Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

25 September 2009

MEMBACA ITU PENTING (Andrew Ho)

Saya pilih menjadi orang miskin yang tinggal di pondok penuh buku daripada menjadi raja yang tak punya hasrat untuk membaca"- Thomas Babington Macaulay (1800-1859), sejarawan Inggris.

Membaca merupakan aktifitas yang menyenangkan sekaligus mencerahkan. Membaca membantu kita lebih berwawasan, sukses dan hidup lebih baik. Tetapi ternyata kegemaran membaca belum dimiliki mayoritas orang, sebab mereka belum mengerti berjuta manfaat dari membaca. Berikut ini adalah beberapa manfaat dari membaca, yang mungkin dapat menggugah semangat dan kemauan Anda untuk melahap isi buku-buku bacaan.

1. Membaca membangun fondasi yang kuat untuk dapat mempelajari dan memahami berbagai disiplin ilmu sekaligus mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Senang membaca meningkatkan kecerdasan verbal dan lingusitik karena membaca memperkaya kosa kata dan kekuatan kata-kata.
3. Membaca mencegah rabun mata, karena membaca melatih dan mengaktifkan otot-otot mata.
4. Membaca mencegah kepikunan karena melibatkan tingkat konsentrasi lebih besar, mengaktifkan dan menyegarkan pikiran.
5. Kegemaran membaca membantu meningkatkan kecerdasan, serta meningkatkan daya kreatifitas dan imajinasi.
6. Membaca membantu memperbaiki rasa percaya diri, mengembangkan kemampuan memanajemen emosi dan meningkatkan kemampuan melakukan interaksi sosial positif dimanapun dan kapanpun.
7. Membaca membentuk karakter dan kepribadian, sampai-sampai ada pepatah yang mengatakan, “Apa yang kita baca sekarang, seperti itulah kita 20 tahun yang akan datang”.
8. Membaca menjadikan kita lebih dewasa, lebih arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan.

Membaca adalah kegiatan yang sarat manfaat dan sangat penting dalam kehidupan kita. Banyak orang sukses dan cerdas dikarenakan kecintaan mereka membaca buku dan belajar. Oleh sebab itu tingkatkan intensitas membaca terutama di waktu senggang Anda, dan berikut ini adalah beberapa hal menarik untuk membangkitkan semangat membaca.

1. Sesuaikan tingkat bacaan dengan tingkat kosa kata, sebab keengganan meneruskan bacaan seringkali dikarenakan kita sulit memahami arti katanya.
2. Luangkan waktu secara rutin untuk membaca, misalnya setengah jam per hari, karena langkah ini lambat laun akan meningkatkan kemampuan memahami berbagai gaya tulisan dan kosa kata baru.
3. Mencoba menulis tentang apapun yang dianggap menarik, misalnya tentang perasaan, pengalaman, cara memandikan kucing, menanam pohon , memasak kue dan lain sebagainya. Mencoba menulis akan meningkatkan minat membaca.
4. Berusaha menggunakan waktu untuk membaca dengan selalu membawa bahan bacaan dimanapun berada. Simpan buku atau majalah dalam tas, ruang keluarga atau tempat yang sering Anda gunakan, sehingga memungkinkan Anda menjangkau dan membaca.
5. Tentukan berapa banyak buku yang ingin Anda baca dalam kurun waktu tertentu. Mulailah memasang target dengan disiplin tinggi, karena langkah ini melatih kemampuan meluangkan lebih banyak waktu untuk membaca lebih banyak hal.
6. Buatlah daftar buku yang sudah Anda baca dan catatan isi buku tersebut. Simpanlah catatan tersebut dengan rapi di tempat favorit Anda, misalnya di buku harian, di komputer, di lemari, dan lain sebagainya.
7. Matikan televisi, karena televisi tidak mengajak kita aktif belajar dan berpikir kreatif. Daripada waktu terbuang untuk memindah channel televisi mencari acara televisi yang bagus, bisa jadi waktu tersebut sudah cukup banyak untuk menyelesaikan membaca sebuah buku.
8. Bergabunglah dengan kelompok baca, dimana dalam periode tertentu para anggotanya berkumpul untuk mendiskusikan topik bacaan yang telah sama-sama tentukan sebelumnya. Berkomitmen terhadap kelompok baca memberikan momentum yang lebih besar untuk menyelesaikan bacaan buku, dan menciptakan forum yang luar biasa untuk berdiskusi dan bersosialisasi seputar tema buku.
9. Sering-seringlah mengunjungi toko buku atau perustakaan, karena kesempatan melihat-lihat buku akan melatih mental membaca sebagai kebutuhan dan menginspirasi banyak hal baru yang menarik untuk dibaca.
10. Bangunlah strategi, yaitu dengan menentukan sendiri cara yang baik menurut Anda untuk meningkatkan aktifitas membaca, sehingga Anda semakin rajin membaca dan mendapatkan manfaat yang lebih besar dari buku yang Anda baca.

Kembangkan terus minat baca Anda, karena membaca dapat meningkatkan kemampuan, terutama kemampuan untuk menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana. Tingkatkan intensitas membaca dengan memanfaatkan waktu luang semaksimal mungkin untuk membaca. Membaca merupakan salah satu investasi yang baik dari waktu kita.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best-seller.Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com


Daniel Zacharias
education from womb to tomb

06 Oktober 2007

Dunia Buku Petualangan

Humaniora - KOMPAS
Sabtu, 06 Oktober 2007

Tia Setiadi

"Sebelum melakukan petualangan fisik—dalam hidupku, setidaknya—ada petualangan bersama buku-buku. Buku-buku itu menuturkan kepadamu dunia yang maha luas, namun sungguh tercakup. Penuh dengan kemungkinan-kemungkinan."

Itulah pengakuan Susan Sontag, seorang esais dan novelis perempuan terkenal Amerika Serikat dalam sebuah esai memukau: Homage to Halliburton, yang terhimpun dalam buku Where The Stress Fall. Dalam esai ringkas tersebut, Sontag mengisahkan ihwal pertautannya dengan buku. Pada umur tujuh tahun, ia membaca Book of Marvels, buku yang merekam pengembaraan Halliburton ke tempat-tempat yang menakjubkan dan menantang: Tembok Besar China, Grand Canyon, Masjid Biru di Isfahan, Lhasa, Delphi, Taj Mahal, dan banyak lainnya. Hallington menyebut tempat-tempat itu sebagai "mukjizat". Dan, gadis kecil itu pun terpesona. Di benak gadis kecil itu, menjadi petualang dan penulis seperti Halliburton merupakan suatu proses menjalani hidup dengan rasa serba ingin tahu yang tak pernah berkesudahan, dengan energi dan kegairahan yang melimpah. Pikiran itu begitu kuat tertanam dalam diri Sontag kecil, bahkan hingga jauh pada kemudian hari. Puluhan tahun kemudian, Sontag mengunjungi sendiri tempat-tempat ajaib yang dipaparkan dalam Book of Marvels dan dia pun menjadi penulis terkenal.

Perihal seberapa jauh buku- buku karya Halliburton telah memengaruhinya untuk bermimpi menjadi seorang penulis, dengan takzim Sontag menyatakan: "Ketika aku mengenang kembali kini, betapa besarnya pengaruh buku-buku Halliburton kepadaku pada masa-masa awal riwayat bacaku, aku melihat betapa kata "petualang" telah menyusup, mengharumi, dan menghasut lahirnya impianku untuk menjadi seorang penulis; sebab apakah penulis itu selain seorang petualang mental?"

Bocah dari Jawa Tengah
Dalam waktu yang tidak terpaut jauh dengan saat Sontag pertama kali membaca Book of Marvels, nun di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, juga ada seorang anak lelaki yang mengalami hal yang hampir serupa. Anak lelaki itu memang terbiasa ikut bermain bersama teman-teman sebayanya, namun ia merasa ada sesuatu yang berbeda antara dirinya dengan anak-anak lainnya. Dan, beda itulah yang membuatnya sudah mulai berpetualang dengan buku-buku, dan tak bisa kembali lagi selamanya. Hanya saja, "Waktu itu, dia tak tahu bahwa khayalan- khayalannya menggelikan kawan sepermainannya. Ketika untuk beberapa lama, sambil bermain bola, dibayangkannya padang- padang prairie, meskipun yang mengitarinya tidak lebih dari lapangan rumput bekas pabrik di mana sebatang randu tua tegak dan pohon-pohon mangga melebat." Bagi anak laki-laki itu, yang di kemudian hari menuliskan petualangan kreatifnya dalam Potret Seorang Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang, "Bukan suatu perbuatan bodoh jika seseorang meminjamkan buku terjemahan Treasure Island kepada rombongan ketoprak amatir desa, yang sedang sibuk mencari sebuah kisah seru setelah mementaskan Damarwulan…." Anak lelaki itu kini telah menjadi salah seorang penyair dan esais terkuat Indonesia, dan juga telah menjadi seorang "petualang". Dialah Goenawan Mohamad. Sejauh mana petualangan yang telah dilakukan Goenawan, bisa kita simak, di antaranya, dalam puisi-puisinya. Kalau kita membaca Sajak-sajak Lengkap Goenawan Mohamad (1961-2001), kita akan digamit oleh Goenawan untuk berpetualang ke tempat-tempat jauh; ke Sarajevo, Berlin, Hiroshima, Nanking, Praha, dan tempat- tempat lainnya.
Maka, begitulah anak lelaki dari kota kecil Batang yang "punya khayalan-khayalan yang menggelikan bagi kawan-kawan sepermainannya" dulu itu, yang sekarang telah menjadi "petulang mental" sekaligus "petualang fisik" yang mengagumkan.

Keterbatasan Kant
Yang sangat mencengangkan, menurut saya—barangkali juga terasa agak ganjil—adalah kisah petualangan Immanuel Kant. Syahdan, pada suatu masa dalam kehidupan Kant yang tak terlalu berbahagia, dia pernah menjadi guru besar geografi. Padahal—astaga!—Kant sama sekali tak pernah melihat gunung seumur hidupnya. Bahkan, dia sama sekali tak pernah melihat lautan, yang sebetulnya hanya berjarak sekitar dua puluh mil dari tempat tinggalnya.
Perjalanan fisik yang dilakukan Kant tak pernah melewati batas-batas kota kecilnya, di Konigsberg. Dan, untuk perjalanan ini, Kant sudah memiliki jadwal waktunya sendiri. Dengan jaket abu-abu dan tongkat di tangannya, Kant akan muncul dari balik pintu rumahnya dan berjalan ke arah sebuah jalan setapak yang dihiasi pohon-pohon linden. Inilah yang disebut dengan "Philosopher’s Walks", dan semua orang tahu persis bahwa saat itu jam menunjukkan angka setengah empat tepat. Kant memang selalu menggunakan waktu tersebut untuk berjalan-jalan, pada musim apa pun.

Ajaibnya, kendati petualangan fisik Kant sangat terbatas, Kant mampu memberikan kuliah-kuliah geografi dengan penggambaran yang sedemikian cerdas, memukau dan hidup, hingga mampu membuat seluruh pendengarnya membayangkan tempat-tempat yang dipaparkannya. Dari mana Kant beroleh pengetahuan geografi yang menakjubkan itu, tanpa berkelana secara fisik? Dari buku-buku.

Kant seorang petualang mental yang sangat ulung. Dari caranya berbicara dan risalah-risalah yang ditulisnya, orang akan segera tahu betapa Kant telah melakukan perjalanan yang begitu jauh melalui wilayah-wilayah etika dan epistemologi yang penuh onak. Bahkan, melampaui Ultima Thule (jarak terjauh) logika yang berbahaya hingga menembus lorong ilmu yang paling gelap dan paling jauh dari peradaban, yakni metafisika.

Kisah tentang Sontag, Goenawan, dan Kant di atas meneguhkan kenyataan yang tak terbantahkan ini: pentingnya buku-buku dalam pembentukan kepribadian seseorang. Sedihnya, di Indonesia, kini, buku-buku boleh dibilang telah menjadi spesies yang langka. Yang saya maksud ialah buku-buku yang mampu memberikan kedalaman dan efek kesegaran bagi jiwa.
Buku-buku yang menginterogasi keyakinan-keyakinan kita yang sudah usang. Yang mempertanyakan, yang menggugat, yang mengajak kita berkelahi dengan kedunguan sendiri, yang menantang kita untuk bertualang ke tempat-tempat, yang bahkan belum terpetakan, mungkin tanpa "jalan pulang".

Yang membeludak dan laku hanya buku-buku yang sekadar pantulan dari realitas televisi kita. Buku-buku yang disebut Sontag dengan tepat sebagai bookscreen, yaitu buku-buku tentang seks, tentang menjadi jutawan dengan cara instan, tentang manajemen, tentang gosip, dan seterusnya. Ya, buku-buku "sejati" sangat langka di Indonesia. Padahal, ah, izinkan saya mengutip Sontag lagi di penghujung tulisan ini, masih dari buku Where The Stress Fall, tapi dari esai A Letter to Borgers.

"Jika buku-buku musnah, sejarah akan musnah dan umat manusia juga akan musnah … buku-buku bukan cuma penjumlahan dari mimpi-mimpi dan ingatan kita, tapi juga memberikan kepada kita model transendensi diri. Banyak orang yang mungkin berpikir bahwa membaca hanyalah sejenis pelarian: pelarian dari dunia riil sehari-sehari ke dunia imajiner, yaitu ’dunia buku-buku’. Tapi, buku-buku lebih dari itu: buku-buku adalah jalan untuk menjadi manusia yang ’penuh seluruh’."

Tia Setiadi
Penikmat Buku