12 Juni 2009
Gereja dan Pendidikan
Harus kita akui bersama bila Indonesia tidak akan pernah kehilangan atau bahkan kehabisan orang pintar dan terampil. Kita memiliki banyak orang yang terdidik dan terlatih dengan baik dalam bidangnya. Indonesia dibangun oleh orang-orang semacam ini. Namun di sisi lain harus kita akui pula bahwa negeri ini juga dirusak oleh orang-orang cerdas dan terampil yang telah kehilangan atau bahkan sama sekali tidak pernah memiliki nilai-nilai luhur moral dan iman. Satu-persatu pesohor dari berbagai jabatan penting di negeri ini yang pernah mengenyam pendidikan bahkan sampai strata yang tertinggi ternyata harus mengakhiri karirnya di bui. Hal ini disebabkan bukan karena faktor kekurangcerdasan atau karena kekurangterampilan, tetapi hal itu disebabkan karena kurangnya nilai-nilai moral dan imaniah yang membuat kecerdasan dan keterampilan menjadi tak punya makna yang utuh. Media massa melaporkan beberapa caleg yang tidak mendapatkan suara dalam Pemilu Legislatif 2009 dengan tanpa rasa malu menarik semua bantuan yang sudah pernah mereka bagikan kepada masyarakat dalam masa kampanye. Dan yang paling ironis adalah mereka menarik bantuan berupa bahan bangunan dalam rangka pembangunan sebuah rumah ibadah. Kenyataan-kenyataan sejenis muncul dimana-mana yang sedang mempertontonkan kepada kita bila nilai-nilai moral dan imaniah sudah lama tidak mendapat porsi yang proporsional sekalipun mereka beragama dan institusi keagamaan masih tegak berdiri, dan hal ini sekaligus mengkoreksi kualitas pendidikan-pendidikan agama di negeri ini yang belum terlihat berdampak pada perilaku manusia Indonesia secara umum.
Dalam konteks gereja hal ini disebakan oleh dua hal:
Pertama, dalam sumbangan dari konteks kristiani, Gereja, dalam hal ini sebagai agen yang menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam arti memperjuangkan kasih, keadilan, dan kebenaran dalam masyarakat, malah terlihat sama sekali belum berperan atau malah sudah kehilangan perannya sama sekali. Kelihatannya mayoritas pendidikan di dalam gereja dan oleh gereja masih berorientasi pada urusan-urusan internal yang cakupannya sangat terbatas. Bahkan tidak sedikit yang merasa soal-soal tersebut bukanlah urusan gereja dan membiarkan pemerintah mengambil alih urusan ini. Padahal sebenarnya gerejalah yang harus berperan aktif. Mengapa sebenarnya gereja harus terlibat dalam hal ini?
Tatkala Karl Barth memandang gereja sebagai institusi maka ia menjumpai ada 9 (Sembilan) unsur kelembagaan gereja yang salah satunya adalah pendidikan. Dengan kata lain ia sedang mengisyaratkan bahwa pendidikan dan gereja bukanlah hal yang terpisah dan gereja dalam hal ini berfungsi sebagai lembaga yang bertugas untuk mendidik. Dalam hal ini tercermin bahwa gereja tidak dapat melarikan diri dari unsur yang merupakan bagian dari pembentukan jatidirinya. Gereja harus mengambil peran sebagai ‘garam’ dan ‘terang’ dalam dunia pendidikan. Harry Blamires dalam “The Christian Mind” menulis bahwa yang masih ada sekarang ini adalah etika Kristen (orang masih bermoral dan berusaha untuk tidak berbuat hal memalukan) dan spiritualitas Kristen (orang masih beribadah), sedangkan pikiran Kristen (Christian Mind) sudah tidak ada. Pikiran-pikiran yang berkembang dalam benak jemaat seringkali bersandar pada pikiran-pikiran sekuler-humanistik yang egois sekalipun mereka adalah warga gereja dan dibina dalam dan oleh gereja.
Ancaman bagi pendidikan gereja dan oleh gereja bukanlah datang dari agama-agama lain. Malah gereja harus bekerjasama dengan agama lain dalam pembentukan moral dan karakter bangsa menghadapi ‘musuh bersama’ yakni sekularisme. Barth sudah lama melihat bahwa sekularisasi akan merupakan ancaman bagi gereja-gereja di kemudian hari. Ia berujar bila sekularisme itu tidak lain adalah kerasingan yang dialami gereja pada saat ia tidak mau mendengar suara Gembala yang baik, namun malahan mengikuti suara orang asing. Pendidikan yang sekuler-humanistik belakangan ini malah semakin merajalela bahkan ironisnya tidak memberi ruang yang memadai bagi pendidikan agama yang dikerjakan gereja dalam dunia pendidikan atau bahkan oleh agama-agama lainnya. Pendidikan agama kendatipun tetap ada seringkali lebih diarahkan pada pemahaman kognitif agama ketimbang rasa-afeksi atau internalisasi nilai-nilai, atau bahkan hanya sekedar pelengkap sebuah kurikulum yang berketuhanan namun dampaknya sangat kecil bahkan terkesan basa-basi.
Apa yang dikuatirkan Barth masih terasa relevan dengan situasi sekarang dimana pendidikan kita seolah terasing dari pengaruh agama dan lebih berpihak pada kecondongan menciptakan manusia kerja yang cerdas dan terampil namun berwatak serakah, aji mumpung, opurtunistis, sektarian, fanatik, introvert, hedonis, kehilangan rasa hormat, tidak disiplin, lihai bermain kotor, egois, tidak loyal, mudah disuap, tidak berpendirian teguh, mengorbankan nilai-nilai keluarga, acuh tak acuh memandang hukum dan aturan, dan tidak dapat menjadi teladan.
Kini secara konkrit apa yang sebenarnya yang harus gereja kerjakan? Kekristenan melalui gereja mendorong agar dunia pendidikan kembali dipengaruhi oleh pemahaman kristiani tanpa mengabaikan sumbangsih pandangan agama-agama lain, dan tanpa bermaksud mengubah sebuah universitas menajadi sebuah seminari teologi atau mengkristenkan berbagai universitas.
Kekristenan harus menjadi sebuah kekuatan yang bersatu juga dengan penganut agama yang lain untuk menghadapi “musuh” bersama (menurut Louis Berkhof dan Cornelius van Til) dengan prasyarat:
a. Filsafat pendidikan harus didasarkan pada sebuah pengakuan pendidikan dalam bidang apapun memiliki hubungan asasi dengan Tuhan.
b. Kurikulum tidak lagi humanistik tetapi pada sebuah teosentris yang bebas namun bertanggung jawab (bukan kaku atau legalis seperti tunduk pada Taurat).
c. Naradidik merupakan subyek sekaligus obyek pendidikan yang hanya akan tumbuh dengan benar bila diletakan berhadapan dengan Tuhan dan bukan terhadap dirinya sendiri.
Gereja dan agama-agama lainnya melakukan kaderisasi penguasaan ilmu pengetahuan dari berbagai bidang dengan mengutus, melatih, mendidik, mengirimkan dengan beasiswa semua kader-kader yang dianggap dan diperhitungkan kelak dapat menduduki posisi-posisi penting dalam semua strata pendidikan, sehingga dimungkinkan membawa kembali dunia pendidikan pada pikiran-pikiran yang menggarami dan bukan menyerahkannya pada kesesatan atheistik atau sekularisme-humanistik yang sempit.
Gereja mau terlibat aktif dalam sebuah penelitian, percakapan, bahkan dalam penyebaran pikiran-pikiran kristiani yang kembali ‘menggarami’ pola pikir dan gaya hidup masyarakat yang perlahan dan pasti sedang membusuk karena terlalu sering contoh-contoh buruk dipertontonkan kepada masyarakat.
Kedua, diabaikannya pikiran gereja dari lingkungan pendidikan juga dapat disebabkan oleh karena ketidakrelevanan berita gereja dalam konteks pendidikan bagi generasi muda dan bagi zaman modern karena pola pendekatan yang tidak diperbarui. Lyle Schaller, seorang konsultan gereja Amerika dari United Methodist mengemukakan bahwa gereja harus beradaptasi dengan era baru. Adaptasi di sini tidak berarti substansi pemberitaan Gereja harus diubah, tetapi yang mengalami perubahan adalah cara kita mengemas dan menyampaikan pesan Injil. Gereja seyogyanya harus mengemas isi pendidikannya sedemikian rupa agar mudah ditangkap dan dicerna oleh generasi muda sesuai zamannya. Pemutakhiran literatur pendidikan agama merupakan langkah yang harus dikerjakan gereja sesegera mungkin melalui jejaring gereja yang sudah ada (PGI dan yang sejenis) dengan berkoordinasi dengan berbagai pihak yang memungkinkan terwujudnya maksud tersebut. Namun yang terpenting yang harus disadari gereja adalah bahwa tanggung jawab itu berada di tangan gereja sendiri.
Daniel Zacharias
education from womb to tomb
11 Februari 2009
Pendidikan Yang Berorientasi Kehidupan:
Apa sebenarnya arah pendidikan kita? Agar siswa mendapatkan pekerjaan? Agar mereka menjadi duta-duta yang mengharumkan sekolah kita sehingga hal itu akan membuat sekolah kita akan diminati oleh banyak calom mahasiswa di masa yang akan datang? Atau menjadi sekedar kendaraan yang dapat kita pakai dalam rangka membantu pemerintah menampung tenaga kerja di negeri yang sedang langka-langkanya orang mendapatkan pekerjaan yang layak? Atau agar siswa dapat menjalankan kehidupan mereka dengan baik dan mengisinya dengan hal-hal yang bertanggung jawab? Setiap sekolah punya visi dan misi pendidikan namun pertanyaannya apakah visi dan misi itu sendiri sudah sejalan dengan hakikat visi dan misi pendidikan yang sesungguhnya? Dan apakah pelaksanaannya benar-benar tetap berada dalam koridor visi dan misi tersebut?
Jawaban itu bergantung pada sudut pandang dari pelaksana pendidikan itu sendiri. Alangkah baiknya bila kita sekarang kita merenungkan kisah berikut ini:
Ada tiga orang petani yang sedang mengolah sawahnya. Seseorang mendatangi mereka dan menanyai petani pertama,
“Apa yang sedang anda lakukan?”
“Lho, anda tidak melihat jika saya sedang membalik-balik tanah?”
Petani kedua ditanyai hal yang sama,
“Apa yang sedang anda lakukan?”
“Oh, saya sedang mempersiapkan penanaman padi”
Dengan pertanyaan yang sama petani ketiga menjawab,
“saya sedang memberi makan banyak orang”
Tiga petani melakukan hal yang sama namun orientasi jawaban mereka berbeda-beda. Petani pertama sangat pragmatis seolah tanpa tujuan. Tindakannya hanyalah sebuah aktivitas. Petani kedua memiliki tujuan yang realistis namun hanya berorientasi pada aktivitas diri sendiri. Petani ketiga memiliki tujuan yang idealis dan diarahkan kepada kepentingan banyak orang. Bagi saya jika ketiga pandangan tersebut digabung maka ada sebuah orientasi yang lengkap. Mulai dari orientasi yang mendetail dan terbatas sampai dengan membalik tanah sampai orientasi ideal yang cakupannya sangat luas.
Pelaksana pendidikan seringkali begitu berkeinginan untuk sekadar tujuan pragmatis dan realistis yang akibatnya seringkali mereka kehilangan tujuan idealisnya. Pendidikan yang hanya bertujuan membuat siswa cerdas dan trampil hanya membuat mereka secara kognitif dan psikomotorik terasah dengan baik namun segi afeksinya sering dikorbankan.
Disana sini beberapa dosen atau guru dengan otak dan keterampilan cemerlang seringkali dengan semena-mena mengorbankan nilai-nilai yang penuh kehormatan dan dengan naïf menggantinya dengan kekritisan berpikir ala barat yang telah kehilangan nilai-nilai luhur bangsa kita.
Penghormatan kepada yang lebih tua seringkali telah luntur karena siswa diajarkan untuk menghormati dan menyegani kepada pengajar yang “punya otak” dan “punya keterampilan”. Anak didik kita menjadi begitu cerdas dan trampil tapi tak punya sikap yang baik terhadap orang lain kecuali hanya buat mereka yang dapat memberikan anak-anak kita pekerjaan. Pendidikan kita bukan diarahkan kepada sebuah keutuhan kehidupan tetapi pada orientasi cari kerja, dapat uang, dan selesai. Kemudian kita mengukur keberhasilan pendidikan kita dari berapa banyak lulusan kita yang telah mendapat pekerjaan (alat ukur semacam ini hanya menguntungkan unsur kognitif dan ketrampilan saja tetapi sama sekali tidak mencerminkan keberhasilan mereka memiliki nilai-nilai kehidupan). Kehidupan tidak dilihat dari sekedar dapat kerja atau tidak, berjabatan atau tidak, tetapi juga berperilaku atau tidak.
Diseretnya pejabat-pejabat tinggi negara ke dalam sel karena perilaku buruk sebenarnya sedang memberitahukan kepada kita di masa kini bahwa pendidikan yang telah menggeser pendidikan nilai sedang melahirkan generasi-generasi yang hanya akan mengulang kesalahan orangtuanya.
Pendidikan agama di sekolah atau di kampus seringkali mendapat porsi dan perhatian di berbagai kalangan sebagai pendidikan suplemen yang ada atau tidak sama sekali tidak mempengaruhi. Pendidikan agama yang seharusnya memberi nilai bagi semua isi otak dan perilaku mahasiwa sering tidak dianggap penting. Pendidikan agama akhirnya menjadi sekadar basa-basi kurikulum. Tidak jarang kita jadi ikut-ikutan gaya barat yang atheis dengan menggeser mata kuliah agama dari sekolah atau kampus dengan alasan sekolah atau kampus bukanlah mesjid, gereja, pura, dsb. Mereka keliru besar, pendidikan agama justru membantu mahasiwa atau siswa melihat bidang telaah mereka dengan worldview yang bertanggung jawab dan etis. Cakupan pendidikan agama sebenarnya berangkat dari pemahaman dogma yang bertanggung jawab (ortodoksi) akan mengantarkan siswa kepada sebuah nilai-nilai yang bertanggung jawab (ortopathi) dan akhirnya bermuara pada perilaku yang benar (ortopraksis).
Pendidikan nilai seyogyanya harus berangkat dari pendidikan di dalam rumah (keluarga) sebagai basis pendidikan seseorang. Susahnya banyak orangtua tidak mengerti bahwa pendidikan nilai itu ada dalam rumah dan dia berpikir dengan menyekolahkan anaknya dia bisa terbebas dari tanggung jawab tersebut. Dan bila anaknya berkelakuan buruk maka dengan serta merta dia menyalahkan pihak sekolah sebagai tokoh dibalik kegagalan perilaku anaknya. Padahal anak tersebut belasan tahun berada di tangan orangtuanya dan baru satu dan dua tahun berada di kampus itu pun tidak setiap hari dan hanya beberapa jam. Dan itu semakin diperparah ketika para pengajar di sekolah juga tidak mau tahu soal nilai-nilai perilaku mahasiswa (entah karena tidak peduli atau karena sudah putus asa atau bosan mengingatkan) dan akhirnya lebih mengedepankan nilai-nilai aktual dari hasil evaluasi di atas kertas yang berbunyi A, B+, A- (amin!).
Skema yang baik buat pendidikan sebenarnya harus dimulai dari rumah sebagai lembaga primer pendidikan nilai. Para orangtua harus diingatkan untuk tidak hanya melahirkan anak dan memberi makan tetapi juga mendidik mereka dengan nilai-nilai sosial dan religius yang benar dan bertanggung jawab. Pendidikan di luar rumah adalah suplemen dari pendidikan nilai-nilai dalam rumah. Sehingga pendidikan di luar rumah jangan mengkhianati pendidikan dalam rumah dengan mengabaikan apa yang pernah diajarkan dalam rumah.
Perlu juga pihak sekolah mengamati perilaku para pengajar yang secara obyektif tidak hanya dilihat dari isi otak dan keterampilannya tetapi juga para perilakunya. Para pengajar seringkali memiliki kelemahan di sisi ini dan kemudian menggesernya dan menekankan secara berlebihan pada kepintaran dan keterampilan. Mereka menutupi perilaku tidak terpuji mereka dengan mengedepankan hal-hal yang membuat siswa terkagum-kagum (dan akhirnya tertipu): isi otak mereka yang luar biasa dan keterampilan mereka yang memukau. Prinsip mereka: “mendingan kelakuan buruk tetapi pintar daripada berkelakuan baik tetapi bloon”. Saya pikir prinsip semacam ini adalah sebuah pembodohan sekaligus penyesatan yang berangkat dari ketidakmampuan para cendekiawan mengelola norma yang bertanggung jawab dalam dirinya.
Rasanya sekarang kita menyimak akan kata-kata orang bijak di masa lalu: “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau”.
Daniel Zacharias
education from womb to tomb
21 Oktober 2008
Pendidikan Agama Kristen (PAK) Dewasa
A. PengertianPendidikan Agama Kristen (PAK) untuk orang dewasa melalui gereja bermaksud untuk menolong orang dewasa membebaskan dirinya sendiri dari setiap kebergantungan kecuali kebergantungannya pada Yesus.[1] Gereja dipanggil melalui PAK untuk menolong orang dewasa menemukan Allah yang aktif dalam setiap peristiwa kehidupan, mempercayakan hidup mereka dalam tarafnya yang paling dalam untuk alasan ini, dan untuk merayakan dengan sukacita perbuatan Allah yang sempurna dalam Kristus dan berlangsung terus melalui Roh Kudus.[2]
B. Tujuan
Tujuan PAK untuk orang dewasa adalah agar semua pribadi menyadari Allah lewat penyingkapan diri-Nya, khususnya melalui kasih-Nya yang membebaskan sebagaimana yang dinyatakan dalam Yesus Kristus, dan kemudian mereka memberi respon dalam iman dan kasih--yang pada akhirnya mereka boleh mengenal siapa diri mereka dan apa arti hidup, bertumbuh sebagai anak-anak Allah yang berakar dalam persekutuan Kristen, hidup dalam Roh Allah dalam setiap hubungan, memenuhi panggilan pemuridan bersama di dunia, dan tinggal di dalam pengharapan Kristen.[3]
C. Sasaran
1. Tingkat Usia: 25-ke atas, dengan pembagian;
- Masa Dewasa Dini: 25-40 tahun
- Masa Dewasa Madya: 40-60 tahun
- Masa Dewasa Lanjut (Lansia): 60-ke atas.[4]
2.a. Perkembangan Jasmani/Fisik [5]
- Pada masa dewasa dini terjadi apa yang disebut dengan puncak efisiensi fisik yang terjadi pada usia pertengahan duapuluhan dan terjadi penurunan lambat laun hingga awal usia empatpuluhan.
Pada masa dewasa madya terjadi perubahan fungsi fisik yang tak mampu berfungsi seperti sedia kala, dan beberapa organ tubuh tertentu mulai "aus". - Pada masa dewasa lanjut terjadi perubahan kondisi fisik ke arah yang memburuk dengan proses dan kecepatan yang berbeda-beda sesuai masing-masing individu. Dan pada masa ini keadaan fisik benar-benar semakin melemah dan tak berdaya sehingga harus bergantung pada orang lain.
Pada tahap Formal Operasional
- Pada tahap ini perkembangan intelektual dewasa sudah mencapai titik akhir puncaknya yang sama dengan perkembangan tahap sebelumnya (tahap pemuda). Semua hal yang berikutnya sebenarnya merupakan perluasan, penerapan, dan penghalusan dari pola pemikiran ini.
- Orang dewasa mampu memasuki dunia logis yang berlaku secara mutlak dan universal yaitu dunia idealitas paling tinggi.
- Orang dewasa dalam menyelesaikan suatu masalah langsung memasuki masalahnya. Ia mampu mencoba beberapa penyelesaian secara konkrit dan dapat melihat akibat langsung dari usaha-usahanya guna menyelesaikan masalah tersebut.
- Orang dewasa mampu menyadari keterbatasan baik yang ada pada dirinya (baik fisik maupun kognitif) maupun yang berhubungan dengan realitas di lingkungan hidupnya.
- Orang dewasa dalam menyelesaikan masalahnya juga memikirkannya terlebih dahulu secara teoretis. Ia menganalisis masalahnya dengan penyelesaian berbagai hipotesis yang mungkin ada. Atas dasar analisanya ini, orang dewasa lalu membuat suatu strategi penyelesaian secara verbal. Yang kemudian mengajukan pendapat-pendapat tertentu yang sering disebut sebagai proporsi, kemudian mencari sintesa dan relasi antara proporsi yang berbeda-beda tadi.
2.c. Perkembangan Psikososial [7]
Pada tahap Keintiman lawan Isolasi (20-30 tahun).
- Dalam tahap ini pemuda siap dan ingin untuk menyatukan identitasnya dengan orang-orang lain.
- Mereka mendambakan hubungan-hubungan intim-akrab, dan persaudaraan, serta siap mengembangkan daya-daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan daya-daya yang dibutuhkan untuk memenuhi komitmen-komitmen ini meskipun mereka harus berkorban.
- Para pemuda dalam tahap ini untuk pertama kalinya mereka mengembangkan daya-daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan genitalitas seksual yang sesungguhnya dalam hubungan timbal balik dengan mitra yang dicintainya.
Pada tahap Generativitas lawan Stagnasi (30-65 tahun).
- Pada tahap ini orang dewasa melampaui dunia terbatas keluarga intimnya dan membuka diri terhadap dunia masyarakat luas, untuk memberikan sumbanganya yang berarti.
- Pada tahap ini orang dewasa memasuki situasi antara rasa kebersamaan, sambil mengalahkan rasa kehilangan identitas.
- Dan pada tahap ini orang dewasa memasuki taraf memelihara dan mempertahankan milik yang ada.
Tahap Integritas Ego lawan Keputusasaan (65-ke atas).
- Pada tahap ini para lanjut usia (lansia) menghargai kontiunitas prestasi masa lampau dan melihat hidupnya yang berprestasi itu sebagai suatu langkah maju.
- Orang dewasa pada tahap ini berdasarkan perkembangan-perkembangan sebelumnya mulai belajar menjadi bijaksana.
2.d. Perkembangan Pengambilan Keputusan Moral[8]
Tahap Pasca-Konvensional: Orientasi Azas Etika Universal.
Pada tahap ini orang dewasa meyakini bahwa semua yang baik dan tidak ditentukan oleh keputusan suara batin, sesuai dengan prinsip-prinsip etis yang dipilih sendiri yang meluas dan universal.
2.e. Perkembangan Iman[9]
Tahap Kepercayaan Eksistensial Konjungtif (usia 25-45 tahun).
- Pada tahap ini ditandai adanya keterbukaan dan perhatian baru terhadapa adanya polaritas, ketegangan, paradoks, dan ambiguitas, dalam kodrat kebenaran diri dan hidupnya.
- Tahap Kepercayaan Eksistensial yang Mengacu pada Universalitas (usia 45-ke atas).
- Pada tahap ini pribadi sudah melampaui tingkatan paradoks dan polarisasi, karena gaya hidupnya sudah langsung berakar pada kesatuan dengan "Yang Ultim".
- Pada tahap ini pribadi sudah mampu meninggalkan atau melepaskan diri dari egonya.
D. Lingkungan dan Suasana Pembelajaran
1. Lingkungan
Randolph Crump Miller[10] menyatakan lingkungan pembelajaran PAK adalah:
- rumah
- sekolah umum
- gereja
- masyarakat
2. Pendidik:[11]
- orang tua
- guru
- jemaat
- masyarakat
3. Suasana Pembelajaran
Mengingat perkembangan kognitif orang dewasa menunjukkan bahwa mereka mampu membuat suatu analisa kritis dan suatu sintesa, juga secara perkembangan kepercayaan orang dewasa selalu menguji kembali semua keyakinan yang sudah diwariskan, maka dapat disebutkan di sini bahwa suasana belajar yang baik adalah suasana belajar yang kondusif. Artinya suatu suasana yang interaktif. Suasana di mana orang dewasa belajar aktif tanpa didikte oleh guru (guru memang tetap diperlukan) dan memberikan kesempatan buat orang dewasa untuk berpikir dan menganalisa bahan mensintesa sendiri.[12]
E. Materi Yang Sesuai
- "Mempertahankan Rumah Tangga"
- "Mempertahankan Keyakinan Diri"
- "HAM Dalam Kacamata Orang Percaya Modern"
- "Bagaimana Kuat Secara Iman Sekalipun Fisik Merosot"
- "Mengisi Hari Tua Dengan Keintiman Dengan Allah dan Sesama"
- "Menjadi Tua Yang Bijaksana dan Memberi Teladan".
F. Pilihan Metode
- Yang perlu diperhatikan di sini bahwa semakin tua usia orang dewasa maka semua metode yang unsur psikomotoriknya tinggi dikurangi (pertimbangan fisik yang semakin lemah).
- Sebenarnya metode-metode yang dapat dipakai adalah metode yang tidak berbeda jauh dengan metode yang dapat dilakukan oleh Pemuda, namun tetap dilaksanakan dengan tetap memperhatikan kekuatan fisik orang dewasa, antara lain:
· Ceramah
· Panel
· Tanya Jawab
· Simposium
· Brainstorming
· Buzz Group
· Studi Kasus
· Diskusi
· Forum
· Wawancara
· Peragaan peran
· Seminar
· Debat
· Kelompok Melingkar
· Induktif
· Demonstrasi
· Lokakarya
· Kunjungan Lapangan
G. Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan[13]
- Orang dewasa belajar sebagai pribadi yang total, artinya dalam proses belajar orang dewasa senantiasa membawa pengalaman total masa lampaunya.
- Orang dewasa belajar lebih efektif saat mereka menjadi partisipan yang aktif dalam pengalaman belajar.
- Orang dewasa sangat dipengaruhi oleh hubungan antar pribadi yang ada dalam sebuah pengalaman belajar.
- Seluruh pengalaman orang dewasa menyediakan pelajaran-pelajaran buat mereka sendiri.
- Setiap orang dewasa adalah individu-individu dengan keunikan kapasitas, kemampuan, minat, kebutuhan, perhatian, dan kesempatan masing-masing.
- Orang dewasa cenderung membuat menerima nilai-nilai dan sudut-sudut pandang dari pribadi-pribadi dengan siapa ia memiliki hubungannya yang signifikan.
- Orang dewasa belajar tidak pernah lengkap sampai ia timbul dalam sebuah tindakan yang sebenarnya (sesuai).
- Saat seorang dewasa telah belajar dengan efektif, hal ini akan merangsangnya untuk pelajaran selanjutnya dan itu akan menjadi motivasi diri bagi pelajaran baru.
- Guru dalam belajar memainkan peran yang penting dalam pembelajaran orang dewasa.
[1] William F. Case, "Adult Education in the Chuch". Marvin J. Taylor, penyunting. An Introduction to Christian Education (Nashville, New York: Abingdon Press, 1966), 205.
[2] Ibid.
[3] Ibid., 208.
[4] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Erlangga, 1997), 246.
[5] Ibid., 253, 326, 330,386-88.
[6] Jean Piaget, Antara Tindakan dan Pikiran (Jakarta: Gramedia, 1988), hal. 64-65; bd. William Crain, Theories of Development ( Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall, 1992), 121, 128-29;; F. J. Monks, et. al., Psikologi Perkembangan (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,1998), 224.
[7] Erik H. Erikson, Identitas dan Siklus Hidup Manusia (Jakarta: Gramedia, 1989), 212-18; Calvin S. Hall & Gardner Lindzey, Teori-teori Psikodinamik (Klinis) (Yogyakarta: Kanisius, 1993), 152-56.
[8] Lawrence Kohlberg, Tahap-tahap Perkembangan Moral (Yogyakarta: Kanisius, 1995), 233; Ronald Duska & Mariellen Whelan, Perkembangan Moral (Yogyakarta: Kanisius, 1982), 61.
[9] James W. Fowler, "Tahap-tahap Kepercayaan Eksistensial", A. Supratiknya, penyunting, Teori Perkembangan Kepercayaan (Yogyakarta: Kanisius, 1995), 34-37.
[10] Randolph Crump Miller, Education for Christian Living, edisi kedua (New Jersey: Prentice Hall, 1963), 99-164.
[11] Ibid.
[12] Ali Imron, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: Pustaka Jaya, 1996), 38.
[13] Case, op. cit., 209-10.
Daniel Zacharias
education from womb to tomb
Pendidikan Agama Kristen (PAK) Pemuda

Pendidikan Agama Kristen (PAK) untuk Pemuda bermaksud sebagai suatu usaha terencana untuk mempertemukan pemuda dengan Kristus melalui Injil, sehingga mereka mampu melihat diri sendiri sebagai pribadi yang sementara berkembang dalam segala hal, sekaligus memiliki tanggung jawab untuk medewasakan iman dan kasih, dan mampu merespon serta mengung-kapkannya dalam relasi dengan Allah dan sesama, maupun dalam keterlibatannya di dalam gereja.[1]
B. Tujuan
PAK Pemuda menolong para pemuda dan pemudi menyadari pengungkapan diri Allah dan mencari kasih dalam Yesus Kristus dan meresponnya dalam iman dan kasih, dan sampai akhirnya maka mereka boleh mengenal siapa mereka dan apa makna situasi kemanusiaan mereka yang bertumbuh sebagai putra-putri Allah yang berakar dalam paguyuban Kristen, hidup dalam Roh Allah dalam segenap hubungan-hubungan, memenuhi tugas kemuridan bersama dalam dunia, serta tinggal dalam pengharapan Kristen.[2]
C. Sasaran
1. Tingkat Usia: 18-25 tahun (Pemuda)
2. Tugas perkembangan dan ciri-ciri yang hendaknya sudah dicapai:
- Pada tahap ini perkembangan intelektual pemuda mencapai titik akhir puncaknya. Semua hal yang berikutnya sebenarnya merupakan perluasan, penerapan, dan penghalusan dari pola pemikiran ini.
- Pemuda sudah mampu memasuki dunia logis yang berlaku secara mutlak dan universal yaitu dunia idealitas paling tinggi.
- Dan pemuda dalam menyelesaikan suatu masalah maka ia langsung memasuki masalahnya. Ia sudah mampu mencoba beberapa penyelesaian secara konkrit dan hanya melihat akibat langsung usaha-usahanya untuk menyelesaikan masalah itu.
- Pemuda juga sudah mulai mempelajari bahwa sebuah konstruksi teoritis atau sebuah visi utopis hanya memiliki nilai dari relasi bagaimana hal itu tersusun dalam kenyataan.
- Pemuda juga sudah mampu menyadari keterbatasan baik yang ada pada dirinya maupun yang berhubungan dengan realitas di lingkungan hidupnya.
- Pemuda dalam menyelesaikan masalahnya juga memikirkannya terlebih dahulu secara teoretis. Ia menganalisis masalahnya dengan penyelesaian berbagai hipotesis yang mungkin ada. Atas dasar analisanya ini, ia lalu membuat suatu strategi penyelesaian secara verbal. Yang kemudian mengajukan pendapat-pendapat tertentu yang sering disebut sebagai proporsi, kemudian mencari sintesa dan relasi antara proporsi yang berbeda-beda tadi.
2.c. Perkembangan Psikososial
Pada tahap Keintiman lawan Isolasi [5]
- Dalam tahap ini pemuda siap dan ingin untuk menyatukan identitasnya dengan orang-orang lain. Mereka mendambakan hubungan-hubungan intim-akrab, dan persaudaraan, serta siap mengembangkan daya-daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan daya-daya yang dibutuhkan untuk memenuhi komitmen-komitmen ini meskipun mereka harus berkorban.
- Para pemuda dalam tahap ini untuk pertama kalinya mereka mengembangkan daya-daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan genitalitas seksual yang sesungguhnya dalam hubungan timbal balik dengan mitra yang dicintainya.[6]
2.d. Perkembangan Pengambilan Keputusan Moral[7]
- Pada tahap ini tindakan benar cenderung dimengerti dari segi-segi hak individual yang umum dan dari segi patokan-patokan yang sudah dikaji dengan kritis dan disetujui oleh masyarakat.
- Ada kesadaran yang jelas bahwa nilai-nilai dan opini pribadi itu relatif dan oleh karenanya perlu adanya peraturan prosedural untuk mencapai kesepakatan bersama.
2.e. Perkembangan Iman
Tahap Individual-reflektif [8]
- Tahap ini ditandai dengan lahirnya refleksi kritis atas seluruh pendapat, keyakinan dan nilai (religius) lama. Pemuda mulai menyadari bahwa seluruh sistem keyakinan, pandangan hidup, nilai dan komitmennya harus ditinjau kembali, diperiksa secara kritis, diganti, atau disusun ulang agar dapat menjadi sebuah sistem pemikiran dan arti relevan yang lebih eksplisit.
- Pemuda mulai dapat berefleksi dari kesanggupannya sendiri sebagai subyek yang aktif, kritis, dan kreatif. Dengan kata lain otoritas yang awalnya berada di luar dirinya, maka dalam tahap ini justru berada di dalam dirinya sendiri.
D. Lingkungan dan Suasana Pembelajaran
1. Lingkungan
Randolph Crump Miller[9] menyatakan lingkungan pembelajaran PAK adalah:
- rumah
- sekolah umum
- gereja
- masyarakat
2. Pendidik:[10]
- orang tua
- guru
- jemaat
- masyarakat
3. Suasana Pembelajaran:
- Mengingat perkembangan kognitif pemuda menunjukkan adanya kemungkinan mereka membuat suatu analisa kritis dan suatu sintesa, juga secara perkembangan kepercayaan pemuda berani menguji kembali semua keyakinan yang sudah diwariskan, maka dapat disebutkan di sini bahwa suasana belajar yang baik adalah suasana belajar yang kondusif. Artinya suatu suasana yang interaktif. Suasana di mana siswa belajar aktif tanpa didikte oleh guru dan memberikan kesempatan buat siswa untuk berpikir dan menganalisa sendiri.[11]
E. Materi Yang Sesuai
Pada tahap ini Pemuda diajarkan pokok-pokok seperti:
- "Hakekat hidup Kristiani dan Implikasinya"
- "Seks dan Pernikahan"
- "Tritunggal"
- "Kekudusan Hidup Kristiani"
- "Kepemimpinan Kristen"
- "Peranan Pemuda dalam Gereja"
- "Makna Persahabatan dan Pernikahan"
- "Mengambil Keputusan Secara Mandiri"
- "Apakah Mengikut Yesus Adalah Keputusan Yang Benar?"
- "Apakah Pergi ke Gereja Merupakan Keharusan?"
- "Jodoh di Tangan Siapa?"
- "Apakah Iman dan apakah Gereja itu?"
- "Apakah aku sudah bertumbuh dan berbuah dalam iman?"
- "Apa wujud pertumbuhan kerohanianku?"
- "Aku, gereja, dan agama-agama lain"
- "Aku, gereja, dan gereja-gereja lain".
F. Pilihan Metode-metode
Pada tahap ini Pemuda hampir dapat dikenakan metode-metode yang lebih banyak dari tahap sebelumnya dan hampir semua metode dapat dikenakan pada Pemuda, antara lain:
- Ceramah
- Panel
- Tanya Jawab
- Simposium
- Brainstorming
- Buzz Group
- Studi Kasus
- Diskusi
- Forum
- Wawancara
- Peragaan peran
- Seminar
- Debat
- Kelompok Melingkar
- Induktif
- Demonstrasi
- Lokakarya
- Kunjungan Lapangan
- Kamp Kerja
G. Hal-hal Lain Yang Juga Perlu Diperhatikan [12]
- Pelayanan PAK Pemuda harus menjadi salah satu komitmen utama gereja.
- Pemuda sendiri harus terlibat dalam setting pelayanan dan implementasinya.
- Pelayanan PAK Pemuda harus didasarkan pada rumusan teologi yang jelas, termasuk sebuah konsep dari hakekat dan tujuan gereja dalam masyarakat kota maupun desa.
- Pelayanan PAK Pemuda haruslah fleksibel.
- Pelayanan PAK Pemuda dapat dimungkinkan menjadi sebuah pelayanan yang tersebar: di luar gereja itu sendiri.
- Gereja harus belajar mendengar lebih dalam dan akurat sebelum bertindak dan berbicara.
- Respon gereja pada dunia kaum muda terletak pada kemampuannya untuk mengenal kehidupan yang sebenarnya di mana semua manusia dipanggil.
- Pelayanan PAK bagi Pemuda harus sungguh-sungguh ekumenis.
[1] Lewis Joseph Sherrill, The Struggle of the Soul (New York: The MacMillan Company, 1963), 131-32; lih. David Ng, Youth in the Community of Disciples (Valley Forge, PA: Judson Press, 1984), 21-22; bnd. Allen J. Moore, "The Church's Young Adult Ministry," Marvin J. Taylor, penyunting, An Introduction to Christian Education (New York: Abingdon Press, 1966), 197-98.
[2] "The Objective of Christian Education for Senior High Young People," The National Council of Churches of Christ in the U. S. A., 1958, sebagaimana dikutip dalam David Ng, Youth in the Community of Disciples (Valley Forge, PA: Judson Press, 1984), 21-22.
[3] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Erlangga, 1997), 246-53.
[4] Jean Piaget, Antara Tindakan dan Pikiran (Jakarta: Gramedia, 1988), hal. 64-65; bnd. William Crain, Theories of Development ( Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall, 1992), 121, 128-29; lih. F. J. Monks, et al., Psikologi Perkembangan (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1998), 224.
[5] Erik H. Erikson, Identitas dan Siklus Hidup Manusia (Jakarta: Gramedia, 1989), 212-13; Erik H. Erikson, "Youth: Fidelity and Diversity", Erik H. Erikson, penyunting, Youth: Change and Challenge (New York: Basic Books, 1963), 8-9; bnd. Calvin S. Hall & Gardner Lindzey, Teori-teori Psikodinamik (Klinis) (Yogyakarta: Kanisius, 1993), 152-53.
[6] Moore, op. cit. 199, Ross Synder sebagaimana dikutip Moore menggu-nakan istilah yang berbeda dengan Erikson. Ia memakai kata Memiliki lawan Isolasi (Belonging vs. Isolation). Baginya istilah ini lebih dalam maknanya dari kata intimitas (Belonging is more than being with another, …"creating a co-personal world").
[7] Lawrence Kohlberg, Tahap-tahap Perkembangan Moral (Yogyakarta: Kanisius, 1995), 233; Ronald Duska & Mariellen Whelan, Perkembangan Moral (Yogyakarta: Kanisius, 1982), 61.
[8] James W. Fowler, "Tahap-tahap Kepercayaan Eksistensial", A. Supratiknya, peny. Teori Perkembangan Kepercayaan (Yogyakarta: Kanisius, 1995), 189-201.
[9] Randolph Crump Miller, Education for Christian Living, edisi kedua (New Jersey: Prentice Hall, 1963), 99-164.
[10] Ibid.
[11] Ali Imron, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: Pustaka Jaya, 1996), 38.
[12] Moore, op. cit., 200-01.
education from womb to tomb
20 Oktober 2008
Pendidikan Agama Kristen (PAK) Remaja

Robert L. Browning mendefenisikan upaya PAK Remaja sebagai suatu upaya menolong para remaja "menjelajahi seluruh medan hubungan-hubungan", mengalami selaku remaja "dalam terang Injil", menemukan kepribadian yang tepat, dan menerima tanggung jawab bagi makna dan nilai yang menjadi jelas bagi mereka ketika mereka mengidentifikasikan diri mereka sendiri dengan tujuan dan misi gereja dalam dunia.[1]
B. Tujuan
Di mata Browning tujuan PAK Remaja seharusnya sama dengan tujuan total gereja. Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa tujuan PAK Remaja adalah mengasuh para remaja dalam paguyuban Kristen sehingga mereka dapat mendengar Injil dan mengalami maknanya, menyadari kasih Allah hidup mereka, dan meresponnya dalam iman dan kasih.[2]
C. Sasaran
1. Tingkat usia: 13-18 tahun (remaja).
2. Tugas perkembangan dan ciri-ciri yang hendaknya sudah dicapai:
- Pada masa ini remaja mengalami kematangan organ seks tetapi belum berfungsi secara penuh.[3]
- Akibat perkembangan fisik ini (khususnya dari segi seksual) akan berdampak pada hubungan "kasualitas" yang berjalan dari aspek fisik ke aspek psikososial.[4]
2.b. Perkembangan Kognitif
Tahap operasi formal (11-15 tahun); Pada tahap ini remaja diharapkan telah mencapai kematangan intelek di mana ia sudah mampu berpikir jauh melampaui dunia real dan keyakinan sendiri dan sudah mulai mampu berpikir ilmiah (hipotetis-deduktif) dan sistematis serta tidak lagi sekedar meniru orang lain.[5]
2.c. Perkembangan Psikososial
Tahap Identitas lawan Kebingungan Peran (12-19 tahun); Pada tahap ini diharapkan remaja sudah dapat menentukan identitasnya yang jelas mengingat pada tahap ini remaja rentan sekali terhadap pengaruh luar demi sebuah "kesetiaan" atau "pengabdian" melalui konfirmasi ideologi-ideologi dan afirmasi dari kawan-kawan.[6]
2.d. Perkembangan Pengambilan Keputusan Moral[7]
- Tahap Orientasi Anak Baik; Pada tahap ini remaja biasanya melakukan perbuatan baik yang digerakan oleh keinginan-keinginan agar diterima dan disetujui oleh orang lain.
- Tahap Orientasi Hukum dan Ketertiban; pada tahap ini perilaku yang baik adalah semata-mata melakukan kewajiban sendiri, menghormati otoritas dan menjaga tata tertib sosial yang ada, sebagai yang bernilai dalam dirinya sendiri.
2.e. Perkembangan Iman[8]
Tahap Kepercayaan Sintetis-Konvensional (usia 12-17 tahun); pada saat ini remaja membentuk pandangan hidupnya melalui apa yang dipercayai oleh keluarganya sendiri, ke arah pandangan dari luar.
D. Lingkungan dan Suasana Pembelajaran
1. Tempat:
- Gereja (Kelas Remaja)
- Sekolah
- Rumah
- Masyarakat
2. Pendidik:
- Guru Sekolah Minggu Remaja/Jemaat
- Guru Agama Kristen
- Orang tua
- Masyarakat
E. Materi Yang Sesuai
- Untuk remaja yang sedang bertumbuh secara fisik berkenaan dengan masa pematangan seksual perlu diajarkan pokok "Seks Dalam Pandangan Alkitab".
- Remaja yang dari segi psikososial sementara sedang bertarung secara ideologis dengan berbagai macam tokoh dan isme sehingga perlu diperkenalkan mengenai Ajaran-ajaran Yesus dan tokoh Yesus sendiri dalam bahasa remaja dan bila perlu dibandingkan dengan tokoh-tokoh seperti Marthin Luther King Jr, Mahatma Gandhi, atau Mother Theresa.
- Perlu juga diajarkan mengenai "Li" (Cofucius) atau "Arete" (Plato) masing-masing sebagai Terang dan Garam dunia guna melawan kekaburan peran dalam gereja.
F. Metode:
- ceramah
- tanya jawab
- seminar
- diskusi
G. Hal-hal Lain
1. Gereja atau sekolah harus belajar melihat segi-segi pengajarannya melalui kacamata remaja.[9]
2. Gereja harus menempatkan suatu tujuan yang jelas mengenai peran remaja dalam gereja mengingat krisis identitas sedang melanda usia ini.
[1] Robert L. Browning, "The Church's Youth Ministry", Marvin J. Taylor, Penyunting, An Introduction to Christian Education (New York: Abingdon Press, 1966), 181.
[2] Ibid., 182.
[3] Elizabeth Hurlock, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1997), 209-11.
[4] F. J. Monks, et al., Psikologi Perkembangan (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1998), 265.
[5] William Crain, Theories of Development (New Jersey: Prentice Hall, 1992), 119-21.
[6] Erik H. Erikson, Identitas dan Siklus Hidup Manusia (Jakarta: PT. Gramedia, 1989), 212; Calvin S. Hall & Gardner Linzey, Teori-teori Psikodinamik (Klinis) (Yogyakarta: Kanisius, 1993), 151.
[7] Lawrence Kohlberg, Tahap-tahap Perkembangan Moral (Yogyakarta: Kanisius, 1995), 232.
[8] A. Supratiknya, Teori-teori Perkembangan Kepercayaan (Yogyakarta: Kanisius, 1995), 30-32; bnd. Charles M. Shelton, SJ., Spiritualitas Kaum Muda (Yogyakarta: Kanisius, 1995), 57-59.
[9] op. cit. Robert L. Browning, 184.
education from womb to tomb
18 September 2008
Mengapa Pendidikan Sering Kurang Berhasil?
Pendekatan pendidikan dan pengajaran kita seringkali tidak tuntas walau kita menguasai berbagai teori pendidikan bahkan menguasi pula teknologinya. Sebaiknya pendekatan pendidikan itu harus lengkap dan berkesinambungan. Pendekatan yang dimaksud di sini adalah pendekatan: tahap pertama face to face, kemudian mind to mind, dan heart to heart, serta dan akhirnya action to action. Teori semacam ini bertebaran di berbagai literatur dan jurnal, tetapi prakteknya selalu tidak tuntas dan tanggung.
Langkah Pertama: Face to face
Artinya penanaman nilai yang lebih akurat adalah penanaman yang bersifat pribadi ketimbang perkelompok apalagi perkelas. Kelompok yang terlalu besar atau kelas misalnya terkadang lebih mengedepankan kebersamaan tinimbang individu yang unik dan potensial. Hal ini sama sekali jauh dari pengertian individualistis. Face to face memungkinkan antara pendidik dan naradidik memiliki hubungan yang bersifat pribadi dan memiliki pengenalan yang dalam. Naradidik tidak dilihat dari kehadirannya tetapi dari relasinya dengan pendidik.
Pendidikan jarak jauh bisa-bisa saja terjadi tetapi tetap mengurangi jiwa pendidikan itu. Pendidikan akhirnya hanyalah perpindahan informasi yang gersang tanpa sentuhan emosi manusia yang sarat dengan cinta (baca: kasih) dan marah. Guru bisa mengajar cinta tetapi juga mengajar marah dalam koridor konstruktif dan penuh dengan kendali.
Orangtua seringkali kehilangan kesempatan mendidik karena langkah pertama face to face terabaikan. Face to face tak tergantikan bahkan dengan monitor televisi tercanggih sekalipun. Manusia adalah mahluk sosial yang memerlukan tanggapan, perhatian, rangkulan dan sentuhan yang konstruktif-eskpresif (istilah yang dipergunakan untuk menghindari rangkulan dan sentuhan yang bersifat destruktif misalnya pelecehan).
Face to face memerlukan harga yang sangat mahal untuk kita bayar. Face to face memerlukan orangtua yang siap untuk hadir buat anak-anaknya. Orangtua yang siap mengorbankan waktunya bahkan zona nyamannya untuk memberi perhatian yang lebih. Atau pendidik yang menghadapi naradidiknya sebagai pribadi bukan sebagai alat bantu untuk mempertahankan profesi dan gaji saja.
Langkah Kedua: Mind to mind
Mendidik tidak saja soal nilai tetapi juga dasar-dasar yang logis dan aplikasi meluas dari nilai-nilai tersebut dalam ruang lingkup keseharian. Mendidik juga pada akhirnya membutuhkan aspek pengajaran yang berisi tentang pengertian dan pengetahuan.
Paulo Freire, pakar pendidikan, soal bagian kedua ini memang tidak bermaksud menjabarkan mind to mind sebagai sekedar sebuah transfer pengetahuan sehingga otak naradidik digambarkan sebagai celengan babi. Pengetahuan dan pengertian yang dimaksud bukanlah sebuah hafalan mati rumus-rumus, daftar obat, petunjuk-petunjuk, nama-nama pengarang buku, tetapi lebih dari itu ada sebuah pemahaman yang mendalam.
Murid-murid mengetahui kalau phi=22/7 atau 3,14 dalam memahami perhitungan sebuah lingakaran. Tetapi mengapa harus 22 dan mengapa harus dibagi 7 seringkali naradidik hanya sampai pada menghafal mati rumus tanpa tahu itu dari mana dan akan jadi apa. Pendidik dan pengajar tidak memberikan pemahaman dari isi kepalanya dan membiarkan anak didik memahami seperdelapan dari apa yang dimiliki sang guru.
Langkah Ketiga: Heart to heart
Ada guru yang bisa menyentuh emosi positif dari anak didiknya tetapi ada guru yang hanya memuaskan otak anak didiknya. Mereka yang berhasil menyentuh emosi anak dan membangun emosi tersebut maka guru tersebut berhasil membawa anak itu jauh lebih dalam tinimbang mengisi otaknya. Mengajar penuh kasih dan menyentuh hati menolong anak didik di bidang apapun akan sangat bersemangat bahkan mengetahui apa yang harus dia lakukan selanjutnya dengan pelajaran yang sedang ia tekuni.
Tidak sedikit pendidik tidak mau capai-capai memasuki wilayah ini. Baginya asal murid menjawab dengan benar maka tugasnya sudahlah selesai. Kalau itu yang ditujunya maka keberhasilan guru itu baru setengah jalan. Bukankah sudah berulang kali kita menyaksikan bagaimana anak-anak yang tinggi nilai agamanya yang berhasil menjawab dengan tepat dan cepat soal-soal agama ternyata terlibat dalam kejahatan dan dekadensi moral? Jangan kita biarkan emosi anak-anak dirasuki nilai-nilai liar yang berdampak sangat buruk. Di satu sisi mereka sangat terdidik tetapi dalam prakteknya mereka seolah tidak terdidik. Ironis!!!
Langkah Keempat: Action to action
Tujuan utama dari sebuah pendidikan dan pengajaran adalah perubahan dalam tindakan. Pendidikan dan pengajaran yang tidak bermuara ke arah ini adalah sebuah kegagalan. Sekolah-sekolah unggulan yang mahal sekarang berdiri dimana-mana. Orang-orangtua bersaing menempatkan anak-anaknya di bangku terdepan karena mendengar para guru berasal dari kalangan ekspatriat atau lulusan sekolah luar. Sama sekali tidak ada pertimbangan kompetensi yang jauh lebih dari itu.
Paulus mengajar Timotius dengan mengatakan “ikutilah teladanku”. Paulus mendidik anak rohaninya lebih dari sebuah acuan referensi dan keterampilan ini itu, ia sampai pada pendidikan yang memberikan teladan.
Wahai para pendidik jangan berhenti pada face to face dan mind to mind tetapi lebih yaitu heart to heart dan action to action.
Tuhan memberkati!
Daniel Zacharias