02 Agustus 2009

Sabat

Sabat (shabbat, "istirahat" dalam bahasa Ibrani, atau Shabbos dalam ucapan Ashkenazi) adalah hari ke tujuh di akhir minggu Yahudi dan hari istirahat dalam masyarakat Yahudi. Hari Sabat dimulai dari matahari terbenam hari Jumat sampai terlihatnya tiga bintang di langit pada hari Sabtu malam. Oleh karena itu, waktu yang pasti hari Sabat ini berubah-ubah dari minggu ke minggu dan dari tempat yang satu ke tempat yang lain, tergantung dari waktu terbenamnya matahari di setiap lokasi.

Sabat didasarkan pada Kisah Penciptaan di Kitab Kejadan, dimana Allah menciptakan langit dan bumi selama enam hari, dan beristirahat pada hari ke tujuh (Kejadian 1:1-2:3)


Sabat mengacu kepada sebuah hari perayaan, di mana seseorang beristirahat dari pekerjaan rutin hariannya, sehingga bisa merenungkan hal-hal rohani dalam hidupnya, serta bisa meluangkan waktu bersama keluarga. Secara tradisional, pada hari itu makanan yang berlimpah dihidangkan sebanyak tiga kali - yaitu pada malam Sabat, makan siang dan malam hari di akhir Sabat (Secara tradisional orang Yahudi makan dua kali, siang dan malam). Hari itu juga ditandai dengan kegiatan yang dilarang sesuai dengan aturan Sabat yang ditetapkan oleh Rabi agama Yahudi, tetapi tidak semua orang Yahudi mengikuti ketentuan itu, seperti Yahudi Karaite memiliki tradisinya sendiri.


Dari kata Sabat ini diperoleh istilah Sabbath dalam bahasa Inggris, Sabt dalam bahasa Arab, dan Sabtu dalam bahasa Indonesia. Dari kata ini pula muncul konsep sabatikal.


ETIMOLOGI


Kata shabbat dalam bahasa Ibrani berasal dari kata kerja shabat, dalam bahasa yang sama, yang secara harafiah berarti "berhenti", atau shev yang berarti "duduk". Meskipun shabbat hampir secara universal diterjemahkan "istirahat" atau suatu "masa istirahat", terjemahan yang lebih harafiah adalah "berhenti", dengan implikasi "berhenti dari melakukan pekerjaan". Jadi Sabat adalah hari untuk orang berhenti bekerja, dengan implikasinya beristirahat. Kata Ibrani untuk melakukan "mogok", misalnya, shevita, berasal dari akar kata Ibrani yang sama dengan shabbat, dan mengandung implikasi yang sama, yaitu bahwa para buruh yang mogok secara aktif berhenti melakukan pekerjaan, dan bukan secara pasif "beristirahat".


Kebetulan, hal ini menjelaskan pertanyaan teologis yang sering diajukan tentang mengapa Allah perlu "beristirahat" pada hari yang ketujuh dalam penciptaan, seperti yang dikisahkan dalam Kitab Kejadian. Bila dipahami bahwa Allah "berhenti" bekerja dan bukannya "beristirahat" dari kerjanya, penggunaan ini lebih konsisten dengan pandangan Alkitab tentang Allah yang mahakuasa yang tidak membutuhakn "istirahat". Namun demikian, artikel ini akan mengikuti terjemahan yang jauh lebih umum tentang sabat sebagai "istirahat".


Kebingunan linguistik yang lazim menyebabkan banyak orang percaya bahwa kata itu berarti "hari ketujuh." Meskipun akar kata untuk "tujuh", atau "sheva", sama dengan ucapannya, tulisannya berbeda.


SUMBER ALKITAB


Sabat diberikan status khusus sebagai hari suci di awal Tanakh (Alkitab Ibrani) di Kejadian 2:1-3


Sabat pertama kali diperintahkan setelah eksodus dari Mesir, dalam kitab Keluaran 16:26 (berhubungan dengan berhenti turunnya manna satu hari sebelum Sabat) dan di Keluaran 10:8-11 (sebagai perintah keempat dari Sepuluh Perintah Allah). Pelaksanaan Sabat banyak kali diperintahkan dan dianjurkan di Torah dan Tanakh; persembahan khusus juga harus diberikan pada hari itu. Sabat juga disebutkan oleh nabi Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Hosea, Amos dan Nehemia.


TEORI AWAL

Sejarah panjang agama Yahudi yang tak pernah putus memelihara Sabat sebagai hari ke tujuh adalah kebudayaan asli bangsa Yahudi, sebagai institusi yang paling sakral dan utama, dimana menurut Musa tradisi ini diciptakan secara khusus, dan bahkan lebih ekstrim lagi dikatakan ada semenjak alam semesta diciptakan.


Sabat hari ke tujuh tidak berasal dari Mesir, dimana bangsa Israel dibebaskan, atau berasal dari teori yang lain yang berkaitan dengan hari-hari Saturnus. Juga tidak termasuk pada perhitungan peredaran planet secara umumnya. Ensiklopedia Universal Yahudi menyampaikan sebuah teori Asiriologis seperti Friedrich Delitzch dimana Sabat mula-mula berasal dari siklus lunar, yang berisi empat minggu dan berakhir di Sabat, ditambah satu atau dua hari tambahan per bulan sebagai koreksi. Kesulitan dari teori ini adalah dalam hal menghitung perbedaan antara minggu yang tidak terputus dan sebuah minggu lunar, dan menjelaskan mengenai ketiadaan tulisan mengenai penamaan minggu Lunar sebagai Sabat di berbagai bahasa.


STATUS SEBAGAI HARI SUCI


Di atas meja Sabat diletakkan : dua challah (roti kepang panggang) bertutup, sebuah cawan kiddush (wine/anggur), dua lilin dan sebuah rangkaian bunga.


Buku Tanach dan Siddur (buku doa agama Yahudi) menerangkan Sabat memiliki tiga tujuan :

1. Peringatan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di tanah Mesir.

2. Peringatan Tuhan menciptakan alam semesta, dimana pada hari ke tujuh Tuhan beristirahat (berhenti) dari pekerjaanNya.
3. Menikmati dunia dalam masa Mesianis (menanti kedatangan Mesias).


Agama Yahudi menempatkan Sabat dengan status sebagai hari suci penuh sukacita. Dalam banyak hal, hukum agama Yahudi memberikan Sabat status hari suci yang paling penting dalam kalender Yahudi.


- Sabat adalah hari suci pertama di Alkitab, Tuhan melihatnya dengan berhenti dari penciptaan (Kejadian 2:1-3).


- Liturgi agama Yahudi memerlakukan Sabat sebagi seorang "mempelai" dan "ratu" (Shekhinah)


- Sefer Torah dibaca selama masa pembacaan Torah yang merupakan bagian dari ibadah pagi Sabat, dan dibaca lebih lama dibandingkan pada hari-hari yang lain. Torah dibaca habis sepanjang tahun dibagi dalam 54 parashah, satu parashah dibaca tiap hari Sabat (kadang dua kali). Pada hari Sabat pembacaan dibagi dalam tujuh bagian, lebih banyak dibanding pada hari suci yang lain termasuk Yom Kippur. Kemudian dibaca juga kitab Haftarah dari nabi-nabi Ibrani.


- Sebah tradisi menyatakan bahwa Mesias orang Yahudi akan datang jika setiap orang Yahudi secara tekun menguduskan dua Sabat yang berurutan.


- Hukuman dari orang yang melanggar kekudusan Sabat pada jaman dahulu adalah dengan dilempari batu sampai mati. Ini adalah hukuman yang paling keras dilaksanakan dalam Hukum bangsa Yahudi.


RITUAL SABAT (KEGIATAN WAJIB)


Sabat adalah hari perayaan dan juga hari beribadah. Orang biasanya merayakan juga dengan makan berlimpah sebanyak tiga kali pada hari Sabat. Ini termasuk makan malam pada malam Sabat (Jumat malam), Sabtu tengah hari dan jamuan makan yang lain sebelum Sabat berakhir di hari Sabtu malam.


Banyak orang Yahudi menghadiri kebaktian di Sinagoga pada hari Sabat, meskipun di hari-hari yang lain mungkin tidak. Kebaktian dilaksanakan pada malam Sabat (Jumat malam) dan Sabat pagi (Sabtu pagi)


Dengan perkecualian untuk hari Yom Kippur, yang disebutkan Torah sebagai "Sabatnya Sabat", hari puasa umum ditunda atau dimajukan sehari jika tiba bersamaan pada hari Sabat. Orang berduka yang menjalani shivah (masa satu minggu meratap untuk kematian pasangan atau keturunan pertama) harus berusaha tampil biasa saja selama hari Sabat. Mereka bahkan dilarang memperlihatkan tanda-tanda kedukaan di depan umum.


Yom Kippur adalah hari suci dalam agama Yahudi yang merayakan Hari Pendamaian antara manusia dengan Allah. Hari ini jatuh pada hari ke-10 dalam bulan Ibrani Tishri. Alkitab menyebut hari ini Yom Hakippurim (bahasa Ibrani, "Hari-hari Pendamaian"). Ini adalah salah satu dari Yamim Noraim (bahasa Ibrani, "Hari-hari yang Menakjubkan"). Hari ini diperingati dengan berpuasa dan doa yang intensif selama 25 jam. Yom Kippur dianggap sebagai hari yang paling suci dalam kalender Yahudi.


Menurut literatur Para Rabi, Tuhan melalui Torah memerintahkan orang Yahudi untuk menghormati (menjaga diri dari kegiatan yang dilarang) dan menguduskan Sabat (dengan kata, pikiran dan tindakan) dan dua kegiatan ini dilambangkan dengan dua lilin Sabat menjelang malam pada hari Persiapan (Di banyak komunitas pada hari jumat, biasanya delapan belas menit sebelum matahari terbenam) yang dipasang oleh wanita Yahudi biasanya oleh istri/ibu, atau bisa juga laki-laki bila mereka tinggal sendiri.


Biasanya ada dua lilin yang dinyalakan, walaupun beberapa keluarga menyalakan lebih banyak, kadang sesuai dengan jumlah anak yang ada.


Walaupun hukum Sabat itu sangat ketat dan banyak larangannya (lihat penjelasan di bawah), tetapi perintah ke empat dari sepuluh perintah Allah di Keluaran yang diambil oleh Talmud juga menyinggung perintah positif mengenai Sabat. Ini termasuk :


- Persiapan Menghormati kedatangan Sabat (Kavod Sabat) dengan mandi, memotong rambut, membersihkan dan mempercantik rumah (misalnya dengan rangkaian bunga), atau pada hari Sabat itu sendiri mengenakan pakaian pesta dan menahan diri hari perkataan yang tidak senonoh.


- Merapalkan doa kiddush, atau "penyucian", mengedarkan secawan wine (anggur) di awal Sabat sebelum jamuan makan dan setelah selesai doa pagi.


- Menikmati tiga jamuan makan (shalosh seudot). Jamuan makan dimulai dengan doa berkat terhadap dua buah roti (leche mishneh), biasanya dengan sebuah challah berkepang, sebagai lambang pemberian manna secara ganda oleh Tuhan kepada bangsa Yahudi pada Hari Persiapan selama mereka berada di padang gurun setelah keluar dari tanah Mesir. Biasanya dihidangkan daging atau ikan, kadang keduanya, untuk makan malam Sabat (Jumat malam) dan makan siang Sabat (Sabtu siang). Jamuan makan ke tiga dinikmati pada akhir Sabat (Sabtu malam) disebut Seudah Shlishit (arti harafiahnya, "makan ke tiga"). Ini biasanya sebuah makan yang ringan bisa berupa daging atau susu.


- Menikmati Sabat (Oneg Shabbat). Melakukan kegiatan yang menyenangkan seperti makan, bernyanyi, berkumpul bersama keluarga dan handai tolan.


- Merapalkan doa havdalah, atau "pemisahan" pada akhir Sabat ketika malam tiba (mengedarkan sebuah piala berisi wine/anggur, dan disertai rempah-rempah wangi dan sebuah lilin)


Biasanya orang menghindari berbicara mengenai uang atau hal-hal bisnis pada Sabat.


KEGIATAN YANG DILARANG PADA HARI SABAT

KE-39 KEGIATAN YANG DILARANG


Hukum Yahudi (halakha) melarang segala bentuk kegiatan melachah (bentuk jamak dari melachot) pada Sabat, dengan beberapa pengecualian. Walaupun melachah umumnya diterjemahkan sebagai "bekerja", tetapi definisi yang lebih baik adalah "kegiatan yang disengaja" atau "keahlian dan kerajinan tangan." Ada 39 kategori dari kegiatan yang dilarang (melachot) dalam daftar Traktat Mishnah Sabat bab 7, Mishna 2.


Aliran-aliran yang berbeda dari agama Yahudi memliki pandangan yang berbeda dalam menentukan jenis pekerjaan yang dilarang. Orang Yahudi konservatif dan ortodoks yang taat, menahan diri untuk tidak melakukan kegiatan yang dilarang. Kegiatan yang dilarang ini merupakan penjabaran dari Alkitab - dari jenis-jenis pekerjaan yang harus dilakukan untuk membangun Kemah Suci. Ini tidak langsung disebutkan di Torah; sedangkan yang lain, mishnah mengatur "hukum Sabat adalah seperti gunung digantung dengan sehelai rambut, karena hanya ada sedikit ayat tetapi dijabarkan dalam banyak hukum" (Hagigah 1:8). Banyak ahli theologia yang menyatakan bahwa pekerjaan yang dilarang ini adalah kegiatan umum yang bersifat "kreatif", atau pengendalian gerakan badan atau penguasaan terhadap lingkungan seseorang.


Ke-39 kategori kegiatan yang tergolong melachah yang dilarang itu adalah:

1. Menabur; 2. Membajak; 3. Menuai; 4. Mengikat berkas gandum; 5. Mengirik gandum; 6. Menampi; 7. Memilih; 8. Mengasah; 9. Memilah; 10. Mengadoni; 11. Membuat roti; 12. Menggunting wol; 13. Mencuci wol; 14. Memukuli wol; 15. Mewarnai wol; 16. Memintal; 17. Menenun; 18. Membuat dua gulungan; 19. Menenun dua lembar benang; 20. Memisahkan dua lembar benang; 21. Mengikat; 22. Melepaskan ikatan; 23. Menjahit robekan; 24. Merobek; 25. Menjerat; 26. Memotong hewan; 27. Menguliti; 28. Mewarnai kulit binatang; 29. Merapikan guntingan pada kulit binatang; 30. Menandai kulit binatang; 31. Memotong kulit hingga menjadi bentuk tertentu; 32. Menulis dua atau lebih huruf; 33. Menghapus dua atau lebih huruf; 34. Membangun; 35. Meruntuhkan bangunan; 36. Mematikan api; 37. Menyalakan api; 38. Memberikan sentuhan terakhir pada sebuah benda; 39. Memindahkan benda dari tempat pribadi ke tempat umum, atau sejauh 4 hasta dalam batas tempat umum;


Dari tiap melachah dibuat beberapa macam larangan. Sehingga akhirnya ada lebih banyak lagi larangan melakukan kegiatan pada hari Sabat, semuanya bisa dirunut balik ke 39 melachot yang prinsip di atas.


Ke 39 melachot yang disampaikan di atas tidak mengacu kepada banyak kegiatan seperti "kategori kegiatan." Sebagai contoh, saat "menampi" biasanya mengacu kepada pemisahan kulit dari bijinya, dan "pemilihan" mengacu kepada pemisahan biji dari kotoran. Hal ini menurut pandangan Talmud adalah sebuah kegiatan yang memisahkan material yang tercampur dari makanan yang dapat dimakan dan tidak dapat dimakan. Jadi menyaring air yang tidak bisa diminum sehingga layak dinimum termasuk dalam kategori ini, seperti halnya mengambil duri ikan dari dagingnya (Salah satu pemecahan masalah ini adalah dengan memakai daging ikan cincang/tepung ikan)


PEMAKAIAN LISTRIK


Pemerintah yang konservatif dan ortodoks mengatur larangan menghidupkan peralatan elektronik karena termasuk dalam "39 kategori kerja (melachot)." Tetapi tidak semua pemerintah sepakat masuk ke dalam kategori yang mana. Satu pandangan mengatakan bahwa percikan kecil saat saklar dinyalakan sama dengan kegiatan "menyalakan api" (kategori 37). Jika peralatan elektronik itu berhubungan dengan cahaya atau panas (seperti bohlam lampu atau oven listrik), maka cahaya atau elemen pemanas bisa dikategorikan sebagai api; jika demikian keduanya termasuk dalam kegiatan "menyalakan api" (kategori 37) dan "memasak" (memanggang roti, kategori 11), dan saat mematikan peralatan itu termasuk dalam kegiatan "mematikan api" (kategori 36)


Pandangan yang lain yaitu sebuah perangkat elektronik yang dimasukkan ke dalam colokan di dinding menjadi bagian dari bangunan, tetapi belum berfungsi karena tombol powernya masih dalam keadaan mati. Saat tombol power dinyalakan, kegiatan itu jadi tergolong dalam "membangun" dan mematikan power tergolong kegiatan "meruntuhkan bangunan" (kategori 35 dan 34). Beberapa sekolah theologi berpikir bahwa pemakaian listrik itu dilarang hanya oleh perintah Rabi, bukan karena melanggar salah satu dari 39 kategori larangan utama.


Sebuah penyelesaian umum untuk masalah ini adalah dengan mempergunakan timer elektonik (jam Sabat) untuk peralatan elektrik, yang bisa menyala dan mati secara otomatis tanpa campur tangan manusia di hari Sabat. Pemerintah konservatif menolak semua argumen mengenai larangan pengunaan listrik dan peralatannya.


KENDARAAN BERMOTOR


Pemerintah konservatif dan ortodoks sama sekali melarang penggunaan kendaraan bermotor selamat Sabat karena melanggar berbagai kategori kegiatan termasuk "menyalakan api" (kategori 37), "memadamkan api" (kategori 26) dan "memindahkan benda dari tempat pribadi ke tempat umum" (kategori 39). Tetapi Komite Gerakan Konservatif dari Hukum dan Standar agama Yahudi mengijinkan mengendari kendaraan bermotor untuk menuju ke sinagoga pada hari Sabat, sebagai sebuah "tindakan darurat", karena jika orang Yahudi kehilangan hubungan dengan kehidupan sinagoga mereka akan terhilang dari bangsa Yahudi.


Sebuah modul halachah Sabat resmi ditambahkan pada power kendaraan Amigo supaya bisa digunakan untuk menghormati hari hari Sabat sesuai dengan batasan jumlah langkahnya. Alat ini biasanya disebut sebagai sekuter Sabat atau Amigo Sabat, diproduksi oleh Institut Zomet di Israel. Tiap aplikasi modul Sabat ini satu per satu diperiksa dan disertifikasi oleh perwakilan dari Zomet. Peralatan ini hanya untuk pribadi perorangan yang akan membatasi mobilitasnya tergantung pada sekuter/POV atau mobil yang secara rutin dipakai sepanjang minggu.


SHOMER SABAT


Shomer Sabat adalah sebutan untuk orang (atau organisasi) yang taat melaksanakan hukum-hukum sabat secara konsisten. Shomer Sabat adalah model dasar yang terdapat dalam lagu-lagu agama Yahudi (misalnya Baruch El Elyon) mengenai berbagai risalah pada hukum Yahudi dan prakteknya pada hari Sabat (misalnya Shmirat Shabbat ke-Hilkhata)


KEADAAN YANG MERINGANKAN


Dalam keadaan ketika hidup manusia berada dalam bahaya (pikuach nefesh), seorang Yahudi bukan hanya diperbolehkan tetapi diminta untuk melanggar setiap hukum Sabat untuk menyelamatkan orang itu. (Kenyataan berbagai hukum agama Yahudi, kecuali pembunuhan, penyembahan berhala, hubungan sex yang dilarang, harus dilanggar sehingga bisa menyelamatkan hidup seseorang yang sedang dalam bahaya). Konsep mengenai hidup dalam bahaya ini diterjemahkan secara luas; contohnya, diperintahkan untuk melanggar Sabat saat membawa seorang wanita yang akan bekerja menuju ke rumah sakit. Yang lebih rendah, larangan rabi biasanya dilanggar karena keadaan darurat misalnya seorang psien yang sakit tapi tidak begitu kritis.


Beberapa prinsip resmi menyatakan kegiatan-kegiatan yang melanggar hukum Sabat. Contohnya yang termasuk prisip Shinui ("mengganti" atau "penyimpangan") - sebuah pelanggaran keras menjadi tidak keras jika kegiatan larangan itu dibuat akan dipertimbangkan sebagai ketidaknormalan pada hari non Sabat. Contohnya menulis dengan menggunakan tangan yang tidak biasanya (mengacu pada banyak rabi penguasa). Prinsip resmi ini mengoperasikan bedi'avad (ex post facto) dan tidak menyebabkan sebuah kegiatan larangan menjadi diijinkan kecuali dalam keadaan yang meringankan.


TEKNOLOGI UNTUK MELAYANI SABAT


Ketika ada seseorang atau tindakan medis dalam keadaan darurat dimana tidak memiliki perlatan penunjang hidup yang memadai, maka mereka boleh melakukan "pelanggaran" dengan memodifikasi teknologi dimana untuk ini tidak ada hukum yang dilanggar. Contohnya "Lift Sabat", dimana dengan mode Sabat lift akan berhenti otomatis di tiap lantai, supaya orang bisa masuk dan keluar tanpa menekan tombol (menyalakan tombol sama dengan kegiatan "menyalakan api" melanggar kategori 37) yang biasanya dibutuhkan untuk bekerja. (Rem dinamis juga dimatikan jika biasanya digunakan, untuk melangsir energi yang terkumpul dari perjalanan lift dari bawah dan juga energi potensial gravitas penumpang sampai pada jaringan penahan). Ini mencegah "pelanggaran" terhadap larangan Sabat mengenai "pekerjaan yang bermanfaat". Banyak Rabi penguasa menggolongkan pemakaian lift oleh orang normal adalah "pelanggaran" terhadap Sabat, dimana pada hari itu semua perangkat pendukung itu hanya boleh digunakan bagi para penderita cacat.


Banyak orang Yahudi ortodoks menghindari larangan "membawa" dengan mengikat kunci-kunci yang dibuat ke dalam ikatan, atau bagian dari ikat pinggang. Jadi kunci itu menjadi bagian yang sah dari hukum berpakaian atau perhiasan yang bisa dikenakan, bukannya "dibawa". Beberapa orang mempergukan pita elastis yang ada klip di kedua ujungnya, dan kunci-kunci bisa digantungkan di dalamnya seperti sebuah gelang atau bisa dipertimbangkan sebagai sebuah ikat pinggang.


Dewasa ini, lampu Sabat dibuat dengan mempergunakan sensor sinar matahari, sehingga bisa nyala dan mati secara otomatis jika hari gelap. Sebuah mekanis khusus juga bisa menghalangi sinar jika pemiliknya ingin posisi listrik "mati" sesuai dengan yang diinginkan tanpa melanggar larangan Sabat.


PANDANGAN GOLONGAN REFORMIS DAN REKONSTRUKSI


Umumnya penganut Reformasi dan Rekonstruksi agama Yahudi percaya bahwa tiap individu orang Yahudi telah menentukan apakah mengikuti larangan Sabat atau tidak. Contohnya, beberapa orang Yahudi ditemukan sedang beraktivitas seperti menulis atau memasak untuk kesenangan, untuk menikmati Sabat dan kesuciannya, sehingga akan mendorong praktek kegiatan yang lain. Beberapa kaum Reformis Yahudi percaya bahwa kata "bekerja" itu berbeda bagi masing-masing orang, dan bahwa hanya orang itu yang bisa memutuskan "bekerja" seperti apa yang dilarang. Rabi Ignaz Einhorn, Rabi Reformasi dari Hungaria yang radikal, bahkan merubah ibadahnya dari hari Sabat (Sabtu) ke hari Minggu.


Banyak Rabi Yahudi reformasi dan rekonstruksi tradisional yang percaya bahwa halakhah ini umumnya sah, tetapi akhirnya tergantung pada tiap pribadi untuk menentukan bagaimana dan kapan hal itu akan dilaksanakan. Sebuah fraksi kecil agama Yahudi, di dalam komunitas Yahudi Progresif, menerima semua hukum ini sama seperti yang dikerjakan oleh Yahudi ortodoks.


KEGIATAN YANG DIIJINKAN


Kegiatan-kegiatan berikut ini dianjurkan dilakukan pada hari Sabat:

- Merayakan Sabat bersama-sama dengan keluarga dekat;
- Pergi ke sinagoga untuk berdoa;
- Mengunjungi keluarga dan teman (dalam jarak yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki);
- Menerima tamu (hachnasat orchim, "keramah-tamahan");
- Menyanyikan zemirot nyanyian-nyanyian khusus untuk makan Sabat (biasanya dinyanyikan pada saat atau setelah makan).
- Membaca, mempelajari, dan mendiskusikan Torah dan tafsirannya, Mishnah dan Talmud, mempelajari Halakha dan Midrash.
- Berhubungan seksual dengan suami atau istri, khususnya pada malam Sabat (Jumat malam). (Shulchan Aruch menggambarkan hal ini sebagai "mitzvah ganda," karena menggabungkan prokreasi dengan sukacita Sabat, dan keduanya dianggap diperintahkan oleh Torah.) Menurut para rabi Reform, segala sesuatu yang meningkatkan sukacita Sabat sebagai hari yang khusus dan rohani sangat dianjurkan.

- Menikmati tidur sejenak di hari Sabat


SABAT KHUSUS


Sabat khusus adalah Sabat sebelum hari libur penting agama Yahudi, misalnya Sabat Hagadol adalah Sabat sebelum Paskah, Sabat Zachor adalah sabat sebelum Purim dan Sabat Teshuva adalah Sabat sebelum Yom Kippur.


* * * * *


(translated from wikipedia)


Daniel Zacharias
education from womb to tomb

Gereja Yang Dikendalikan Oleh Tujuan

GEREJA YANG DIKENDALIKAN OLEH TUJUAN

Roma 11:36

Menyambut HUT GKO ke-30 (29 Juli 1979-29 Juli 2009)

Tiap gereja dikendalikan oleh sesuatu. Rick Warren menulis bahwa: “tradisi, keuangan, program-program, orang-orang, peristiwa-peristiwa bahkan gedung dapat menjadi kekuatan yang mengendalikan arah gereja. Dapatkah kita bayangkan jika setiap orang dalam gereja masing-masing memiliki tujuannya masing-masing. Itu akan menjadi kacau. Masing-masing orang akan menyalahkan yang lainnya dan beranggapan bahwa ia yang paling tahu tujuan gereja itu dengan baik.

Di usia yang ke-30 ini adalah penting bagi kita semua memiliki pertanyaan kritis bagi hal ini. Pertanyaan itu adalah: siapakah yang paling memiliki otoritas untuk menentukan tujuan dari gereja?” Dalam teologi kita tahu bahwa kita adalah ciptaan. Tujuan dari hidup manusia bukan ditentukan oleh ciptaan tetapi oleh sang Pencipta. Dalam filsafat kita juga tahu bahwa Allah itu adalah Causa Prima (Penyebab Utama). Allah telah menetapkan tujuan-Nya ketika ia menciptakan semua ciptaan termasuk manusia. Ia menaruh tujuan tersebut di dalam ciptaan-Nya. Ia juga merancang ciptaan termasuk manusia sesuai dengan tujuan-Nya. Dengan kata lain secara teologis tidak seorang pun di dunia ini yang berhak atau yang mampu menentukan tujuan hidupnya sendiri.

Bila seseorang mencoba menentukan tujuan hidupnya sendiri maka itu seperti yang dikatakan Alkitab: “mereka memberontak terhadap Allah yang hidup”. Manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi kelak dalam hidupnya dan juga tidak dapat mengendalikan masa depannya. Sehingga bagaimana pula secara logis kita dapat menentukan sesuatu yang tak dapat kita kendalikan kecuali oleh Tuhan sendiri? George Bernard Shaw pernah menulis: “Imagination is the beginning of creation. We imagine what we desire, we will what we imagine; and at last we create what we will”.

Kita semua menyadari bahwa gereja bukanlah soal gedung dan organisasi an sich. Gereja adalah komunitas dari orang-orang yang percaya kepada nama Yesus. Dan bila berbicara tentang manusia. Sehingga ketika kita berbicara tentang tujuan gereja maka hal yang sama juga terkait yaitu bahwa gereja tidak dapat menentukan tujuannya sendiri. Tujuan gereja ditetapkan oleh Tuhan. Gereja harus bertanya pada Tuhan apa yang Ia kehendaki dari gereja tersebut. Dalam bahan ini kita perlu memperhatikan apa yang Rick Warren tulis dalam buku “Purpose Driven Church”. Ia mempertanyakan semua gereja dengan pertanyaan: “what is the driving force behind your church?” (apa yang menjadi kekuatan pengendali di balik gereja kita?)

GEREJA KRISTEN OIKOUMENE di Indonesia (GKO) dalam memasuki usia yang ke-30 dikendalikan setidaknya oleh 3 hal yang masih cukup kuat:

1. GKO masih dikendalikan oleh tradisi. Sulit bagi gereja yang menghadapi berbagai perubahan di tengah dunia ini. Gereja yang harusnya memperbaharui dirinya sendiri mau tidak mau harus mengalami perubahan. Namun perubahan selalu dilihat sebagai sesuatu yang negatif dan stagnasi (kebekuan atau jalan di tempat) dianggap sebagai stabilitas. Kita diikat oleh aturan-aturan dan ritual. Kita mengulangi semua tradisi itu dari hari minggu ke minggu tanpa adanya terobosan yang signifikan dalam kemajuan spiritual umat maupun pelayan.

2. GKO masih dikendalikan oleh orang-orang. Sehingga GKO baik secara lokal maupun sinodal masih terus dibayangi oleh pertanyaan di benak setiap orang, “apa yang pemimpin kehendaki” bukan “apa yang Tuhan kehendaki buat gereja ini”.

3. GKO dikendalikan oleh keuangan. Semua aktivitas kita selalu dibayang-bayangi pertanyaan pesimis,”berapa dananya” atau “apakah kita mampu, dan kalau dana tidak ada tidak usahlah hal tersebut diselenggarakan.”

Perlu kita akui masih ada dua lagi: yakni program dan peristiwa-peristiwa gerejawi. Meskipun demikian kedua hal terakhir ini tidak terlalu signifikan ketimbang ketiga hal tersebut.

Sekarang kita perlu mengakui kesalahan kita dan perlu mengubah arah gereja kita sedang berlayar. Kita mulai dengan pertanyaan sederhana: “mengapa GKO ada”. Seperti yang Elie Wiesel katakan: “When we die and go to heaven, our Maker is not going to say, why didn’t you discover the cure for such and such? The only thing we’re going to be asked at that precious moment is why didn’t you become you?” This is the basic meaning that “you become you” in God perspective not in human.

Bila kita tahu alasan eksistensi gereja kita maka kita mengetahui apa tujuan kita. Dalam Alkitab Allah menginginkan gereja itu diselamatkan dan Ia membuat gereja-Nya sebagai model dari gaya hidup Kerajaan Allah di atas dunia. Sehingga gereja akan melihat Allah melalui gereja. Itulah tujuan utama gereja itu!


DZ


[1] Rick Warren, The Purpose Driven Church.


Daniel Zacharias
education from womb to tomb

01 Juli 2009

Dua Keahlian Gereja Masa Kini

Awal Juni lalu saya bersama-sama rekan-rekan pendeta dari berbagai gereja di wilayah Banten berkumpul di Serang untuk berbicara banyak hal tentang relasi gereja-gereja, lembaga gereja-lembaga gereja, gereja-pemerintah dalam Workshop Pemuka Agama Kristen Kanwil Depag Provinsi Banten Tahun 2009.

Di sesi pertengahan saya diminta menyampaikan renungan yang saya ambil dari tulisan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus soal kesatuan tubuh. Dalam renungan yang saya rasakan cukup singkat itu saya menyentuh ada 2 hal utama yang sangat ironis terjadi dalam tubuh gereja sendiri:

1. GEREJA BERSATU KARENA ALASAN TEOLOGIS TETAPI GEREJA MENOLAK UNTUK BERSATU JUGA KARENA ALASAN TEOLOGIS.
Inilah salah satu 'keahlian' gereja masa kini. Kalau ditanya alasan gereja bersatu maka mereka semua akan menyebut ucapan Yesus 'ut omnes unum sint' sebagai landasannya yang kemudian dengan terampil akan mengutip ayat-ayat lain yang makin memperkokoh pikiran oikumenis itu. Kebijakan Zero Growth yang diambil oleh Departemen Agama cq Bimas Kristen Protestan sebenarnya adalah upaya menahan lajunya pertambahan jumlah sinode gereja di Indonesia yang tumbuh bukan karena pertumbuhan tetapi karena perpecahan. Dengan cara ini diharapkan gereja-gereja sealiran dapat bergabung atau merger dengan mencontoh dari Sinode Am GKI. Namun dalam kenyataannya banyak gereja tidak mau bersatu karena alasan: kepemimpinan, keuangan, dan seringkali alasan-alasan teknis tadi dibungkus dengan alasan teologis. Kalau sudah menyentuh wilayah ini saya jadi ingat istilah 'polarisasi', dari Alm. Pdt. Eka Darmaputera, yang bukan saja berada di lapisan lokal tetapi juga merembet sampai ke aras Nasional. Kehadiran PGI di satu sisi maka ada kehadiran PGLII, PGPI, dll. Saya menduga polarisasi terbentuk bukan karena kepemimpinan atau karena faktor material tetapi selalu faktor teologis. Misalnya dalam sebuah dialog imajiner seseorang berkata: "mengapa gereja saya yang belum bersinode ini tidak bisa gabung dengan gereja Advent yang sudah bersinode atau gereja Pentakosta yang juga sudah bersinode?" Maka jawaban yang akan lancar keluar dari mulut pendetanya biasanya adalah: "kami kan berasal dari tradisi teologi yang berbeda". Disitulah letak 'kehebatan' gereja: mengetahui alasan untuk bersatu karena alasan teologis dan alasan untuk tidak bersatu dibuatnya juga karena alasan teologis.

2. GEREJA MASA KINI JAUH LEBIH MAHIR DAN TERAMPIL MEMBERI CONTOH KEPADA DUNIA BAGAIMANA CARANYA MEMECAH DIRI KETIMBANG MENYATUKAN DIRI
Kita tidak bisa menyangkali bahwa gereja-gereja yang di Indonesia juga tidak sedikit yang merupakan perpecahan gereja di luar negeri. Dan tidak juga kita sangkali di tangan kita sendiri gereja-gereja juga pecah menjadi kepingan-kepingan. Bahkan ada yang menyebutnya karena kehendak Tuhan dan karena bisikan Tuhan. Padahal kalau dikaji benar soal 'bisikan' tadi masakan Yesus menentang doa-Nya sendiri. Doa Yesus menjadi monumen yang dapat kita pajang tetapi kehilangan makna. Dunia sulit untuk percaya kepada gereja karena gereja tak mampu menunjukkan jatidirinya yang merupakan utusan Kristus di dunia. Gereja yang semakin terpecah di satu sisi memenuhi keinginan untuk berkespresi tetapi di sisi lain memberi gambaran buruk dari ketidakmampuan menerjemahkan isi beritanya sendiri dalam kata dan perbuatan. Apapun kelihaian kita membungkus upaya perpecahan dengan berbagai dalih baik yang masuk akal maupun tidak, semua itu hanyalah bagian dari keadaan kita yang sebenarnya: "ketidakmauan kita mengakui apa yang tidak mau kita akui". H. Richard Niebuhr pernah mengatakan dalam bukunya The Social Sources of Denominationalism: "kalau denominasi itu adalah kemunafikan yang tidak mau diakui" (an unacknowledged hypocrisy)".

Daniel Zacharias
education from womb to tomb

18 Juni 2009

Akrab Dengan Allah: Keakraban Menghasilkan Kedewasaan Rohani

Efesus 4:11-16

Ada beberapa pemandangan yang lebih menarik dibandingkan persahabatan serta pertalian yang akrab antara ayah dan anaknya ketika sang anak memasuki masa dewasanya. Saling menghargai dan saling berbagi pikiran serta pengalaman dengan cara yang makin mendalam mewarnai komunikasi mereka. Satu sama lain saling menikmati.Bentuk hubungan seperti itulah yang Allah ingin pertahankan dengan anak-anak-Nya ketika mereka beranjak makin dewasa. Sama seperti ayah yang penuh perhatian merasa senang ketika mengalami anak yang bertumbuh dalam kedewasaan karakter yang mencakup segalanya, Allah pun bersukacita ketika melihat bahwa di dalam diri anak-anak-Nya terdapat sebuah kesetaraan yang semakin mirip dengan anak-Nya-manusia satu-satunya yang dewasa decara sempurna. Kedewasaan seperti ini membuka pintu untuk keakraban yang senantiasa makin mendalam, dan pada gilirannya keakraban itu memungkinkan dan mempercepat kedewasaan rohani dan kedewasaan karakter.

Kata Yunani untuk "kedewasaan"-teleois-suatu akhir, suatu tujuan, atau batas", kaya akan makna. Kata tersebut menggabungkan dua gagasan: (a) pencapaian standar tertentu, dan (b) pencapaian sasaran tertentu. Mengenai penggunaan kata dalam Matius 5:48 itu, A. T. Robertson berkata, "inilah sasaran yang ditentukan di depan kita, standar mutlak dari bapa Sorgawi kita. Kata itu digunakan juga untuk kesempatan relatif, sebagaimana orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak."

Sebagaimana ditunjukkan oleh Paulus, kata itu berarti "dibawa pada kesempurnaan, dewasa sepenuhnya, tidak kekurangan apa-apa". Dalam suratnya kepada orang Kristen di Efesus, ia memberi tahu mereka bahwa jemaat yang mempunyai karunia Roh mempunyai perannya sediri yaitu "untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak ... kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah kepala" (Efesus 4:12-15, cetak miring ditambahkan).

Perhatikan penekanannya-menjadi dewasa, bukan lagi anak-anak bertumbuh. Dan, standar yang digunakan untuk mengukur kedewasaan itu dinyatakan dengan jelas "tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristuas". Bagaimanakah penampilan orang Kristen yang dewasa? Ia akan terlihat seperti Kristus. Kedewasaan rohani, yang dinyatakan dengan istilah yang paling sederhana, yaitu kondisi seperti Kristus. Kita hanya menjadi dewasa sejauh kita menjadi serupa dengan Dia. Konsep itu didukung dengan fakta bahwa ketika kita mencapai kedewasaan penuh pada kedatangan Kristus yang kedua kalinya, "Kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya" (I Yohanes 3:2).

Dalam Efesus, rasul Paulus menghubungkan kedewasaan kita dengan "pengetahuan yang benar tentang Allah" (4:13). Mengenal Dia secara lebih lengkap dan lebih mendalam ialah sebuah faktor yang penting dalam mencapai subuah kedewasaan, dan itu merupakan suatu hal yang perlu untuk senantiasa bertumbuh, karena kita didesak untuk "bertumbulah dalam kasuh karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan juruselamat kita, Yesus Kristus" (2 Petrus 3:18). Idealnya, kita mengawali kehidupan rohani kita sebagai bayi di dalam Kristus; lalu kita bergerak maju menginjak masa remaja rohani; akhirnya kita mencapai status orang dewasa yang matang. Pola hidup dabnn pertumbuhan yang fundamental ini terjadi di alam rohani maupun di alam fisik.

Tingkat Kedewasaan
Rasul Yohanes, dalam suratnya yang pertama, menyadari fakta ini ketika ia menyebutkan dirinya sendiri kepda para pembacanya sebagai anak-anak, bapa-bapa, dan orang-orang muda (I Yohanes 2:12-14). Ia mencatat fakta bahwa ada tahap-tahap pertumbuhan yang berbeda di dalam hidup Kristen, yang dicapai oleh para murid dalam sekolah Kristen.
Hal yang penting adalah kita harus beralih kepada perkembangan yang penuh" (Ibrani 6:1). Teruslah bertumbuh.Terlalu banyak orang Kristen yang tidak mengalami pertumbuhan dalam hidup Kristen mereka-"macet di antara Paskah dan Pantekosta", sebagimana dikatakan oleh Dr. Graham Scroggie.

Suatu kali ada seorang wanita Kristen yang hampir mendekati ajal karena kanker. Ia tahu bahwa umurnya tinggal beberapa hari lagi. Suaminya memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya, mencoba membuat segala sesuatu mudah baginya. Wanita tersebut berkata kepada suaminya, "Engkau tidak boleh membuat segala sesuatu mudah bagiku. Engkau tahu, bahwa aku harus terus bertumbuh." Hidupnya yang akrab dengan Allah telah membawanya kepada suatu status kedewasaan rohani sehingga ia lebih peduli tentang bertumbuh ke arah Kristus daripada penderitaan dan ketidaknyamanannya sendiri yang dialaminya itu. Kita juga perlu menjadi ambisius untuk bertumbuh di dalam pengetahuan akan Allah.

Penulis surat kepada jemaat di Ibrani mendesak para pembacanya untuk menumbuhkan ambisi serupa melalui kata-kata ini. "Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran dari kristus dan beralih kepada perkembangan yang penuh" (6:1). Dr. Alexander Smellie menunjukan bahwa Alkitab King James Version menerjemahkannya, "Marilah kita menuju kepada ..." Uskup Westcott lebih suka menggunakan frase, "Marilah kita beralih."

"Faktanya ialah bahwa membutuhkan ketiganya untuk menyingkapkan pentingnya serta kekayaan kata kerja tersebut. Apabila disatukan bersama-sama, ketiganya menyatakan kepada kita mengnai tiga bahaya yang menghadang saat kita memandang benteng kesempurnaan di hadapan kita. Ada bahya kalau berhenti terlalu cepat. Ada bahaya kalau tenggelam dalam keputusasaan. Dan, ada bahaya jika kita menganggap bahwa kita berjalan sendiri." Betapa baiknya Allah yang telah memelihara kita melalui pelayanan Roh Kudus, karena keberadaan kita "telah beralih pada perkembangan yang penuh".

Paulus mengatakan kepada kita lebih lanjut, dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, bagaimana proses pendewasaan itu bisa dipercepat. "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar" (2 Korintus 3:18).

"Anda ingin menjadi seperti Kristus?" tanya Andrew Murray. Inilah jalurnya. Pandanglah kemuliaan Allah di dalam Dia. Di dalam Dia, Artinya, jangan melihat kata-kata, pikiran-pikiran, kasih karunia di mana kemuliaan-Nya dapat terlihat, namun melihat kepada Dia semata, Kristus yang adlah kasih dan hidup. Pandanglah Dia! Tataplah mata-Nya! Lihatlah wajah-Nya, sebagai seorang sahabat yang mengasihi, sebagai Allah yang hidup."

Visi Yang Mengubahkan
Perubahan menjadi serupa dengan Kristus diawali, sebagimana dinyatakan oleh 2 Korintus 3:18, bukan dengan mawas diri secara subjektif, namun dengan melihat kemuliaan Tuhan secara objektif sebagaimana yang diwujudkan di dalam diri Yesus. Pemandangan yang memukau tidak terlihat di angkasa yang kemilauan, tetapi di dalam Firman Tuhan yang tertulis, yang diterangi oleh Roh yang memberi ilham. Firman ialah sebuah cermin yang menyatakan dan mencerminkan karakter Kristus yang unik, kedewasaan yang sempurna, karakter yang tak bercela, dan karya penebusan. Oleh karena itu, Allah telah membuat cahaya terang-Nya bersinar "di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus" (2 Korintus 4:6).

Kemuliaan Alllah itu tidak berabstrak atau tidak berwujud; kemuliaan itu sungguh-sungguh dinyatakan dalam hidup manusia, di dalam pribadi dan karya Kristus. Namun, di mana kita dapat menemukan wajah Kristus? Bukan pada kanvas artis, karena potret-Nya hanyalah proyeksi dari pikiran serta konsep mengenai diri-Nya sendiri. Wajah Kristus bisa dilihat di dalam kiasan yang dilukiskan bagi kita dengan warna-warna yang begitu indah oleh para penulis biografi Injil, yang diilhamim oleh Roh, yang memberi kita potret-Nya secara keseluruhan. Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus melihat wajah itu tetapi mereka tidak melihat kemuliaan, karena prasangka dan ketidakpercayaan mereka menutupinya menjadi lebih rapat dibandingkan selubung yang menyembunyikan kemuliaan wajah Musa ketika ia kembali dari pertemuan dengan Allah (Keluaran 34:33-35).

Rencana Allah bagi anak-anak-Nya bukanlah tiruan lahiriah, tetapi perubahan batiniah. Kemuliaan yang terlihat diwajah Musa ketika ia turun dari gunung nyaris tidak kelihatan dan memudar. Namun, kemuliaan yang Paulus bicarakan di sini ialah kemuliaan yang dipelihara dan disalurkan, karena kata yang diartikan "melihat" disini sama artinya dengan "memancarkan'.

Metode Pengubahan
Metode yang digunakan untuk membuat perubahan bukanlah "perjuangan yang disertai putus asa ketika melawan sesuatu yang memikat", tetapi "melihat" dengan gigih dan konsisten-memandang Kristus di dalam segala keagungan, kemuliaan, kasih, kekudusan, kebenaran, dan keadilan-Nya, sebagaimana ditetapkan dalam kitab Suci. Tatkala kita melihat semua unsur itulah kita sedang diubahkan untuk menjadi serupa dengan Dia.

Apa yang selalu dilihat oleh mata kita sangat berpengaruh terhadap karakter Kristen. Kita menjadi seperti mereka yang kita kagumi. Alexander Agung membaca Iliad karya Homer dan ia pun bertekad untuk menaklukan dunia. Karakter dan kebiasan dibentuk oleh sikap dan kebiasaan dari orang yang terus-menerus kita temui. Siapakah yang belum pernah melihat tiruan-tiruan dari para bintang film yang berparade sepanjang jalan?

Bagaimana Roh Kudus memberi pengaruh yang mengubah diri kita menjadi diri kita yang sama sekali baru? Ada kesejajaran secara fisik dengan proses menelan dan mencerna makanan. Kita mengkonsumsi makanan dan kita lupa tentang semua makanan itu. Tubuh kita berfungsi dan enzim melakukan perannya. Tanpa upaya aktif atau aktifitas apa pun dari pihak kita, makanan itu perlahan-lahan diubahakan menjadi suatu bentuk lain dan menyatu ke dalam seluruh tubuh jasmani kita. Itu diubahkan menjadi daging, tulang, darah, rambut dan energi. Dan semuanya terjadi tanpa tindakan aktif dari pihak kita.

Dengan cara yang sama, kita menggunakan waktu dengan tekun untuk "melihat ... kemuliaan Tuhan" di wajah Yesus Kristus-kebajikan, rahmat apa yang sudah dilakukan-Nya-Roh Kudus tidak hanya menyatakan Dia kepada kita, tetapi Ia memproduksi Kristus di dalam diri kita. Tanpa tindakan aktif dari pihak kita, Ia menanamkan kebajikan-kebajikan serta nilai-nilai yang kita lihat di dalam Kristus dalam kehidupan rohani kita, dan itu makin merubah kita menjadi serupa dengan Dia. "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung ... maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya:" (2 Korintus 3:18).

Perubahan batiniah bukan semata-mata hasil dari waktu sesaat dimana kita meninggikan keagungan serta kekudusan-Nya. Perubahan yang berkesinambungan itu terjadi ketika kita terus memandang Dia. Tidak ada kasih karunia yang kita lihat dalam karakter Tuhan
kita yang tidak mungkin menjadi milik kita yang makin berkembang jika kita bersandar pada Roh Kudus untuk memproduksinya di dalam diri kita.

Jadi inilah yang ditulis A. W. Tozer:
"Banyak orang telah menemukan rahasia yang telah saya bicarakan dan, tanpa berpikir lebih panjang tentang apa yang terjadi di dalam diri mereka, secara terus-menerus mereka mempraktekan kebiasaan untuk memandang Allah dari dalam hati mereka. Mereka memahami bahwa sesuatu dalam hati mereka sedang memandang Allah. Bahkan, ketika mereka dipaksa untuk mengalihkan perhatian mereka dengan sadar agar terlibat dalam perkara-perkara dunia, di dalam mereka ada terjadi suatu persekutuan rahasia.Biarkan perhatian mereka beralih untuk sesaat saja pada kesibukkan mereka sendiri, pasti mereka akan kembali kepada Allah sekali lagi."

Bagian kita ialah melihat. Hak istimewa Roh Kudus-lah yang akan mengubahkan.


Daniel Zacharias
education from womb to tomb

12 Juni 2009

Gereja dan Pendidikan

Pendidikan memegang posisi dan peranan yang sangat strategis dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Sayangnya dalam posisi dan peran semacam ini, pendidikan di negeri ini belum dapat secara optimal menjadi sebuah jalan yang memadai guna mencapai cita-cita luhur tersebut. Hal ini disebabkan oleh karena keutuhan yang diharapkan dibentuk dan diwujudkan melalui pendidikan pada kenyataannya malah dikhianati sendiri oleh suatu tradisi pendidikan yang lebih memberi penghargaan hanya kepada siswa atau mahasiswa yang berprestasi tinggi dalam pengetahuan dan berketerampilan baik dalam bidang tertentu saja. Penghargaan yang sifatnya mengarah kepada pendidikan yang melakukan pengembangan nilai-nilai dalam pembentukan karakter manusia seutuhnya malah tidak mendapat tempat. Keutuhan manusia ternyata hanya dilihat sebagian saja di dalam praktek dari sistem pendidikan kita.

Harus kita akui bersama bila Indonesia tidak akan pernah kehilangan atau bahkan kehabisan orang pintar dan terampil. Kita memiliki banyak orang yang terdidik dan terlatih dengan baik dalam bidangnya. Indonesia dibangun oleh orang-orang semacam ini. Namun di sisi lain harus kita akui pula bahwa negeri ini juga dirusak oleh orang-orang cerdas dan terampil yang telah kehilangan atau bahkan sama sekali tidak pernah memiliki nilai-nilai luhur moral dan iman. Satu-persatu pesohor dari berbagai jabatan penting di negeri ini yang pernah mengenyam pendidikan bahkan sampai strata yang tertinggi ternyata harus mengakhiri karirnya di bui. Hal ini disebabkan bukan karena faktor kekurangcerdasan atau karena kekurangterampilan, tetapi hal itu disebabkan karena kurangnya nilai-nilai moral dan imaniah yang membuat kecerdasan dan keterampilan menjadi tak punya makna yang utuh. Media massa melaporkan beberapa caleg yang tidak mendapatkan suara dalam Pemilu Legislatif 2009 dengan tanpa rasa malu menarik semua bantuan yang sudah pernah mereka bagikan kepada masyarakat dalam masa kampanye. Dan yang paling ironis adalah mereka menarik bantuan berupa bahan bangunan dalam rangka pembangunan sebuah rumah ibadah. Kenyataan-kenyataan sejenis muncul dimana-mana yang sedang mempertontonkan kepada kita bila nilai-nilai moral dan imaniah sudah lama tidak mendapat porsi yang proporsional sekalipun mereka beragama dan institusi keagamaan masih tegak berdiri, dan hal ini sekaligus mengkoreksi kualitas pendidikan-pendidikan agama di negeri ini yang belum terlihat berdampak pada perilaku manusia Indonesia secara umum.

Dalam konteks gereja hal ini disebakan oleh dua hal:
Pertama, dalam sumbangan dari konteks kristiani, Gereja, dalam hal ini sebagai agen yang menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam arti memperjuangkan kasih, keadilan, dan kebenaran dalam masyarakat, malah terlihat sama sekali belum berperan atau malah sudah kehilangan perannya sama sekali. Kelihatannya mayoritas pendidikan di dalam gereja dan oleh gereja masih berorientasi pada urusan-urusan internal yang cakupannya sangat terbatas. Bahkan tidak sedikit yang merasa soal-soal tersebut bukanlah urusan gereja dan membiarkan pemerintah mengambil alih urusan ini. Padahal sebenarnya gerejalah yang harus berperan aktif. Mengapa sebenarnya gereja harus terlibat dalam hal ini?

Tatkala Karl Barth memandang gereja sebagai institusi maka ia menjumpai ada 9 (Sembilan) unsur kelembagaan gereja yang salah satunya adalah pendidikan. Dengan kata lain ia sedang mengisyaratkan bahwa pendidikan dan gereja bukanlah hal yang terpisah dan gereja dalam hal ini berfungsi sebagai lembaga yang bertugas untuk mendidik. Dalam hal ini tercermin bahwa gereja tidak dapat melarikan diri dari unsur yang merupakan bagian dari pembentukan jatidirinya. Gereja harus mengambil peran sebagai ‘garam’ dan ‘terang’ dalam dunia pendidikan. Harry Blamires dalam “The Christian Mind” menulis bahwa yang masih ada sekarang ini adalah etika Kristen (orang masih bermoral dan berusaha untuk tidak berbuat hal memalukan) dan spiritualitas Kristen (orang masih beribadah), sedangkan pikiran Kristen (Christian Mind) sudah tidak ada. Pikiran-pikiran yang berkembang dalam benak jemaat seringkali bersandar pada pikiran-pikiran sekuler-humanistik yang egois sekalipun mereka adalah warga gereja dan dibina dalam dan oleh gereja.

Ancaman bagi pendidikan gereja dan oleh gereja bukanlah datang dari agama-agama lain. Malah gereja harus bekerjasama dengan agama lain dalam pembentukan moral dan karakter bangsa menghadapi ‘musuh bersama’ yakni sekularisme. Barth sudah lama melihat bahwa sekularisasi akan merupakan ancaman bagi gereja-gereja di kemudian hari. Ia berujar bila sekularisme itu tidak lain adalah kerasingan yang dialami gereja pada saat ia tidak mau mendengar suara Gembala yang baik, namun malahan mengikuti suara orang asing. Pendidikan yang sekuler-humanistik belakangan ini malah semakin merajalela bahkan ironisnya tidak memberi ruang yang memadai bagi pendidikan agama yang dikerjakan gereja dalam dunia pendidikan atau bahkan oleh agama-agama lainnya. Pendidikan agama kendatipun tetap ada seringkali lebih diarahkan pada pemahaman kognitif agama ketimbang rasa-afeksi atau internalisasi nilai-nilai, atau bahkan hanya sekedar pelengkap sebuah kurikulum yang berketuhanan namun dampaknya sangat kecil bahkan terkesan basa-basi.

Apa yang dikuatirkan Barth masih terasa relevan dengan situasi sekarang dimana pendidikan kita seolah terasing dari pengaruh agama dan lebih berpihak pada kecondongan menciptakan manusia kerja yang cerdas dan terampil namun berwatak serakah, aji mumpung, opurtunistis, sektarian, fanatik, introvert, hedonis, kehilangan rasa hormat, tidak disiplin, lihai bermain kotor, egois, tidak loyal, mudah disuap, tidak berpendirian teguh, mengorbankan nilai-nilai keluarga, acuh tak acuh memandang hukum dan aturan, dan tidak dapat menjadi teladan.

Kini secara konkrit apa yang sebenarnya yang harus gereja kerjakan? Kekristenan melalui gereja mendorong agar dunia pendidikan kembali dipengaruhi oleh pemahaman kristiani tanpa mengabaikan sumbangsih pandangan agama-agama lain, dan tanpa bermaksud mengubah sebuah universitas menajadi sebuah seminari teologi atau mengkristenkan berbagai universitas.
Kekristenan harus menjadi sebuah kekuatan yang bersatu juga dengan penganut agama yang lain untuk menghadapi “musuh” bersama (menurut Louis Berkhof dan Cornelius van Til) dengan prasyarat:

a. Filsafat pendidikan harus didasarkan pada sebuah pengakuan pendidikan dalam bidang apapun memiliki hubungan asasi dengan Tuhan.
b. Kurikulum tidak lagi humanistik tetapi pada sebuah teosentris yang bebas namun bertanggung jawab (bukan kaku atau legalis seperti tunduk pada Taurat).
c. Naradidik merupakan subyek sekaligus obyek pendidikan yang hanya akan tumbuh dengan benar bila diletakan berhadapan dengan Tuhan dan bukan terhadap dirinya sendiri.

Gereja dan agama-agama lainnya melakukan kaderisasi penguasaan ilmu pengetahuan dari berbagai bidang dengan mengutus, melatih, mendidik, mengirimkan dengan beasiswa semua kader-kader yang dianggap dan diperhitungkan kelak dapat menduduki posisi-posisi penting dalam semua strata pendidikan, sehingga dimungkinkan membawa kembali dunia pendidikan pada pikiran-pikiran yang menggarami dan bukan menyerahkannya pada kesesatan atheistik atau sekularisme-humanistik yang sempit.

Gereja mau terlibat aktif dalam sebuah penelitian, percakapan, bahkan dalam penyebaran pikiran-pikiran kristiani yang kembali ‘menggarami’ pola pikir dan gaya hidup masyarakat yang perlahan dan pasti sedang membusuk karena terlalu sering contoh-contoh buruk dipertontonkan kepada masyarakat.

Kedua, diabaikannya pikiran gereja dari lingkungan pendidikan juga dapat disebabkan oleh karena ketidakrelevanan berita gereja dalam konteks pendidikan bagi generasi muda dan bagi zaman modern karena pola pendekatan yang tidak diperbarui. Lyle Schaller, seorang konsultan gereja Amerika dari United Methodist mengemukakan bahwa gereja harus beradaptasi dengan era baru. Adaptasi di sini tidak berarti substansi pemberitaan Gereja harus diubah, tetapi yang mengalami perubahan adalah cara kita mengemas dan menyampaikan pesan Injil. Gereja seyogyanya harus mengemas isi pendidikannya sedemikian rupa agar mudah ditangkap dan dicerna oleh generasi muda sesuai zamannya. Pemutakhiran literatur pendidikan agama merupakan langkah yang harus dikerjakan gereja sesegera mungkin melalui jejaring gereja yang sudah ada (PGI dan yang sejenis) dengan berkoordinasi dengan berbagai pihak yang memungkinkan terwujudnya maksud tersebut. Namun yang terpenting yang harus disadari gereja adalah bahwa tanggung jawab itu berada di tangan gereja sendiri.


Daniel Zacharias
education from womb to tomb