Tampilkan postingan dengan label Akrab Dengan Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akrab Dengan Allah. Tampilkan semua postingan

18 Juni 2009

Akrab Dengan Allah: Keakraban Menghasilkan Kedewasaan Rohani

Efesus 4:11-16

Ada beberapa pemandangan yang lebih menarik dibandingkan persahabatan serta pertalian yang akrab antara ayah dan anaknya ketika sang anak memasuki masa dewasanya. Saling menghargai dan saling berbagi pikiran serta pengalaman dengan cara yang makin mendalam mewarnai komunikasi mereka. Satu sama lain saling menikmati.Bentuk hubungan seperti itulah yang Allah ingin pertahankan dengan anak-anak-Nya ketika mereka beranjak makin dewasa. Sama seperti ayah yang penuh perhatian merasa senang ketika mengalami anak yang bertumbuh dalam kedewasaan karakter yang mencakup segalanya, Allah pun bersukacita ketika melihat bahwa di dalam diri anak-anak-Nya terdapat sebuah kesetaraan yang semakin mirip dengan anak-Nya-manusia satu-satunya yang dewasa decara sempurna. Kedewasaan seperti ini membuka pintu untuk keakraban yang senantiasa makin mendalam, dan pada gilirannya keakraban itu memungkinkan dan mempercepat kedewasaan rohani dan kedewasaan karakter.

Kata Yunani untuk "kedewasaan"-teleois-suatu akhir, suatu tujuan, atau batas", kaya akan makna. Kata tersebut menggabungkan dua gagasan: (a) pencapaian standar tertentu, dan (b) pencapaian sasaran tertentu. Mengenai penggunaan kata dalam Matius 5:48 itu, A. T. Robertson berkata, "inilah sasaran yang ditentukan di depan kita, standar mutlak dari bapa Sorgawi kita. Kata itu digunakan juga untuk kesempatan relatif, sebagaimana orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak."

Sebagaimana ditunjukkan oleh Paulus, kata itu berarti "dibawa pada kesempurnaan, dewasa sepenuhnya, tidak kekurangan apa-apa". Dalam suratnya kepada orang Kristen di Efesus, ia memberi tahu mereka bahwa jemaat yang mempunyai karunia Roh mempunyai perannya sediri yaitu "untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak ... kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah kepala" (Efesus 4:12-15, cetak miring ditambahkan).

Perhatikan penekanannya-menjadi dewasa, bukan lagi anak-anak bertumbuh. Dan, standar yang digunakan untuk mengukur kedewasaan itu dinyatakan dengan jelas "tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristuas". Bagaimanakah penampilan orang Kristen yang dewasa? Ia akan terlihat seperti Kristus. Kedewasaan rohani, yang dinyatakan dengan istilah yang paling sederhana, yaitu kondisi seperti Kristus. Kita hanya menjadi dewasa sejauh kita menjadi serupa dengan Dia. Konsep itu didukung dengan fakta bahwa ketika kita mencapai kedewasaan penuh pada kedatangan Kristus yang kedua kalinya, "Kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya" (I Yohanes 3:2).

Dalam Efesus, rasul Paulus menghubungkan kedewasaan kita dengan "pengetahuan yang benar tentang Allah" (4:13). Mengenal Dia secara lebih lengkap dan lebih mendalam ialah sebuah faktor yang penting dalam mencapai subuah kedewasaan, dan itu merupakan suatu hal yang perlu untuk senantiasa bertumbuh, karena kita didesak untuk "bertumbulah dalam kasuh karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan juruselamat kita, Yesus Kristus" (2 Petrus 3:18). Idealnya, kita mengawali kehidupan rohani kita sebagai bayi di dalam Kristus; lalu kita bergerak maju menginjak masa remaja rohani; akhirnya kita mencapai status orang dewasa yang matang. Pola hidup dabnn pertumbuhan yang fundamental ini terjadi di alam rohani maupun di alam fisik.

Tingkat Kedewasaan
Rasul Yohanes, dalam suratnya yang pertama, menyadari fakta ini ketika ia menyebutkan dirinya sendiri kepda para pembacanya sebagai anak-anak, bapa-bapa, dan orang-orang muda (I Yohanes 2:12-14). Ia mencatat fakta bahwa ada tahap-tahap pertumbuhan yang berbeda di dalam hidup Kristen, yang dicapai oleh para murid dalam sekolah Kristen.
Hal yang penting adalah kita harus beralih kepada perkembangan yang penuh" (Ibrani 6:1). Teruslah bertumbuh.Terlalu banyak orang Kristen yang tidak mengalami pertumbuhan dalam hidup Kristen mereka-"macet di antara Paskah dan Pantekosta", sebagimana dikatakan oleh Dr. Graham Scroggie.

Suatu kali ada seorang wanita Kristen yang hampir mendekati ajal karena kanker. Ia tahu bahwa umurnya tinggal beberapa hari lagi. Suaminya memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya, mencoba membuat segala sesuatu mudah baginya. Wanita tersebut berkata kepada suaminya, "Engkau tidak boleh membuat segala sesuatu mudah bagiku. Engkau tahu, bahwa aku harus terus bertumbuh." Hidupnya yang akrab dengan Allah telah membawanya kepada suatu status kedewasaan rohani sehingga ia lebih peduli tentang bertumbuh ke arah Kristus daripada penderitaan dan ketidaknyamanannya sendiri yang dialaminya itu. Kita juga perlu menjadi ambisius untuk bertumbuh di dalam pengetahuan akan Allah.

Penulis surat kepada jemaat di Ibrani mendesak para pembacanya untuk menumbuhkan ambisi serupa melalui kata-kata ini. "Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran dari kristus dan beralih kepada perkembangan yang penuh" (6:1). Dr. Alexander Smellie menunjukan bahwa Alkitab King James Version menerjemahkannya, "Marilah kita menuju kepada ..." Uskup Westcott lebih suka menggunakan frase, "Marilah kita beralih."

"Faktanya ialah bahwa membutuhkan ketiganya untuk menyingkapkan pentingnya serta kekayaan kata kerja tersebut. Apabila disatukan bersama-sama, ketiganya menyatakan kepada kita mengnai tiga bahaya yang menghadang saat kita memandang benteng kesempurnaan di hadapan kita. Ada bahya kalau berhenti terlalu cepat. Ada bahaya kalau tenggelam dalam keputusasaan. Dan, ada bahaya jika kita menganggap bahwa kita berjalan sendiri." Betapa baiknya Allah yang telah memelihara kita melalui pelayanan Roh Kudus, karena keberadaan kita "telah beralih pada perkembangan yang penuh".

Paulus mengatakan kepada kita lebih lanjut, dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, bagaimana proses pendewasaan itu bisa dipercepat. "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar" (2 Korintus 3:18).

"Anda ingin menjadi seperti Kristus?" tanya Andrew Murray. Inilah jalurnya. Pandanglah kemuliaan Allah di dalam Dia. Di dalam Dia, Artinya, jangan melihat kata-kata, pikiran-pikiran, kasih karunia di mana kemuliaan-Nya dapat terlihat, namun melihat kepada Dia semata, Kristus yang adlah kasih dan hidup. Pandanglah Dia! Tataplah mata-Nya! Lihatlah wajah-Nya, sebagai seorang sahabat yang mengasihi, sebagai Allah yang hidup."

Visi Yang Mengubahkan
Perubahan menjadi serupa dengan Kristus diawali, sebagimana dinyatakan oleh 2 Korintus 3:18, bukan dengan mawas diri secara subjektif, namun dengan melihat kemuliaan Tuhan secara objektif sebagaimana yang diwujudkan di dalam diri Yesus. Pemandangan yang memukau tidak terlihat di angkasa yang kemilauan, tetapi di dalam Firman Tuhan yang tertulis, yang diterangi oleh Roh yang memberi ilham. Firman ialah sebuah cermin yang menyatakan dan mencerminkan karakter Kristus yang unik, kedewasaan yang sempurna, karakter yang tak bercela, dan karya penebusan. Oleh karena itu, Allah telah membuat cahaya terang-Nya bersinar "di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus" (2 Korintus 4:6).

Kemuliaan Alllah itu tidak berabstrak atau tidak berwujud; kemuliaan itu sungguh-sungguh dinyatakan dalam hidup manusia, di dalam pribadi dan karya Kristus. Namun, di mana kita dapat menemukan wajah Kristus? Bukan pada kanvas artis, karena potret-Nya hanyalah proyeksi dari pikiran serta konsep mengenai diri-Nya sendiri. Wajah Kristus bisa dilihat di dalam kiasan yang dilukiskan bagi kita dengan warna-warna yang begitu indah oleh para penulis biografi Injil, yang diilhamim oleh Roh, yang memberi kita potret-Nya secara keseluruhan. Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus melihat wajah itu tetapi mereka tidak melihat kemuliaan, karena prasangka dan ketidakpercayaan mereka menutupinya menjadi lebih rapat dibandingkan selubung yang menyembunyikan kemuliaan wajah Musa ketika ia kembali dari pertemuan dengan Allah (Keluaran 34:33-35).

Rencana Allah bagi anak-anak-Nya bukanlah tiruan lahiriah, tetapi perubahan batiniah. Kemuliaan yang terlihat diwajah Musa ketika ia turun dari gunung nyaris tidak kelihatan dan memudar. Namun, kemuliaan yang Paulus bicarakan di sini ialah kemuliaan yang dipelihara dan disalurkan, karena kata yang diartikan "melihat" disini sama artinya dengan "memancarkan'.

Metode Pengubahan
Metode yang digunakan untuk membuat perubahan bukanlah "perjuangan yang disertai putus asa ketika melawan sesuatu yang memikat", tetapi "melihat" dengan gigih dan konsisten-memandang Kristus di dalam segala keagungan, kemuliaan, kasih, kekudusan, kebenaran, dan keadilan-Nya, sebagaimana ditetapkan dalam kitab Suci. Tatkala kita melihat semua unsur itulah kita sedang diubahkan untuk menjadi serupa dengan Dia.

Apa yang selalu dilihat oleh mata kita sangat berpengaruh terhadap karakter Kristen. Kita menjadi seperti mereka yang kita kagumi. Alexander Agung membaca Iliad karya Homer dan ia pun bertekad untuk menaklukan dunia. Karakter dan kebiasan dibentuk oleh sikap dan kebiasaan dari orang yang terus-menerus kita temui. Siapakah yang belum pernah melihat tiruan-tiruan dari para bintang film yang berparade sepanjang jalan?

Bagaimana Roh Kudus memberi pengaruh yang mengubah diri kita menjadi diri kita yang sama sekali baru? Ada kesejajaran secara fisik dengan proses menelan dan mencerna makanan. Kita mengkonsumsi makanan dan kita lupa tentang semua makanan itu. Tubuh kita berfungsi dan enzim melakukan perannya. Tanpa upaya aktif atau aktifitas apa pun dari pihak kita, makanan itu perlahan-lahan diubahakan menjadi suatu bentuk lain dan menyatu ke dalam seluruh tubuh jasmani kita. Itu diubahkan menjadi daging, tulang, darah, rambut dan energi. Dan semuanya terjadi tanpa tindakan aktif dari pihak kita.

Dengan cara yang sama, kita menggunakan waktu dengan tekun untuk "melihat ... kemuliaan Tuhan" di wajah Yesus Kristus-kebajikan, rahmat apa yang sudah dilakukan-Nya-Roh Kudus tidak hanya menyatakan Dia kepada kita, tetapi Ia memproduksi Kristus di dalam diri kita. Tanpa tindakan aktif dari pihak kita, Ia menanamkan kebajikan-kebajikan serta nilai-nilai yang kita lihat di dalam Kristus dalam kehidupan rohani kita, dan itu makin merubah kita menjadi serupa dengan Dia. "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung ... maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya:" (2 Korintus 3:18).

Perubahan batiniah bukan semata-mata hasil dari waktu sesaat dimana kita meninggikan keagungan serta kekudusan-Nya. Perubahan yang berkesinambungan itu terjadi ketika kita terus memandang Dia. Tidak ada kasih karunia yang kita lihat dalam karakter Tuhan
kita yang tidak mungkin menjadi milik kita yang makin berkembang jika kita bersandar pada Roh Kudus untuk memproduksinya di dalam diri kita.

Jadi inilah yang ditulis A. W. Tozer:
"Banyak orang telah menemukan rahasia yang telah saya bicarakan dan, tanpa berpikir lebih panjang tentang apa yang terjadi di dalam diri mereka, secara terus-menerus mereka mempraktekan kebiasaan untuk memandang Allah dari dalam hati mereka. Mereka memahami bahwa sesuatu dalam hati mereka sedang memandang Allah. Bahkan, ketika mereka dipaksa untuk mengalihkan perhatian mereka dengan sadar agar terlibat dalam perkara-perkara dunia, di dalam mereka ada terjadi suatu persekutuan rahasia.Biarkan perhatian mereka beralih untuk sesaat saja pada kesibukkan mereka sendiri, pasti mereka akan kembali kepada Allah sekali lagi."

Bagian kita ialah melihat. Hak istimewa Roh Kudus-lah yang akan mengubahkan.


Daniel Zacharias
education from womb to tomb

31 Maret 2009

Akrab Dengan Allah: Bertindak Maksimal Bagi Allah

Matius 25:14-30

Mendengar tema berbunyi Bertindak Maksimal Bagi Allah maka timbul pertanyaan dalam batin ini: apakah Bertindak Bagi Allah sama artinya dengan Bertindak Maksimal Bagi Allah?

Jawabannya bisa dikatakan "serupa tapi tidak sama". Mengapa dikatakan "serupa"? Karena kedua-duanya merupakan tindakan yang ditujukan bagi Allah. Dan mengapa pula dikatakan "tapi tidak sama?" Karena yang satu hanya disebut "bertindak" saja, sedangkan yang lain disebut "bertindak maksimal". Rupanya kata kunci yang membedakan kedua tindakan tersebut adalah kata 'maksimal'.

Kata 'maksimal' dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti:
1. sebanyak-banyaknya
2. setinggi-tingginya
3. mencapai batas tertinggi

Sehingga bertindak maksimal bagi Allah berarti: Bertindak atau melakukan suatu tindakan yang setinggi-tingginya, atau sebanyak-banyaknya, atau mencapai batas tertinggi hanya bagi Allah atau bagi pekerjaan Allah. Perumpamaan tentang talenta akan menunjukkan kepada kita bagaimana hidup dengan tindakan yang maksimal terhadap Allah.

Perumpamaan ini secara singkat mengisahkan bagaimana seorang tuan hendak bepergian ke luar negeri, dan menitipkan modal berupa talenta yang berbeda-beda pada ke-3 Hambanya, dengan urutan: Hamba ke-I diberi 5 talenta, Hamba ke-II diberi 2 talenta, Hamba ke-III diberi 1 talenta. Sekembalinya dari luar negeri ternyata didapatinya: Hamba ke-I memperoleh laba 5 talenta, Hamba ke-II memperoleh laba 2 talenta, Hamba ke-III tidak memperoleh apa-apa.

Dari kisah ini ditarik pemahaman:
Hamba ke-I: adalah gambaran dari orang yang menerima banyak dan tetap bertindak maksimal.
Hamba ke-II: adalah gambaran dari orang yang menerima sedikit dan tetap bertindak maksimal.
Hamba ke-III: adalah gambaran dari orang yang menerima sedikit dan tidak bertindak maksimal.

Dari kisah ini terlihat bahwa "bertindak maksimal" adalah Alkitabiah dan menjadi syarat bagi orang yang bekerja bagi Allah dan yang hidup akrab dengan Allah. Talenta pada masa sekarang ditafsirkan sebagai: Karunia Allah khusus bisa berupa kemampuan, bakat, kepandaian, keahlian, jabatan, harta, dll. Berkaitan dengan talenta maka tindakan yang maksimal memegang peranan yang penting, hal itu terlihat dari beberapa pokok yang kita dapat dari perumpamaan ini, antara lain:

MEMILIKI TALENTA SAJA TAK CUKUP, DIPERLUKAN PULA SUATU TINDAKAN YANG MAKSIMAL


  • Sayang sekali bila orang terlalu bangga dengan talenta-talenta yang ia miliki tetapi tindakan untuk mengembangkan talenta itu tidak ada atau tidak maksimal. Hal ini tercermin dari perbuatan Hamba ke-III.

  • Dalam pelayanan dan kehidupan keseharian tidak sedikit orang percaya yang berprinsip "asal jadi dan terlihat ada" dalam seluruh bentuk pelayanan. Karena itu jelas terlihat bahwa selain talenta diperlukan pula suatu tindakan maksimal yang mencakup Keseriusan, ketelitian, kesungguhan, kesungguhan, kerja keras, serta ketabahan.

YANG TERPENTING ADALAH BUKAN BERAPA BANYAK TALENTA YANG KITA MILIKI TETAPI PADA KEMAKSIMALAN TINDAKAN KITA



  • Hal ini jelas tercermin pada kefrustasian Hamba ke-III dan teladan dari Hamba ke-II. Di mata Hamba ke-II, jumlah talenta yang minim tak menghalanginya untuk bertindak maksimal bagi Allah. Jadi yang maksimal bukan jumlahnya tetapi tindakan terhadap talenta tersebut.

  • Banyak orang yang karena tidak mempunyai kemampuan apa-apa dan cuma bisa berdoa atau membersihkan gereja sering merasa rendah diri dan tak jarang yang kemudian menarik diri dari Gereja.

TINDAKAN MAKSIMAL DISESUAIKAN DENGAN KEMAMPUAN TIAP-TIAP ORANG
Hal utama yang harus dipahami adalah bahwa Allah itu adil (ayat 15). Semakin banyak kita menerima dari Allah maka semakin banyak yang dituntut dari kita. Mungkin semua orang tidak sama kemampuannya tetapi bertindak maksimal tetap berlaku. Alkitab sendiri menunjukkan bahwa tiap-tiap orang diperlengkapi dengan karunia yang berbeda dan yang dituntut dari orang-orang ini adalah ternyata bahwa mereka dapat dipercaya.

Ada sebuah artikel majalah yang dapat kita renungakan bersama: "tugas-tugas besok hanyalah untuk orang yang melakukan tugas-tugas kecil sekarang ini sebaik mungkin sesuai kemampuan yang terbaik".

HASIL YANG MAKSIMAL HANYA DI DAPAT DARI SUATU TINDAKAN YANG MAKSIMAL



  • Hamba ke-I dan yang ke-II adalah hamba-hamba yang bertindak maksimal (bd. kata 'menjalankan' ayat 16). Jangan pernah berharap pelajaran/pendidikan/pekerjaan/pelayanan kita akan maju bila tindakan kita tidak maksimal.

  • Seringkali ketidakmajuan dalam kinerja pelayanan dalam jemaat bukan terletak pada persoalan dana semata-mata tetapi para pelayan sering bertindak tidak maksimal. Hasil maksimal bukan mimpi tetapi merupakan konsekwensi logis dari orang yang bertindak maksimal.

TINDAKAN YANG MAKSIMAL ADALAH CERMINAN DARI KETAATAN, KESETIAAN, SERTA KASIH KITA PADA ALLAH



  • Hamba I dan Hamba II adalah Hamba yang taat dan setia. Perhatikan kata ..."baik sekali" ... hai Hambaku yang baik dan setia (ayat 21). Kebaikan dan kesetiaan kita kepada Allah tampak dalam kemaksimalan yang kita tunjukkan.

  • Orang yang memiliki kasih pada Allah berani bertindak maksimal bagi Allah/bersedia bertindak maksimal. Yakub dalam PL berani yang menanti dan berkorban selama 14 tahun karena cintanya pada Rahel. Yakub bertindak maksimal untuk hasil yang maksimal.

  • Jangan pernah kita berkata bahwa kita adalah Hamba Allah yang taat, setia serta mengasihi Allah bila kita selalu bertindak asal-asalan.

PENGHARGAAN KITA KEPADA ALLAH DAPAT DITUNJUKKAN MELALUI TINDAKAN KITA YANG MAKSIMAL



  • Kadang-kadang sulit sekali meminta teman untuk menggantikan kita berkhotbah. Apalagi menggantikan khotbah yang tempatnya jauh orangnya sedikit serta uang transportnya kecil. Kita sering terpaku pada apa yang kita terima tidak pada apa yang kita kerjakan.

  • Kita menuntut penerimaan yang maksimal tetapi pemberian kita kepada Allahpun ternyata tidak maksimal.

  • Kita salah menilai demikian, karena kita tidak melakukan itu untuk menghargai Allah tetapi agar dihargai manusia.

  • Menyesali talenta yang ada dan tidak menggunakan talenta itupun merupakan suatu tindakan yang tidak menghargai Allah.

  • Persungutan dalam mengerjakan talenta adalah suatu sikap yang tidak menghargai Allah. Apa dan siapa kita, serta apakah kita telah menghargai Allah terlihat dari semua tindakan kita, khususnya dalam mengembangkan talenta kita masing-masing. Hamba ke I dan Hamba ke II tahu menghargai tuannya. Hamba ke III tidak tahu menghargai tuannya.

Allah telah memberikan talenta pada kita masing-masing, kita juga telah menerimanya, sudahkah dan bersediakah kita mengerjakannya maksimal? Yesus yang tergantung di kayu salib bukti bahwa Allah bertindak maksimal bagi manusia.


Daniel Zacharias
education from womb to tomb

22 Maret 2009

Keakraban Dengan Allah Merupakan Syarat Pelayanan

Markus 10:31-45


Semua pelayanan rohani lahir dari kenyataan pengetahuan kita tentang Allah dan kekuatan persekutuan kita dengan Dia maupun Anak-Nya. Sebuah pelayanan yang berbuah dan berhasil tidak terjadi begitu saja--ada harga yang harus dibayarkan. Dan, makin berpengaruh pelayanan itu, makin mahal harganya. Pelayanan tidak dapat dibayar sekaligus; kita membayarnya dengan angsuran yang jumlahnya makin lama makin besar. Tidak ada yang disebut dengan pelayanan yang murah dan berhasil.

Harus dipahami bahwa tidak ada jalan pintas untuk pelayanan yang berpengaruh bagi Allah. Karena didorong oleh keingintahuannya, Yakobus dan Yohanes berupaya mengambil jalan pintas. Mungkin ada jalan-jalan pintas untuk memiliki keunggulan di lingkungan gereja atau wewenang di bidang administratif, tetapi itu tidak menuju pada pelayanan yang rohani. Keakraban yang sejati dengan siapapun, terutama dengan Allah, bukanlah sesuatu yang dapat dijalankan sesuka hati: itu semata-mata karena kita berdiam di hadapan Yang Mahatinggi, dan tinggal tetap di bawah perlindungan El-Shaddai.

Menyangkut Yakobus dan Yohanes, ada sesuatu yang perlu dikatakan. Setidaknya, mereka telah percaya pada kejujuran sang Guru yang berjanji bahwa "pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di tahta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas tahta untuk menghakimi kedua belas suku Israel" (Mat 19:28). Namun, mereka salah menafsirkan pernyataan itu sebagai suatu peristiwa yang akan terjadi dalam waktu dekat pada waktu itu. Lebih jauh, sikap mereka yang mendekati Yesus secara sembunyi-sembunyi membuktikan bahwa mereka mengambil keuntungan untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka haus untuk menduduki posisi dan mempunyai kuasa berdasarkan tolok ukur dunia. Mereka menginginkan mahkota--tetapi mahkota tanpa duri.

Yesus tidak memiliki satu mahkota kehormatan pun yang ada hanyalah mahkota duri. Dalam menjawab pertanyaan mereka yang ambisius dan bernuansa mementingkan diri sendiri, Yesus memberi tahu mereka,"Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan" (10:40). Posisi-posisi itu tidak secara otomatis diberikan kepada mereka yang telah mempersiapkan diri, sekalipun itu perlu dan layak dilakukan. Prakarsa itu semata-mata berasal dari Allah. Pada hakikatnya, tidak ada layanan pentahbisan yang akan menghasilkan pelayanan rohani. Allah akan memberikan posisi-posisi itu bagi orang yang telah Ia persiapkan (ayat 40).

Yesus terlalu jujur dan terlalu tulus untuk menyembunyikan dari murid-murid-Nya tentang apa yang sering membuat pelayanan rohani itu menjadi mahal. Ia ingin mereka mengikuti Dia, tetapi dengan mata yang terbuka lebar. Maka, Ia menantang mereka, "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuterima? (Markus 10:38). Kalau Ia membuka mereka menghadapi kenyataan bahwa ada kemuliaan tatkala mengikuti Dia, hal itu sama sekali bukan kemuliaan. Mereka harus belajar bahwa jika mereka ingin mengenal Dia dengan cara yang lebih akrab, itu harus mencakup persekutuan dengan Dia di dalam penderitaan-Nya. Mereka menjawab dengan fasih, "Kami dapat" (ayat 39), dan ini menunjukkan betapa mereka amat kekurangan pengetahuan serta percaya diri.

Yakobus dan Yohanes menginginkan posisi kepemimpinan yang berpengaruh, tetapi mereka ingin bahwa posisi itu datang dengan mudah. Yesus harus mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan meminum cawan yang harus Dia minum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Dia terima (ayat 39). Akhirnya Yakobus dipancung, dan Yohanes menghabiskan sisa-sisa hidupnya dalam tempat pembuangan di Pulau Patmos. Pelayanan rohani itu mahal, dan apa yang harus ditempuh oleh sang Tuan harus dialami juga oleh seorang hamba.

Pelajaran yang kita petik ialah, jika rencana kita tidak dapat diubah sehingga kita menolak pelayanan yang biasa-biasa dan ingin memiliki pelayanan yang efektif, ingatlah bahwa akan ada harga mahal yang harus dibayar. Namun, itu akan terbukti bahwa semuanya itu memang sangat layak untuk kita kejar. Kita bahkan akan dan harus mengorbankan segalanya. Sebuah pelajaran penting yang dapat kita petik bila melihat dari tokoh-tokoh Alkitab ialah bahwa di dalam mendidik seseorang untuk pelayanan Tuhan tidak memperpendek masa pendidikan, sebagaimana yang sering kita harapkan, ia menginginkan keakraban yang lama dan mendalam bukan instan. Karena Allah mencari kualitas dalam hidup kita, waktu tidak menjadi masalah bagi-Nya.

Dengan jelas, Yesus mengucapkan prinsip utama yang revolusioner untuk kepemimpinan yang rohani, "Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mark 10:43-45).

Dalam pernyataan-Nya, Yesus menggunakan dua kata berbeda untuk "hamba". Pertama ialah sebuah istilah umum dan mengacu pada aktivitas bukan pada hubungan. Kedua ialah kata untuk "budak", dan seorang budak ialah seseorang yang tidak punya hak apapun atas dirinya sendiri, tetapi ia seutuhnya menjadi milik tuannya.

Berdasarkan hal tadi, timbullah fakta bahwa kriteria yang kita gunakan untuk menilai pelayanan rohani bukanlah jumlah pelayan yang melayani kebutuhan kita, melainkan jumlah orang yang kita layani. Keakraban yang makin berkembang terjadi dengan Dia yang mengatakan, "Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan" (Luk 22:27) akan berarti bahwa kita akan senantiasa mengambil bagian dalam roh pelayanan-Nya.

Yesus tahu bahwa prinsip menjadi hamba sangatlah tidak populer, karena kebanyakan kita tidak begitu bersedia menjadi hamba orang lain. Kendati masyarakat kita kurang menghargai sikap hamba, Tuhan kita yang juga adalah seorang Hamba telah meninggikan konsep itu dan menyetarakannya dengan kebesaran. Ia tidak mematahkan semangat seseorang untuk menjadi besar sepanjang itu diilhami oleh motif yang wajar. Apa yang Ia hakimi adalah ambisi kedagingan untuk menjadi yang terbesar.

Daniel Zacharias
education from womb to tomb

12 Maret 2009

Keakraban Dengan Allah Diperdalam Dengan Disiplin

Ibrani 12:5-11

Salah satu pernyataan Kitab Suci yang menantang dan penuh teka-teki ialah Ibrani 5:8-9, "Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya."

Dalam ayat ke 6 tertulis, "Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak". Sebagaimana seorang ayah yang baik akan mendisiplin dan mendidik anaknya dengan penuh kasih, Allah juga akan mendisiplin kita dengan penuh kasih. Kita hidup di dalam sebuah dunia yang penuh misteri dan teka-teki yang membingungkan, jadi tidak mengherankan kalau unsur misteri pasti melanda dunia pendisiplinan ini juga. Kita harus ingat bahwa tangan yang membentuk tanah liat ialah tangan sudah ditusuk paku dan bahwa kedaulatan Allah kita tidak akan pernah berbenturan dengan peran-Nya sebagai Bapa.

Jika kita ingin menikmati keakraban yang mendalam dengan ALLah, secara rohani kita harus menyikapi cara pemeliharaan-Nya, kendati semua itu mungkin tidak dapat kita mengerti. Cara pemeliharaan-Nya bisa terjadi melalui berbagai bentuk, tetapi semuanya direncanakan di dalam kasih, dengan satu tujuan, yaitu untuk memupuk keakraban yang makin dalam dengan Allah. "Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr 12:10).

Disiplin yang mengganggu rasa nyaman
Kita hidup dalam zaman yang sadar akan rasa aman, sehingga kita berupaya menjamin dan melindungi diri dari segala kemungkinan yang tak diharapkan. Masyarakat yang makmur mempersiapkan segala sesuatu agar dapat menikmati hiburan maupun kesenangan. Mereka suka untuk merasa tenang dalam rutinitas yang enak dan menikmati kemapanan itu. Rumah yang bagus, mobil model mutakhir, rekreasi-rekreasi yang menyenangkan, liburan-liburan yang menggembirakan, teman-teman yang baik, semuanya cenderung membuat surga kurang menarik dan akibatnya materialisme menyedot perhatian mereka melebihi kerohanian.

Namun sudah kerap terbukti bahwa kemapanan maupun kenyamanan adalah musuh iman. Kemapanan maupun kenyamanan itu sendiri tidak salah, karena Allah "memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati" (I Tim 6:17). Tetapi, kalau kita tidak mawas diri, semua itu akan menjadi tujuan hidup kita yang utama dan Allah serta kerajaan-Nya secara perlahan-lahan dialihkan ke tempat yang tidak penting. Untuk menghadapi kecenderungan yang berbahaya itu, Bapa kita yang penuh kasih sekali-kali mengusik kemapanan dan kenyamanan kita. Ia memperdulikan kita supaya kita tidak akan kehilangan yang terbaik dalam hidup.

Dalam nyanyia Musa prinsip tersebut digambarkan dengan, "laksana rajawali yang menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-melayang diatas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya menampung seekor, dan mendukungnya diatas kapaknya, demikianlah Tuhan sendiri menuntun dia, dan tidak ada allah asing menuntun dia" (Ulangan 32:11-12).

Seperti yang dilakukan burung rajawali, demikianlah Tuhan melakukannya juga. Rajawali membangun sarangnya diatas gunung, pertama-tama dengan menggunakan batang dan ranting-ranting kayu, lalu dengan hati-hati ia membentenginya dengan bulu-buluan serta rerumputan. Anak rajawali kecil diteteskan di dalam sebuah sarang yang nyaman dan ideal. Hidup ini indah. Secara teratur, makanan diantarkan kepadanya. Tak ada hal lain yang diinginkannya.

Tetapi, pada suatu hari induk rajawali menunjukan aksinya. Ia merobek pembatas sarang yang lembut itu sambil dahan, ranting, serta duri-duri saja. Anak rajawali yang masih kecil tadi bingung melihat perubahan di dalam diri induknya. Tempat tinggalnya menjadi begitu tidak nyaman lagi sehingga mereka memanjat pinggirannya dan memandangi bebatuan di bawah yang selama ini merupakan daerah terlarang. Tiba-tiba, sang induk mendorong salah satu dari mereka dan anak rajawali yang masih kecil-kecil itu terjungkal jatuh hingga nyaris mati. Akan tetapi, daya tangkap induknya lebih sigap daripada jatuhnya makhluk kecil tersebut. Tetapi pada waktunya, sang induk menukik, menciduk dan meletakkan tubuh anaknya di sayapnya. Ia membawanya dengan aman di atas puncak gunung. Seperti burung rajawali demikian juga Tuhan.

Pada saat mendapat gangguan yang tidak diduga, penulis buku ini menemukan sejumlah kalimat berikut ini dari kotbah Samuel Chadwick: "Hati kita tersentuh oleh perbuatan Tuhan. Yang Mahatahu tidak memberi tahu kita terlebih dahulu. Otoritas-Nya yang tidak terbatas tidak menyisakan ruang untuk kompromi. Kasih yang abadi tidak menyodorkan penjelasan. Tuhan berharap bahwa ia dipercaya. Ia "menunggu" kita menurut kehendak-Nya. Ketetapan manusia tidak diperdulikan, ikatan keluarga diabaikan, tuntutan bisnis dikesampingkan. Kita tidak pernah ditanya apakah itu enak atau tidak bagi kita."

Jika terus dibiarkan tinggal di dalam sarang yang nyaman, sayap-sayap rajawali itu tidak akan kuat untuk terbang tinggi menantang teriknya matahari. Dibiarkan tinggal dalam kondisi nyaman dan berkelimpahan mudah bagi sayap-sayap jiwa kita untuk menjadi kaku, dan kita kehilangan semangat untuk menghadapi peperangan rohani. Pendisiplinan cara ini cocok bagi kita untuk dapat terbang tinggi.

Disiplin melalui kegelapan
Di mana pun, tidak ada orang percaya yang dijanjikan bahwa hidup itu akan serba indah. Ia juga tidak diberi kekebalan, karena ia adalah anak Allah "yang lahir ditengah-tengah kesukaran yang menyakitkan hati". Daratan yang tidak pernah merasakan apa-apa selain sinar sang surya akan menjadi padang gurun. Harus ada awan, badai dan kegelapan jika dataran itu diharapkan menjadi tanah yang subur dan menghasilkan.

Dalam hikmat dan kasih-Nya, Allah kadang-kadang membiarkan kita melewati suatu masa kegelapan yang tidak dapat dihindari, tanpa celah di sela-sela awan itu. Seakan-akan kita berada di dalam lorong yang tanpa ujung. Kadang-kadang kita sadar bahwa itu adalah dampak dari dosa kita, dan untuk itu maka kita dapat melihat bahwa hal itu memang sudah seharusnya. Namun pada saat-saat lain, kita merasa bingung karena kita tidak dapat memberikan alasan mengapa kita mengalami hal seperti itu.

Kendati kegelapan itu mungkin pekat, kita dapat merasa pasti bahwa itu adalah "yang kelam di mana Allah ada" (Keluaran 20:21). Meskipun kita tidak mungkin mampu menemukan wajah-Nya di dalam kegelapan, jika kita mengulurkan tangan iman kita, kita akan merasa genggaman tangan-Nya yang meneguhkan. "Aku ini, TUHAN, ... telah memegang tanganmu" (Yesaya 42:6).

Disiplin dalam kegelapan juga merupakan pengalaman Tuhan kita. Jauh lebih berat daripada pengalaman kegelapan fisik yang menyertai penderitaan-Nya yang sangat berat terdapat kegelapan jiwani yang menguasai Yesus ketika Bapa-Nya memalingkan wajah-Nya saat Ia menghapus dosa-dosa dunia. Ucapan yang menyayat hati keluar dari bibir Yesus_ "ALLAH-KU, ALLAH-KU, MENGAPA ENGKAU MENINGGALKAN AKU?" (Matius 27:46). Dalam kegelapan yang tidak dapat ditembus, kendati tidak ada seberkas cahaya pun, iman-Nya tidak goyah. Bapa-Nya tetap menjadi Allah-Nya--Allah-Ku. Apakah dalam kegelapan itu, Ia teringat akan kata-kata Yesaya, "siapa diantaramu yang takut akan Tuhan dan mendengarkan suara hamba-Nya? Jika ia hidup dalam kegelapan dan tidak ada cahaya bersinar baginya, baiklah ia percaya kepada nama Tuhan dan bersandar kepada Allahnya!" (Yes 50:10). Inilah pola pendisiplinan untuk kita. Bila saatnya tiba, celah akan muncul di sela-sela awan, lorongpun akan mempunyai ujung, dan ujian akan diperpendek manakala kita menyikapinya dengan cara yang dewasa. Lalu, kita pun akan bangkit seraya mengenal keakraban dengan Allah dengan cara yang lebih mendalam daripada sebelumnya. Bukankah itu yang dialami ketiga orang laki-laki Ibrani tatkala mereka keluar dari dapur api Nebukadnezar?

Disiplin melalui kekecewaan
Tidak pernah disebutkan bahwa Allah akan memuaskan setiap keinginan kita. Hanya keinginan yang selaras dengan kehendak-Nya dan yang terbaik bagi kita saja. Itulah alasannya mengapa kadang-kadang Ia terlihat tidak bersimpati terhadap sesuatu yang kita anggap baik.. Rahasia ini terasa makin kuat apabila kenginan kita rasanya dapat memuliakan Allah. Kita harus yakin bahwa ada sesuatu yang sudah jelas kebenarannya apabila Allah menahan sesuatu yang kita inginkan. Hal ini dilakukan-Nya karena Ia ingin menganugerahkan sesuatu yang Ia tahu lebih baik.

Banyak orang rindu melakukan sesuatu yang layak bagi Tuhan yang mereka kasihi, dan rancangan mereka kelihatannya begitu tepat. Namun, kerinduan mereka menemukan hambatan. Mereka rindu pergi ke ladang misi, tetapi kesempatan itu hilang karena sakit. Mereka bermaksud memberi banyak untuk pekerjaan Allah, namun ada kekurangan dalam segi keuangan. Mereka berencana mengikuti pelatihan pelayanan Kristen, namun tanggung jawab keluarga muncul dan mambuat rencana itu tidak dapat dijalankan. Mereka justru menjadi tidak aktif, menjadi bisu saat harus berbicara, dan tidak bisa memahami adanya kesempatan lainnya.

Kita harus ingat bahwa untuk setiap "janganlah kamu" yang mengecewakan hati, ada sesuatu "haruslah kamu" yang menyenangkan. Apabila kita menerima disiplin Ilahi dengan sikap dewasa, kita akan menemukan bahwa "ada sesuatu yang lebih baik" menunggu kita di ujung sana.

Disiplin melalui ketidakadilan
"Tindakan Tuhan tidak tepat!" Keluh orang-orang Yahudi dalam era Yehezkiel (Yehezkiel 18:2). Perasaan yang sama digaungkan pada era kita ini. Ada orang yang diperlakukan tidak adil oleh Allah. Kendati mereka tidak pernah mengungkapkannya dengan kata-kata, mereka merasa kecewa dan menyimpannya dari hadapan Tuhan dengan penuh kemarahan. Tidak ada jawaban sederhana untuk pertanyaan mengapa ada masalah yang dihambat oleh Allah, dan ada yang tidak, mengapa ada yang di izinkan dan ada yang tidak. Mengapa, Tuhan membiarkan kepala Yakobus dipenggal ketika ia dipenjara, sementara Petrus dibebaskan oleh seorang malaikat dan kemudian membuat persekutuan doa? Jawaban satu-satunya ialah, "engkau tidak tahu apa yang Aku lakukan sekarang, tetapi kelak engkau akan mengerti"--dan, itu cukup memadai bagi iman.

Begitulah yang dialami Asaf, sang pemazmur. Ketika ia melihat bagaimana orang jahat menjadi makmur, sementara orang benar terlihat mengalami lebih banyak ujian dan pencobaan daripada yang selayaknya yang mereka terima, ia nyaris kehilangan iman. Apa gunanya ia berupaya menjalani hidup kudus apabila orang jahat menerima segala kebaikkan? Dengan sangat kecewa, ia menjerit dalam keputusasaan, "Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris akan tergelincir ... sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah ..." (Mazmur 73:2, 17).

Di dalam hadirat Allah, ketika melihat berbagai hal dari sudut pandang ilahi, Asaf memiliki imannya kembali, "dan memperhatikan kesudahan mereka, "atau nasib mereka (ayat 17).

Tujuan akhirlah yang penting, karena ada hidup sesudah kematian, tatkala ketidakadilan akan dipulihkan, tatkala yang jahat menerimia akibat atas perbuatan mereka, dan kebenaran juga mendapatkan upahnya. Masalahnya, kita tidak selalu datang di hadapan Tuhan untuk menyelesaikan persolan kita. Kita menanggapi persoalan dengan cara yang benar hanya ketika kita beralih daripada yang kelihatan sementara pada tujuan akhir yang kekal.

Kita seringkali tidak tahu apa yang tersembunyi di balik semua kesulitan yang kita hadapi. Fokus kita melenceng dari maksud Allah. Kita tidak melihat gambaran besarnya dan terpaku pada aspek-aspek pahit yang Allah pergunakan sebagai "tongkat disiplin. Dan, mungkin kita tidak tahu bahwa ada hal-hal rohani yang sedang dipertaruhkan tatkala kita mengalami pencobaan?

Namun semua orang yang harus mengalami "pembentukan dari Allah" harus melihat gambaran besarnya bahwa persekutuan mereka semakin karib dengan Allah diperdalam dengan semua disiplin rohani yang ia terima. Keakraban Allah-manusia yang digambarkan dalam relasi orang tua-anak tidak mengabaikan adanya upaya sang orang tua untuk mendewasakan si anak agar hubungan dengan orang tuanya diperdalam.

Bila Allah memberikan disiplin pada kita hal itu berarti Ia rindu agar kita lebih mengenal-Nya dapat lebih bergantung pada-Nya, dan lebih dekat dengan-Nya.


Daniel Zacharias
education from womb to tomb

24 Februari 2009

Keakraban Dengan Allah Dipelihara Melalui Persekutuan

Yohanes 15:1-8

Dalam persekutuan di kamar atas (upper room), ketika Yesus mengutarakan isi hati-Nya kepada murid-murid-Nya, Ia menekankan perlunya dan pentingnya pemeliharaan hubungan yang paling dekat dan akrab dengan Dia sendiri. Untuk menggambarkan ini, ia menceritakan perumpamaan pokok anggur dan ranting-rantingnya, dengan pelajaran intinya bahwa pohon anggur hanya akan berbuah bila ranting itu tetap melekat pada pokok anggur:

"Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku" (Yoh 15:4).

Apa maknanya? Tinggal di dalam Kristus, hanya mungkin dialami oleh orang-orang Kristen yang sejati. Tinggal di dalam Kristus berarti memelihara hubungan yang tak terputus dengan Kristus dalam kasih yang karib. Kata tinggal semata-mata berarti "berada, tinggal, berkelanjutan, melekat". Maknanya seakan-akan Tuhan sedang berkata, "Apabila engkau percaya kepada-Ku, engkau dipersatukan dengan Aku. Jangan biarkan apa pun atau siapa pun memutuskan kesatuan yang akrab itu. Tetaplah bergantung pada-Ku." Jika saluran yang menyatukan pokok anggur dan ranting dihambat atau putus, pohon anggur itu tidak mungkin berbuah.

Pokok anggur yang benar (ayat 1)
"Akulah pokok anggur yang benar" -- pokok anggur yang sebenarnya, yang asli, inilah yang dikatakan-Nya. Sebelumnya, bangsa Israel telah dilambangkan sebagai kebun anggur (Yesaya 5:1-2). Bangsa Israel telah ditanami "pokok anggur pilihan", tetapi kondisi kebun itu menjadi buruk dan hanya menghasilkan buah anggur yang asam, sekalipun mendapat perawatan dan perhatian dari Allah (Yes 5:2).

Persekutuan Yang Akrab Dengan Allah Ditunjukkan Dengan Hidup Yang Berbuah
Sebagai perbandingan dari pokok anggur yang asam, Yesus menyatakan, "Akulah pokok anggur yang benar," dan kemudian Ia menyatakan bahwa yang penting ialah pokok anggur yang berbuah lebat. "Tinggalah di dalam-Ku."

Pasalnya, pokok anggur hanya dapat berbuah melalui ranting-rantingnya. Di hadapan murid-murid yang merasa heran, Ia membuat pernyataan yang mendebarkan hati, "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya" (Yoh 15:5, cetak miring ditambahkan), artinya: disatukan dengan pokok anggur dalam hubungan yang akrab sambil menggunakan zat pemberi kehidupan yang sama.

Ranting yang tidak berbuah (15:2-3)
"Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya." Fungsi dari pokok anggur sebatas menghasilkan buah saja. "Pokok anggur itu hidup guna memberi zat kehidupan." Carang dari pokok anggur itu tidak memberi manfaat apapun kecuali untuk menghasilkan buah. Jika ranting tidak dapat menghasilkan buah, ia tidak dapat berfungsi lagi. Ia akan ditebang dan dibakar.

Dalam perikop teresebut, Tuhan kita tidak sedang membicarakan mengenai keselamatan. Tema-Nya adalah mengenai hidup yang berbuah. Ayat-ayat ini tidak mengajarkan bahwa orang Kristen yang tidak berbuah akan kehilangan keselamatannya, tetapi bahwa ia akan kehilangan upahnya jika kehidupannya sia-sia. Ranting-ranting seperti ini "dicampakkan ke dalam api lalu dibakar". Orang-orang Kristen yang tidak berbuah akan kehilangan pengaruh terhadap Allah dan kesaksiannya di hadapan manusia pun akan hilang. Oleh sebab itu mereka harus tetap tinggal di dalam Kristus.

Ranting yang berbuah (15:4-6)
Agar berbuah, kita harus "tinggal pada pokok anggur"--dalam sebuah kesatuan yang hidup dengan pokok anggur yang benar, dan tidak mengizinkan apapun berada di antara kita dengan Dia. "Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (ayat 5). Kemutlakkan dan akhir dari pernyataan itu menggoyahkan hati kita. Kita bukan saja "berbuat sangat sedikit" melainkan "tidak dapat berbuat apa-apa". Apabila kita ditebang dari sumber pemberi kehidupan, kita menjadi layu dan mati. Buah mustahil dihasilkan apabila hubungan dengan pokoknya putus.

Pernyataan yang pasti seperti ini harus membuat kita berhenti sejenak dan kemudian bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita benar-benar tinggal di dalam Dia dan menghasilkan buah, ataukah kita sedang menjadi tumpukkan sampah yang siap dibakar.

Agar memberi hasil yang maksimal, ranting-ranting anggur perlu dibersihkan dengan cermat--lebih cermat dibandingkan dengan pohon-pohon lain. Jika tidak dipotong, buahnya akan jarang dan asam. Jadi, Tuhan membersihkan hidup anak-anak-Nya, membersihkan cabang-cabang pertumbuhan yang penting dalam hidup manusia, bukan karena Ia senang melihat mereka menderita, melainkan agar hidup mereka bisa semakin berbuah. Ia ingin melihat anak-anak-Nya bertumbuh dalam kedewasaan rohani.

Tinggal di dalam itu harus dari kedua belah pihak
"Tinggalah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu" (15:4). "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, ..." (ayat 7). Inilah sebuah janji bersyarat bahwa doa akan dijawab. "Mintalah apa saja yang akan kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." Kristus di dalam aku--dan aku di dalam Kristus--Firman Kristus tinggal di dalamku. Ini benar-benar suatu keakraban. Dengan firman-Nya yang terus-menerus direnungkan, disukai, dan dipercayai, dan ditaati, kita akan makin menerima dan mencerminkan pikiran Kristus. Kehendak-Nya menjadi kehendak kita, dan kerinduan kita akan menjadi kerinduan-Nya. Tinggal di dalam secara timbal balik berarti bahwa kita suka melakukan apa yang Allah suka.

Buah yang berlimpah merupakan bukti bahwa kita adalah murid-Nya (15:8)
"Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku" (ayat 8). Tidak semua orang percaya adalah murid-murid sejati, menurut pernyataan itu. Tinggal di dalam kasih-Nya merupakan bukti bahwa kita adalah murid-Nya. Kita menikmati kasih-Nya, bersukacita di dalamnya. Kasih-Nya yang besar sama seperti kasih yang dimiliki Bapa bagi Anak-Nya (15:10). Ketaatan yang sederhana adalah rahasia untuk tinggal di dalam kasih-Nya. Tak ayal lagi, saling mengasihi akan menghasilkan keakraban yang makin mendalam.

Sukacita yang tetap adalah hasil dari tinggal di dalam Allah (15:11)
"Semuanya itu Kukatakan kepadamu ... dan sukacitamu menjadi penuh." Dengan kata lain, "Engkau bisa merasakan sukacita-Ku." Sukacita kita tidak dapat dilepaskan dari sukacita-Nya. Hal ini terjadi karena adanya sebuah persekutuan yang memungkinkan terjadinya aliran sukacita Allah dari pokok kepada ranting-rantingnya.

Keakraban dengan Allah tanpa sebuah persekutuan dengan-Nya adalah sebuah kemustahilan. Kita perlu terus menekankan keakraban dengan Allah sebagai sebuah bagian dari tindakan iman dan wujud iman. Keterikatan dan kebergantungan kita kepada Allah menunjukkan betapa akrabnya kita dengan Allah. Dan bukan itu saja hasil keakraban itu tentunya harus terlihat dalam berbagai aspek hidup mulai dari cara dia mendefinisikan hidup, dia menjalani hidup, dia mengomentari hidup, dia menyiasati hidup, dia mengisi hidup, dia mengatur hidup, dia membenahi hidup, dimana tidak ada satu titik pun yang melukai hati Allah, tetapi sebaliknya justru memuliakan Allah. Kunci dari sebuah keakraban dengan Allah adalah persekutuan dengan-Nya (I Kor 15:58).


Daniel Zacharias
education from womb to tomb

18 Februari 2009

KEAKRABAN DAPAT DIPULIHKAN KEMBALI

Mazmur 51

Mazmur 51 menggambarkan penyesalan yang paling mendalam. Bagian ini adalah bagian yang paling tajam dan paling menyentuh dari sebuah otobiografi. Bagian ini merupakan sebuah gambaran klasik mengenai kondisi seseorang manusia yang berdosa, yang berkembang dari sikap keras kepala, melewati tahap penyesalan yang mendalam, dan tiba pada pemulihan yang luhur. Bahasanya, seperti pengalaman yang digambarkan, tidak ketinggalan zaman dan tetap relevan untuk setiap usia maupun setiap bangsa. Siapakah di antara kita yang belum memiliki kesempatan untuk menjadikan Mazmur 51 sebagai pengalaman kita sendiri dan berjalan bersama Daud di atas jalur kesedihan yang mendalam dan masuk ke dalam sebuah pemulihan?

Judulnya memberi petunjuk waktu terjadinya. "Untuk pemimpin biduan. Mazmur dari Daud, ketika Nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba."

Setelah bangkit nafsu birahinya melihat kecantikan Batsyeba, sang Raja jatuh ke dalam dosa perzinahan, yang akhirnya menjerumuskan dia ke dalam tipu daya kotor yang mencapai puncaknya dengan pembunuhan suami perempuan tersebut, Uria.

Perlu kita sadari bersama bahwa setelah ia sukses menikah dengan Batsyeba ia tidak menikmati malam-malam panjang dengan isteri barunya, ia hidup dalam tekanan rasa bersalah yang berkepanjangan. Dalam Mazmur 32 sangat jelas bagaimana hal tersebut ia alami. Dalam permulaan teks yang berada tepat di bawah judul mazmur tersebut, "Dari Daud. Nyanyian Pengajaran", tertulis:

"Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!
Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!"

Daud adalah orang yang sudah merasakan bagaimana bahagianya menjadi orang yang diampuni Allah. Ia dapat merasakan demikian karena ia pernah melewati masa-masa berat di dalam kekerasan hatinya untuk mengakui dosanya di hadapan Allah (Maz 32:3-4):

"Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari;
sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas."

Tuhan memakai kuasa Natan, sang Nabi, sebagai pencari jiwa yang terhilang -- "Engkaulah orang itu!"--untuk menguakkan betapa besarnya dosa Daud, sementara pada waktu yang sama Ia memperlihatkan rahmat serta kasih karunia-Nya yang tak terukur. "Tuhan telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati" (II Samuel 12:7, 13). Allah tidak pernah meninggalkan orang berdosa yang menyesal untuk tetap berkubang di tempat yang kotor.

Mazmur 51 itu merupakan suatu curahan isi hati yang hancur, yang disampaikan apa adanya, tanpa ditutup-tutupi, penuh dengan perasaan bersalah, disertai dengan suatu pertobatan yang tulus setelah melewati episode yang memalukan dan sulit terlupakan. Namun, mazmur ini sarat dengan penghiburan, karena ia menyatakan isi hati Tuhan dan sikap-Nya terhadap mereka yang telah gagal. Allah menghendaki agar manusia kembali menjalin keakraban dengan-Nya.

Daud tidak berupaya mengemas dosanya dalam serangkaian retorika, karena doanya semata-mata meruapakan serangkaian sedu sedan dari hati yang hancur. Ia tidak meminta kondisi yang meringankan; ia pun tidak berupaya membela diri. Betapa besar dosanya tidak diucapkan dengan suara lirih, melainkan diakui dengan apa adanya. Inilah pengakuan dari hati yang hancur dan diucapkan dalam kata-kata yang tegas: "Kasihanilah! Tahirkanlah! Hapuskanlah! Bersihkanlah! Murnikanlah! Sembunyikan wajah-Mu dari dosa-dosa ku! Jadikanlah! Janganlah membuang aku! Perbaharuilah! Pulihkanlah! Selamatkanlah! Bukalah bibirku! Inilah pengakuan yang sejati, yang bebas dari semua rasa malu maupun ketidaktulusan. Cermatilah pengakuannya dengan saksama.

Konsep dibalik kata Yunani untuk kata mengaku ialah "mengatakan hal yang sama", dengan kata lain, mengaku bersalah kepada diri sendiri untuk apa yang dituduhkan. Apabila kita mengaku dosa kita dan mengakui kesalahan kita kepada Allah, kita sepakat dengan Dia dalam hal penilaian-Nya mengenai keseriusan dosa kita dan kita berada di pihak-Nya untuk melawan dosa itu (Maz 32:3-7). Daud mengambil sikap itu dalam Maz 51 yang menggambarkan pengakuan dosanya kepada Allah.

Roh Kudus telah mengerjakan suatu perasaan berdosa yang serius dalam diri raja yang menyesal itu, sebegitu serius sehingga tidak satu kata pun yang cukup memadai untuk mengungkapkannya. Daud menggunakan 3 kata untuk mengakui bahwa ia sadar betapa besar dosanya dan kerinduannya untuk memulihkan keakrabannya dengan Allah: pelanggaran, melangkahi dan menghancurkan hukum Tuhan, kejahatan, yang jauh dari lurus, secara moral bengkok; dosa, kehilangan nilai-nilai, gagal untuk mencapai tolok ukur dan sasaran ilahi.

Allah menyembunyikan wajah-Nya dari Daud selama 12 bulan dan Daud rela menderita dalam suasan yang suram itu. Namun, kini Daud memohon kepada Tuhan untuk memalingkan sinar wajah-Nya ke arahnya serta tidak melihat dosa-dosanya lagi. Kendati Allah mendengar jeritannya dan mengampuninya, Daud tidak lolos dari konsekuensi-konsekuensi sosial yang ditimbulkan oleh karena kejatuhannya. Namun yang merisaukannya bukanlah akibat dari semuanya itu; kesedihannya berasal dari perasaan malu karena ia sudah mencoreng arang pada nama Allahnya dan ia merusak semua keintiman dan keakraban dengan Allahnya. Kedukaan yang sejati dari anak Allah bukan terletak pada apa yang perbuat bagi dirinya sendiri yang mendukakan diri sendiri, tetapi apa yang dirinya telah perbuat yang mendukakan hati Allah.

Pada akhrinya, Daud adalah orang yang ingin agar riwayat hidupnya yang bernoda dihapus, pencemaran ia lakukan dibasuh, penyakit yang dideritanya disembuhkan, serta keakrabannya dengan Allah dikembalikan.

Sebagaimana Daud yang bersedia mengaku dosanya (walau membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama) hal sedemikian berarti ia sudah pula membuat dirinya kembali bersahabat dan akrab dengan Allah.

Kekerasan hati kita dengan bertahan dan terus menyayangi dan memelihara dosa-dosa favorit kita hanya akan membuat kita semakin jauh dari Allah dan menciptakan ketakutan yang tidak kudus kepada-Nya. Dosa membuat kita tidak sanggup berkonsentrasi pada Allah, karena sekarang kita tidak sedang sibuk memerangi godaan-godaan dosa itu. Dosa pada akhirnya membuat kita melawan Allah. Sebaliknya dengan kita mengaku dan meninggalkan dosa maka kita bisa berkonsentrasi dalam kekariban dengan-Nya.

Dosa melukai hati Tuhan tetapi pengakuan membangkitkan pengampunan-Nya. Orang yang berkajang dalam dosa merusak keintimannya dengan Allah, tetapi orang yang mengaku dosanya dan bertobat sehingga karena karya pengampunan Allah memulihkan keakraban yang hilang.

Daniel Zacharias
education from womb to tomb

16 Februari 2009

Keakraban Dengan Allah Dapat Hilang

II Samuel 11:1-27

Alkitab tidak pernah memuji-muji pahlawan-pahlawannya. Semua pria dan wanita di dalam Kitab Suci memiliki kaki dari tanah liat yang lemah, dan Roh Kudus adalah seniman yang sangat realistis, ketika Ia melukis sebuah gambar mengenai kehidupan mereka. Ia tidak mengabaikan, menyangkal, atau melewati sisi yang gelap dari manusia.

Jika kita mendecakkan lidah atau menggelengkan kepala kita karena malu terhadap perbuatan Daud, maka kita sepenuhnya telah mengabaikan peringatan: "Sebab itu siapa menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (I Korintus 10:12). Berwaspadalah sebab daging Daud dan kita sama-sama lemah. Jika kita tidak berhati-hati maka daging kita akan memimpin kita ke dalam serbuan dosa yang sama, dan konsekuensi dan dukacita kita akan sepahit konsekuensi dan dukacita Daud. Allah memberitahukan kita detil-detil kejatuhan Daud ini supaya setiap orang dapat melihat dengan jelas ke mana nafsu itu memimpin dan apa konsekuensinya.

Daud saat itu berusia kira-kira 50 tahun atau mungkin beberapa tahun lebih tua. Ia telah berada di atas tahta kira-kira 20 tahun. Dan selama itu ia sudah membuktikan dirinya sebagai orang yang karib dengan Allah, seorang penggubah mazmur, sebagai seorang gembala yang setia, sebagai seorang prajurit yang gagah berani di medan pertempuran, dan sebagai seorang pemimpin dari rakyatnya. Maka ketika kita melihat segmen berikutnya di dalam kehidupan Daud, maka mengertilah kita bila kita sedang memeriksa kehidupan seorang ke dalam suatu situasi berdosa dan merusak relasinya dengan Allah. Dosa yang diperbuatnya mengandung konsekuensi yang menghancurkan bagi keluarganya, pemerintahannya, dan negaranya. Rupanya kita belajar pula bahwa tidak ada seorang pun yang terlalu muda atau bahkan terlalu tua untuk jatuh.

Apa yang terjadi dalam peristiwa kejatuhan Daud ini erat kaitannya dengan kecenderungan-kecenderungan yang ia buat sebelumnya yakni nafsu dan poligaminya yang dengan diam-diam mengikis ketulusan hatinya (II Sam 5:13).

Kejatuhan yang fatal itu terjadi pada "waktu raja-raja itu biasanya maju berperang" (II Samuel 11:1). Seharusnya Daud sedang memimpin pasukannya, tetapi ia mengabaikan tugasnya demi kenikmatan tidur siang yang panjang dan santai. "Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya" (11:2). Daud memanjakkan dirinya sendiri di luar batas-batas hikmat. Ia mungkin mendorong kembali alas tidurnya, menegakkan tubuhnya, menguap beberapa kali, dan kembali tidur, sampai ia bosan tidur. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan-jalan sehingga ia menggeser tirai-tirai dan melangkah keluar menuju sotoh. Raja-raja Timur seringkali membangun kamar tidur mereka di tingkat dua istana dan mempunyai pintu yang terbuka ke tempat yang disebut sotoh. Seringkali tempat itu diperlengkapi dengan mewah, suatu tempat untuk duduk-duduk bersama keluarganya atau dengan penasihat-penasihatnya. Terletak di luar jangkauan publik dan jauh dari jalan, tempat itu dirahasiakan agar orang-orang tidak dapat melihatnya. Dan di sanalah Daud mendapatkan dirinya pada malam yang tidak terlupakan tersebut.

Tatkala sedang berjalan-jalan di atas sotoh istana, dari kejauhan ia mendengar suara cipratan air dan kemungkinan pula senandung dari bibir wanita yang sangat cantik yang tinggal persis di seberang istana, berada pada jarak pandang yang jelas dari halaman belakangnya sendiri (II Sam 11:2). Daud berhenti. Daud membelalak selama jangka waktu yang tidak ditentukan! Daud melihat seorang perempuan yang sangat elok rupanya sedang mandi. Berkali-kali ia melihat ke arah perempuan itu dan ini menyalakan nafsu birahinya. Di dalam benaknya yang diisi dengan nafsu, ia membayangkan kesenangan seks dengan wanita cantik itu. Daud dengan segala kesalehannya tidak dapat mengatasi dirinya. Daud kehilangan pengendali atas hawa nafsunya.

Tak cukup dengan imajinasi kotornya Daud malah menginginkan wanita itu sekarang dan ia menanyakan hambanya tetapi hambanya berkata: "Itu adalah Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu", hamba itu agaknya sudah menawarkan peringatan bahwa "wanita itu sudah menikah!" Tetapi Daud tetap menginginkan agar kedagingannya tersalur, dan akhirnya ia berzinah dengan Batsyeba sementara suami perempuan itu berada jauh di medan perang (II Sam 11:4). Sang perkasa telah jatuh dan ketika ia mendengar Batsyeba berkata, "Aku mengandung", Daud bertindak memasuki kehidupan berdosanya lebih jauh lagi dan makin menjauh dari Allahnya.

Perbuatannya itu tentunya sudah cukup serius, namun hamba Allah itu masih menurunkan harkatnya sampai ke tingkat yang paling rendah. Untuk menutupi dosanya, dengan licik ia merancang dan merekayasa kematian salah satu dari bawahannya yang paling setia--suami dari perempuan yang memikat hatinya tersebut. Beberapa kali ia ingin "cuci tangan" dengan membiarkan Uria tidur dengan isterinya agar tidak ketahuan perbuatannya tetapi rencana itu ternyata gagal (II Sam 11:6-13). Rencana Daud yang dibuat dalam kepanikannya pada akhirnya mengandung akibat yang lebih parah yakni pembunuhan atas Uria (II Sam 11:14-21).

Beberapa orang kudus di dalam Alkitab mengalami dan menghayati keakraban yang begitu mendalam seperti Daud. Mazmur-mazmurnya sarat dengan ungkapan penyembahan dan ibadah yang menandai hubungannya yang luar biasa akrab dengan Allah. Hubungan itu bahkan terpelihara di tengah-tengah bahaya maupun kesusahan yang terus-menerus menimpanya. Berkali-kali, ketika dikepung musuh dan hatinya merasa putus asa, kepercayaannya kepada Allah memungkinkan dia untuk menembus awan-awan pengahalang dan ia kembali menikmati sinar surya dan hadirat Allah.

Ketika diselamatkan dari tangan Saul, ia menaikkan lagu pujian dan penyembahan di bawah ini, yang menjadi ungkapan khas mengenai kasih dan kesetiaan kepada Allahnya.

"Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku!
Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!
Terpujilah TUHAN, seruku; maka akupun selamat dari pada musuhku."
(Mazmur 18:2-4)

Tragisnya, karena kecerobohannya yang sesaat, orang yang digambarkan Kitab Suci sebagai "orang yang berkenan di hati-Ku [Allah]" (Kis 13:22), kehilangan keakraban yang berharga dan masuk ke dalam dunia yang gelap sebagai pelaku perzinahan dan pembunuhan. Bagi kita, sebuah perubahan yang yang tiba-tiba dan drastis ini tampak mustahil, tetapi itu terjadi oleh karena kita belum menemukan atau menyadari sisi-sisi serta seluk-beluk hati kita sendiri yang gelap.

Dalam bukunya Temptation, Dietrich Bonhoeffer menulis:

"Di dalam tubuh kita terdapat kecenderungan terhadap hasrat yang sedang tidur, yang sifatnya mendadak dan ganas. Hasrat memegang kekuasaan atas daging, dengan kekuatan yang tidak dapat ditahan ... Pada saat inilah Allah menjadi agak tidak nyata bagi kita [Ingatlah kata-kata tersebut.] Kita kehilangan semua realita, dan hanya hasrat terhadap mahluk itu saja yang nyata. Satu-satunya realita hanyalah si iblis. Pada saat ini setan tidak memenuhi kita dengan kebencian terhadap Allah, tetapi dengan kelupaan terhadap Allah ..."

Dalam satu detik yang fatal, ia kehilangan keakrabannya dengan Allah. Ia tidur dengan Batsyeba. Hanya demi kepuasan sesaat, ia mengorbankan hubungannya dengan Allah. Noda hitam itu merupakan suatu peringatan bagi semua bangsa dari segala lapisan usia bahwa kepribadian mereka bisa ternoda sekalipun mereka sudah dewasa. Dalam sekejap, prestasi yang sudah diraih sepanjang hidupnya menjadi ternoda. Sejarah gereja ditaburi dengan kisah-kisah tragis yang sama. Seandainya Daud mampu melihat lebih dahulu buah pahit yang dihasilkan dari tatapan matanya yang penuh berahi, ia tentunya akan lebih cepat kehilangan tangan kanannya daripada diperbudak oleh daya pikat kedagingan.

Dosa Daud bukan saja meninggalkan bekas yang tidak dapat dihapus dalam hidupnya sendiri, melainkan juga melibatkan keluarga maupun bangsanya. Tidak ada satupun di antara kita yang berdosa sendirian. Yang lebih buruk dari segalanya ialah: karena kecerobohannya, ia kehilangan senyum Allah.

Kita mungkin tidak jatuh ke dalam dosa yang tidak dapat diterima masyarakat umum sebagaimana yang dilakukan Daud itu, tetapi apakah dosa-dosa dan kegagalan kita lebih diterima di mata Tuhan? Semua dosa memutuskan persekutuan dan keakraban dengan Allah, menghasilkan perasaan bersalah, dan membawa orang yang berdosa itu dalam suatu kondisi terhilang, yang memedihkan hati, untuk sementara dan selamanya.

Pelajaran lain yang dapat kita petik adalah bahwa tidak ada yang disebut sebagai dosa sederhana. Dosa selalu kompleks, dan pusaran-pusarannya bergulung-gulung sampai ke laut. Dan semua kejahatan itu timbul dari tatapan mata yang penuh birahi ketika ia bersantai-santai di saat yang tidak semestinya.

Jika kita sedang bermain-main dengan dosa kedagingan, maka kita hidup pada waktu yang singkat sebagai anak Allah. Tidak ada yang lebih berbisa, tidak ada yang lebih terkutuk bagi kehidupan, daripada dosa-dosa tersembunyi dalam daging. Tidak ada yang memberikan amunisi terbesar kepada musuh untuk melancarkan pernyataan-pernyataan hujatan kepada gereja Allah daripada tindakan kompromi yang diam-diam seperti itu. Dan akibat yang paling parah adalah keakraban dengan Allah menjadi hilang.

Basilea Schlink, seorang penulis Kristen, pernah menulis demikian tentang sebuah keakraban yang hilang: "Saya mulai melihat bahwa hubungan dengan Tuhan Yesus Kristus dari tahun ke tahun terkikis, ibarat sebuah perkawinan yang mulai menjemukan. Apa yang saya lakukan manakala saya melihat ada waktu luang pada suatu hari Minggu atau hari libur? Saya tidak sabar untuk berkumpul bersama orang-orang lain--orang-orang yang saya sukai, orang-orang yang mempunyai kesamaan--sehingga kami dapat berbagi gagasan maupun pengalaman. Atau, saya membaca sebuah buku yang seru. Atau, saya pergi menikmati alam. Bahkan, saya membenamkan diri untuk melakukan hal-hal yang untuk mengerjakannya membutuhkan waktu yang lama. Tetapi, untuk datang kepada Yesus--untuk memberi-Nya pengakuan saya yang pertama pada waktu luang saya, itu tidak lagi saya lakukan".

Daniel Zacharias
education from womb to tomb

22 Januari 2009

Akrab Dengan Allah: Mencari Hadirat Allah

I Tawarikh 13:1-4
13:1 Daud berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus dan dengan semua pemuka.13:2 Berkatalah Daud kepada seluruh jemaah Israel: "Jika kamu anggap baik dan jika diperkenankan TUHAN, Allah kita, baiklah kita menyuruh orang kepada saudara-saudara kita yang masih tinggal di daerah-daerah orang Israel, dan di samping itu kepada para imam dan orang-orang Lewi yang ada di kota-kota yang dikelilingi tanah penggembalaan mereka, supaya mereka berkumpul kepada kita.13:3 Dan baiklah kita memindahkan tabut Allah kita ke tempat kita, sebab pada zaman Saul kita tidak mengindahkannya."13:4 Maka seluruh jemaah itu berkata, bahwa mereka akan berbuat demikian, sebab usul itu dianggap baik oleh segenap bangsa itu.

Apa yang menyebabkan orang merasa kering dan jenuh dengan kehidupan rohaninya? Apa yang menyebabkan orang dengan mudahnya menolak mengikuti ibadah atau menolak datang ke gereja? Mengapa kita merasa akrab dengan-Nya namun dalam kenyataannya kita tidak mencari hadirat-Nya?

Apa yang sedang dilakukan Daud?
Pembacaan kita hari ini dimulai dengan kisah Daud yang sedang melakukan perundingan dengan orang-orang penting dalam kerajaannya (ayat 1). Dapat dikatakan dengan kacamata modern bahwa mereka adalah para jenderal dan para menteri serta para pemimpin-pemimpin gereja. Dalam segi ini, dengan melakukan perundingan, Daud menunjukkan teladan yang positif yakni dengan mengedepankan aspek kebersamaan dalam memecahkan persoalan-persoalan yang bangsa mereka hadapi. Segi lain yang tersirat di sini adalah Daud yang sekalipun adalah pemimpin dan pemegang otoritas tidak bekerja sendirian dan tidak otoriter tetapi sangat terbuka dan memberikan kesempatan kepada rakyatnya untuk turut mengambil keputusan. Sikap Daud itu tampak tatkala ia berkata: "Jika kamu anggap baik .... baiklah kita" (ayat 2). Daud sangat konsisten memegang teguh kebersamaan, baginya keakraban dengan Allah tidak terlepas dari sebuah persekutuan dan kerjasama yang baik dengan sesama. Pada akhirnya rakyat menyambut kebersamaan itu dengan berkata bahwa mereka akan berbuat demikian, sebab usul itu dianggap baik oleh segenap bangsa itu.

Apa yang mereka rencanakan?
Keputusan Daud yang sangat demokratis itu tidak saja dalam konteks mengatur strategi perang dalam kepentingan politis tetapi dalam urusan memecahkan masalah keagaamaan (spritual) menyangkut rencana penempatan tabut Allah pada tempat yang seharusnya.

Mengapa tabut itu harus dipindahkan?

Alasan Historis
Rupa-rupanya penempatan tabut ini memiliki sejarahnya sendiri. Pada masa Daud pusat tempat penyembahan bukanlah orang percaya tetapi tabernakel. Dan di bawah pemerintahan Saul yang lemah dan semberono, penekanan terhadap tabernakel sepertinya sudah menyimpang. Selama masa tersebut suatu bagian tertentu dari perabotan suci telah dipisahkan dari tabernakel. Musuh yakni orang Filistin telah membawa tabut perjanjian itu dengan kereta.
Dengan hilangnya tabut berarti kehadiran Allah telah pergi, karena saat itu lambang kehadiran Allah di dalam kemuliaan-Nya terletak pada tabut tersebut. Tabut itu sangat penting bagi Tuhan sehingga Ia memberikan perincian-perincian yang sangat khusus kepada Musa mengenai bagaimana membangunnya dan membuatnya dapat diangkut sehingga orang Israel dapat memindahkan lambang kehadiran Allah ini melalui padang gurun dan masuk ke tanah Kanaan sebagai tempat pusat penyembahan. Dan di mana pun tabut perjanjian ditempatkan, kemuliaan Allah menetap di sana ~ yang berarti terang, kemuliaan shenkinah Allah, menetap di atas tabut perjanjian.

Ketika Daud mengambil alih tahta, ia menyadari bahwa tidak ada tabut perjanjian, tidak ada tempat pusat penyembahan. Karena itu, perjalanan spiritual orang Israel, menjadi seadanya saja. Padahal hati mereka hangat mengikuti Allah. Sebagai pemimpin mereka, Daud mengetahui bahwa ia perlu mengembalikan bagian dari perabotan suci itu ke tempat semestinya. Ia perlu menempatkan seperti yang sudah Allah rancang.

Pada masa Samuel terjadi peperangan antara orang Filistin dan orang Israel yang berakibat pada kekalahan orang Isarel [I Samuel 4:2]. Dalam peperangan itu orang Filistin merampas tabut itu [4:11] dan dilarikan ke Asdod dan diletakan ke kuil Dagon persis di sisi Dagon [5:1-2]. Namun karena Allah memberi pelajaran kepada orang Filistin dengan banyak perkara yang mengerikan maka mereka memindahkannya ke Gat [5:8] lalu ke Ekron [5:10], dan hal yang sama terjadi pula dengan Gat dan Ekron [5:9-10], maka akhirnya setelah 7 bulan menanggung sengara orang Filistin mengembalikan tabut itu kepada orang Israel [I Sam 6] yang diletakan awalnya di Bet-Semes [I Sam 6:15], tetapi karena orang Bet-Semes melancangi tabut itu maka ada 70 orang tewas sebagai hukumannya. Karena ketakutan maka mereka meminta orang Kiryat Yearim (sekitar 15 km sebelah barat Yerusalem) untuk mengambil tabut itu. Dan orang Kiryat Yearim menyanggupinya dan meletakannya di rumah Abinadab [7:1]. Orang Israel takut kepada tabut perjanjian itu dan membiarkannya terus di Kiryat Yearim sampai zaman Daud. Tabut tidak dikembalikan ke Silo karena daerah tersebut sudah dimusnahkan Filistin [Maz 78:59-61; Yer 7:14; 26:6].

Alasan Daud
Daud pasti pernah mendengar dahsyatnya murka Allah melalui tabut perjanjian itu baik terhadap orang Filistin maupun terhadap orang Israel, tetapi mengapa ia masih juga berusaha untuk membawa kembali tabut itu bukankah itu sama artinya mencari masalah baru? Menurut Daud, "sebab pada zaman Saul kita tidak mengindahkannya" (I Taw 5:3). Dapat dibayangkan bahwa mereka mungkin tidak mengindahkannya bukan karena mereka acuh tak acuh tetapi karena ketakutan mereka mendengar kedahsyatan murka Allah bila tidak benar menangani tabut tersebut. Sayangnya Saul lebih menghargai "Ikabod" (kemuliaan Allah yang sudah pergi) daripada membayar harga untuk mencari "kabod" (kemuliaan Allah).

Sekalipun Daud tahu bahwa memindahkan tabut perjanjian itu bukan hal yang tidak mengandung resiko, tetapi kerinduannya untuk tetap menghadirkan Allah di tengah-tengah rakyat dan bangsanya melebihi ketakutannya. Ketika Daud mengambil alih tahta, ia menyadari bahwa tidak ada tabut perjanjian, berarti tidak ada tempat pusat penyembahan, berarti tidak ada hadirat Allah. Karena itu, perjalanan spiritual orang Israel, menjadi seadanya saja. Padahal hati mereka hangat mengikuti Allah. Sebagai pemimpin mereka, Daud mengetahui bahwa ia perlu mengembalikan bagian dari perabotan suci itu ke tempat semestinya. Ia perlu menempatkan seperti yang sudah Allah rancang.

Teladan Daud
Hati Daud terpaku pada hadirat Allah, menurutnya hanya dekat dengan Allah saja ia dapat tenang (Maz 62:2), atau dengan kata lain tatkala ia memasuki hadirat-Nya maka ia merasakan ketenangan. Orang seperti Daud adalah orang yang akan berani membayar berapa pun harganya untuk suatu 'kehadiran Allah". Baginya harga berapapun jika terpaksa ia keluarkan tak sebanding bila ia bisa kembali menghadirkan hadirat Allah di tengah-tengah bangsanya. Daud tidak mau tenggelam dengan ketakutan orang-orang di jaman Saul. Daud melakukan terobosan yang belum pernah ada sebelumnya dan beresiko sangat tinggi.

Daud adalah orang peduli tentang hadirat atau kehadiran Allah. Bila Tuhan berkata-kata di dalam bahasa kita sekarang mengenai Daud maka Ia akan berkata: "Aku mendapatkan Daud sebagai orang yang peduli akan perkara-perkara yang Aku peduli". Ia adalah seorang yang hatinya berdenyut seirama dengan hati-Ku"

Keseharian Kita

Di dalam keluarga Allah ada orang-orang dengan dua kategori:

Pertama, mereka yang menghabiskan banyak waktu di "tempat pengapungan duniawi", mereka meratap dan mengeluh dan kemudian kembali dari perjalanan-perjalanan yang jauh menyimpang dari rencana dan kehendak-Nya.

Kedua, mereka tidak berani pergi jauh menyimpang sebelum mereka mulai memikirkan di mana mereka berada. Mereka segara kembali ke dalam barisan, karena mereka 'mencari hadirat-Nya' bukan menjauhi atau mengusir hadirat-Nya. Bagi orang-orang semacam ini, tidak ada yang tidak penting di dalam hubungan mereka dengan Allah. Tidak ada yang lebih penting yang dapat menginterupsi hubungan mereka dengan Allah termasuk ketakutan mereka. Jumlah orang yang mau mencari hadirat Allah dan mau membayar harganya tidaklah banyak, tetapi Daud justru seperti itu.

A.W. Tozer seorang teolog dan penulis Kristen dalam bukunya yang berjudul "Worship and Entertainment" merasa begitu prihatin dengan hilangnya perasaan akan adanya hadirat Allah dalam hati gereja. Bagi Tozer kurangnya rasa hormat yang dilakukan gereja tatkala beribadah menunjukkan bahwa gereja tidak berpikir bahwa hadirat Tuhan ada dalam ibadah mereka. Tozer sendiri memperhatikan bahwa kerinduan dan keinginan akan suatu kehidupan yang rohani sedang menghilang dan digantikan dengan sekularisme duniawi. Lingkungan semacam ini tidak akan menghasilkan jemaat yang dibangun (kebangunan rohani). Sebagai akibatnya ia merasa mungkin Tuhan telah mengarahkan pandangan-Nya ke arah lain, jika gereja tidak datang kembali kepada-Nya, pada suatu hubungan dengan Dia dan bukan hanya dengan berkat-berkat-Nya.

Ketika kita sampai pada pengamatan kehidupan spiritual, maka mereka yang mencari hadirat Allah di dalam hati dan perbuatannya memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap semua yang terkait dengan pekerjaan pelayanan-Nya. Sehingga ketika kita melihat hidup kita tidak tidak segaris dengan rencana-Nya maka kita perlu membawa kembali kehidupan kita segaris dengan kemauan-Nya.

Sekarang kita mulai berkata,"Aku tidak ketakutan terhadap Tuhan, karena aku mengasihi-Nya, tetapi sekarang saya telah memiliki rasa hormat terhadap kemuliaan dan perkara-perkara kudus dari Tuhan, yang sebelumnya tidak saya miliki".

Sudah saatnya gereja meminta 'Kabod' (kemuliaan) Allah terus memancar dalam dirinya dan ibadahnya dan bukan mempertahankan 'Ikabod' (kemuliaan Tuhan telah pergi).

Daud ingin memberi teladan pada manusia masa kini bahwa apa pun juga tidak ada yang dapat menghalangi relasinya yang akrab dengan Allah. Ia lebih baik mengorbankan keakrabannya dengan yang lain dan membangun keakrabannya dengan Allah. Baginya hadirat Allah adalah harga yang pantas untuk mengorbankan nyawa sekalipun.


Daniel Zacharias
education from womb to tomb