tuhan Yesus memiliki cara yang ajaib untuk memulihkan kembali manusia yang pernah meninggalkan dan mengabaikan-Nya. Luar biasanya adalah bahwa Dia tidak mempermalukan kita. Dia tidak mengkritik kita seperi kebanyakan orang yang yang merasa rohaninya lebih tinggi. Ia juga tidak meminta kita untuk membuat upaya pemecahan ulang untuk mencoba lebih keras lagi. Sebaliknya, Ia meminta kita untuk meneguhkan kembali kasih kita kepada-Nya. Yesus langsung menyentuh akar permasalahannya.
Petrus pernah meninggalkan Yesus tatkala ia melarikan diri bersama para murid lainnya dari taman Getsemani. Bahkan di hadapan banyak orang Petrus menyangkal bila ia pernah mengenal Yesus. Petrus mungkin akan terheran-heran bila ia masih bisa menjadi murid Yesus padahal ia tidak setia pada Yesus tatkala Gurunya berada pada saat-saat yang genting. Padahal Petrus pernah berkata, “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!" (Luk 22:33). Pada kenyataannya jawaban Rasul Petrus sering tidak jauh berbeda dengan jawaban dan praktek hidup kita.
Tatkala kita memulai sebuah tahun yang baru, kita mungkin dengan pedih menyadari bila kita telah meninggalkan-Nya dan menyangkal-Nya dalam berbagai cara. Mungkin kita telah meninggalkan dan menyangkal-Nya karena kita hidup tidak setia. Mungkin kita telah meninggalkan dan menyangkal-Nya karena kita tidak taat pada firman-Nya. Mungkin kita telah meninggalkan dan menyangkal-Nya lewat cara hidup kita yang menyakiti hati-Nya.
Namun, namun lihatlah apa yang Yesus lakukan bagi kita? Yang Ia akan lakukan adalah Ia akan bertanya kepada kita seperti yang Ia lakukan terhadap Petrus. Ia tidak mencaci-maki kita. Ia tidak akan mempermalukan kita. Ia tidak mengejar-ngeja kita dengan dakwaan. Ia hanya akan bertanya di dalam batin kita, “Apakah engkau mengasihi-Ku?” Jika jawabanmu seperti jawaban Petrus, “Ya Tuhan”, maka Ia akan meneguhkan kembali kehendak-Nya dalam diri kita. Jika kita sungguh mengasihi-Nya, kita akan menaati perintah-Nya (Yoh 14:15). Kasih kita kepada Tuhan mengawali dan membuka jalan untuk sebuah ketaatan kepada Tuhan.
Kita sering menyatakan keyakinan kita bahwa kita mengasihi Allah tetapi pada saat yang sama kita menyadari bila kita ternyata lebih sering bertindak sebaliknya. Penghalang utama mengapa kita mengasihi Allah dalam situasi yang maju mundur tidak terletak pada faktor luar tetapi terletak di dalam diri kita sendiri yakni pada: kehendak manusia kita atau kehendak kita sendiri. Pada kenyataannya kita lebih suka berbicara mengenai kehendak-Nya daripada melakukannya. Ingatlah kita tidak dapat mengerjakan kehendak Allah tatkala kita terus sibuk mengerjakan kehendak kita sendiri. Kita tidak dapat bersungguh-sungguh berdoa, "Datanglah kerajaan-Mu" sampai kita secara resmi berdoa, "kerajaanku pergilah". [Tim Impian Tuhan, 23].
Ketidakpercayaan dan kekerasan hati kita akan hak dan agenda pribadi kita adalah belenggu yang mengikat sehingga kehendak Allah tidak dapat turun dalam hidup dan pelayanan kita. Banyak di antara kita yang lebih suka mengutamakan agenda kita daripada agenda Allah. Banyak di antara kita lebih tertarik pada hal menjaga hak-hak kita daripada mengejar maksud-maksud Tuhan. [Tim Impian Tuhan, 34].
Ego kita sering mengesampingkan penalaran kita. Kita lebih suka kalah dengan kehendak yang tak terpatahkan daripada menang dan menjadi tunduk. Penyembahan terhadap kehendak bebas dan promosi kita terhadap agenda pribadi menjelaskan mengapa kita sebagai gereja, gagal bergumul untuk dapat mengasihi Allah lebih dalam lagi. Ketidaktaatan dan ketidaktundukan kita menjual kredibilitas kita. Tidak beralasan bagi dunia untuk percaya bahwa kita berasal dari Allah bila kita bertindak seperti Iblis. [Tim Impian Tuhan, 30]. Tatkala Stalin dalam keadaan sekarat mengepalkan tinjunya ke arah langit hal itu jelas menunjukkan bahwa ia tidak berasal dari Allah.
“Seandainya seorang raja mencintai pelayannya yang miskin,“ begitulah seorang filsuf Denmark, Søren Arby Kierkegaard (1813-1855), mengawali perumpamaannya. Bagaimana cara sang raja menyatakan cintanya kepada pelayan itu? Mungkin sang pelayan akan menanggapinya karena takut atau terpaksa, padahal sang raja ingin pelayan itu mencintainya dengan tulus. Maka kemudian sang raja yang sadar bahwa ia tidak boleh tampil sebagai raja bila tak ingin menghancurkan kebebasan orang yang dikasihinya, memutuskan untuk menjadi orang biasa. Ia meninggalkan tahtanya, melepas jubah kebesarannya, dan memakai pakaian compang-camping. Ia bukan hanya menyamar, tetapi benar-benar memiliki identitas baru. Ia sungguh-sungguh menjadi pelayan untuk memikat hati sang pelayan muda yang dicintainya. Ini layaknya sebuah taruhan. Pelayan itu mungkin akan mencintainya, atau justru menolaknya habis-habisan sehingga ia tidak akan mendapatkan cintanya seumur hidupnya! Namun begitu jugalah pilihan yang diberikan Allah kepada manusia, dan tentu saja, itulah makna perumpamaan di atas. Tuhan kita merendahkan diri-Nya untuk memenangkan hati kita. “Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri (Filipi 2:5-7). Sekarang pertanyaannya adalah: akankah kita mengasihi-Nya lebih dalam lagi atau kita menolak, mengabaikan, atau bahkan meninggalkan-Nya?
Lalu apa yang harus saya perbuat?
Kita membutuhkan pertolongan Roh Tuhan. Roh Kudus harus menempelak kita, dan roh ketaatan dan ketundukan harus melingkupi kita, atau kita sama sekali tidak akan pernah mencapai apa yang Tuhan inginkan kita lakukan yaitu: "mengasihi Dia lebih dalam lagi" [Tim Impian Tuhan, 41].
Tidak mudah membuat komitmen untuk mengasihi Allah dan setia menjalaninya. Komitmen kita seringkali tidak mampu mencapai masa yang panjang. Stamina rohani kita tidak selalu berada dalam kondisi puncak. Bila dikalkulasikan, mungkin catatan kegagalan kita untuk memenuhi komitmen yang kita buat sendiri akan terlihat menumpuk. Kegagalan demi kegagalan mewarnai perjalanan iman kita. Inilah cermin dari natur lama kita sebagai manusia yang lemah dan berdosa. Kini di hadapan kita terbentang tahun yang baru untuk ditempuh dan Ia hanya minta satu hal: lebih dalam mengasihi-Nya.
Yesus tidak membutuhkan pemecahan kita, komitmen kita yang berulang-ulang jatuh dan bangun, janji-janji kita yang coba kita penuhi dengan lebih keras lagi di tahun baru ini. Jika tekad kita menaati Allah lalu ternyata tidak menolong kita untuk setia, maka itu juga akan membuat kita tidak berhasil di tahun baru ini maka itu artinya kita telah salah bertindak. Yesus hanya meminta kasihmu. Jika kita sungguh-sungguh mengasihi-Nya, maka baik sikap, ketundukan, penyerahan, bahkan pelayanan kita kepada-Nya di tahun yang baru ini akan lebih berkualitas seperti yang Ia inginkan (dz).
DOA
Tuhan kami ingin menjadikan Engkau menjadi Tuhan atas hidup kami dan tidak hanya sekedar memanggil Engkau Tuhan.
Roh Kudus, kami memohon kiranya Engkau meyakinkan dan menyempurnakan kami sehingga kami dapat mencapai apa yang Bapa ingin kami lakukan.
Kami berdoa agar kerajaan kami lenyap sehingga kerajaan-Mu dapat datang.
Kiranya kehendak kami dihancurkan sehingga kehendak-Mu dapat terlaksana di bumi seperti di surga.
Daniel Zacharias
education from womb to tomb
Langganan:
Postingan (Atom)